
"Bukankah sejak aku menerimamu menjadi pasanganku, aku juga harus menerima semua yang berhubungan denganmu. Bahkan sebelum aku menjadi pasanganmu pun privasiku, data pribadiku telah kamu dan keluargamu cari tahu tanpa sepengetahuan ku, tanpa izinku?" tegas Edel, Malik kaget mendengar penuturan Edel.
"Mulai sekarang berbicaralah padaku apapun yang akan kita hadapi, apapun yang sedang terjadi. Belajarlah tidak merahasiakan apapun dariku meskipun itu membuatku marah atau tidak nyaman. Bukankah jika menjadi suami istri nanti kita harus terbuka satu sama lain, jadi belajarlah mulai sekarang!" tegas Edel.
"Aku semakin mencintaimu My flower," ucap Malik tersenyum.
"Ayo sarapan. Makanannya mungkin sudah agak dingin sekarang, kamu lama sekali di tunggu makan dari tadi!" ketus Edel.
"Maafkan aku honey," ucap Malik tersenyum mengikuti Edel masuk.
Mereka makan dengan khidmat.
"Masakanmu enak, aku sangat menyukainya. Terima kasih," puji Malik.
"Tak sabar menikahimu," lanjutnya.
Mungkin aku akan mempercepatnya. kata Malik dalam hati
Setelah selesai, Edel bersiap untuk ke kantor dan Malik menonton tv di ruang keluarga. Dia membulak-balikan album foto Edel saat kecil.
Edel keluar menghampiri Malik yang memandang fotonya saat dia menunggangi kuda.
"Jangan terlalu fokus melihat fotoku, nanti kamu tambah cinta sama aku!" seru Edel.
"Kalau begitu aku akan melihatmu aja secara langsung, seperti ini," sahut Malik menopang dagunya memandang edel, dia tersenyum mendengar candaan Malik.
"Diamlah di sana, jangan bergerak. Aku akan mengambil fotomu," lanjutnya mengeluarkan ponsel dalam kantongnya dan memotret edel.
"kau cantik sekali honey" puji Malik memperlihatkan foto yang diambilnya pada Edel.
"Kenapa kamu tidak jadi fotografer aja, foto-foto yang kamu ambil bagus. aku melihatnya di kamarmu," kata Edel. Malik mengedikan bahunya tersenyum.
"Ayolah kita berangkat sekarang. Mita tadi menelepon ku beberapa kali nyuruh aku cepat datang. Sepertinya ada yang urgent," ajak Edel.
"Baiklah, ayo."
Mereka ke kantor Edel menggunakan mobil Mrs. Soe karena mobil Edel masih ada di bandara belum diambil.
"Apa di sini selalu macet seperti ini?" keluhnya pada Edel.
"Ya begitulah, kecuali hari libur biasanya tidak terlalu macet," terang Edel.
"Honey, jika nanti aku ingin kamu menemaniku menghadiri acara formal bisakah kamu meluangkan waktu untukku walaupun kamu sedang sibuk di sini?" tanya Malik.
"Tergantung," jawab Edel.
"Maksudnya?".
"Tergantung sesibuk apa aku, tergantung acara apa itu, emang diharuskan aku ikut mendampingiku, tergantung dimana acara itu dilaksanakan."
"Malik, izinkan aku menyelesaikan urusanku sebelum menikah denganmu. Nanti setelah menikah aku akan mengikutimu kemanapun kamu pergi. Tapi izinkanlah aku menolak ajakanmu jika aku benar-benar sedang sibuk." pinta Edel memandang kekasihnya yang sedang menyetir.
Malik memegang tangan Edel dan menciumnya.
"Hanya kamu yang mampu menolak ajakanku honey, itu membuatku semakin ingin memilikimu," ungkap Malik.
Mereka sampai di parkiran kantor, dia selalu memarkirkan mobilnya di lantai satu.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Malik.
"Ehm.. ya, aku baik. Kenapa?" jawab Edel.
"Kamu terlihat termenung dari tadi," ujar Malik menggenggam tangan Edel.
"Ah, maaf. Aku hanya terbiasa di lift sendiri, aku lupa ada kamu menemaniku," jujur Edel.
"Maksudmu kamu melupakanku bahkan saat kita sedang bersama?" ketus Malik.
"Engak, bukan begitu. Aku terbiasa sendiri ke kantor dan di lift juga jadi mungkin terbiasa diam menunggu, ga terbiasa mengobrol," terang Edel melihat Malik cemberut.
Saat pintu lift terbuka, mereka bertemu dengan Mita yang hendak pergi.
"Hai, kemana?" tanya Edel.
"Syukurlah kamu datang, sebentar lagi meeting dimulai di lantai bawah. Ayo cepat," jelas Mita.
"Meeting, apa ada sesuatu?" tanya Edel.
"Engak, ini meeting dengan Yayasan harapan, ketua yayasannya Pak Sukri meninggal sekarang digantikan oleh anaknya," terang Mita.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kapan?" tanya Edel kaget.
"Bukan kah tiga Minggu yang lalu kita bertemu dengannya waktu melihat anak-anak di sekolah pelangi dan dia masih sehat," lanjutnya.
"Katanya sih sakit," jawab Mita melirik Malik.
"Eh ada Pangeran Malik ternyata," sapa Mita.
"Oh iya, halo apa kabar?" kata Malik balik menyapa.
