
Pada sore hari….
Xin Qian mengirim Xin Tianlong dan paman kelimanya ke kota Kyoto. Di bandingkan dengan Kota Yangcheng, kota ini terlihat sangat sepi. Namun, ada banyak toko di kota ini, sebagian besar untuk bisnis. Harga keseluruhan juga lebih murah daripada Yangcheng.
Di tengah jalan, Xin Tianlong tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi Xin Qian dan Xin Wensheng terus mengobrol tanpa peduli. Tiba-tiba, Xin Wensheng membahas tentang pernikahan Xin Qian…
Xin Qian menoleh ke Xin Wensheng, dan berkata, "Paman Wen, kaulah yang harus menikah. Lihatlah generasi muda di keluarga Xin sudah memiliki anak, tetapi Paman bahkan tidak memiliki Istri. Sepertinya, paman harus meminta nenek untuk mencarikan Mak Comblang untuk mu."
Xin Tianlong yang mendengarkan itu, tersenyum, dan menimpali, "Ya, Paman Wen, Aku juga berpikir begitu, sebaiknya Paman meminta nenek untuk mencarikan Mak Comblang. Semoga daja ada gadis yang cocok dengan selera Paman Wen. Lagipula, Paman Wen adalah satu-satunya paman kami yang belum menikah.”
Kedua keponakannya mengatakan setiap kalimat yang mendesaknya untuk menikah, itu membuat Xin Wensheng sedikit tertarik. Tetapi, dia tidak mengatakan itu, karena dia sudah memiliko wanita yang dia suka. Hanya saja…
“Kalian ini, jadi sekarang kalian ingin mendesak seorang tetua untuk menikah?” Ucap Xin Wensheng pura-pura marah.
"Paman Wen, ini bukan tentang kita, ini tentang mu! Usia paman adalah masa keemasaan bagi seorang pria untuk menikah!” Ucap Xin Qian tersenyum.
"Yah, kalian tidak perlu khawatir tentang pernikahan ku. Aku juga tidak perlu bantuan Ibu ku untuk mencarikan calon pengantin. Bagaimana pun, aku punya rencana di hati ku sendiri!" Saat Xin Wensheng berbicara, matanya sedikit tenggelam, seolah-olah ada sesuatu yang dia pikirkan.
Xin Qian melihat reaksi Xin Wensheng dan merasa bahwa apa yang di katakan paman kelimanya sangat berarti, jadi dia tersenyum dan bertanya, "Paman Wen, apakah kamu sudah jatuh cinta pada seorang gadis?"
Wajah Xin Wensheng memerah tanpa sadar pada ejekan Xin Qian, "Bagaimana menurut mu, Nak?!”
“Oke, oke, jangan katakan! Kenalkan saja pada ku nanti!” Xin Qian tersenyum riang, dia tahu bahwa Xin Wensheng adalah pria yang pemalu.
Setelah tiba di kota, Xin Qian pertama-tama mengirim Xin Tianlong ke sekolah, dan kemudian mengirim Xin Wensheng ke kediamannya. Xin Wensheng menyewa sebuah rumah di kota, yang biayanya cukup murah.
Di pinggir kota, itu adalah sebuah bangunan kecil yang sederhana. Itu terlihat agak buruk, tetapi itu di bangun dari batu bata, jadi itu masih lebih baik dari rumah jerami di desa. Xin Wensheng menyewa satu ruangan penuh.
Ketika Xin Wensheng dan Xin Qian memasuki halaman, ada seorang wanita muda yang berdiri di halaman dengan seorang anak di punggungnya. Anak itu baru berusia satu tahun, dan dia gemetaran di halaman sekarang.
Melihat Xin Wensheng masuk, wanita itu tersenyum pada Xin Wensheng dan berkata, "Kakak Xin, apakah kamu kembali?"
Ketika dia melihat wanita itu, senyum lembut muncul di wajah Xin Wensheng. "Ya, aku harus pergi ke sekolah besok."
"Cepatlah istirahaya, kamu pasti lelah. Aku akan membersihkan rumah untuk mu." Ucap wanita itu, dia bernama Jin Cui.
"Cui’er, terima kasih! Aku adalah seorang pria, jadi aku tidak bisa membersihkannya sendirian..." Ucap Xin Wensheng tersenyum malu-malu.
"Tidak apa-apa, tidak masalah." Ucap Jin Cui tersenyum.
Xin Qian mengikuti Xin Wensheng masuk ke halaman, jadi dia melihat dengan jelas interaksi antara Xin Wensheng dan Jin Cui, dia merasa bahwa ada hubungan yang halus antara keduanya.
Jin Cui juga melihat Xin Qian yang datang bersama Xin Wensheng, dan menunjuk ke Xin Qian dan bertanya. "Kakak Xin, dia adalah..."
