He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 94



Mrs. Soe sedang bersantai menikmati teh hijau dengan Mrs. Ommar dan Mrs. Urdha di balkon kamarnya. Sedangkan para suaminya entah mengobrol di mana.


Bunyi bel kamar terdengar, "Maaf, aku bukakan pintu dulu." berdiri berjalan menuju pintu. Dilihatnya Queenzha yang datang.


"Hai, morning. Ada apa sayang?" Mrs. Soe sudah kenal dengannya karena Queenzha teman satu apartemen Edel saat kuliah dulu di Oxford university.


"Tante, apa Edel ada di sini?" tanyanya.


"Ga ada sayang, emang belum ketemu juga dari tadi? udah tanya Malik?" tanya Mrs. Soe santai. "Ga usah terlalu khawatir mungkin sekarang dia sedang bersama Malik. Udah di telepon belum?" tanyanya lagi.


"Saya ga berani menghubunginya, takut ada salah faham. Makanya saya ke sini menemui Tante," ujarnya tersenyum, dia tak berani menghubungi Malik bisa kacau dunia jika Ronald tau dia menghubungi Malik tanpa persetujuannya apapun alasannya.


"Ayo masuklah," Mrs. Soe mempersilahkannya masuk. "kami sedang minum teh, kau mau gabung dengan kami para ibu-ibu," ajak Mrs. Soe ketika Queenzha mendengar tawa dari balkon kamar.


"Maaf, saya mengganggu waktu Tante."


"Tak apa sayang, kau tak mengganggu ku," sahut Mrs. Soe mengambil ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang.


***


Malik tersenyum menatap kekasihnya, Ini pertama kalinya dia memperhatikan Edel sedekat ini. Pernah beberapa kali dia melakukannya tapi ketika Edel tertidur di dekatnya berbeda dengan kali ini saat Edel bangun.


Cium jangan, cium jangan, cium jangan ... . batin Edel berperang melawan ***** yang tiba-tiba muncul. Dia menggigit bibirnya, jantungnya kian berdebar membayangkan dia mencium Malik duluan. Nafasnya mulai tak teratur.


Mereka saling bersitatap mesra, Malik menyingkirkan beberapa helai rambut Edel dari pelipisnya dan membelai wajahnya yang mulus.


Memang benar kata orang, jangan berduaan dengan lawan jenis di tempat sepi nanti yang ketiganya setan karena entah setan dari mana yang mulai masuk ke pikiran mereka. perlahan Malik mendekatkan wajahnya ke wajah Edel, dia menatap bibir mungilnya yang ranum. Hanya beberapa senti lagi ... ,


Drrrttt ... , drrttt ... , Malik kaget dengan getaran ponsel di saku celananya. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya sembarang seakan memperlihatkan penyesalannya kenapa menyimpan ponsel di sakunya.


Mengganggu saja. pikirnya.


"Sebentar," ujar Malik yang melihat raut wajah kekasihnya berubah cemberut dengan bibir mengerucut membuatnya gemas.


Malik mengeluarkan ponselnya. dan di lihatnya Mrs. Soe lah yang menghubunginya yang menggangu acara romantisnya pagi ini.


Apa dia tau aku mau mencium anaknya?. Batin Malik terkekeh.


"Ngapain sih bunda telepon pagi-pagi," gerutu Edel melihat bundanya yang menghubungi kekasihnya. Edel melemparkan bantal kursi sembarang memperlihatkan kekesalannya. Malik tersenyum menahan tawa melihat kekasihnya kesal.


"Assalamu'alaikum," sapa Malik.


"Wa'alaikumsalam, Malik apa Edel bersamamu?" tanya Mrs. Soe.


"Ya, dia ada bersamaku."


"Ada apa bunda, aku ada di sini sama Malik," kata Edel.


"Queenzha mencarimu, ponselmu tertinggal di kamar jadi dia nanyain kamu ke bunda," jawab Mrs. Soe, "Ya udah, bunda tutup ya telepon nya," kata Mrs. Soe.


"Baik bunda, Assalamualaikum," jawab mereka berdua berbarengan.


"Wa'alaikumsalam," balas Mrs. Soe mengakhiri panggilan nya.