"Alhamdulillah baik, ya udah tar lagi ngobrolnya. Gw mau ke bawah dulu, kasian pada nungguin. Lo mau ikut ga? tapi gw aja dah. Lo periksa dokumen yang udah gw simpan di meja Lo yee," lanjutnya lalu memencet tombol terbuka lift dan masuk.
"Seru ya kalian," kata Malik yang sedari tadi memperhatikan Edel dan Mita mengobrol.
"Seru apaan?".
"Ya seru aja, dari bicara formal tiba-tiba berubah," kata Malik.
"Selamat siang Bu Edel," sapa Alice di depan ruangan Edel.
"Ini Alice, asistenku dan Mita," kata Edel memperkenalkan Alice pada Malik.
"Iya, siang," sapa Malik.
"Alice ini.. ehm.. ".
"saya tahu siapa beliau Bu," kata Alice mengerti, dan di balas senyuman oleh Edel.
Edel melihat tumpukan kertas dokumen laporan di mejanya, Lalu memandang Malik.
"Mau minum apa, nanti aku minta ke Alice siapkan minum buatmu," kata Edel.
"Apa aja, bolehkah kamu yang buatkan," pinta Malik.
"Manja deh," ujar Edel, Malik hanya tersenyum melihat Edel keluar ruangannya.
Tak berapa lama, Edel datang membawa dua cangkir.
"Kopi," kata Edel memberikan cangkir kopi pada Malik. Malik menengadah melirik cangkir satunya.
"Ini teh susu buatku, aku tidak minum kopi," kata Edel cepat.
Malik berdiri menghampiri Edel.
"Mau apa?" tanya Edel mengingat kejadian saat di kandang kuda.
"Boleh aku menyicip minumanmu," ujar Malik.
"Engak, enak aja. Bentar aku buatkan lagi," kata Edel setengah berlari keluar.
Malik membawa cangkir Edel yang dia letakan di mejanya, lalu menyeruputnya tersenyum.
"Ini," ketus Edel memberikan cangkir berisi teh susu.
Malik mengambil cangkir yang di depannya dan menunjukannya pada edel.
"Itu buatmu, aku sudah punya ini," katanya menyeruputnya lagi.
"Ehm.. haaahhh," Edel membuang nafas panjang.
Edel duduk di kursinya, mulai bekerja memeriksa dokumen juga laporan yang menumpuk di mejanya. Malik melihat Edel bekerja dari sofa depan meja kerja Edel.
Aku tidak akan melepaskanmu. batin Malik
"Malik.. Malik.. bangun, sholat duhur dulu," kata Edel membangunkan Malik yang tertidur di sofa.
"Ah, maaf aku tertidur," ujarnya.
"Ayo sholat dulu, nanti lanjut istirahat di ruangan istirahat ku tapi makan dulu," kata Edel.
Edel menunjukan dimana letak toilet juga menunjukan ruangan tempat ia biasa beristirahat agar Malik bisa shalat dan beristirahat di sana.
Sementara Malik sholat, Edel menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
"Maaf, kita ga bisa makan siang di luar. Hari ini banyak dokumen yang harus aku periksa," ucap Edel.
"Tak apa honey, aku senang sudah bisa makan siang denganmu diantara jadwal sibukmu," ujar Malik menyuapi Edel sayuran dari bentonya.
"Honey, tiga Minggu lagi ada undangan ulangtahun temanku. Bisakah kamu menemaniku?" tanya Malik sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Entahlah, aku harus lihat jadwalku dulu," ujar Edel.
"Tadinya aku mau bilang ini seminggu sebelum acara tapi melihatmu dan dokumen kerjaanmu hari ini.. aku pikir aku harus mengajakmu dari jauh hari, ga boleh mendadak," ungkap Malik, Edel melihat dokumennya yang masih setengahnya lagi belum dia periksa.
tok.. tok.. tok..
"Ya masuk," kata Edel.
"Maaf Bu, dokumen buat ke Arta apa sudah di tandatangani, barusan dari pihak Arta menanyakannya," kata Alice.
"Oh udah, sebentar," kata Edel mengambil salah satu dokumen di mejanya.
"Sebelum kamu kirim tolong bikin salinannya ya," titah Edel.
"Baik Bu," jawab Alice.
"Permisi," pamit Alice ke luar ruangan dan berpapasan dengan Mita.
"Del, nanti tanggal lima bulan depan ada acara peresmian gedung baru di sekolah pelangi. Barusan ketua yayasannya yang baru mengundang kita ke sana," kata Mita.
"Oh ya, ketua yayasannya masih muda mungkin kisaran awal 30an. Tapi rasanya wajahnya ga asing, aku pernah liat dia entah dimana," lanjutnya.
"Bukannya ketua yayasannya digantikan anaknya ya?" tanya Edel mengingat pak Sukri berusia sudah lebih dari tujuh puluh tahun.
"Ya, anaknya yang bontot. Beda lho Del ma pa Sukri, dia tinggi, gagah juga," jelas Mita.
"Terus?".
"Ga apa-apa, cerita aja," ujar Mita melihat Malik yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Kalau gitu gw ke kantin dulu, gw lupa ada seseorang di sini. Tadinya gw mau ajak lho makan," kata Mita melihat makanan di meja.
"Ayo makan sini aja," ajak Malik.
"Hahahaha.. gw ga mau jadi nyamuk," canda Mita lalu keluar ruangan Edel.