
Zhang Cuier berpikir sebentar, Xin Qian menghasilkan banyak uang dengan mendirikan kedai makan di kota. Lalu, dengan identitas Mo Lianfeng, maka Xin Qian pasti tidak akan kekurangan uang, jadi dia berkata, "Harga dua perak yang dikatakan oleh Ayah mertuaku itu terlalu rendah, jika Kamu benar-benar ingin membelinya, setidaknya lima belas koin perak! "
Mendengar lima belas koin perak, semua orang di ruangan itu terkesiap! Lima belas koin perak, hanya untuk membeli sebidang tanah, bahkan tujuh atau delapan koin perak dapat membeli beberapa hektar sawah!
Xin Wenhua tahu bahwa uang di tangan Xin Qian tidak tumbuh di pohon, dan uang itu tidak bisa dihabiskan dengan cara ini.
"Ini ... Cuier, apakah kamu bercanda?" Tanya Nenek Chen.
"Ya, Cuier, lima belas koin perak itu terlalu mahal, kita semua adalah warga di satu desa, tidak bisa seperti ini ..." Kakek Chen tidak bisa juga keberatan.
Zhang Cuier memelototi Kakek Chen, dan berkata dengan keras pada Kakek Chen, "Apa salahnya? Mereka yang membutuhkan tanah itu, jika tidak mau membeli maka pergi saja! Bagaimana pun, Ayah dan Ibu sudah tua, apa kalian tidak butuh uang simpanan saat tua nanti?”
Setelah dimarahi, Kakek Chen memejamkan matanya dan tidak berani berbicara. Dia menatap dengan sedikit rasa bersalah dan tidak berdaya kepada Xin Wenhua.
“Hahh…” Xin Wenhua menghela nafas, tentu saja, dia tidak akan menyalahkan Paman Chen untuk masalah ini. Pada saat yang sama, dia justru sangat bersimpati kepada Paman Chen karena menikahi seoraang menantu seperti itu di keluarganya!
"Kakak, harga tanahmu terlalu mahal, bahkan tanah di seluruh desa tidak akan di jual terlalu mahal." Ucap Xin Wenhua.
“Jika kamu mau tidak suka, jangan membelinya!” Zhang Cuier menaruh kedua tangannya di pinggangnya, dengan aura yang kuat. Zhang Cuier bertekad untuk memeras Xin Wenhua. Dia tahu mereka sangat membutuhkannya, jadi dia menjualnya dengan harga tinggi.
"Ini ..." Xin Wenhua mengerutkan keningnya dan mulai ragu. Jika dia tidak membeli sebidang tanah ini, maka akan sulit untuk menemukan sebidang tanah yang lebih besar.
“Keluargamu tidak kekurangan uang, mungkinkah kamu tidak mampu membeli lima belas koin perak? Huh!” Zhang Cuier mendengus pelan.
Xin Wenhua memandang Xin Qian dan menanyakan pendapat Xin Qian. Dia sendiri merasa tidak mampu membeli sebidang tanah seharga lima belas koin perak.
Xin Qian tersenyum kecil di sudut mulutnya, dia tahu bertul isi pikiran Zhang Cuier. Jadi, dia berkata, "Ayah, lupakan saja, jangan membelinya. Ayo, mari kita cari yang lain, jika kita tidak dapat menemukannya, mari kita membangun rumah yang lebih kecil."
Xin Wenhua mengangguk, dia juga berpikir itu akan baik-baik saja, "Yah, Qianer, mari kita cari lagi nanti."
"Ya, Ayah.” Jawab Xin Qian.
Ayah dan putrinya pun bangkit dan hendak kembali, tetapi Zhang Cuier menjadi cemas, "Kamu benar-benar tidak ingin membelinya? Di mana lagi ada tanah besar di desa? Jika kamu menginginkannya, kami dapat menjualnya dengan sepuluh koin perak!"
Zhang Cuier ingin memeras dalam jumlah yang banyak, tetapi dia juga takut kalau Xin Qian tidak jadi membelinya. Jika itu terjadi, bukankah dia tidak bisa mendapatkan satu sen pun?
"Cuier, sepuluh koin perak ini masih terlalu mahal, aku akan mencari yang lain saja!" Xin Wenhua menolak secara langsung.
"Aku memberimu sepuluh koin perak, dan kamu masih seperti ini?” Ucap Zhang Cuier kesal.
"Ayah, ayo pergi, berhenti bicara dengannya!" Sapa Xin Qian.
“Baiklah, Paman dan Bibi Chen, maka kami akan pergi dulu.” Xin Wenhua mengucapkan selamat tinggal.
Sebelum Xin Qian dan Xin Wenhua berbalik, mereka mendengar omelan Zhang Cuier kepada Kakek Chen dari belakang mereka. Konten omelan itu sangat jelek.
Xin Wenhua menggelengkan kepalanya diam-diam, dia merasa bahwa kunjungan mereka akan menyebabkan masalah untuk Paman Chen, dan dia merasa sedih untuk Paman Chen. Bagaimana pun Paman Chen adalah orang yang baik tapi sayangnya dia tidak beruntung karena memiliki anak yang lumpuh dan seorang menantu yang kasar.
