
**flashback on**
"Maaf Yang Mulia, dokter Keanu menghubungi anda," Mr. Khalid membungkuk menyerahkan ponsel pada Baginda Sultan.
Raut wajah Baginda Sultan seketika berubah antara raut terkejut dengan raut kesedihan ketika menerima telepon tersebut.
"Kita ke rumah sakit sekarang, hanya kita berdua. Rahasiakan ini dari semua orang," ujar Baginda pada Mr. Khalid.
Mr. Khalid membungkuk hormat. Dia tahu raut wajah itu pasti kondisi Pangeran Fatih memburuk lagi, tetapi dia hanya membungkuk dan berjalan mengikuti perintah tuannya tanpa bertanya kenapa mesti merahasiakan keberangkatan mereka.
Setiba di rumah sakit, Baginda Sultan langsung ke ruang rawat Pangeran Fatih lewat jalur khusus tidak melewati lobi, dia ingin segera bertemu dengan dokter yang tadi menghubunginya terlebih bertemu dengan putra sulungnya.
"Yang Mulia," sapa dr. Keanu membungkuk hormat.
"Bagaimana keadaannya?" Baginda langsung mendekati tempat putranya terbaring tak berdaya dengan badan yang penuh dengan alat.
"Kami mohon maaf Yang Mulia, Yang Mulia Pangeran mengalami serangan jantung. Kami memasang ventilator untuk membantunya bernafas karena sekarang pangeran hampir tidak bisa bernafas mandiri."
"Mohon maaf Yang Mulia, kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Mohon maaf kami harus memberitahukan kabar tidak menyenangkan ini kepada anda Yang Mulia, anda harus menyiapkan diri untuk kondisi terburuk karena jika hal ini terus terulang lambat laun akan terjadi mati otak pada Yang Mulia Pangeran Fatih jika hal ini terus berlanjut," tutur dokter Zaidan, kepala rumah sakit.
Baginda hanya terdiam tidak bisa mengeluarkan kata-kata, memandang sang putra sulung yang sangat dicintainya.
**flashback off**
Pria paruh baya itu memejamkan matanya, tak terasa air mata mengalir dari sudut mata. Haruskah Ia menyerah untuk putra sulungnya, kalimat itu yang terus menghampiri pikirannya.
"Aku tidak boleh menyerah untuk kesembuhannya," gumam sang sultan berusaha memantapkan hatinya meski itu sangat sulit.
Ini bukan pertama kalinya dokter mengatakan tentang henti jantung dan mati otak, Fatih bertahan setahun ini diluar prediksi para dokter, kalau dia tidak menyerah kenapa aku harus menyerah akan dia. batinnya.
"Ya, aku tidak boleh menyerah. Berikanlah kesembuhan untuk anak hamba ya Allah," lirihnya.
Hatinya bertambah sedih membayangkan jika Putra sulungnya meninggalkan lelaki tua itu lebih dulu. Walaupun dia mempunyai tiga orang anak lagi selain si sulung, namun orangtua mana yang tidak sedih jika ditinggalkan anaknya untuk selamanya tidak dapat lagi mendengar suaranya, gurauannya, bahkan senyuman dan kritikannya pun pasti akan dia rindukan.
Baginda Sultan menekan tombol di telepon kantornya untuk memanggil Mr. Khalid.
"Assalamualaikum, Yang Mulia," sapa Mr. Khalid begitu masuk ke ruangan kerja Baginda.
"Batalkan jadwalku menghadiri persidangan lusa. Aku akan menemui anakku, menemaninya di rumah sakit. Ya Mr. Khalid, aku sudah memutuskan tidak akan menyerah begitu saja untuk kesembuhannya," ucap Baginda.
"Baik, Yang Mulia," sahut Mr. Khalid yang terharu mendengarnya.
***
"Honey, kau sudah siap?" tanya Malik sambil menggendong baby boy yang sudah mulai tidak mau diam.
"Ya, sebentar lagi."
"Mommy tuh dandannya sebentar, yang lama memilih baju," gerutunya pada baby boy.
Malik berjalan keluar kamarnya dan masuk ke kamar baby boy menyerahkan baby boy pada pengasuhnya Mrs. Anne. Malam ini Edel dan Malik akan ikut berkumpul dengan teman-teman Malik di rumah Deo, mereka tidak akan membawa baby boy karena acaranya pasti sampai larut malam.
"Mana baby boy?" tanya Edel ketika Malik memasuki kamar mereka.
"Dengan Mrs. Anne," jawabnya singkat.
"Aku akan menemuinya dulu, setelah itu kita berangkat," ujar Edel keluar meninggalkan Malik sendirian di kamar mereka.
Sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Butuh waktu 45 menit untuk sampai di rumah Deo yang berada di kawasan elite pusat kota.
"Apa ada acara khusus, Kate tidak bilang jika kita akan berkumpul di rumahnya," ujar Edel begitu memasuki gerbang rumah Deo.
