
Xin Qian tidak langsung makan. Dia berjalan keluar dari rumahnya. Melihat kusir di luar rumahnya sedang duduk di samping kereta, Xin Qian tersenyum ringan dan berkata, "Tuan, hari sudah siang, anda pasti lapar, masuk lah dan makan bersama kami!"
Sang kusir tidak menyangka bahwa Xin Qian akan menyapa dirinya yang hanya seorang pelayan, dan buru-buru melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak, tidak, Nona, kamu saja yang makan. Aku ... aku akan baik-baik saja!"
Si kusir sedikit tersentuh oleh ajakan Xin Qian untuk memasuki rumah dan makan siang, dia hanya seorang pelayan, jadi tentu saja dia tidak bisa makan dengan tuannya. Ini adalah pelanggaran aturan. Jika wanita tua itu tahu, dia mungkin akan dilatih sampai mati.
"Tuan, bagaimana mungkin Anda tidak makan siang. Tidak apa-apa, aku telah memasak banyak makanan untuk siang hari, cukup untuk dimakan kita semua." Ucap Xin Qian.
"Nona, aku benar-benar tidak membutuhkannya. Tuan ku makan di dalam, dan jika aku bukan pelayannya maka aku pasti akan pergi." Jawab sang Kusir.
Xin Qian menyadari apa yang sedang terjadi. Zaman kuno tidak seperti zaman modern, dan ada banyak aturan yang berdasarkan pada sistem kasta seseorang. Xin Qian tidak memaksanya lagi, tetapi langsung pergi ke rumah dan mengeluarkan semangkuk nasi dengan banyak sayuran di dalamnya.
Xin Qian memberikan satu porsi makanan itu kepada sang kusir, "Tuan, mari kita lakukan seperti ini. Anda bisa makan sekarang tanpa menyinggung Pangeran, setelah makan, tinggalkan mangkuk di depan rumah ku dan aku akan mengambilnya nanti."
Kusir itu terkejut. Xin Qian sudah memasukkan mangkuk ke tangannya. Xin Qian tetap tersenyum ramah, dia berbalik dan memasuki rumahnya lagi. Sang kusir melihat makanan panas dengan asap yang mengepul di atasnya dan aroma kuat tercium ke hidungnya, seketika itu pula perutnya menggeram kelaparan.
Rasa hangat mengisi hati sang kusir itu. Perasaan di hargai ini sangat baik. Dia hanya seorang pelayan, hanya orang tuanya yang peduli padanya selama bertahun-tahun. Tanpa diduga kali ini seorang gadis desa akan sangat baik padanya.
Awalnya, sang kusir memiliki beberapa keluhan terhadap Xin Qian karena dia membuang-buang terlalu banyak waktu milik Pangeran. Semua perasaan tidak suka kini telah hilang, dan hanya rasa hormat yang tersisa di hatinya.
Xin Qian memasuki rumah dan mulai makan juga. Tak lama, suara Xin Ping'er terdengar di luar. Xin Qian mengerutkan kening tak suka, tetapi Xin Ping'er sudah memasuki rumahnya.
"Xin Qian, makanan enak apa yang kau masak, aku juga ingin makan!" Kata Xin Ping'er. Tidak ada jejak diskusi dalam nada bicaranya, seolah-olah dia memerintahkan Xin Qian.
Awalnya, Xin Qian dalam suasana hati yang baik karena dia bisa makan enak pada siang hari. Sekarang Xin Ping'er datang dan dia kehilangan minatnya untuk makan. Meletakkan mangkuk dan sumpit di tangannya ke atas meja, Xin Qian menjawab dengan malas, "Mengapa kamu di sini?"
"Tentu saja aku datang untuk makan. Jika kamu memiliki sesuatu yang lezat di sini, kamu harus memberikannya kepada ku. Bukankah Yang’er dan Tianan juga datang untuk makan sebelumnya?" Jawab Xin Pinger tanpa malu-malu.
Xin Qian memutar matanya. Wanita ini benar-benar berwajah tebal setebal tempok kota! Dia punya makanan lezat di sini, itu urusannya. Sebelumnya dia lah yang meminta Xin Tianan dan Xin Yang untuk makan, tetapi Xin Ping'er datang untuk makan tanpa malu-malu.
