
"Dia ibunya Shahmeer," ungkap Ronald berbisik yang berhasil membuat Deo menganga.
"Kau pasti salah," sergahnya tertawa. Deo tiba-tiba teringat wanita paruh baya yang lihat di cafe ketika Kate dan Edel bertemu. Dia berbalik memandang Ronald lekat, berharap semua yang dikatakannya hanya candaan belaka.
Mungkinkah yang memperhatikan mereka saat itu wanita tua itu?. tanyanya dalam hati.
Ronald balik memandang serius temannya sambil mengangguk.
"Siapa saja yang sudah tahu rumor tersebut?" tanya Deo dengan raut wajah serius. Dia tak ingin membayangkan bagaimana sikap Malik jika tahu semuanya.
"Tak banyak, hanya ayahku dan aku juga beberapa informan kami."
"Sebaiknya kita simpan dulu. Kita harus tahu apa alasan wanita itu melakukan semuanya, kita juga harus tahu apa Shahmeer tahu tentang ini semua!" tegasnya.
Deo tahu jika Malik sangatlah dekat dengan Shahmeer, lebih dekat dari pada dengan semua temannya makanya mereka dulu sempat berpikir jika Malik mempunyai hubungan lebih dengan adiknya Shahmeer, Azmy.
"Ap ... ," Deo tidak meneruskan perkataannya. Dia melihat temannya mengedip memberi kode jika Malik datang.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Malik melihat raut Deo yang tegang.
"Kami hanya membicarakan kapan kita akan berlibur kembali," ujar Ronald santai tersenyum menutupi kebohongannya.
"Berlibur?" ulang Malik.
"Ya, aku melihat raut wajah istrimu sepertinya dia butuh berlibur. Aku juga berencana membawa Kate berlibur, itu bagus untuk mood nya. Dokter juga berkata jika ibu bayi senang maka bayi akan tumbuh lebih sehat," terangnya mencari alasan yang bisa diterima Malik.
"Kau benar," jawab Malik melihat istrinya yang sedang tertawa dengan Queenzha.
Malik bersyukur dia mengajak Edel saat ini bertemu temannya, setidaknya dia melupakan semua duka yang sedang menyelimuti mereka, ya walaupun sedikit.
"Aku akan ikut kalian berlibur jika kasus kakakku sudah selesai, aku tak bisa meninggalkan kasus kakakku begitu saja," ujar Malik menunduk.
*
*
"Bagaimana keadaanmu, ceritakan padaku kejadiannya. Aku sangat khawatir padamu begitu tahu kakak iparmu kecelakaan," tanya Queenzha.
"Sebenarnya hari itu jadwal ke perpustakaan itu adalah jadwal kunjunganku. Sebelumnya aku di kontrol kandunganku dan hasil pemeriksaan tidak begitu baik, dokter bilang aku kecapean jadi disarankan beberapa hari beristirahat kalaupun ada kunjungan sebaiknya daerah yang dekat. Kau tahu sendiri, hasil pemeriksaan akan langsung dilaporkan ke pihak kerajaan dan ayah mertuaku memberi perintah untuk kami bertukar jadi pagi itu kami bertukar jadwal." ujar Edel dengan raut sendu jelas terlihat di wajahnya.
"Sebelum mereka berangkat, Putri Grizelle bahkan memelukku sangat erat, dia bilang sangat senang dengan pertukaran ini karena kebetulan pangeran Fatih pun ada pekerjaan dekat sana jadi mereka bisa berangkat bersama. Aku sangat merasa bersalah sekali ... , Dia sangat baik. Aku tak bisa melupakan senyumannya pagi itu," terang Edel mulai mengeluarkan air matanya.
Queenzha mengusap punggung temannya dengan lembut, dia mengerti dengan apa yang sedang temannya rasakan.
"Aku malah berpikir mungkin akulah yang mereka incar karena pertukaran ini sangat mendadak dan hanya beberapa staf kerajaan terkait saja yang tahu juga sedikit orang-orang perpustakaan," ungkapnya tak dapat lagi menahan semua beban yang ada dipikirannya.
"Tenanglah, keluarkanlah semuanya. Setidaknya itu akan membantumu sedikit lebih tenang," ujarnya.
Edel menangis menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Malik. Queenzha membawakan air untuknya agar lebih tenang.
"Minumlah," Queenzha memberikan air putih padanya.
Edel meneguk minumannya dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya dibantu Queenzha.
"Kau tahu, Istana menambahkan pengawal untukku," Queenzha tahu jika mereka datang dengan membawa beberapa pengawal tidak seperti biasanya, sekarang mereka berjaga di sekitar vila.
"Tenanglah, itu karena pelakunya belum tertangkap," ujar Queenzha.
