
"Qian Qian, ini uang 500 koin perak. Jika kamu menganggap ku sebagai pria milik mu, maka jangan menolak, kamu harus menyimpannya sehingga kamu tidak harus bekerja keras untuk menghasilkan uang. Ketika aku kembali, aku akan membawa mu dan Xiao Chen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik." Ucap Mo Lianfeng dengam tegas.
“…..” Melihat perak di tangan Mo Lianfeng, Xin Qian sangat tidak mau mengambilnya. Mereka bahkan belum menikah, apa maksudnya dengan menerima uang ini? Dia dan Mo Lianfeng bersama-sama, bukan karena kekayaannya. Jika Nyonya tua Mo tahu tentang ini, dia akan memandang rendah dia lagi!
Selain itu, bahkan jika dia tidak menerima uang Mo Lianfeng, dia masih bisa menghasilkan uang. Jika ada hambatan untuk tinggal bersama Mo Lianfeng di masa depan, Mo Lianfeng akan pindah untuk tinggal bersamanya, dan keduanya akan selalu memiliki sumber pendapatan. Rencana nya untuk membuka bisnis sebelumnya akan segera di laksanakan. Jika bisnis ini dappat berjalan dengan baik, dia tidak perlu khawatir tentang uang di masa depan.
Xin Qian adalah seorang wanita dari abad ke-21 dan memiliki beberapa pemikiran tentang wanita mandiri dari abad ke-21. Wanita harus memiliki karier dan kemampuan mereka sendiri, alih-alih mengandalkan seorang pria untuk mendukung mereka, dan nasib masa depan mereka ada di tangan pria itu!
Jika Xin Qian mulai menghabiskan uang Mo Lianfeng sekarang, dia takut bahwa suatu hari dia tidak akan bisa melarikan diri dari Mo Lianfeng.
Jadi Xin Qian menggelengkan kepalanya dan menolak, “Afeng, kamu bisa mengambil kembali uang itu. Kita bahkan belum menikah, jadi aku belum mau mengambil uang mu. Aku punya rencana ku sendiri."
"Tapi, Qian Qian ..." Mo Lianfeeng ingin bersikeras.
"Tidak, jika Kamu memaksakannya kepada ku, aku akan marah!" Xin Qian juga tidak mau kalah.
“….” Mo Lianfeng tahu karakter Xin Qian, Xin Qian berbeda dari wanita lain, dia lebih mandiri dari wanita lainnya. Mo Lianfeng juga tidak ingin melakukan hal-hal yang memaksa Xin Qian, jadi dia mengambil kembali tas uangnya, dan berkata, "Qian Qian, kalau begitu jangan bekerja terlalu keras, kalau tidak aku akan merasa buruk!"
Xin Qian ter senyum di sudut mulutnya, dan berkata, "Jangan khawatir, bukankah kamu melihatnya sendiri? Aku tidak pernah merasa lelah, karena aku bekerja dengan senang. Aku tidak bisa hanya berdiam diri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Jika tidak aku akan merasa sakit!”
Mo Lianfeng masih merasa gelisah dan khawatir, tapi dia tidak bisa memaksa Xin Qian. Sebelum pergi, dia berkata kepada Xiao Chen, "Xiao Chen, ayah sudah pergi dalam waktu yang cukup lama. Jadi, sebagai seorang pria di keluarga, kamu harus melindungi Ibu mu selama Ayah tidak ada, apa kamu mengerti?”
Xiao Chen mengangguk, "Aku megerti! Ayah, jangan khawatir! Xiao Chen akan menjaga Ibu untuk Ayaj!"
“Anak pintar. Kalau begitu, Ayah pergi dulu.” Mo Lianfeng menyentuh kepala Xiao Chen sebelum masuk ke kereta dan pergi.
“Hm~ Hati-hati di jalan Ayah, jaga kesehatan mu.” Ucap Xiao Chen menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ringan.
“Tentu saja. Qian qian, tunggu aku kembali.” Ucao Mo Lianfeng dengan enggan. Dia sangat tidak ingin meninggalkan Xin Qian dan Xiao Chen. Tetapi, saudara kaisarnya telah membetikan titah, jadi dia harus pergi.
“Aku akan menunggu.” Jawab Xin Qian tersenyum.
“Hmm~” Mo Liamfeng pun berbalik dan pergi dari rumah Xin Qian menggunakan kerta yang sama.
