Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 73



"Tidak apa-apa, masih ada banyak di rumah. Saat kamu tidak datang untuk makan siang ke rumah ku, aku khawatir kamu lelah karena bekerja dan lapar. Jadi, aku akan membawakan nya untuk mu." Ucap Xin Qian, lalu dia memanggil Xin Tianan untuk duduk.


Melihat Xin Qian sudah jauh-jauh datang ke sini, Xin Tianan tidak bisa mengatakan apa pun untuk menolak. "Kakak kedua, maka aku akan mencuci tangan dulu."


"Baiklah." Jawab Xin Qian.


Xin Tianan mencuci tangannya di parit kecil di sebelahnya. Air sungai di jaman kuno tidak tercemar, jadi sangat jernih dan bersih. Xin Tianan duduk di sebelah Xin Qian setelah mencuci tangannya. Xin Qian membuka piring, dan ada empat bola nasi di dalamnya.


Xin Fan yang ada di samping berkata kepada Xin Tianan dengan iri, "Tianan, saudara perempuan mu yang kedua sangat baik pada mu. Aku tidak tahu bagaimana rasanya punya kakak karena aku anak pertama."


Xin Tianan tersenyum malu-malu, dalam hatinya Xin Qian adalah kakak yang selalu baik dan perhatian padanya. Dia merasa lebih dekat dengan Xin Qian, di banding kakak sulungnya.


Xin Qian merasa malu hanya membiarkan Xin Tianan memakannya sendirian. Melihat bahwa Xin Fan memiliki sikap yang baik terhadapnya, tidak seperti yang lain dalam keluarga Xin, jadi dia berkata kepada Xin Fan, "Sepupu kedua, cucilah tangan mu dan makan juga. Kau pasti juga lelah karena bekerja."


Xin Fan ingin menolak, tetapi dia juga lapar. Melihat bola nasi yang di buat Xin Qian sangat harum, air liur meluap dari mulutnya, jadi dia berkata, "Baiklah, terima kasih Qian’er."


"Sama-sama." Jawab Xin Qian.


Adapun orang-orang lain di keluarga Xin, Xin Qian tidak menawarkan mereka termasuk Ayahnya. Dia tidak pernah dekat dengan Ayahnya sejak dulu dan terutama setelah Xin Qian keluar dari keluarga Xin, mereka menjadi jarang menyapa satu sama lain.


Xin Fan hanya makan satu tapi Xin Tianan memintanya untuk makan yang lain, jadi dia makan lagi satu. Bola nasi buatan Xin Qian benar-benar sangat enak.


"Kakak kedua, bola nasi buatan mu sangat lezat," ucap Xin Tianan. Bola-bola nasi yang di buat oleh orang lain biasanya tidak memiliki isian di dalamnya. Tapi, Xin Qian mengisinya dengan daging babi babi dan paprika hijau.


“Ya, bola nasi buatan sepupu benar-benar sangat enak.” Xin Fan tidak menyangka bahwa masakan yang dikirim oleh Xin Qian akan sangat lezat. Setelah makan, ia akan memiliki aftertaste yang tak ada habisnya. Bukan karena masakan Xin Qian benar-benar mewah, tetapi makanan keluarga Xin terlalu miskin selama ini, dan seluruh menu setiap harinya adalah nasi dan sayur-sayuran hambar.


Berbeda dengan cara masak Xin Qian yang banyak menggunakan minyak sayur dan rempah-rempah. Pada keluarga Xin, mereka hanya menambahkan garam dan sedikit minyak pada masakan mereka. Jadi, sayur tumis yang di buat sangat berbeda jauh dengan Xin Qian.


"Syukurlah kalian menyukainya. Minumlah air setelah makan." Ucap Xin Qian seraya menyerahkan air madu.


"Terima kasih, kakak kedua." Setelah Xin Tianan meminum beberapa suap, ia menemukan bahwa itu manis, "Kakak kedua, ini adalah air madu?"


"Iya, itu benar." Ucap Xin Qian tersenyum


"Kakak kedua, kamu bisa memberinya untuk Xiao Chen, kenapa kamu memberinya untuk ku?" ucap Xin Tianan. Dia tahu kalau madu itu sangat mahal.


"Tidak apa-apa, kamu lelah dari pekerjaan, jadi kamu harus makan sesuatu yang bernutrisi." Ucap Xin Qian


"Ya. Kakak kedua, terima kasih." Xin Tianan tidak tahu harus berkata apa kecuali berterimakasih padanya.


