
Kemudian, Xin Qian memeriksa nafas pria berjubah hitam itu dari hidungnya, untuk melihat apakah pria itu mati atau hidup. Jika orang lain ingin membunuhnya, itu urusan mereka, tapi dia tidak berani membunuh.
Jika Xin Qian, yang merupakan orang biasa, membunuh seseorang, dia pasti akan di hukum mati! Itu benar-benar tidak sepadan.
Setelah mengkonfirmasi bahwa pria berjubah hitam itu tidak mati, Xin Qian menghela nafas lega. Dia menoleh, melihat ke arah Mo Lianfeng yang bersandar di sudut dinding, ada banyak keringat dingin keluar dari dahinya, lukanya sangat serius, tapi dia masih sadar.
"Apakah kamu baik-baik saja? Aku akan membawa mu pergi sekarang." Ucap Xin Qian berjalan ke arah Mo Lianfeng.
Mo Lianfeng tidak bisa pergi ke rumah sakit, setidaknya Xin Qian harus merawat lukanya. Jika darah di tubuhnya terus keluar, Mo Lianfeng tidak akan bertahan. Xin Qian menyobek bagian dalan gaunnya dan mengikatnya di luka berdarah Mo Lianfeng. Dia berharap itu bisa mengurangi darah yang keluar.
Mo Lianfeng menatap Xin Qian selama beberapa saat, Melihat bahwa tidak ada yang terjadi pada Xin Qian, matanya yang menawan terlihat lega, dia perlahan menutup matanya...
"Mo Lianfeng, ada apa dengan mu? Apakah kamu baik-baik saja? Hei, bangunlah!” Xin Qian memanggil beberapa kali, tetapi Mo Lianfeng tidak menjawab.
Mo Lianfeng pingsan? Xin Qian sedikit panik, bagaimana dia bisa membawa pria sebesar itu? Dia juga tidak tahu berapa banyak bahaya yang akan menunggu di gang kecil ini, karena ada pria berjubah hitam yabg datang, pasti akan ada pria kedua lagi.
Xin Qian berpikir keras, jika dia membawa Mo Lianfeng langsung melalui jalan yang ramai, mereka akan tekspos ke mata para pembunuh itu, jadi metode ini tidak akan berhasil, dia harus memikirkan cara. Dia tidak bisa mengabaikan keselamatan Mo Lianfeng, apa yang harus dia lakukan...
Ketika Xin Qian memikirkannya, dia bergegas ke toko pakaian sebelumnya dan membeli pakainan kasar yang murah seharga 80 koin tembaga, itu sudah harga terendah di toko.
Xin Qian buru-buru memasangkan jubah kasar itu pada Mo Lianfeng, menutupi jubah satin berdarah di tubu pria itu, Xin Qian menggosok debu di tanah, dan mengoleskannya di wajah Mo Lianfeng, untuk membuat orang tidak melihat penampilan sejati Mo Lianfeng, dan membuat penampilan Mo Lianfeng lebih biasa. Yah, mirip dengan dengan pria desa.
Setelah transformasi ini, Xin Qian merasa bahwa dia sendiri tidak dapat dengan mudah mengenali Mo Lianfeng. Xin Qian tidak bisa mengenalinya tanpa melihat dengan cermat. Dia buru-buru menemukan kereta sapi jantan yang di sewakan di kota dan bersiap untuk kembali ke desa.
Dengan membawa Mo Lianfeng bersamanya, berpura-pura menjadi pasangan dari pedesaan, sehingga dia tidak akan menarik perhatian orang lain.
Sebenarnya, Xin Qian tidak ingin membawa Mo Lianfeng pulang, tapi tidak tahu jalan lain, dia tidak bisa membiarkan Mo Lianfeng menunggu kematiannya. Dia ingin menunggu Mo Lianfeng bangun.
Untuk menyewa kereta sapi, dia harus membayar sebanyak tiga puluh koin tembaga, dan Xin Qian tidak mungkin membawa Mo Lianfeng untuk naik kereta sapi Paman Hu.
