He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 42



Malik tersenyum bahagia melihat dua wanita yang sangat dicintainya, Ibunda dan Edel kekasihnya.


"Aku mau menunjukan sesuatu padamu," ujar Malik berjalan ke arah nakas dekat tempat tidurnya.


Tak lama kemudian, dia menghampiri Edel dan memberikan figura foto seorang gadis. Edel mengambil figura itu dan melihatnya.


"Siapa ini, kenapa kamu memberikannya padaku?" tanya Edel.


"Kamu tidak mengenali fotomu sendiri?" Malik balik bertanya.


Ya, memang terasa tidak asing latar tempat gadis dalam foto itu. Benarkah aku, baju pink ini. batin Edel.


"Apa ini tempat tinggalku ketika aku kuliah dulu?" tanya Edel mencoba mengingat kejadian dulu. Wajahnya langsung berseri.


"Apa kamu yang bersama Ahmet Keenan anak Perdana Menteri Turki?" lanjutnya.


"Sekarang aku ingat, aku pernah tidak sengaja menyiramnya saat aku menyiram tanamanku" ujar Edel tersenyum.


"Kamu mengenalnya, kamu hanya ingat menyiramnya saja?!" tanya malik ketus.


"Tentu saja aku kenal, semua orang di kampus tahu tentangnya," kata Edel antusias.


"Tapi kenapa kamu tidak tahu tentangku, I'm a Prince?" tanya Malik mulai cemberut.


"Ah ... ya aku memang pernah dengar tentang beberapa pange... "


"Pernah dengar?! beberapa pangeran?!, hahahaha" potong Malik menggerutu sambil tertawa sinis.


"Ya aku pernah dengar ada pangeran yang sedang kuliah sama denganku, tapi aku tidak tahu jika salah satu pangerannya itu kamu," kata Edel mulai jengkel karena Malik memotong bicaranya. Ibunda Ratu hanya tersenyum memperhatikan mereka berdebat.


"Sekarang aku ingat, kamu dulu yang pernah menguntitku ketika aku berbelanja di mall ff kan?" geram Edel.


"Aku tidak menguntitmu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk payungnya dan berkenalan denganmu. tapi kamu sulit sekali didekati," ungkap Malik ketus.


"Sama aja menguntit!" gerutu Edel.


"Aku tidak menguntitmu!" jawab Malik mulai geram


"Kamu juga pernah memperhatikan temanku yang sedang berada di rumahku kan dari seberang minimarket, temanku bilang seperti itu," desak Edel.


"Siapa yang memperhatikan temanmu, aku tidak memperhatikannya tapi memperhatikanmu," kata Malik gemas, Edel tersenyum mendengar pengakuan Malik.


"Gara-gara itu aku jadi pindah," ujar Edel.


"Pantas saja ketika aku kesana lagi, sudah ada orang lain yang menempatinya, kenapa kamu pindah?" tanya Malik penasaran.


"Karena aku takut ada orang yang selalu menguntitku. Ternyata kamu yang menguntitku," kata Edel ketus.


"Sudah ku bilang aku tidak menguntitmu, aku hanya ingin melihatmu," geram.


"Sama aja, dasar penguntit!" ketus Edel.


"Hahahhahaa..." Ibunda Ratu tertawa, mereka terkejut mendengar tawanya. Mereka lupa kalau Ibunda Ratu ada di sebelah mereka, menonton dan mendengarkan perdebatan mereka berdua.


"Ah, maafkan aku," kata Edel cepat.


"Tak apa, rasanya senang mendengar cerita langsung dari kalian," ujar Ibunda Ratu.


"Kalian lucu sekali dan ibyu juga baru tahu ternyata Pangeran kami seorang yang menguntit gadis incarannya. Hahahaha," tawa Ibunda.


"Ayolah Bu, aku bukan menguntit hanya ingin melihatnya saja," jelas Malik tegas.


"Iyalah.. iyalah.. " sahut Ibunda.


"Jadi kalian mau berangkat jalan atau masih mau meneruskan debat di sini. Ibu dengan senang hati setia mendengarkan dan melihat debat kalian barusan jika akan dilanjut lagi," goda Ibunda ratu.


