
**flashback on**
"Kamu lagi sama Malik?" tanya Mrs. Soe.
"Iya dia sedang shalat, memangnya ada apa bunda?" tanya Edel.
"Ga ada apa-apa, ya udah jika ada apa-apa atau kamu mau pulang sekarang hubungi Tante Ommar ya. Nanti dia akan membantumu," kata Mrs. Soe.
"Bunda, boleh aku bertanya padamu?".
"Ada apa sayang?" tanya Mrs. Soe.
"Aku sudah memikirkannya beberapa Minggu ini, apa bisa kita melewatkan acara tunangannya?" gumam Edel.
"Maksudnya?".
"Bunda, jika aku meminta Malik untuk menikahiku saja dan melewatkan acara tunangan kami apa dia akan setuju?" kata Edel hati-hati.
"Hahahaha ... , tanyakanlah, obrolkan lah baik-baik dengannya. Kami di sini akan selalu mendukungmu jika itu pilihanmu dan terbaik untukmu. Tanyakanlah dulu pada dirimu sendiri, apa kamu yakin dengan keputusanmu?, bukan karena obsesi atau takut kehilangan dia kan?!".
"Entahlah bunda," jawab Edel ragu.
"Pikirkanlah dulu sebelum mengambil keputusan itu. menikah itu keputusan yang amat besar yang akan kamu ambil karena akan mempengaruhi semua kehidupanmu kedepannya, Bunda yakin kamu sudah tahu jawabannya jangan ragu berdoalah ... ," nasehat Mrs. Soe pada anak gadisnya.
**flashback off**
Putri Syahara mengirimkan video saat Edel menerima ajakan Malik untuk menikah pada kedua orang tuanya. Juga kepada Mrs. Soe, tentu saja belum terkirim karena mereka masih berada di pesawat.
***
"Ammar sudah ga sabar pergi, kita berangkat sekarang," ajak Mr. Fredrik pada istrinya.
"Ya sepertinya itu lebih baik, kita bisa shalat Dzuhur dulu ketika sampai," sahut Putri Syahara melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kami berangkat sekarang ya," kata Putri Syahara pada Malik yang sedang menonton film di ruang keluarga.
"Iya," sahutnya singkat tanpa melihat lawan bicara terlalu fokus menonton.
"Om, kenapa tidak berangkat denganku?" tanya Pangeran kecil.
"Nanti om berangkat dengan Tante aja," jawab Malik berbalik melihat ponakannya merajuk.
"Tante Edel harus jemput dulu mama sama dady nya, jadi kamu duluan saja. Nanti kita bertemu di sana," ujar Malik menghampiri Pangeran Ammar dan memeluknya. "ok jagoan ... ."
"Ayo sayang, kita berangkat sekarang," ajak Putri Syahara pada anaknya.
Mr. Fredrik menggendong Ammar, dan mengangguk pada Malik sebagai isyarat pamit nya.
"Assalamualaikum, ingat jaga Edel baik-baik. hati-hati dijalan," pamit Putri Syahara pada adik kesayangannya.
"Ya, kalian juga hati-hati di jalan," sahut Malik mengikuti mereka ke arah pintu dan menutupnya setelah mereka masuk lift depan pintu kamar.
Sekarang tinggal mereka berdua di kamar hotel yang begitu luas. Malik kembali duduk menonton film dari Marvel, sedang Edel berada di kamar.
Edel sibuk memilih baju yang akan dia pakai, Biasanya dia tidak sebingung itu ketika memilih. sudah hampir semua bajunya dia keluarkan dari dalam kopernya, kebanyakan baju casual yang dia bawa.
"Malik ayo," ajaknya menghampiri Malik.
"Ok," jawabnya singkat, memandang rambut kekasihnya yang disanggul dengan kepang.
"Kamu cantik sekali," pujinya
"Terimakasih," ucap Edel tersenyum.
"Ayo jalan, nanti terlambat lagi," lanjut Edel menarik lengan Malik.
"Tunggu honey, aku bawa jaket dulu." tolak Malik.
"Cepatlah," titah Edel mengikuti Malik masuk ke kamarnya.
"Kamarmu lebih bagus dari kamarku, dekorasinya mirip-mirip dengan kamarmu di sana" kata Edel iri.
"Ya tentu saja, ini kamar pribadiku. Jadi aku minta mereka mendekorasi nya sesuai denganku." ujarnya.
"Ko, bisa?" tanya Edel.
"Ayahku salah satu pemegang saham terbesar di hotel ini dan ini salah satu kamar khusus untuk kami," jawab Malik.
Keren. Batin Edel. "Ayo cepatlah," titah Edel.
***
Mereka menunggu di terminal 4 kedatangan di Bandara Changi Airport. Terminal ini dilengkapi fasilitas inovasi, teknologi, dan konsep operasi terbaru dan tercanggih di Changi Airport.
"Apa kita salah jadwal gitu ya," kata Edel karena tidak melihat orangtuanya diantara turis yang datang di pintu kedatangan.
