
Pada siang hari, Xin Qian memasak beberapa hidangan dengan cara sederhana, merebus tulang rusuk. Ketika rebusan selesai, sup akan berwarna putih krem, dan Xin Qian menaburkan segenggam bawang hijau di atasnya, yang membuat aromanya menjadi lebih kuat. Kedua anak itu juga sangat menyukainya, mereka bahkan minum beberapa mangkuk suo sendirian.
Xin Qian menunggu sup tulang menjadi dingin sedikit, dan kemudian memberikannya kepada Xiao Hei. Jelas, Xiao Hei sangat menyukai rasa kaldu tulang, dia bahkan minum sambil berbaring di tanah, dan kaldu tulang semangkuk besar itu langsung bersih setelah beberapa saat. Setelah selesai minum sup, Xiao Hei menatap Xin Qian dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan sangat senang.
"Ingin minum lagi?" Tanya Xin Qian.
"Gukk guk ~" Xiao Hei mengibas-ngibaskan ekornya dan merespons.
"Oke, aku akan memberi mu lebih banyak, tapi kamu tidak bisa meminumnya lagi!" Ucap Xin Qian bersikap keras. Berapa banyak makanan yang bisa di makan oleh anjing kecil seperti Xiao Hei, jika dia suka minum sup itu, mungkin dia tidak tahu bahwa perutnya sudah tidak muat lagi.
Xin Qian mengeluarkan setengah mangkuk dari panci dan menuangkannya ke Xiao Hei. Mulai sekarang, jika bisnis kedai makanya berjalan lancar, maka kaldu tulang ini akan tersedia setiap hari, dan dia dapat memberikannya pada Xiao Chen, Xin Yang, dan Xiao Hei sedikit setiap hari. Di perkirakan anak-anak ini pasti akan tumbuh lebih cepat!
Pada sore hari, Xin Qian mulai menyiapkan hal-hal seperti roti isi daging dan wonton. Dia membeli beberapa baking powder sebelumnya. Tepung terigu untuk roti kukus, dan adonannya roti perlu di fermentasi terlebih dahulu.
Setelah di bersihkan, lima kilogram daging yang Xin Qian beli di potong-potong menjadi beberala bagiam, apakah itu untuk membuat roti, kue, atau wonton. Faktanya, yang paling penting tentang rasa pangsit, wonton, dan roti kukus adalah isiannya, jika isinya enak maka rasanya pasti akan enak.
Xin Qian sangat percaya diri dengan isian yang ia buat sendiri. Dalam kehidupan sebelumnya, ibunya paling pandai dalam membuat pangsit untuknya dan rasanya bahkam sangat lezat. Xin Qian juga sering di ajari oleh Ibunya untuk bekal saat dia menikah nanti. Jadi, dia secara alami mewarisi keahlian ibunya.
Liang Jinqiao dan Mulan juga telah datang untuk membantu Xin Qian…
Ketika Mulan datang, dia menemukan bahwa Xin Qian telah melakukan semuanya sendirian, jadi dia berkata dengam sedikit meminta maaf, "Xin Qian, Aku minta maaf, Aku terlambat. Adik Ipar ku kembali dari studinya hari ini, jadi Aku menunda sebentar karena takut ada sesuatu yang harus di lakukan."
Xin Qian tersenyum, dan berkata, "Tidak apa-apa, kakak Mulan, Aku tidak banyak mengerjakannya sendiri, Aku baru membuat isiannya, dan belum mulai membungkusnya.”
"Ya, kalau begitu aku juga akan membantu untuk membungkusnya!" Ucap Mulan buru-buru membantu. Setelah berbicara, dia mencuci tangannya terlebih dahulu, dan kemudian duduk di samping Xin Qian.
Ditambah dengan Liang Jinqiao, mereka bertiga juga sibuk membungkus roti dam isian daging.
“Kakak Mulan, Kamu bilang Adik ipar mu yang sedang studi sudah kembali, apakah dia pernah menyusahkan mu?” Xin Qian bertanya dengan santai.
"Itu tidak benar, tetapi ibu mertua ku yang sedang sakit pinggangnya, jadi dia tidak bisa memasak. Kakak ipar Qi tidak pandai memasak. Adik ipar ku, Zhu San’er, mengatakan sulit untuk menelan, jadi aku harus mengundangnya untuk datang makan di rumah ku. Bagaimanapun, Suami ku dan San'er adalah saudara laki-laki, jadi sulit untuk mengatakan tidak boleh makan, kan?"
Ada nada tak berdaya dalam nada bicara Mulan. Mulan melanjutkan, "Kebetulan itu adalah sup tulang rusuk hari ini, dan semangkuk mie, jadi aku meminta adik Ipar ku untuk memakannya."
Ketika Xin Qian mendengarkan, dia hanya berharap bahwa Adik Ipar Mulan ini benar-benar hanya makan sekali, jangan sampai San’er terus mengandalkannya. Lagipula, ada banyak orang aneh dalam keluarga Zhu. Hanya dari cara Mulan membicarakan masalah ini, Xin Qian merasa bahwa Zhu San’er ini bukan orang yang baik.