"Haha, untuk apa kamu sopan dengan ku. Kau adalah adik ku jadi jangan sungkan begitu." Ucap Xin Qian. Lagipula, Adiknya ini sudah sering membantunya mengangkat air setiap hari.


“Baiklah, kakak kedua.” Ucap Xin Tianan tersenyum hangat


"Pergilah, istirahatlah ketika kamu lelah. Kamu harus menjaga tubuh mu." Ucap Xin Qian mengingatkan. Dia sangat kasihan melihat adiknya yang bekerja keras di usia muda. Di jaman modern anak remaja seusia Xin Tianan hanya tau caranya belajar dan sekolah. Sedangkan, di jaman kuno para pria yang cukup kuat harus ikut bekerja di ladang dengan orangtuanya. Itu karena orang-orang di desa jarang yang ada menyekolahkan anaknya.


"Aku akan mengingatnya, kakak kedua." Ucap Xin Tianan mengangguk


"Lain kali, aku akan datang ke sini untuk membawakan mu makanan jika aku punya waktu." Ucap Xin Qian


"Baiklah." Jawab Xin Tianan. Setelah itu, dia pergi melanjutkan pekerjaannya di lading.


Xin Qian membawa keranjang makanannya dan mengemasi barang-barangnya. Xin Yang mengambil Xiao Chen dan tiga anak lainnya bersama-sama, dan mereka menangkap beberapa katak dalam beberapa saat.


“Ibu, lihat!” ucap Xiao Chen membawa katak di tangannya ke Xin Qian.


Xin Qian memuji anak-anak itu. Tanpa di duga, mereka menangkap lebih banyak.. Dalam satu jam, mereka sudah menangkap dua puluh katak. Karena tidak ada polusi di pedesaan, dan tidak ada juga yang menangkap katak. Selain itu, ada banyak serangga di musim semi, jadi katak-katak ini tumbuh lebih cepat. Melihat ada begitu banyak katak, Xin Qian pikir mereka bisa makan katak tumis beberapa kali.


Tiba-tiba saja, ada ide di pikirannya, apakah aku bisa menjual katak ini di kota?


Orang jaman kuno, tidak tahu cara makan dan memasak katak, tetapi dia tahu. Tentu saja, jika kau membawanya langsung ke kota, tidak ada yang akan membelinya. Jadi, dia harus membawanya ke restoran terlebih dahulu, lalu membuat satu hidangan katak, dan membiarkan orang lain mencicipinya. Kemudian, jika mereka suka, dia bisa menjualnya ke restoran!


Itu adalah ide yang terpikirkan olehnya. Katak-katak lezat itu harusnya akan laku keras.


Sukses adalah memiliki cara menghasilkan uang untuknya. Hanya dengan menghasilkan lebih banyak uang aku bisa menjalani kehidupan yang baik dengan Xiao Chen. Dengan itu, Xin Qian berniat ingin menjual daging katak ke kota.


“Ayo kita pulang anak-anak, aku akan membuatkan roti kukus untuk kalian, dan kita akan memakannya bersama-sama.” Ucap Xin Qian tersenyum.


“Yeyy!!” sorak anak-anak itu. Mereka senang mendengar aka nada roti kukus yang menanti.


Beberapa anak mengikutinya di belakang. Dalam perjalanan, Xin Qian berdiskusi dengan beberapa anak, dan mereka setuju untuk menangkap lebih banyak katak. Besok dia akan pergi ke kota lagi.


Ketika negosiasi dengan restoran benar-benar berhasil, dia akan meminta Xin Yang mengajak beberapa anak lagi untuk menangkap katak. Xin Qian tentu akan membayar mereka dengan permen. Di jaman kuno, permen adalah makanan mewah yang jarang bisa di nikmati oleh orang-orang pedesaan.


Anak-anak di desa ini ada banyak. Semakin banyak katak yang di tangkap setiap anak, semakin banyak permen yang akan di berikan kepada mereka. Xin Qian percaya dengan godaan permen, dan anak-anak pasti akan menyukainya. Dan kemudian dia bisa menjual daging kataknya untuk uang dan juga untuk membeli permen. Tentu saja, dengan melakukan ini, anak-anak di desa tidak akan terlalu menjauhi dari Xiao Chen.


Saat sampai di rumah, Xin Qian memasuki dapur dan mulai membuat roti kukus. Xiao Chen, Xin Yang dan anak bernama San'er tinggal di sudut rumah untuk bermain di tanah.


------------


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