"Hehe, saya lah yang berhak memutuskan siapa yang bisa makan di rumahku, dan saya tidak tidak mengundang Anda, jadi Anda bisa pergi dengan cepat, jika tidak jangan salahkan saya karena memukuli orang." Xin Qian berkata dengan dingin.
"Xin Qian, bagaimana bisa sikap mu begitu buruk? mengapa kamu berbicara seperti ini kepada ku? aku adalah kakak mu dan kamu tidak tahu bagaimana menghormati yang lebih tua. Tentu saja, kamu adalah wanita yang hamil di luar nikah, jadi kamu pasti tidak mengerti aturan.” Ucap Xin Pinger seraya menatap Xin Qian dengan marah dan berkata.
Dan ketika Xin Ping'er selesai mengatakan ini, Mo Lianfeng, yang menundukkan kepalanya untuk makan, berhenti. Dia bergumam pelan, "Hamil belum menikah..." Dia tampaknya telah menangkap beberapa informasi.
Xin Ping'er melihat sekilas mata dingin Xin Qian, itu tampak sepperti ingin memakan orang!! Dengan sedikit ketakutan. Dia berbisik di mulutnya, "Apa? Bukankah itu memang benar? Semua orang di desa juga tahu itu! Apa yang salah jika aku mengatakannya sekarang."
Xin Qian mencibir. Lalu, berkata dengan dingin, “Pergi sekarang. Atau kau mau aku merobek mulut mu?!” Jika wanita ini benar-benar mengatakan satu hal lagi, dia pasti akan merobek mulutnya.
“Tidak mau! Aku mau makan!” ucap Xin Pinger keras kepala.
Xin Qian benar-benar tidak mengerti, saudara nya ini memang orang yang tidak tahu malau atau kah dia idiot? Bagaimana bisa dia bertingkah seperti ini?
"Emm… Nona Xin Qian, ada satu potongan daging babi rebus yang tersisa, apakah Anda ingin memakannya? Jika Anda tidak memakannya, saya yang akan makan oke?” Suara Helian Ming terdengar, membuat suasana menjadi canggung. Ketika Helian Ming bertanya, matanya masih menatap sepotong daging babi rebus, seolah-olah dia ingin menelannya segera.
Helian Ming makan lebih dari setengah mangkuk besar daging babi ini, Mo Lianfeng hanya makan beberapa, dan Xin Qian makan tiga potong. Jadi ketika hanya ada potongan terakhir yang tersisa di piring, Helian Ming tidak langsung memakannya untuk dirinya sendiri dan dia bertanya dulu pada Xin Qian.
Xin Qian yang melihat penampilan serakah Helian Ming yang tampak seperti anak kecil. Tidak masalah jika dia belum makan banyak, dia bisa memasaknya lagi nanti. Jadi dia berkata kepada Helian Ming, "Tidak apa-apa, saya tidak akan memakannya, Anda bisa memakannya!"
Helian Ming berkata dengan penuh semangat, "Nona Xin Qian, ini yang kamu katakan. Jika itu masalahnya, maka aku akan memakannya Hehee"
"Silahkan." Jawab Xin Qian tersenyum.
Ketika sumpit Helian Ming akan mengambil sepotong babi rebus dalam mangkuk, Mo Lianfeng telah mengambil daging babi rebus itu satu langkah di depan dan memasukkannya ke mulutnya. Aksinya masih sangat elegan.
Helian Ming segera kesal, dan berteriak pada Mo Lianfeng, "Lianfeng, mengapa kamu begitu licik? Kamu bahkan menyambar daging ku."
Mo Lianfeng samar-samar menjawab, "Kapan itu menjadi milik mu? Kamu sudah makan sepiring daging babi rebus ini paling banyak? Kamu tidak malu?" Ada sedikit nada jijik dan sarkasme di nada bicara Mo Lianfeng.
Helian Ming hanya bisa melihat Mo Lianfeng dengan marah, dan tidak bisa membantah kata-kata Mo Lianfeng.
----------------
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