
Setelah selesai menghidangkan semua masakan di atas meja. Xin Qian tersenyum puas dan berkata, “Sekarang waktunya memanggil anak-anak untuk makan.” Dengan itu Xin Qian pun pergi ke luar rumah.
"Xiao Chen, Yang-er, ayo makan!" Teriak Xin Qian memanggil.
Xin Chen dan Xin yang asik bermain pun mendengar suara Xin Qian memanggil, dan kedua anak itu dengan gembira berlari ke dalam rumah. Mereka juga sudah menunggu lama, dan lapar. Apalagi ketika mereka mencium aroma sedap dari dapur, mereka menjadi lebih lapar.
Xin Qian telah memasak beberapa piring di meja, total empat menu hidangan yaitu kodok tumis, ikan kukus, ikan goreng, dan sup ikan segar. Hidangan ini tidak hanya berbau sedap, tetapi juga sangat cantik dalam penampilan. Xin Qian benar-benar percaya diri dalam keahliannya memasak.
"Kakak kedua, baunya enak sekali! Kelihatannya sangat enak!" Ucap Xin Yang bersemangat.
"Haha, tentu saja enak. Ayo cepatlah makan!" Ucap Xin Qian tersenyum. Mata lurus kedua anak itu menatap semua hidangan di atas meja, bersiap untuk melahap semuanya. Xin Qian segera menyiapkan nasi untuk Xin Yang dan Xiao Chen, dan mereka pun mulai makan. Xin Qian mengingatkan kedua anak itu dari waktu ke waktu untuk tidak makan terlalu cepat, dan berhati-hati terhadap tulang ikan.
"Kakak, ikan yang kamu buat benar-benar enak! Aku belum pernah mencicipi ikan lezat seperti ini sebelumnya. Ikan yang kamu masak tidak hanya tidak amis, tapi juga enak! Kakak, aku senang bisa makan di sini bersama mu dan Xiao Chen. Jauh lebih enak dari pada makan di rumah. " ucap Xin Yang sambil terus makan, ekspresinya di penuhi dengan kepuasan.
Sebagian besar sup ikan dan ikan goreng telah dilahap oleh Xin Yang. Ikannya sangat empuk, dan rasa sup ikannya juga sangat enak. Xin Qian bahkan menyukainya, apalagi Xin Yang, yang belum pernah makan sesuatu yang enak. Rasa ikan liar yang tumbuh secara alami, tidak sebanding rasanya dengan ikan yang dipelihara atau di ternakkan.
"Tidak masalah jika kamu datang makan kemari setiap hari. Lagi pula, kakak kedua bisa menangkap ikan sendiri. Jadi, ini tidak mahal.” Ucap Xin Qian tersenyum.
"Um ... tapi kakak kedua, Ayah dan Ibu pasti tidak akan memperbolehkan aku makan terlalu sering dengan mu." Ucap Xin Yang agak murung.
"Tidak apa-apa. Ayah dan Ibu mengira aku tidak punya banyak makanan di sini. Kamu sendiri tahu kan? Kakak sebenarnya punya banyak makanan di sini." Ucap Xin Qian lagi.
"Baiklah. Kakak aku akan makan di sini lagi lain kali!" Xin Yang mengangguk sambil tersenyum, makan lebih banyak.
Kali ini Xin Yang makan tanpa ragu-ragu lagi, karena dia tahu bahwa semua ikan ini di tangkap sendiri, jadi tidak perlu mengeluarkan uang, dan juga rasanya sangat enak. Setelah makan beberapa mangkuk nasi, perut Xin Yang sekarang sudah seperti bola.
“Brrghh~ Kakak, aku kenyang, aku tidak bisa makan lagi!” ucap Xin Yang seraya meletakkan piring dan menunjukkan perutnya ke Xin Qian.
"Berhentilah jika kamu sudah kenyang. Jangan makan seperti ini lain kali. Ini tidak baik untuk pencernaan mu." Ucap Xin Qian khawatir.
"Oke, kakak kedua, aku tidak akan melakukannya lain kali. Aku hanya merasa ikan yang kamu buat kali ini sangat lezat. Aku tidak bisa berhenti makan!" Ucap Xin Yang tersenyum malu-malu.
Xin Qian mengelus kepala adiknya itu, dan berkata, "Karena kau bilang ini lezat, maka kakak kedua akan membuatkannya untukmu lain kali."
"Baik!" Jawab Xin Yang senang.
Xiao Chen juga menyisihkan piringnya, dia telah menghabiskan semangkuk nasi dengan bersih. "Ibu, Xiao Chen juga kenyang!"
"Itu bagus! Xiao Chen makan dengan baik. Sekarang, ayo minum air dulu untuk membersihkan tenggorokan mu." Ucap Xin Qian seraya menyodorkan segelas air minum pada anaknya.