Xin Wensheng memperkenalkan, "Dia adalah keponakan ku, namanya Xin Qian. Dia menggunakan keledainya untuk mengantar ku ke kota hari ini.”
Xin Qian memandang wanita di depannya, dia sepertinya baru berusia dua puluhan, wajahnya sangat cantik, tapi kulitnya agak pucat. Sekilas, dia tahu itu karena wanita itu tidak makan dengan baik. Jadi, kulitnya terlihat kekurangan vitamin.
"Tidak, aku akan kembali sekarang." Ucap Xin Qian menolak.
"Masuk dan istirahatlah. Kamu pasti lelah, jadi minumlah air dulu," Ucap Jin Cui sambil menarik Xin Qian.
Xin Qian tidak bisa menolak antusiasme Jin Cui, jadi dia harus memasuki rumah. Meskipun rumah itu agak tua, itu di bersihkan dengan baik oleh Jin Cuijuan dan terlihat sangat nyaman.
Jin Cui mengeluarkan cangkir dan menuangkan segelas air dingin untuk Xin Qian. Ada juga seorang gadis kecil yang berusia tiga tahun di rumah, gadis kecil itu sangat imut. Sepasang mata besar dan cerah miliknya, seperti bintang. Jika gadis kecil itu sedikit lebih gemuk, dia pasti akan sangat menggemaskan.
Xin Qian menemukan bahwa selain dari Jin Cui dan kedua anaknya, tidak ada orang lain yang dia temukan di rumah ini. Pakaian yang di jemur di halaman, hanya milik Jin Cui dan anak-anaknya. Jadi, Xin Qian menyadari bahwa Jin Cui mungkin seorang janda dengan dua orang anak bersamanya…
Tidak heran, jadi Paman kelimanya menyukai wanita ini? Dengan situasi Jin Cui, Xin Qian merasa bahwa hubungan Xin Wensheng dengan seorang janda tampak sedikit sulit. Xin Qian tidak berpikir ada yang salah dari Karakter Jin Cui, tetapi berdasarkan pemahamannya tentang orang-orang di keluarga Xin. Apalagi dengan karakter Huo Chunhua, wanita tua itu pasti tidak akan setuju pada hubungan ini.
Selain itu, kondisi Xin Wensheng sendiri sangat baik, dia berbakat, dan dia juga terlihat tampan. Karena itu, pasti banyak gadis muda yang ingin menikahi Xin Wensheng. Xin Qian menghela nafas dalam hati, dia harap apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Semoga paman kelimanya bisa menikahi wanita yang dia cintai.
"Owekkk ~" Bayi kecil di gendongan Jin Cui itu tiba-tiba menangis.
“Cup.. cup…” Jin Cuijuan menepuk-nepuk tubuh anak itu, lalu berkata kepada Xin Qian dan Xin Wensheng, "Kalian bisa mengobrol dulu. Aku akan pergi ke kamar untuk memberi makan anak ku."
“Silahkan.” Xin Qian dan Xin Wensheng merespons pada saat bersamaan.
Setelah Jin Cui pergi, pandangan Xin Wensheng masih jatuh ke arah Jin Cuijuan pergi. Xin Qian melambailan tangannya di depan mata Xin Wensheng, dan berkata sambil tersenyum, "Paman Kelima, apa yang Kamu lihat? Wanita itu sudah pergi, tapi Paman masih melihat ke arahnya. Apakah paman sangat rindu padanya?”
“Qian’er, jangan bicara omong kosong. Jika kata-kata itu terdengar oleh orang lain, itu tidak akan baik untuk reputasi Cui’er. Lagipula, hubungan antara aku dan Cui’er hanya…" Ucap Xin Wensheng sedikit serius.
Xin Qian berhenti bercanda, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Yah, Paman Wen, apa pun yang di katakan orang lain tentang kalian, jangan pedulikan. Jika kamu menyukainya, maka katakan saja. Jika ada halangan dalam hubungan itu, maka perjuangkan. Selama kalian tetap teguh, kebahagiaan pasti akan datang. Aku mendukung mu paman.”
Xin Wensheng yang mendengar itu, menatap Xin Qian dengan lembut, laalu berkata, “Aku tahu. Terima kasih sudah mendukung ku. Aku tidak tahu bahwa keponakan ku memiliki sifat yang dewasa seperti ini, bahkan sudah bisa menasehati tetuanya.”
“Tentu saja. Paman kelima kan jarang pulang ke desa, jadi selama waktu itu, aku juga telah tumbuh dewasa.” Ucap Xin Qian tersenyum.
“Yah, kau benar. Waktu memang cepat berlalu.” Ucap Xin Wensheng.
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