He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 62



"Kenapa kamu melihatnya?" ujar Malik.


"Oh, hai ... , udah shalatnya?" tanya Edel tidak menjawab pertanyaan Malik.


"Kenapa kamu melihatnya?" tanyanya lagi lalu duduk di sebelah Edel.


"Aku hanya ingin melihatnya ... ," ujar Edel tersenyum lemah.


"Barusan bunda menghubungiku, menanyakan kabarku dan secara tidak langsung menyuruhku pulang ... ." tidak melanjutkan kalimatnya.


"Beliau mungkin melihatmu dipeluk perempuan lain," lirih Edel kemudian.


"Apa bunda marah?" tanya Malik cemas.


"Mungkin, tapi beliau juga mungkin ngerti jika kamu adalah publik figure, yang beliau ga ngerti kenapa bisa ada yang memelukmu padahal kamu seorang pangeran bukan seorang selebriti!" ujarnya.


Malik tak dapat menahan dirinya untuk memeluk kekasihnya, dia memeluknya sangat erat. "Maafkan aku, aku ingin melindungimu tapi tidak bisa melindungi perasaanmu. Maafkan aku."


Masyarakat yang baru keluar dari mesjid melihat seseorang yang mirip pangeran nya memeluk seorang wanita. Edel tersadar akan hal itu lalu melepaskan pelukan Malik lalu menyampirkan jaketnya ke badan Malik.


"Bikin ribet aja!" seru Edel, lalu menarik paksa Malik keluar dari halaman mesjid.


"Lain kali kalau mau meluk liat tempat dulu. Itu kan halaman mesjid, waktunya magrib pasti banyak orang. Nanti gimana kalau ada yang mengambil gambar dan tersebar luas, bukankah kamu juga yang repot!" Edel terus mengomel sepanjang jalan menuju mobil. Malik hanya tersenyum mendengarkannya, dia senang Edel mengomelinya, dia senang Edel khawatir padanya, dia senang Edel peduli padanya.


"Honey, bukankah kalau fotoku memelukmu tersebar itu bisa menjadi bukti kalau kejadian di lapangan itu hanya rumor tak berdasar," ujar Malik.


"Aku tidak berpikir seperti itu, bagaimana pun kita belum menikah. Kalau foto kita berpelukan tersebar luas, itu bisa membuat namamu tercoreng. Aku juga ingin menjagamu, menjaga nama baik keluarga kita," terang Edel.


"Jadi berhentilah memelukku di depan publik seperti tadi!" sewot Edel.


Malik memegang tangan Edel dan menciumnya. "Terima kasih," ucapnya tersenyum, mengacak rambut Edel.


"Ayo pulang, kita harus bersiap ke Singapore," ajak Malik, lalu menjalankan mobilnya. Malik bersyukur Edel yang di sampingnya, dia yang akan menjadi istrinya.


***


Pukul sepuluh waktu Negara A, mereka sudah berada dalam pesawat jet yang akan membawanya ke Singapore.


Pangeran kecil Ammar tertidur di pangkuan ayahnya, dan putri Syahara pun tidur menyender di bahu suaminya.


"Kenapa mereka tidak tidur di kamar?" tanya Edel, seingatnya terdapat satu kamar tidur dengan tempat tidur king size di dalam pesawat jet yang mereka gunakan.


"Kita hanya menghabiskan kurang dari tiga jam saja dalam perjalanan ke Singapore," jawab Malik menyenderkan kepalanya ke bahu Edel, tangan mereka terus berpegangan tidak mau lepas.


"Malik, kita akan menginap di mana?" tanyanya lagi.


Apa Malik punya rumah pribadi di Singapore seperti di Inggris. batinnya.


"Tenang saja semua sudah dibooking oleh Deo, kita tinggal menempatinya saja," ujarnya.


"Rumah Villa atau kamar hotel?" tanya Edel masih belum puas dengan jawaban Malik.


"Kamar hotellah honey, dia membooking kamar hotel sekaligus tempat untuk pesta besok malam," kata Malik, matanya terpejam.


"Apa aku dipesankan kamar terpisah denganmu?".


"Apa kamu mau satu kamar denganku?" Malik balik bertanya.


"Tentu saja tidak!" kata Edel ketus.


"Kamu bisa menggunakan kamar pribadiku di hotel itu," jawab Malik.


"Kamu punya kamar pribadi, semacam penthouse gitu?" tanya Edel penasaran.


"Bukan, hanya kamar," sahut Malik.


"Malik, ada yang ingin aku katakan tapi sepertinya nanti saja," gumam Edel.


"Kamu selalu senang jika membuatku penasaran," ujar Malik.


"Honey, bukankah ini seperti kita sedang pillow talk," bisik Malik.


"Bedalah, bukankah pillow talk itu di tempat tidur!" seru Edel.


"Ayo kita pindah ke kamar," canda Malik.


"Ehmmm, mau nya!" sahut Edel memencet hidung Malik.


Mereka menghabiskan waktu perjalanan dengan bercerita dari satu hal ke hal yang lain dan tertawa bersama, Putri syahara dan suaminya tidur nyenyak.


"Besok mulai acaranya jam berapa?" tanya Edel.


"Malam mungkin sekitar jam delapan atau sembilan" jawab Malik.


"Apa besok kamu menggunakan jas atau pakaian santai atau ada dress code nya?" tanyanya lagi.