Pria yang mengendarai kereta sapu itu adalah seorang pria paruh baya, dan kereta sapi itu di bawa ke gang kecil oleh Xin Qian. Xin Qian meminta bantuan pria itu, dan bersama-sama mereka menaikkan Mo Lianfeng ke kereta sapi.
Pria paruh baya yang mengendarai kereta sapi itu bertanya, "Nona, apakah ini suami mu?"
"Ya!" Xin Qian segera mengangguk.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya pria paruh baya itu.
Xin Qian menghela nafas, meneteskan air matanya, dan berkata kepada pria paruh baya itu, "Paman, suami ku adalah orang yang malang. Tanah kami di desa di ambil oleh pejabar. Kami datang ke kota, karena ingin datang ke mansion pejabat itu untuk mengajukan keluhan. Gugatan itu belum selesai, tapi pengawal pria itu memukuli suami ku!"
Keterampilan akting Xin Qian terlalu realistis. Pria setengah baya itu langsung percaya kata-kata Xin Qian. Dia menatap Xin Qian dan Mo Lianfeng dengan sedikit simpati. Orang-orang di zaman ini tidak mudah untuk hidup. Mereka yang miskin selalu di intimidasi, dan mereka tidak memiliki hak untuk membuat keputusan pribadi.
"Hei Nona, mari kamu lupakan saja masalah ini, kalau tidak suami mu itu harus menderita luka lagi di lain waktu saat dia kembali ke kota. Para pejabat itu semuanya berkolusi di pengadilan. Saat kamu datang ke sini, mereka juga akan menganggap bahwa pemukulan itu normal." Ucap Pria paruh baya.
Xin Qian mengangguk dan menatap pria paruh baya itu dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, paman, untuk pengingat mu, rasa sakit ini hanya kami telan, suami ku dan aku tidak akan kembali."
Pria paruh baya itu menghela nafas dan berkata, "Nona, aku akan membawa mu kembali dengan cepat, suami mu ini terlihat terluka parah, baunya sangat berdarah, klinik medis di kota terlalu mahal, kembali lah ke desa dan mencari dokter di desa. Itu akan lebih baik."
"Oke, terima kasih paman!" jawab Xin Qian.
Kereta sapi itu kembali ke desa sebelum kereta sapi Paman Hu. Meskipun pria paruh baya mengendarai kereta sapi lebih cepat dari pada Paman Hu, mereka masih membutuhkan eaktu lebih dari setengah jam untuk sampai ke desa.
Xin Qian sedikit khawatir tentang siapa yang akan dia temui di jalan, jika mereka melihat seorang pria di sebelahnya, orang-orang di desa pasti akan maju dan bertanya.
Untungnya, pada saat ini, orang-orang di desa sibuk di ladang masing-masing. Meskipun Xin Qian bertemu dengan beberapa orang, mereka hanya melirik Xin Qian dengan rasa ingin tahu, dan tidak mengajukan banyak pertanyaan.
Xin Qian menghela nafas lega ketika dia sampai di pintu rumahnya.
Pria paruh baya itu membantu Xin Qian mengirim Mo Lianfeng ke rumah sebelum pergi.
Mungkin karena melihat keadaan Xin Qian yang malang, dan rumah bobrok di hadapannya, pria itu tahu bahwa hidup gadis itu sangat sulit, jadi dia hanya menerima dua puluh koin tembaga saja.
Saat Mo Lianfeng di baringkan di ranjang, Xiao Chen bergegas maju dan bertanya kepada Xin Qian, "Ibu, siapa ini?"
Xin Qian menyentuh wajah Xiao Che dan berkata, "Ini Paman Feng mu. Apa kamu tidak mengenalinya?"
Xiao Chen sedikit terkejut setelah mendengar ini, dan matanya yang besar menatap Mo Lianfeng dengan hati-hati. Akhirnya, dia tahu bahwa itu benar-benar Mo Lianfeng yang berbaring di tempat tidur ini.
"Ibu, ini benar-benar Paman Feng, apa yang salah dengan Paman Feng?" tanya Xiao Chen khawatir.
Xin Qian tersenyum ringan dan berkata, "Paman Feng terluka, dan kita harus menyembuhkan lukanya sekarang.”
zz zzz zzz zzz zzz zzz zzz zzz zz z z z z zzz zzz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