"Tidak, kami hanya ingin berkumpul saja. Shahmeer hari ini datang," Malik melihat reaksi Edel ketika dia menyebut nama Shahmeer.
Edel tidak menjawab pertanyaan suaminya, seakan dia tidak mendengar apa yang Malik katakan. Edel lebih memilih fokus pada ponselnya dia sedang berchat ria dengan Kate dan Queenzha.
"Ayo," ajak Malik. Mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke rumah Deo.
"Apa kami yang pertama datang?" Edel melihat jam yang melingkar di tangannya, tidak percaya jika dia datang lebih awal karena biasanya dia selalu datang paling akhir ketika ada acara seperti ini.
"Kau lucu sekali membungkuk seperti itu," ujarnya. "mana Hazel?".
"Dia diculik oleh mamanya Deo tadi pagi," Kate terlihat kesal.
"Orangtua Deo lagi di sini?" tanyanya lagi.
"Ya, dan langsung bawa Hazel. ah, aku kesal sekali tapi ga bisa melawan."
"Ayolah, nikmati aja. nanti juga dianterin ke sini lagi."
Kate masih terlihat mengerucutkan bibirnya. Selama ini dia tidak pernah jauh dari Hazel dan kalaupun dia harus keluar meninggalkan anaknya di rumah dengan pengasuhnya paling hanya beberapa jam. Dia sangat merindukan anaknya, ketika dihubungi mereka sedang berada di villa milik keluarga Deo di daerah pesisir untuk berlibur.
Edel tersenyum mendengar semua keluhan Kate, dia tahu bagaimana rasanya rindu pada anak ketika harus berjauhan dengannya apalagi seharian.
"Hey, fokus amat nyampe aku manggil pun ga didengar."
Mereka menengok ke arah Queenzha yang mulai terlihat berisi.
"Aku kira siapa, kau terlihat lebih chubby dari terakhir kita bertemu," ejek Kate.
"Apa aku chubby. Haahh ..., Ronald selalu menyuruhku untuk makan, dia bilang sekarang aku makan untuk 2 orang aku dan anak kita. Benarkah aku chubby?" Queenzha cemberut memegang pipinya.
Edel dan Kate tertawa melihat tingkah Queenzha yang mulai mengkhawatirkan berat badannya.
"Sayang, ayo makan. Aku sudah kelaparan gara-gara menunggu kalian datang," keluh Deo pada Kate.
"Baiklah, aku akan siapkan dulu makanannya," Kate dibantu Edel dan Queenzha menyiapkan, menata makanan di meja makan.
Queenzha memanggil laki-laki yang sedang asik mengobrol di ruang depan.
Mereka berkumpul di meja makan, terhidang berbagai macam menu makanan di atas meja hingga penuh sesak oleh piring.
"Kapan kita akan berkumpul menjadi berdelapan, rasanya mulai membosankan selalu bertujuh," ujar Deo menyindir Shahmeer yang masih saja sendiri setelah putus dari Rachel.
"Hei, kita berdelapan sekarang. Apa kau melupakan istriku yang sekarang sedang mengandung," tukas Ronald cepat, tapi tidak dihiraukan Deo.
"Bagaimana kabar Azmi?" tanya Edel tidak ada maksud apapun namun membuat semua orang membelalakkan mata ke arahnya.
"Alhamdulillah baik, dia sedang fokus menyelesaikan studinya," Shahmeer tersenyum bahagia ditanya oleh Edel walaupun bukan kabarnya yang dia tanya, berbeda dengan Malik yang mengerutkan dahinya sekaligus cemberut karena pertanyaan Edel.
Queenzha dan Kate tersenyum dalam diam melihat sang pangeran yang sedang diliputi rasa cemburu.
"Honey, tolong ambilkan beefnya," ujar Malik menyodorkan piring ke arah Edel.
"Terimakasih, Honey," ucapnya, merangkul Edel yang meliriknya tajam.
Mulai deh, batin Edel.
Mereka kembali berkumpul di ruang tengah mengintari berbagai macam camilan Snack malam.
Edel masih berada di ruang makan membantu Kate membereskan bekas makan malam mereka. Kate mempunyai lebih dari 8 pembantu yang membantunya membereskan semua pekerjaan rumah, walaupun begitu dia tetap menyiapkan dan membereskan tempat makannya dan Deo dari meja makan. Itu adalah aturan yang dibuat oleh mereka.
"Persidangan besok dimulai pukul berapa?" tanya Deo.
"Sekitar pukul 10," sahut Shahmeer.
"Kau sudah menemui ibumu?" Shahmeer menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Deo padanya.
"Apa kau siap dengan semua putusan persidangan lusa?" tanya Malik yang melihat Shahmeer tenang menjawab pertanyaan Deo.
"Tentu, itu sama sekali tidak mempengaruhiku. Wanita itu hanya mempunyai wajah dan badan ibuku saja, tapi jiwanya bukanlah ibuku lagi."
*****
Terimakasih sudah mampir membaca.🙏
Stay safe everyone.❤️