
Bibi Liu tertawa dan berkata, "Haha, keledai kecil mu ini benar-benar menarik, dia sangat berbeda dari binatang biasa. Dia sangat pintar.”
“Tentu saja, aku membesarkan dia dengan khusus.” Jawab Xin Qian dengan bangga. Dia jarang begitu narsis, tetapi Xiao Mao nya memang benar-benar keren.
“Oh! Gadis Qian, aku lupa bahwa aku bersama Xiao Hei juga!” Ucap Bibi Liu seraya menyerahkan anjing kecil hitam itu ke tangannya ke Xin Qian.
"Ah, Xiaohei! Kamu juga bersama Bibi Liu?" Ucap Xin Qian sedikit terkejut. Dia hanya memikirkan Xiao Mao, dan hampir melupakan Xiao Hei! Lagipula, Xiao Hei masih muda, jadi Huo Chunhua tidak memiliki ide tentang itu.
Xin Qian menerima Xiao Hei dari Bibi Liu, "Aku berterima kasih sekali pada Bibi Liu karena mau merawat mereka berdua di bawah asuhan mu, kalau tidak Xiao Mao dan Xiao Hei pasti akan mati kelaparan."
Manusia yang tidak makan selama beberapa hari pasti akan pingsan karena kelaparan, dan hewan secara alami juga sama.
Bibi Liu tersenyum dan berkata, "Itu tidak benar. Meski tidak di rumah ku, Xiao Mao dan Xiao Hei pasti tidak akan mati kelaparan. Binatan lain mungkin mati jika tidak di beri makan, tetapi anjing tidak akan mati semudah itu. Anjing dapat memakan sisa makanan yang di buang manusia, atau bahkan dia bisa berburu sendiri di hutan.”
Ketika Bibi Liu berkata demikian, Xin Qian merasa bahwa itu benar. Xin Qian tersenyum dan berkata, "Bibi Liu benar.”
Xiao Hei meraih lengan Xin Qian, dan matanya tiba-tiba menjadi berkilau. "Gukk ~" Dia berteriak pada Xin Qian dan ekor kecilnya bergoyang-goyang, sangat lucu.
“Haha, Xiao Hei juga pintar,” Ucap Bibi Liu sambil tersenyum.
“Ya, aku tidak merawat mereka dengan sia-sia!” Xin Qian menepuk kepala Xiao Hei saat dia memberinya pujian. Xiao Hei itu berbulu lembut, jadi sangat nyaman untuk memegangnya di tangan. Adapun Xiao Mao, Xin Qian segera membawanya kembali ke dalam gudang kayu.
“Bibi Liu, bagaimana dengan penyakit Paman Liu?” Xin Qian bertanya dengan prihatin.
"Untungnya, dia sudah jauh lebih baik sekarang. Dokter memberi ku beberapa obat, dan ketika aku membelinya, aku pikir itu sangat efektif, karena Suami ku semakin membaik tiao harinya. sama. Gadis Qian, terima kasih banyak untuk masalah ini. Jika Kamu tidak menyarankan kami untuk menjual katak, dari mana keluarga kami mendapatkan uang untuk mengobati penyakit ini? Kami berhutang besar pada mu.” Ucap Bibi Liu tersenyum lembut.
Membahas tentang katak, Xin Qian merasa sedikit kasihan pada Bibi Liu. Dia tidak tahu bagaimana cara berbicara pada Bibi Liu. Setelah memikirkannya, Xin Qian berkata kepada Bibi Liu, "Bibi Liu, Saudara Shanzi tidak perlu lagi mengumpulkan katak, karena aku tidak melakukan bisnis lagi di restoran.”
Bibi Liu juga tahu bahwa kecelakaan yang terjadi pada Xin Qian terkait dengan restoran, pasti ada alasan mengapa Xin Qian tidak ingin menjual katak lagi. Jadi dia mengangguk dan berkata, "Gadis Qian, tidak apa-apa. Uang yang di peroleh sebelumnya hampir cukup untuk menyembuhkan penyakit suami ku.”
"Itu bagus." Ucap Xin Qian mengangguk.
"Gadis Qian, jangan khawatir tentang ku, Kamu harus menjaga dirimu sendiri. Keluarga ku bisa menanganinya." Ucap Bibi Liu
"Hmm." Xin Qian tersenyum menanggapi.