"Sepertinya tidak ada, nanti aku tanyakan," kata Malik.


Tidak terasa waktu cepat berlalu. Mereka sudah landing di Bandara Changi Airport, sudah ada dua mobil Limosin yang menunggu mereka.


"Waktu ke Indonesia kita tidak di jemput Limosin," kata Edel.


"Kita mau ke hotel mana?" tanyanya lagi.


"MBS," jawabnya singkat.


"MBS?".


"Maksudmu Marina Bay Sands?" lanjutnya. Malik mengangguk.


Setengah jam kemudian mereka sampai di lobi hotel. Manager hotel secara khusus menyapa mereka.


"Yang Mulia Pangeran Malik, Yang Mulia Putri Syahara, tuanku Mr. Fredrik," sapa Manager hotel.


Manager hotel mengantar mereka ke kamar yang biasa mereka tempati. kamarnya berada di atas lantai 50.


Manager hotel membukakan pintu untuk mereka. "Silahkan Yang Mulia, kami siap melayani anda 24 jam," katanya.


"Ya, terima kasih," ucap Malik, Putri Syahara terlihat lelah, Pangeran Ammar masih tertidur dalam pangkuan ayahnya.


"Saya permisi, selamat beristirahat," ucap Manager hotel dibalas anggukan oleh Malik.


"Aku lelah sekali, aku izin istirahat duluan ya," ujar Putri Syahara pada Edel.


"Selamat beristirahat, Assalamualaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam, selamat beristirahat juga kak," sahut Edel mencium pipi kiri kanannya.


Edel melihat sekeliling.


Malik bilang hanya kamar hotel, ini bukan hanya sekedar kamar biasa!. gumam Edel dalam hati.


Chairman suite, dengan empat kamar tidur, empat kamar mandi juga tiga balkon yang sangat mewah. Dilengkapi juga dengan dua ruang keluarga dan terdapat baby grand piano, dapur pribadi, pelayanan 24 jam, bahkan terdapat ruang bilyard.


"Ayo ke kamar," ajak Malik.


"Apa!" seru Edel.


"Ayo aku tunjukan kamarmu," kata Malik memperbaiki kalimatnya.


Edel mengganguk pelan, mengikuti Malik yang mambawa kopernya masuk ke sebuah kamar. Malik menaruh kopernya di ujung tempat tidur.


"Beristirahatlah, kamu pasti lelah seharian ini. Jika butuh sesuatu hubungi aku, kamarku di sebelah kamarmu," ujar Malik.


"Bukankah kamu bilang Deo sudah membooking kamar buatmu?" tanya Edel dibalas anggukan oleh Malik.


"Kamarnya tidak ditempati dong?!" lanjutnya.


"Kamu mau kita pindah ke kamar itu?" tanya Malik.


"Engak, sini aja," jawab Edel, Malik tersenyum.


"Selamat beristirahat, Honey."


"Ya, selamat beristirahat juga My Prince," sahut Edel tersenyum.


Dia menatap Malik keluar kamarnya dan menutupkan pintu kamar, lalu melihat sekeliling. Kamar yang mewah. Batinnya.


Edel masuk ke kamar mandi, fasilitas kamar mandi premium dilengkapi dengan pancuran berdinding kaca dan jacuzzi, bathrobe microfiber dan Terry, juga meja rias dan fasilitas salon di dekatnya.


"Waaw," gumam Edel. Dia kembali ke tempat tidur lalu merebahkan diri. Rasa ngantuknya lebih kuat setelah kepalanya menempel di bantal, tak butuh waktu lama dia tertidur pulas.


Matanya terbuka di jam setengah empat, karena dia biasa bangun di jam itu. Edel baru tertidur tidak lebih dari dua jam, badannya lelah sekali tapi matanya tak kunjung kembali tertutup.


"Ayolah mata kita tidur lagi aja, aku sedang libur shalat sekarang," lirihnya pada diri sendiri.


Pukul enam pagi waktu Singapore, ada yang menggoyangkan bahunya. siapa yang berani membangunkanku?. pikirnya. Dia terlalu lelah membukakan matanya.


"Honey, bangunlah," kata Malik menepuk lembut bahu Edel.


"Biarkan aku tidur sepuluh menit lagi bunda," gumamnya. Malik tersenyum melihat kekasihnya, lalu keluar kamarnya.


"Edel mana?" tanya Putri Syahara.


"Dia masih tidur, kasian dia pasti kelelahan setelah perjalanan kami beberapa hari ini."


"Aku ingin mengajak Ammar jalan pagi. Kamu temani saja dia di sini, kasian kalau dibangunkan," tutur Putri Syahara.


"Sayang, ayo kita jalan sekarang. Ammar sudah mulai ga sabar," ujar Mr. Fredrik menunjuk putra semata wayang mereka.


"Assalamualaikum," pamit Putri Syahara.


"Ya, wa'alaikumsalam," sahut Malik. lalu kembali ke kamarnya.


Malik membawa beberapa buku lalu masuk ke kamar Edel, dia menunggu kekasihnya bangun sambil membaca buku di kursi santai samping tempat tidur. Sesekali dia melirik kekasihnya yang sedang tertidur lalu merapikan selimutnya.


*****


Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan. 🙏


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan like dan komentar mu agar author lebih semangat. dan jadikan favorit juga dengan mengklik ❤️. 🙏🥰