"Kata malik mereka sudah tahu tempatnya dan tadi pagi dia bilang akan melakukan penangkapan. Mungkin sekarang sudah tertangkap," terang Edel. Dia tidak tahu jika mereka menangkap pelakunya yang sudah menjadi mayat.
Queenzha mengangguk, "Semoga semuanya baik-baik saja."
"Aku belum mendengar bagaimana studimu, bukankah terakhir kau bilang disertasimu sudah selesai," mencoba mencari topik yang ringan, dia tidak ingin memikirkan lagi kasus yang melibatkan keluarganya karena itu membuat kepalanya sakit.
"Ya aku sudah menyelesaikan semuanya dan bulan depan wisudanya, aku berharap kau hadir di acaraku," ujar Queenzha.
"Benarkah?" Queenzha tertawa kecil.
"Oh ya, Congratulation kawan ... , aku ikut s Nang dan bangga untukmu," ucap Edel.
"Terimakasih," jawabnya, wajahnya bersemu merah.
"Apa setelah ini kau berencana mengambil lagi studi?" goda Edel tersenyum, dia tahu jika Queenzha sudah seperti studyholic baginya. Dia sangat senang belajar.
"Ya, aku rencananya seperti itu. Tapi orangtuaku dan orangtuanya menyuruh kami agar menyegerakan pernikahan kami dulu," terangnya terlihat lesu.
"Aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu kawan, asalkan itu baik untukmu," timpal Edel memegang tangan Queenzha.
"Bagaimana kabar ponakanku di dalam sana?" tanya.
"Alhamdulillah, kemarin dokter sempat memeriksaku karena badanku drop saat kejadian itu. Katanya dia sehat dan kuat," ucap Edel mengelus perutnya.
"Aku ingin merasakannya juga."
"Menikahlah dulu," titah Edel, dia tahu jika Queenzha dan Ronald sudah berhubungan layaknya suami istri.
Queenzha tertawa kecil, "Akan aku pikirkan, melirik Ronald yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya.
"Del, menurutmu apa Ronald serius denganku. Aku selalu berpikir dia hanya bermain-main saja denganku," terangnya meminta nasehat Edel.
"Hei, bukankah kau sudah dibawa ke rumahnya dan aku juga mendengar jika orangtuanya setuju denganmu. Apalagi yang kamu khawatirkan?".
"Kau tahu sendiri jika dia seorang Casanova, aku takut jika sudah menikah dan tiba-tiba seorang perempuan datang membawa anaknya atau dia berselingkuh dariku!" ujarnya menunduk.
"Ya, aku memang tahu Ronald orang yang seperti itu sebelum dia bersamamu. Tapi aku juga melihat dia telah berubah, bahkan kata Malik Ronald sudah tidak bermain wanita lagi. Percayalah padanya, jika dia berselingkuh darimu mungkin bukan hanya kamu yang akan menghukumnya tapi juga orangtuanya," Edel tertawa kecil teringat cerita Malik jika orangtua Ronald adalah seorang mafia.
tok, tok, tok ... , seorang pengawal masuk membawakan beberapa kotak pizza dan kotak makanan yang lain. Malik berdiri menghampirinya.
"Maaf Yang Mulia, apakah anda memesan semua makanan ini?" tanyanya pada Malik.
Malik melirik Ronald,
"Ya aku yang pesan karena aku melihat di sini tidak ada apapun yang bisa di makan!" ujar Deo menyeringai melihat Ronald.
"Aku kan sudah bilang kalau kita bertemu di cafe tempat biasa, tapi pangeran Malik menginginkan jika kita bertemu di sini," Ronald tak mau disalahkan sendirian.
"Ya ... ya ... ," jawab Deo.
"Simpan di meja makan aja," titah Edel pada pengawal yang membawa pesanan mereka.
Queenzha membantu pengawal membereskan mengatur makanan tersebut. Setelah selesai para pengawal keluar untuk berjaga kembali di depan villa.
"Kenapa ditaruh di sana?" tanya Deo yang merasa dialah yang memesan makanan tapi Edel dan Queenzha yang mulai membuka dan memakan pesanannya duluan.
"Ayolah jangan pelit, aku lapar sekali bukankah istrimu juga sedang hamil," canda Edel.
"Baiklah, makanlah ... ," ujar Deo cemberut.
Malik dan yang lainnya berpindah tempat, bergabung dengan Edel dan Queenzha di tempat makan. Mereka mengobrol dan bercanda.
"Assalamu'alaikum," suara baritonnya mampu membuat semua orang langsung terdiam dan melihat kearah pintu.
*****
Terimakasih sudah membaca.🥰
Stay safe everyone ... . 🤗🥰