"Lalu gadis Qian, aku akan pergi sekarang. Jika terjadi sesuatu, kamu bisa memanggil ku." Ucap Bibi Liu berpamitan pada Xin Qian.
"Oke, Bibi Liu, hati-hati di jalan." Ucap Xin Qian
"Tentu." Jawab Bibi Liu tersenyum.
Setelah Bibi Liu pergi, Xin Qian menyerahkan Xiao Hei kepada Xiao Chen. Xiao Chen tidak melihat Xiao Hei selama beberapa hari, jadi Xiao Chen pasti sangat merindukannya. Xiao Chen menggendong Xiao Hei, dan mengelusnya. Xiao Hei juga menyukai taangan kecil Xiao Chen, jadi dia menjilati tangan Xiao Chen dengan antusias.
Xin Qian melihat reaksi Xiao Mao dan menepuk kepala Xiao Chen, laalu berkata, "Xiao Chen, Xiao Mao sepertinya cemburu, kamu selalu bermain dengan Xiao Hei, kamu harus membawa Xiao Mao bermain bersama mu."
Xiao Chen bereaksi dan mengangguk, "Oke, ibu, aku akan pergi sekarang."
Karena Xiao Chen melarikan diri, hanya Xin Qian dan Mo Lianfeng yang tersisa. Xin Qian tersenyum dan berkata, "Aku akan memasak makan siang, Pangeran, apa kamu lapar?"
Mo Lianfeng menggelengkan kepalanya, "Untungnya, tidak terlalu lapar. Tapi, Qian qian, kapan kamu akan memanggil ku dengan nama panggilan ku? Kamu selalu memanggil ku pangeran…”
"Aku… aku melakukannya jika aku sudah terbiasa… tapi aku masih belum bisa saat ini, jadi...” Ucap Xin Qian malu-malu. Itu memang benar bahwa dia tidak terbiasa untuk memanggil Mo Lianfeng dengan akrab. Lagipula, mereka baru saja mengakui perasaan masing-masing…
"Aku akan menunggu mu." Ucap Mo Lianfeng tersenyum jangat.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi memasak dulu." Ucap Xin Qian buru-buru mengalihkan topik.
“Ayo, aku akan membantu mu juga.” Ucap Mo Lianfeng menawarkan bantuannya.
“Hm, baiklah.” Jawab Xin Qian setuju. Lagipula, akan lebih mudah baginya jika ada orang yang membantunya menjaga api. Karena Xiao Chen sibuk dengan peliharaannya, jadi hanya Mo Lianfeng yang bisa membantunya kali ini.
Keduanya masuk ke dapur bersama dan bekerja bersama. Satu orang memasak di atas kompor dan satu orang membakar api di bawah kompor. Setelah beberapa saat, asap putih keluar, dan dapur di penuhi asap.
Setelah kembali dari Mansion, Mo Lianfeng juga menyiapkan beberapa hal untuk di bawa pulang oleh Xin Qian seperti bahan pokok, daging asap dan ikan asin, serta beberapa makanan manis dan kue kering dari Nyonya tua Mo.
Xin Qian membuat hidangan daging asap goreng siang hari ini, dia juga memasak segenggam kubis kecil dari kebun sayurnya yang rusak. Saat Xin Qian ingin mengecek nasi di tungku, dia memutar kepalanya, tetapi tidak menyadari bahwa ada Mo Lianfeng di belakangnya. Jadi, kepala Xin Qian otomatis terbentur ke tubuh Mo Lianfeng.
“Bugh~ Aw…” Pekik Xin Qian terkejut. Dia merasa bahwa dia baru saja menabrak tembok dan itu membuat hidungnya kesakitan! Saat dia menengadah kan kepalanya, dia melihat Mo Lianfeng berdiri di hadapannya. Kapan pria ini berada di belakangnya?
"Xin Qian... kamu baik-baik saja? Maaf, kamu pasti kaget." Mo Lianfeng bertanya dengan gugup.
Xin Qian menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Tidak… aku tidak apa-apa."
Untungnya, dampaknya tidak berat, tetapi Xin Qian merasa bahwa dia menabrak dada Mo Lianfeng terlalu keras, jadi dia takut menyakiti lukanya lagi. Namun, Xin Qian melihat bahwa Mo Lianfeng tidak bereaksi atau merasa kesakitan, apa pria ini baik-baik saja?
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