Anak-anak di zaman kuno benar-benar jauh lebih mudah untuk di rawat dari pada anak-anak di abad 21. Seperti Xiao Chen, dia tidak perlu membujuk anak itu agar mau makan, malahan mereka makan dengan baik. Sedangkan, anak-anak di abad ke-21 seorang Ibu harus menghabiskan banyak waktu untuk memberi makan anaknya karena pilih-pilih makanan.
Xin Qian mengeluarkan saputangan dan menyeka mulut kecil Xiao Chen, ada banyak noda minyak di mulutnya.
Lalu, Xin Qian teringat oleh adiknya yang lain, dan berkata, “Ngomong-ngomong, Yang-er, Apa yang sedang di lakukan Tianan sekarang? Mengapa dia tidak datang kemari akhir-akhir ini? Bisakah kamu memanggil dia untuk makan di sini malam ini? Kakak kedua akan memasakkan kalian ikan lagi. "
Xin Qian mengangguk. Ada banyak pekerjaan pertanian di pedesaan, terutama di musim semi. Di pedesaan, seorang anak seumuran Xin Yang dapat dappat bebas berlari dan bermain, tetapi pada usia remaja seperti Xin Tianan, ia harus bekerja di ladang seperti orang dewasa.
"Kakak Tian'an juga tidak ingin merepotkan kakak kedua terus, jadi dia tidak datang. Ibu berkata, Kakak Tian'an dan aku tidak boleh terlalu sering makan di sini. Itu akan merepotkan kakak kedua.” Ucap Xin Yang dengan polos.
Xin Qian mengelus kepala Xin Yang dan berkata sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, Yang-er, saat kamu pulang, beritahu Tian'an untuk datang kemari dan kita akan makan bersama. Kakak kedua punya banyak ikan, jadi kita harus membuat dia merasakan seperti apa lezatnya ikan, kan? "
Xin Yang tersenyum dan mengangguk, "Oke, kakak kedua, maka aku akan kembali dan berbicara dengan kakak Tianan."
"ini bagus! Nanti malam kalian harus datang.” Ucap Xin Qian.
Ketika Xin Yang akan pulang, Xin Qian membawa kan sup ikan dan fillet ikan goreng yang tersisa. "Yang-er, bawalah ini pulang dan berikan ke Ayah dan Ibu, hati-hati jangan sampai keluarga Xin yang lain melihatnya! Jika tidak mereka pasti akan mengambilnya!” ucap Xin Qian mengingatkan.
Xin Yang mengangguk dan berkata, "Aku mengerti, kakak." Meskipun Xin Yang masih muda, dia sangat pintar. Ketika dia pulang dengan barang bawaan, dia berjalan dengan berhati-hati dan menunggu sampai tidak ada orang yang memasuki halaman dan menyelinap masuk.
Li Cuiying baru saja kembali dari toilet dan berjalan melewati halaman. Pada saat inilah, dia tanppa sengaja melihat Xin Yang memegang mangkuk di tangannya, dan menyelinap ke halaman, kemudian berlari ke rumahnya. Li Cuiying berpikir, Xin Yang sudah seperti seorang pencuri, dan dia sadar bahwa anak itu pasti membawa beberapa makanan enak dan tidak ingin orang lain melihatnya.
“Keluarga Sanfang ini ! Beraninya mereka makan makanan enak sendirian!” batin Li Cuiying kesal.
Yifang : Keluarga anak pertama, Xin Wenshi
Erfang : Keluarga anak kedua, Xin Wenshui
Sanfang : adalah sebutan untuk Keluarga anak ketiga di dalam keluarga yaitu Ayah dari Xin Qian, Xin Wenhua.
Sifang : Keluarga anak keempat, Xin Wentao
Wufang : Keluarga anak kelima, Xin Wensheng
Dalam beberapa hari terakhir, Xin Yang tidak kembali ke keluarga Xin untuk makan malam. Dia selalu pergi ke rumah Xin Qian. Mungkinkah si pelacur kecil itu, Xin Qian, mendapatkan kembali sesuatu yang lezat? Anak-anak adalah yang paling rakus, dan mereka selalu pergi ke mana pun yang ada makanan lezat. Xin Yang pasti membawa makanan dari Xin Qian!
Dengan itu, Li Cuiying diam-diam berjalan di halaman rumah Sanfang, Li Cuiying dapat mencium aroma samar yang tersisa di udara. Setelah menelan liur, Li Cuiying bergegas ke rumah Huo Chunhua, siap untuk melapor ke Huo Chunhua!
“Ibu!” Li Cuiying memasuki dapur. Nyonya tua Huo Chunhua sedang sibuk makan cemilan dengan malas.
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