Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 92



"Kaki Ibu sakit." Ucap Xin Qian.


Saat Xiao Chen mendengarnya, sepasang alis tampannya mengerut. Ada kekhawatiran di matanya saat menatap Xin Qian. "Ibu, mengapa Ibu bisa terluka, Ibu baik-baik saja sekarang?"


“Iya, Apa kakak masih bisa berjalan? Kaki Kakak kedua penuh dengan luka!” ucap Xin Yang cemas.


"Tidak apa-apa, Xiao Chen dan Xin Yang, kalian jangan khawatir, aku hanya tidak sengaja terjatuh dan ini akan sembuh jika beristirahat!" ucap Xin Qian menghibur.


Meskipun Xin Qian berkata begitu, Xiao Chen masih mengerutkan kening dengan cemas, dan sepasang mata berairnya menatap Xin Qian dengan gugup. Melihat putranya seperti ini, hati Xin Qian juga merasa hangat. Dia harus merawat dirinya sendiri dengan baik. Masih ada anak lelaki ini yang peduli padanya dalam kehidupan ini.


Mo Lianfeng menggendong Xin Qian ke tempat tidur di kamar dan duduk. Sejujurnya, setelah beristirahat begitu lama, kakinya sudah jauh lebih baik, dan dia bisa betjalan dengan perlahan. Tapi, Mo Lianfeng bersikeras ingin menggendongnya, pria itu berkata bahwa jika dia keras kepala dan berjalan sendiri maka itu akan merobek lukanya lagi.


Xiao Chen bersandar di tempat tidur dan melihat cedera kaki Xin Qian, wajah kecilnya bahkan lebih tertekan. "Ibu, Xiao Chen akan meniupnya untuk mu!"


Ketika Xiao Chen meniup luka di kaki Xin Qian, itu memang terasa nyaman. Xin Qian menepuk kepala anaknya, dan berkata, "Ibu sungguh baik-baik saja. Paman ini membawa Ibu ke dokter dan membalutnya. Ini bukan masalah besar, Ibu akan segera membaik."


Mata Xiao Chen menatap Mo Lianfeng lagi. "Paman, terima kasih!"


Kesopanan Xiao Chen membuat Xin Qian lebih puas. Mo Lianfeng juga menepuk kepala Xiao Chen, dan berkata, "Tidak apa-apa. Paman dan ibu mu adalah teman baik. Jadi, paman memang harus membantu ibu mu."


"Tapi Xiao Chen masih harus berterima kasih pada Paman!" ucap Xiao Chen dengan mata berbinar.


"Ha ha! Baiklah.” Jawab Mo Lianfeng, dia berdiri di dalam rumah Xin Qian dan tidak berniat untuk pergi.


Xin Qian yang merasa bahwa Mo Lianfeng telah melakukan bantuan besar untuk dirinya, jadi dia tidak ingin mengusir orang. Jadi dia berkata kepada Mo Lianfeng, "Mengapa kamu tidak tinggal di sini dan makan dengan kami?"


"Oke ~" Mo Lianfeng tersenyum saat menjawab dengan cepat.


Xin Qian tertegun. Alasan mengapa pria ini tidak berniat pergi adalah karena dia ingin tinggal untuk makan bersama?


"Kalau begitu aku akan memasak sekarang!" ucap Xin Qian tersenyum sedikit.


“Ibu, Xiao Chen akan membantu mu!” ucap Xiao Chen mengikuti.


Xin Qian berdiri dan memasak, dan dia hampir tidak bisa bertahan. Akan tetapi, dengan bantuan tangan Xiao Chen, makanan di buat dengan cepat. Tidak ada banyak bahan di rumah, tapi dia tidak bisa membuat hidangan yang terlalu buruk untuk menjamu tamu seperti Mo Lianfeng.


Untungnya, masih ada beberapa telur merpati yang tersisa di rumah, dan Xin Qian menggoreng semuanya dan memasukkan beberapa potong cabai. Selain itu, dia mulai memasak sepiring daging katak dan membuat sepiring sayuran tumis.


Setelah selesai mnempatkan semua makanan di atas meja, Xin Qian berkata kepada Mo Lianfeng, "Tidak ada yang enak di rumah, hanya ada ini, ku harap Pangeran Mo tidak membencinya."


Mo Lianfeng melirik piring di atas meja, mencium bau harum, dan tersenyum ringan pada Xin Qian, "Ini sudah sangat kaya. Baunya juga enak."


"Kalau begitu ayo makan!" ucap Xin Qian menyapa dan ikut duduk.


