
"Bunda," kata Edel sambil mengiris bawang.
"Semalem ... kemarin ...," lama dia tidak meneruskan perkataannya.
"Apa sayang, semalem, kemarin, jadi kamu mau bilang apa?" kata Mrs. Soe melirik anaknya.
"Kayanya semalem aku bilang iya sama Malik," ujar Edel
"Maksudnya, bunda ga ngerti sayang," jawab Mrs. Soe.
"Aku kayanya menerima Malik," kata Edel.
"Ko pake kayanya?"
"Hehehehe ... aku, ehm ... semalam aku setuju jadi pasangannya," sahutnya gugup sekali.
"Pasangan apa sayang?"
"Ah bunda, becandain mulu masa bunda ga ngerti!" gerutu Edel.
"Hahahaha ... anak bunda sudah besar, Alhamdulillah kalau sudah ngasih jawabannya. Bunda seneng apapun pilihanmu, bunda dan ayah akan selalu mendukungmu, menemanimu," ujar Mrs. Soe.
"Terimakasih, Bunda." ucap Edel.
**
Sudah seminggu sejak Edel memberitahu Mrs. Soe tentang kelanjutan hubungannya dengan Malik, hari ini Mrs. Soe berangkat ke Swiss untuk mempersiapkan pembukaan restoran pertamanya di sana bersama temannya Mrs. Ommar.
Edel mengantar ayah dan bundanya ke bandara.
"Sayang tak apa kan ditinggal sendiri?" kata Mrs. Soe masih mengkhawatirkan anaknya.
"Aku sudah besar bunda, waktu kuliah dulu juga sendiri. Lagian di sini ada simbok jadi aku ga sendirian," ujar Edel.
Mrs. Soe menghampiri anaknya dan memeluknya lama. "Inget, boleh kerja begadang, tapi jangan lupa makan juga istirahat. Tubuhmu bukan robot," nasihat Mrs Soe.
"Iya bunda. Bunda sama ayah juga jangan lupa kasih tahu begitu sampai sana," kata Edel.
"Pak, anterin Edel pulang ya. Jangan biarin dia ke kantor lagi," titah Mr. Soe pada supir pribadinya.
"Aku kan bawa mobil yah," ujar Edel.
"Gampang, nanti ayah suruh orang buat ambil!" seru Mr. Soe.
"Ya udah kita masuk ya," kata Mrs. Soe.
"Iya, hati-hati ya," kata Edel.
"Assalamu'alaikum," pamit Mr. Soe.
"Wa'alaikumsalam," jawab Edel melihat Mr. dan Mrs. Soe berjalan masuk diiringi asisten pribadi Mr. Soe.
"Ayo, Pak!" seru Edel.
"Ya, mari non." mempersilahkan.
Sepanjang jalan Edel melihat keluar jendela seperti tertarik oleh sesuatu di luar, lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan.
"bunda udah berangkat sama ayah, tinggal aku sendiri"
Lama dia menunggu balasan, akhirnya Malik menghubunginya.
"Di mana?" tanya Malik di seberang telepon.
"Masih di jalan, kenapa?" jawab Edel.
"Ok, nanti malam aku temani. Masih di acara," ujar Malik.
"Ok," jawabnya singkat.
"Kasih tahu kalau sudah sampai rumah," titah Malik.
"Ya," singkat.
"Kesal?" tanya Malik mendengar suara Edel yang berbeda.
"Engak, ya udah katanya lagi ada acara!" gerutu Edel.
"Jangan marah. Assalamu'alaikum, nanti aku hubungi lagi. Tunggu aku," pamit Malik.
Edel langsung mematikan ponselnya tanpa menjawab salam Malik. Malik tahu kekasihnya mulai merajuk.
Edel tiba di rumah pukul sembilan, jalanan Jakarta cukup padat hari ini. Dia langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, meletakkan ponselnya di nakas tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Entah kenapa dia agak kesal pada Malik hanya karena sesuatu yang dia lihat kemarin.
Ponselnya telah berbunyi beberapa kali, tapi dia enggan untuk bangun mengambilnya.
"Ah, aku membencimu," gumamnya meneteskan air mata mengingat apa yang dia lihat kemarin.
Ponselnya terus berbunyi, akhirnya dia mengalah dan menjawab panggilannya.
"Ya, assalamu'alaikum," dengan suara malasnya.
"Belum hanya memejamkan mata saja, ada apa?" tanya Edel.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Malik.
"Tidak, aku hanya sedikit lelah hari ini," ujar Edel mengatur suaranya menutupi rasa kesalnya.
"Sudah selesai acaranya?" lanjutnya.
"Ya sudah, aku sudah di kamarku. Tadi aku bersama teman-temanku, maafkan aku baru bisa menghubungimu. Aku tidak bisa menemanimu saat bersama teman-teman ku, aku belum mau membagimu dengan mereka," ungkap Malik.
"Membagiku, maksudnya kamu mau menggilirku dengan teman-teman mu?!" suara Edel mulai terdengar sewot.