Mereka tetap tidak bertemu dengan orangtua Edel sampai turis terakhir keluar dari pintu kedatangan.
"Apa kita melewatkannya?" tanyanya lagi.
"Ayo duduk di sana," ajak Malik. "Bolehkah aku shalat dulu, ini udah masuk waktu Dzuhur," terangnya.
"Ok," kata Edel lirih.
Mereka pergi ke tempat shalat yang terletak di areal transit lantai 1 dan terletak persis di bawah pintu ruang tunggu date C1 di pintu kedatangan barat (Arrival Hall West).
"Aku shalat dulu," pamit Malik di balas anggukan.
Edel mengeluarkan ponselnya dan membaca kembali pesan yang dikirimkan bundanya tadi pagi. Beliau juga mengirimkan gambar tiket elektroniknya, di sana jelas tertera jam keberangkatannya dan kedatangannya di Singapore. Apa benar aku melewatkannya. Batin Edel.
"Sayang kamu menunggu di sini," suara seorang pria yang sangat di kenalnya, Edel langsung mendongakan kepalanya melihat pria yang berbicara.
"Ayah ... , ayah ko bisa di sini," tanya Edel terkejut.
"Aku tadi nunggu ayah dan bunda di pintu kedatangan tapi ga ketemu-ketemu!" seru Edel
"Tadi ibumu ingin ke toilet jadi ya ... begitulah," terang Mr. Soe, "lalu kami langsung ke sini karena sudah masuk Dzuhur," lanjutnya.
"Kenapa ayah tidak menghubungiku jika sudah sampai, aku mengkhawatirkan kalian dari tadi!" gerutu Edel.
"Ponselku belum aku nyalakan," mencari alasan.
"Mana bunda?" tanyanya lagi.
"Shalat dan mungkin sebentar lagi, kamu ga ketemu Ibumu di dalam?" kata Mr. Soe balik bertanya.
"Tidak, aku sedang tidak shalat," ujarnya.
"Lalu sedang apa di sini?" tanyanya.
"Menungguku ayah, Assalamualaikum," sahut Malik menghampiri Mr. Soe mencium tangannya.
"Oh," jawabnya singkat.
"Bagaimana kabarmu, ayah?" tanya Malik.
"Alhamdulillah baik," sahut
"Hai kalian di sini," ujar Mrs. Soe menghampiri mereka. Malik dan Edel bergantian mencium tangan Mrs. Soe.
"Mau makan dulu?" tanya Malik.
"Nanti saja kita cari di luar," ujar Edel, " Putri Syahara menunggu kita di Disneyland," ujar Edel mengingatkan Malik. Mrs. Soe sudah tahu jika Putri Syahara ikut bersama mereka.
"Ayah kita jalan-jalan ke Disneyland," ujar Mrs. Soe tersenyum.
"Kita Doble date di sana," sahut Mr. Soe membuat putri semata wayangnya merona merah.
Mr. Soe merangkul pundak istrinya, troli bawaan mereka di dorong Malik yang berjalan di samping Edel menuju tempat parkir di terminal 4 Bandara Changi Airport.
Mereka masuk ke mobil Lamborghini yang khusus di sediakan pihak hotel. Mr. Soe duduk di sebelah Malik dan Mrs. Soe duduk di belakang bersama Edel.
"Gimana, sudah kamu obrolkan yang kemarin?" bisik Mrs. Soe.
"Aku sudah menerimanya bunda, bukankah tadi Putri Syahara mengirimkan Video ke bunda," gumam Edel.
"Benarkah?, aku belum memeriksanya," kata Mrs. Soe mengeluarkan ponselnya dari tas dan menghidupkannya.
Mrs. Soe melihat video ketika Edel menerima ajakan Malik untuk menikah. Mrs. Soe tersenyum haru melihatnya, dia memegang tangan Edel.
"Putri kecilku sudah besar," bisiknya.
"Fokuslah kalau sedang menyetir!" seru Mr. Soe pada Malik yang dari tadi mencuri pandang pada Edel lewat kaca spion.
"Ayah kaya yang ga pernah muda saja," sindir Mrs. Soe tertawa kecil tidak menyadari wajah Edel merona merah mendengarnya, Malik tersenyum merasa dibela oleh Mrs. Soe.
"Mau makan dulu?" tanya Malik mengalihkan pembicaraan.
"Nanti saja di Disneyland, kasian Putri Syahara jika menunggu terlalu lama," ujar Mrs. Soe.
"Bagaimana kabar orangtuamu?" tanya Mr. Soe, baru kali ini Malik mendengar Mr. Soe menanyakan kabar keluarganya.
"Alhamdulillah, baik," ucap Malik tersenyum.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam perjalanan mereka dari Bandara ke Disneyland. Karena hari ini weekend, pintu masuk ke Disneyland ramai dengan turis wisatawan asing maupun lokal yang ingin berwisata bersama keluarga ataupun teman mereka.
*****
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like, komen 🥰🙏