“Hah…” Xin Wenhua menghela nafas dan berkata, "Qianer, apakah kita benar-benar tidak akan membeli tanah dari Keluarga Chen? Aku rasa kita benar-benar tidak dapat menemukan sebidang tanah yang besar di desa. Haruskah kita membangun rumah yang lebih kecil?"
"Ayah, rumah itu harus dibangun sedikit lebih besar, karena jumlah orang di Keluarga kita pasti akan bertambah di masa depan. Akan tetapi mari kita temukan tanah yang cocok terlebih dahulu, dan kemudian pikirkan cara lain. Jika kita bisa mendapatkannya dari Paman Chen dengan harga normal, maka kita akan beli. Jika terlalu tinggi, kita tidak perlu rugi, bukan? "Jawab Xin Qian.
Meskipun Xin Qian tidak kekurangan uang, perilaku Zhang Cuier membuatnya jijik. Selama dia setuju untuk diperas pertama kali, dan berita menyebar, orang-orang di desa pasti akan mengikuti dan mengambil keuntungan dari keluarganya. Dia tidak sebodoh itu, melakukan hal yang menghancurkan dirinya sendiri di masa depan!
Dalam perjalanan kembali, Xin Qian melewati rumah Ma Xiaofeng dan menemukan bahwa Xin Tianan sedang sibuk bekerja di kebun sayur di rumah Ma Xiaofeng.
“Adikku, kurasa dia berlari kemari setelah makan.” Batin Xin Qian. Dia merasa tidak senang melihat adiknya seperti budak Ma Xiaofeng!
Keluarga Ma Xiaofeng terdiri dari dua wanita, ditambah seorang anak laki-laki, jadi Ma Xiaofeng juga harus membantu pekerjaan di kebun pada hari kerja.
Xin Qian menemukan bahwa Xin Tianan membantu pekerjaan du kebun Ma Xiaofeng, sementara Ma Xiaofeng memegang mangkuk di tangannya. Dia tidak tahu apa yang Ma Xiaofeng makan.
Tapi ada bau sup ular melayang di udara! Xin Qian mengerutkan keningnya, adik laki-lakinya sendiri yang mengirim Sup ular untuk Ma Xiaofeng?
"Tianan!" Xin Qian memanggil Xin Tianan.
Xin Tianan berbalik, dan setelah melihat Xin Qian dan Xin Wenhua, dia tertegun. "Ayah, Kakak kedua, apa yang kalian lakukan disini?"
“Aku hanya lewat!” Xin Qian tersenyum, lalu berjalan menuju Ma Xiaofeng dan Xin Tianan.
Melihat Xin Qian mendekat, Ma Xiaofeng sedikit bingung, dan dia reflek menyembunyikan mangkuk di tangannya, seolah-olah dia takut dilihat oleh Xin Qian.
Saat aroma sup semakin kuat, Xin Qian lebih yakin bahwa Ma Xiaofeng sedang makan sup ular.
"Kakak Qian~" Ma Xiaofeng menyapa dengan manis ketika melihat Xin Qian, tetapi senyum di wajahnya agak dibuat-buat.
Xin Qian hanya menanggapi dengan acuh tak acuh, dan kemudian tersenyum dan bertanya, "Ma Xiaofeng, apa yang kamu makan ini? Kenapa harus kamu sembunyikan di belakang?"
Ma Xiaofeng langsung merasa bersalah ketika ditanya oleh Xin Qian, dia menatap Xin Tianan untuk meminta bantuan.
Xin Tianan buru-buru menjelaskan, "Kakak... Xiaofeng belum pernah mencicipi sup ular. Aku pikir masih ada sup ular di panci kita, jadi Aku memberi sedikit pada Xiaofeng, kakak… Kamu tidak akan menyalahkan ku, kan? "
Sudah di berikan, apa lagi yang bisa dia katakan? Hanya saja ada beberapa ketidaknyamanan di hatinya. Xin Qian tahu bahwa sup ular itu tidak akan diberikan oleh Xin Tianan tanpa alasan. Diperkirakan Ma Xiaofeng lah yang mengambil inisiatif.
Fakta-faktanya mirip dengan apa yang ditebak Xin Qian…
Di pagi hari, Xin Tianan yang mengirim Loach ke Ma Xiaofeng. Dia juga menceritakan tentang ular hitam itu kepada Ma Xiaofeng. Dan Ma Xiaofeng berkata tanpa malu kepada Xin Tianan bahwa dia juga ingin mencicipinya, lagipula, dia belum pernah makan itu sebelumnya.
Jadi, Xin Tianan mengambilnya dari rumah dan diam-diam mengirim sedikit pada Ma Xiaofeng di sore hari.
"Makan apa pun yang kamu inginkan, tetapi Ma Xiaofeng kan tidak perlu bersembunyi dariku. Apakah kamu takut aku melihatnya?" Ucap Xin Qian sarkas.
Ma Xiaofeng tersipu, "Aku pikir Kakak Qian tidak akan senang jika Kamu melihatnya ..."
"Ini diberikan kepada mu oleh Adik ku sendiri, dan bukan Kamu yang memintanya kan. Jika Aku ingin menyalahkan, maka aku akan menyalahkan saudara ku!" Ucap Xin Qian.
Wajah Ma Xiaofeng memerah, dia merasa seperti Xin Qian telah melihat semuanya.
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