"Bukan itu maksudku, aku belum mau bercerita tentangmu dengan mereka. Mereka sedikit usil," ujar Malik.
"Ehm," singkat.
"My flower, bolehkah aku membawa orangtuaku suatu hari nanti buat bertemu dengan orangtuamu?" tanya Malik berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tahu Edel sedang kesal padanya tapi dia tidak tahu alasannya.
"Kapan?" tanya Edel terkejut.
"Ya nanti, aku belum bisa memastikan kapan, tetapi nanti akan ku bawa orangtuaku menemuimu dan keluargamu," katanya pasti.
"Jangan kaya kemarin ga ngasih tau dulu," gerutu Edel.
"Iya, makanya ini aku izin dulu," ucap Malik.
"Ok, tapi mungkin sebulan ke depan orangtuaku sedang sibuk dengan restoran barunya," ujar Edel.
"Oh ya, bukannya dua Minggu lagi kamu ke sini buat meeting dengan perusahaan Ommarcorp?" berusaha mencari bahan pembicaraan.
"Ya, tapi sudah diurus digantikan sama wakilku. Jadwalnya bentrok dengan pembukaan restoran bunda," jawab Edel.
"Jadi kamu ga akan ke sini? padahal aku sudah berencana mencuri waktumu buat kencan denganku," kata Malik merayu padahal dia sudah tahu kalau Edel meminta wakilnya menggantikannya.
"Kencan apaan?" tanya Edel.
"Aku ingin mengajakmu bertemu keluargaku, berkuda atau berlayar," katanya.
"Simpanlah rencanamu buat nanti. Aku sibuk sekarang, lagian kalaupun ke sana aku sibuk kerja ga akan ada waktu buat kencan," gerutu Edel.
bertemu mereka, apa ga terlalu cepat! baru juga seminggu. batin Edel.
"Benarkah?" tanya Malik yang mulai bingung kenapa Edel terdengar kesal terus dari kemarin.
"Kenapa ga ajak teman perempuanmu aja buat melakukan rencanamu?!" tanyanya sewot.
"Teman perempuan?" kata Malik terkejut, karena baru kali ini dia mendengar Edel menyinggung 'teman perempuan' nya, bahkan dari pertama dia kenal pun saat mendekatinya dia tidak pernah bertanya soal teman-teman nya.
"Iya teman perempuanmu, aku melihat fotomu dengannya waktu pembukaan perpustakaan," ungkap Edel.
Malik tertegun dengan perkataan Edel, dia ingat perempuan yang datang ke pembukaan perpustakaan adalah Azmy. tapi dia juga ingat telah meminta Mr. Husein menghapus semua artikel yang berhubungan dengannya.
Apa Azmi mengupload foto mereka di medsosnya?. pikirnya, sekarang dia tahu mengapa Edel kesal padanya dan itu sedikit membuatnya senang karena dia tahu Edel sedikit pencemburu.
"Azmy? maksudmu fotoku dengan Azmy?" tanya Malik pelan berusaha mengatur nafasnya.
"Tuh kamu langsung tahu perempuan yang ku maksud!" kata Edel ada rasa kecewa dalam suaranya.
"Dia temanku, hanya temanku. Kebetulan dia datang, aku malah tidak tahu dia mau datang dan kami bertemu begitu saja. Hanya sebentar," jelas Malik berusaha meyakinkan kekasihnya.
"Maafkan aku, jika itu membuat kamu kesal," lanjutnya berharap kekasihnya tidak kesal lagi padanya.
"Bolehkah aku tidur duluan, kepalaku sedikit sakit," gumam Edel suaranya terdengar lemah.
"Kamu sakit, dengan siapa kamu di rumah?" tanya Malik khawatir.
"Ada simbok, aku ga pa-pa hanya butuh istirahat aja," sahut Edel.
"Telepon aku kalau ada apa-apa," titah Malik.
"Iya," jawabnya singkat. Kalaupun ku telepon kamu tidak bisa langsung menemuiku. batin edel
"Jangan terlalu dipikirkan, aku ga ada hubungan apa pun dengannya. Dia hanya teman," ujar Malik.
"Sapa yang mikirin?! yee, kepedean banget!"
"Apa aku harus menghubungi Mita untuk datang menemanimu?" tanya Malik.
"Ga usah, Kasian dia. Lagian aku ga apa-apa," jawab Edel, dia ga mau jadi bahan olokan temannya hanya karena masalah sepele seperti itu
"Baiklah, besok pagi aku hubungi lagi. Istirahatlah My flower" ucap Malik.
"Ehm ...," singkat.
"Assalamu'alaikum," pamitnya ragu. ingin rasanya dia langsung menemui dan menemani kekasihnya. Andai ada pintu doraemon pikirnya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Edel menutup teleponnya
Edel meletakkan ponselnya di nakas dan menatap langit-langit kamarnya. Dia bilang cuma teman, hanya teman. artikel memang suka membesar-besarkan kabar, mungkin itu salah satunya. pikir edel. Mencoba menyingkirkan bayangan foto mereka dari pikirannya.