Hidangan yang di buat Xin Qian kali ini berbeda dari yang terakhir, tapi rasanya masih seenak sebelumnya. Biasanya, Mo Lianfeng tidak pernah makan banyak di rumah, tapi saat dia datang ke rumah Xin Qian, dia memiliki nafsu makan yang besar, dan tanpa sadar makan dua mangkuk nasi. Dia adalah Pangeran yang mulia. Dia telah makan banyak makanan lezat, tetapi ini adalah pertama kalinya sebuah makanan bisa memberinya perasaan hangat.


Xin Qian, Xin Yang, dan Xiao Chen sama-sama menundukkan kepala untuk makan, dan Xin Qian sesekali akan mengambilkan sayuran untuk mangkuk kedua pria kecil ini dari waktu ke waktu.


Xiao Chen memegang mangkuk di tangannya yang kecil, dan dia terlihat puas. Senyum di wajah ibu dan anak itu juga tampak seperti sinar matahari di musim semi, dan hati Mo Lianfeng menghangat ketika dia menyaksikan adegan ini.


Begitu Xin Qian mengangkat kepalanya, dia bertemu tatapan mata Mo Lianfeng dan matanya agak panas, wajah Xin Qian pun berubah sedikit merah, dan dia terbatuk dengan lembut, dan itu meembangunkan Mo Lianfeng.


Baru saat itulah Mulianfeng bereaksi, dengan sedikit malu. Dia berkata dengan canggung, "Ehem, aku..." Mo Lianfeng tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


"Makanlah lagi." ucap Xin Qian tersenyum.


Rasa malu di antara kedua orang itu, hanya bisa di atasi dengan makan. Setelah makan, Xin Qian membersihkan piring di atas meja, dan Xin Yang bersikeras membantu Xin Qian mencuci piring. Melihat perhatian yang di tunjukkan adiknya, Xin Qian tidak bersikeras, dan meminta Xin Yang untuk meembantunya mencuci.


Setelah selesai makan dan minum, Mo Lianfeng berdiri di halaman rumah Xin Qian. Saat dia berdiri di luar, dia bisa mencium aroma bunga dan tanaman. Rumah Xin Qian ini memang agak rusak, tapi lingkungan yang sederhana ini membuat orang merasa sangat nyaman. Tanpa dinding pagar di halaman yang menjulang tinggi, kehidupan pedesaan yang santai dapat menenangkan hatinya. Akan lebih bagus jika dia bisa hidup seperti ini. Namun, hari yang santai seperti itu merupakan kemewahan baginya.


Xiao Chen datang di belakang Mo Lianfeng dan bertanya dengan manis, "Paman, apa yang kamu pikirkan?"


Mo Lianfeng mengelus kepalanya dan berjongkok, "Paman tidak memikirkan apa-apa.”


"Tapi, Xiao Chen melihat bahwa Paman berhenti berbicara dan melamun.” Ucap Xiao Cheng dengan polos.


"Paman hanya melihat-lihat, rumah mu sangat indah." Ucap Mo Lianfeng tersenyum.


“Ibu ku yang menanam semua bunganya,” ucap Xiao Chen sambil tersenyum.


Menyaksikan kuda Mo Lianfeng menundukkan kepalanya untuk memakan sayuran, Xiao Chen berjalan mendekat, berjongkok di depan kuda, dan menyaksikan kuda itu merumput.


Xiao Chen terlihat penasaran. Kuda Mo Lianfeng tidak takut dengan manusia, bahkan jika dia di perhatikan oleh Xiao Chen, ia masih makan dengan santai.


“Kamu mau naik kuda?” Mo Lianfeng berjalan mendekat dan bertanya pada Xiao Chen.


“Paman, bisakah Xiao Chen juga menunggangi kuda?” Mata Xiao Chen segera menjadi cerah saat dia mendengarnya.


"Tentu saja, ayo, paman akan membawa mu naik," ucap Mo Lianfeng tersenyum.


Tubuh tinggi Mo Lianfeng memeluk Xiao Chen, dan setelah memastika Xiao Chen telah duduk dengan mantap, dia melompat dan duduk di belakang Xiao Chen, melindunginya dari belakang.


“Xiao Chen, ayo mulai menunggang kuda!” Mo Lianfeng berkata dengan lembut.


“Bagus! Ayo, paman!” Xiao Chen mengangguk dan menjawab dengan nada gembira.


Mo Lianfeng mengangkat cambuknya dan kuda itu berlari. Mo Lianfeng tidak berlari jauh, tetapi hanya membawa Xiao Chen berlari mengitari rumah Xin Qian.


zzzz zzzzz zzzz zzzzz zzzzz zzzz zzzzz zzz


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