"Ayo, ini udah siang" ajak Malik melihat jam di tangannya dan masih sedikit ketus berjalan keluar kamarnya di ikuti Edel.


"Ibu, aku pergi dulu. assalamualaikum," ucap nya mencium tangan Ibunda Ratu. ah, dia malu sekali sudah mengatai Malik penguntit di depan Ibunya sendiri.


Sepanjang jalan Edel tersenyum malah tertawa ketika melirik Malik. Sekarang dia mengingat kejadian saat tak sengaja dia menyiram Malik dan temannya, juga saat dia memberikan payungnya dan yang paling dia ingat saat dia ketakutan karena diikuti Malik yang disangkanya penguntit.


"Kamu lucu sekali," ujar Edel menggoda Malik yang masih kelihatan cemberut.


"Lucu atau tampan?" tanya Malik melirik Edel lalu fokus lagi ke depan.


"Ehmmm.. tampan ga yah," godanya tertawa


Mereka sampai di sebuah restoran di pusat kota. Malik keluar duluan dan membukakan pintu untuk Edel keluar.


"Aku belum bertemu Mr. Husein dari tadi pagi," ujar Edel melihat mobil Malik di ambil alih petugas valet.


"Kamu merindukannya?" jawabnya tersenyum.


"Beliau sedang disibukan mengurus semua urusanku hari ini karena hari ini kekasihku datang dari negeri yang jauh jadi aku harus menemaninya," ungkapnya memegang tangan Edel.


"Mau nonton, bagaimana jika kita hari ini ke bioskop. Aku selalu melihat di drama atau pun novel dan di mall-mall banyak pasangan menonton di bioskop ketika berkencan," ajak Edel.


"Sayang sekali sepertinya hari ini kita tidak akan sempat menonton," jawab Malik.


"Kenapa?" rengek Edel.


"Ayo, kita duduk di sana," menunjuk meja di pojok ruangan. Malik menarik kursi untuk Edel duduk dan dia duduk di kursi hadapannya.


"Hari itu aku melihatmu dari sini," ungkap Malik mengingat kejadian saat dia melihat Edel untuk pertama kalinya setelah sekian lama.


"Kapan?"


"Saat kamu meeting dengan Mr. Ommar" jelas Malik


"Aku tidak melihatmu"


"Ah, kamu ternyata seorang yang terlalu fokus jika bekerja sampai tidak melihatku padahal aku seorang Pangeran negeri ini," ujar Malik.


"Mau ke atas?" tanya Malik memandang Edel yang sedang memilih menu makanan.


"Kemana?" jawabnya tanpa melihat Malik.


"Aku punya penthouse di hotel ini,"


"Mau ngapain?" tanya Edel langsung mundur dan menutup dadanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa ekspresimu seperti itu, aku hanya ingin menunjukan penthouse ku,"


"Lain kali saja, aku ingin makan saja," ucap Edel cepat. Dia takut terjadi hal yang tak diinginkan.


"Padahal kalau perempuan lain dia akan mau ku ajak kemanapun, apalagi diajak ke penthouse ku," ujarnya.


"Ya ajak aja mereka, jangan samakan aku dengan mereka. Aku jadi penasaran sudah berapa banyak perempuan yang kau ajak atau kau kencani," tanya Edel menyudutkan Malik.


"Entahlah, aku tidak benar-benar berkencan dengan mereka hanya sekedar jalan itu pun dengan teman-teman ku," ungkap Malik.


"Jadi kamu pernah pacaran dengan banyak gadis gitu?!" Edel mulai ketus.


"Tidak, aku tidak berpacaran atau berkencan dengan mereka. Wanita yang benar-benar ku kencani hanya kamu," ujarnya.


"Benar-benar berkencan berarti banyak yang kau mainkan?" jawab Edel sewot.


"Ah, sudahlah. Apa kita akan berdebat masalah kencan?"


"Aku hanya bertanya," ketus Edel.


"Kamu cantik jika cemberut begitu tapi jauh lebih cantik jika tersenyum," ujar Malik membuat Edel sedikit tersenyum.


"Iyalah, aku memang cantik," tegas Edel.


Mereka pun mulai makan siang dengan berbagai macam olahan seafood dan juga salad. Mereka tidak menyadari ada yang sedang memperhatikan mereka, memotret kebersamaan mereka.