Setelah beberapa waktu, akhirnya steamer penuh dengan roti kukus, dan sisanya hanya dapat di nuat di tempat ketika semua roti telah terjual habis besok. Sedangkan untuk gorengan, mereka bisa membuatnya di tempat setelah menguleni tepung. Sudah ada banyak kue dan wonton yang tersedia sekarang. Xin Qian takut dia tidak bisa menjual terlalu banyak, jadi dia tidak terlalu banyak menyiapkan.
Sisa isian di letakkan di lemari dan akan di bawa besok. Adapun kaldu tulang dalam panci, Xin Qian membersihkan laras dan mengisinya semuanya.
“Xin Qian, apakah aku harus membantu besok juga?” Tanya Liang Jinqiao. Kedai makan yang di buka pada hari pertama tidak terlalu ramai. Jika bisnisnya bagus, mungkin akan sibuk. Jika ada satu tenaga lagi, itu selalu baik.
"Ibu, kamu pasti sudah sibuk di rumah, kan?" Tanya Xin Qian memastikan
"Tidak apa-apa, aku akan melakukan beberapa pekerjaan lebih awal jadi aku biisa membantu mu besok. Lagipula, ada Xin Ping’er di rumah, dan dia dapat membantu." Ucap Liang Jinqiao tersenyum.
Xin Qian tidak percaya bahwa ada yang bisa di lakukan oleh Xin Pinger, apalagi untuk membantu pekerjaan rumah, tetapi Xin Qian merasa bahwa mereka berdua akan sangat sibuk besok, jadi alangkah baiknya membiarkan Liang Jinqiao pergi juga.
Jadi, Xin Qian menjawab, "Yah, ibu, kamu harus pergi dengan ku!"
"Baiklah!" Jawab Liang Jinqiao mengangguk.
"Qian’er, Ibu akan kembali dulu, untuk membawakan air untuk Ayah mu dan Tianan," Ucap Liang Jinqiao.
"Ibu, aku punya air dingin di rumah, gunakan saja milik ku! Jadi, Ibu tidak harus kembali dan mengambilnya lagi." Ucap Xin Qian menyarankan.
Liang Jinqiao mengangguk, "Itu bagus, Ibu akan ambil air dari mu saja dan mengirimkannya."
"Baik!" Xin Qian menuangkan sepoci teh herbal, menambahkan madu di dalamnya, dan menyerahkannya ke Liang Jinqiao.
Mulan juga bangkit, siap untuk kembali. dan Xin Qian memanggil Mulan. "Kakak Mulan, apakah kamu punya kedelai di rumah mu?"
"Aku punya satu karung di rumah, tahun lalu Kami menanam banyak dan bersiap untuk menjualnya, tetapi tidak ada yang mau membelinya, jadi Aku tidak menjualnya. Sekarang kadang-kadang kacang kedelai goreng di gunakan sebagai cemilan bersama anggur. Xin Qian, apakah Kamu ingin kacang kedelai?" Ucap Mulan
“Itu benar. Aku lupa membelinya tadi.” Ucap Xin Qian mengangguk. Dia akan menggiling kedelai dan mengambil sarinya untuk di jual
"Lalu aku akan mengambilnya di rumah, dan aku akan membawanya kepada mu nanti." Ucap Mulan.
"Tidak, kakak Mulan, biarkan aku pergi bersama mu. Aku juga akan mampir ke rumah Bibi Liu nanti." Xin Qian ingat bahwa Bibi Liu memiliki gilingan batu di rumah, karena dia harus menggiling kacang maka dia meminjamnya dari Bibi Liu.
"Tidak apa-apa, mari kita pergi bersama!" Ucap Mulan mengangguk.
"Ya! Ngomong-ngomong, kakak Mulan, kamu bilang adik Ipar mi sudah kembali, bisakah aku meminjam beberapa kertas padanya nanti?" Ucap Xin Qian.
Semua kerttas yang Xin Qian beli di rumah sudah di gunakan oleh Xiao Chen. Selama periode ini, Xin Qian sibuk dengan hal-hal lain dan tidak membelikan kertas untuk Xiao Chen. Tiba-tiba dia ingin menggunakannya, tetapi tidak punya lagi. Jadi, dia hanya meminjam beberapa dari orang lain, dan menggantinya nanti.
"Mungkin saja, Adik Ipar ku juga tidak pelit," Ucap Mulan.
Xin Qian mengangguk, dan berkata, "Itu bagus. Aku ingin menulis semua harga makanan yang di jual kedai makan kita, sehingga kemudian para tamu dapat mengetahui harganya ketika mereka datang. Dengan begitu, orang yang melek huruf tidak perlu lagi menanyakan tentang harga pada kita.”
Ini sedikit lebih nyaman untuk orang lain dan untuk dirinya sendiri, jadi ini masalah yang penting untuk memposting menu dan harga makanan.
"Jadi begitu, Xin Qian, kamu benar-benar hebat, bahkan kamu bisa membaca dan menulis." Ucap Mulan sefaya menatap mata Xin Qian dengan kagum.
Xin Qian tersenyum, dan berkata, "Aku mempelajarinya dari paman kelima ku. Jadi, Aku bisa mengenali beberapa karakter sederhana, tetapi tidak banyak."
Mulan masih mengaguminya, dan berkata, "Itu tentu sudah luar biasa, itu lebih baik daripada tidak seperti aku."
"Haha, aku akan mengajari mu cara membaca jika ada kesempatan mulai sekarang." Ucap Xin Qian tertawa.
Mulan mengangguk dan berkata, "Oke."
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