Malik menyimpan ponsel pengganggunya di atas meja, dia melirik Edel yang tersenyum malu meliriknya. Malik mengambil tangan Edel dan menciumnya lalu memandang kekasihnya. Mereka tertawa bersama menertawakan kejadian barusan yang terganggu oleh telepon Mrs. Soe.


***


"Malas sekali," gumamnya masih memejamkan matanya, dia merasakan berat di perutnya. Tangannya meraba sesuatu yang melingkar di perutnya, dia membukakan mata menatap wajah seorang lelaki yang kini sudah menjadi suaminya.


"Aaarrrgggghhhh ... ," pagi itu, bukan pagi sebenarnya tapi sudah menjelang siang di ramaikan dengan teriakan Kate yang terkejut melihat Deo berada di tempat tidurnya. "Deo, apa yang kau lakukan?!," ketus Kate menarik diri menjauh dari Deo yang masih terpejam.


"Kenapa kau berteriak, aku masih mengantuk," jawabnya menarik selimutnya kembali untuk menutup badannya.


"Deo," teriaknya lagi.


"Kenapa kau terus berteriak padaku," Deo balik berteriak dan duduk di tempat tidur.


"Kenapa kau di kamarku?" tanya Kate ketus.


"Lalu aku harus tidur di mana? kita sudah menikah tak mungkin aku tidur di kamarku semalam," ujarnya beralasan.


"Kenapa kau tidak tidur di sofa, kenapa mesti di tempat tidurku?".


"Aku Deo Ettan Xiever, aku tak terbiasa tidur di sofa bisa sakit badanku nanti!" seru Deo.


Mita memejamkan matanya, menarik nafas berusaha tenang. "Lalu kenapa kau memelukku?!".


"Aku ga sengaja, mungkin aku mengira kau guling, makanya ku peluk," jawabnya santai.


"Eeeerrrrrggghhhh, Kau sungguh menyebalkan," ketus Kate melempar bantal ke arah Deo, tapi langsung ditangkap cepat olehnya dan dipakainya bantal itu untuk kembali tidur. Deo tersenyum dalam tidurnya.


Kate bangun dari tempat tidur berjalan ke arah kamar mandi dengan tangan mengepal tanpa menyadari Deo memperhatikannya, Dia harus mendinginkan kepalanya yang panas gara-gara Deo.


Deo memandang tubuh Kate, lingerie putih yang dipakainya menampakan lekukan tubuh nya, Deo menyunggingkan senyuman dalam tidurnya,


** Flashback On **


"Ngapain kamu di sini, mana istrimu?" Tanya Shahmeer mendekati Deo yang sedang duduk sendirian dan minum.


"Hei bro. Kate sudah ke atas, dia kelelahan. Kau darimana, aku mencari kalian?".


"Biasa," jawabnya singkat. Deo terdiam tak bertanya lagi.


"Kenapa kau duduk sendiri di sini, bukankah ini malam pertamamu?" tanyanya penuh selidik.


Deo hanya tersenyum mendengar pertanyaan temannya.


"Nikmatilah malam pertamamu, jangan duduk di sini sendiri. Kasian istrimu menunggumu sendirian di kamarnya," saran Shahmeer, dia berharap Deo serius menjalani pernikahannya seperti pernikahan impian yang dulu sering dia ceritakan.


"Aku tak yakin dia menungguku," jawab Deo.


"Kenapa kau berbicara seperti itu, dia istrimu tentu dia akan menunggumu." tegasnya menepuk punggung Deo.


Kau benar, dia istriku. batinnya.


"Thanks bro, aku ke kamar dulu." pamitnya setengah berlari ke arah lift.


Deo berdiri di depan pintu kamar Kate istrinya, dibunyikannya bel tapi tak kunjung dibukanya. Dia memandang pintu berpassword, "Oh ... damn, aku tak tau password nya!" gerutu Deo.


Dia menelepon pihak hotel untuk membawakan kunci cadangan kamar Kate.


Deo masuk ke kamar tidur dan melihat istrinya telah terlelap. Setelah membersihkan diri dia pun merebahkan badannya di samping Kate. Deo memandangnya wanita yang sekarang menjadi istrinya, cantik ... , dia memindahkan guling yang menghalangi mereka dengan melemparnya ke lantai lalu memeluk wanita di sampingnya itu.


** Flashback off **


"Perjanjian, siapa yang peduli dengan perjanjian?!" gumamnya tersenyum.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