“….” Xiao Chen bersandar ke pintu, melihat kereta Mo Lianfeng semakin jauh, dengan ekspresi cemas dan kehilangan.
"Oke, Xiao Chen, Ayah mu sudah pergi, jangan menatapnya kepergiannya terus. Ayo, kamu bisa mencari paman kecil mu untuk bermain!" Ucap Xin Qian membujuknya.
Pada sore hari, Xin Qian terus merapikan rumah, dan membangun kebun sayur lagi. Pagar di sekitarnya sudah di perbaiki oleh Mo Lianfeng. Jadi, dia hanya tinggal menanam kembali benih biji di ladang sayur. Xin Qian merasa sedih setiap kali dia melihat bunga-bunga liar yang dia tanam telah hancur!
Setelah seharian sibuk, Xin Qian mengambil beberapa barang di rumahnya, dan bersiap untuk memberikannya kepada orang tuanya. Sekarang Sanfang telah terpisah, jadi Xin Qian bisa terang-terangan memberikan beberapa barang kepada orang tuanya. Di masa lalu, apa pum yang Xin Qian berikan, semuanya di sita oleh Keluarga Xin, terutama Huo Chunhua. Barang-barang yang Xin Qian bawa hari ini adalah barang yang dia bawa kembali dari Mansion Pangeran Ketiga. Sambil membawa sebuah keranjang, Xin Qian berjalan ke arah rumah Keluarga Xin.
Ketika Xin Qian tiba di rumah Xin, Huo Chunhua dan Xin Hui sedang duduk di halaman, Huo Chunhua sedang memegang telur di tangannya dan menempelkannya ke mulut Xin Hui yang bengkak. Bagaimanapun, tamparan Xin Qian tidak ringan, jadi mulut Xin Hui sangat bengkak sekarang.
"Ssst! Ibu, kamu… harus lebih ringan menekannya, itu menyakitkan ah…” Xin Hui bergumam di mulutnya dan mendengus teredam.
"Oke, ibu, akan bersikap lembut, gadis sial*n itu, dia begitu kejam kepada mu!" Ucap Huo Chunhua mengutuk Xin Qian.
"Hiks… Ibu… ini sangat sakit! Ibu harus membalasnya untuk ku!” Ucap Xin Hui mengeluh.
“Baiklah, Huier, jangan bicara jika mulut mu sakit!” Ucap Huo Chunhua menghibur. Melihat bahwa anak gadis tersayangnya di pukuli sampai seperti ini, dia merasa tertekan, tetapi dia juga tidak berani memprovokasi Xin Qian. Kali ini, dia bahkan hanya bisa menderita seperti orang bodoh!
“Gadis yang sudah mati itu benar-benar semakin keterlaluan!” Huo Chunhua mendengus dengan dingin dan memandang ke arah suaminya, Xin Baoshan, lalu melanjutkan, “Kamu adalah ayah Hui'er, tetapi kamu bahkan tidak mai memikirkan solusi ketika melihat anak perempuan mu di ganggu. Kenapa? Karena Xin Qian masih cucu mu? Bukankah dia sudah resmi terpisaj dari keluarga Xin kita? Untuk apa kamu terus membelanya?"
"Apa yang bisa aku lakukan? Itu salah Xin Hui kerana telah memprovokasi Gadis Qian sampai dia jadi seperti ini sekarang. Huh! Bukankah dia hanya makan akibat dari ulahnya sendiri?!”
"Huh! Kamu memang selalu dingin! Apakah kamu tidak merasa sedih karena melihat Huier di pukuli dengan sia-sia?” Ucap Huo Chunhua bergumam.
"Apa lagi yang bisa kita lakukan, bukankah Huier yang memprovokasi gadis Qian? Kalau tidak, apakah Gadis Qian akan memukulnya dengan buruk seperti ini?" Jawab Xin Baoshan dengan dingin.
Xin Ping'er bergegas datang dan berkata dengan penuh semangat, "Nenek, kamu tidak tahu. Xin Qian mengatakan bahwa Bibi Hui merayu Pangeran, jadi dia memukul bibi Hui sampai seperti ini. Xin Qian juga mengatakan bahwa dia akan mencongkel mata Bibi! Terlalu kejam, ah!"
Huo Chunhua gemetar karena marah ketika Xin Pinger berkata seperti itu. Gadis jal*ng itu terlalu banyak! Huo Chunhua bertanya dengan marah. “Gadis itu benar-benar mengatakan itu?”
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