
Xin Qian memotong daging babi menjadi daging tumbuk, menambahkan beberapa bumbu, dan ketika itu di campur menjadi isian, segera mengeluarkan bau harum. Dia juga membeli beberapa baking powder di pasar dan mulai menguleninya dengan tepung, roti tidak di buat terlalu besar, jadi tidak banyak isinya.
Sekilo daging, akhirnya cukup untuk membuat empat puluh roti kukus ukuran sedang, itu cukup untuk mereka makan beberapa hari. Xin Qian meletakkannya di panci kukus, kemudian mengukusnya dengan api besar. Setelah dua puluh menit, aromanya akan menyebar. Selain roti kukus isi daging, ada sedikit tepung yang tersisa, Xin Qian membuat tiga roti kukus isi sayuran.
Anak-anak yang sedang bermain dengan gembira, mencium aroma sedap, dan berlari seperti kucing kecil.
“Ibu, apa Ibu sudah selesai membuat roti kukusnya? Xiao Chen dan teman-teman ingin makan!” Tanya Xiao Chen dengan mata berbinar.
"Oke, oke, tapi kalian harus cuci tangan dulu, kalau kamu makan dengan tangan kotor kamu akan sakit perut setelah makan roti." Ucap Xin Qian seraya mengeluarkan baskom berisi air bersih dan mencuci tangan anak-anak itu satu per satu. Kemudian dia mengeluarkan roti kukus dan menyerahkannya kepada beberapa anak setelah agak dingin.
“Ayo, cobalah rasanya.” Ucap Xin Qian memberikan satu kepada masing-masing anak. Ketika dia memberikannya kepada Lu San'er, Lu San'er merasa malu untuk mengambilnya.
"Bibi, aku tidak membutuhkannya. Ibu berkata bahwa aku tidak boleh makan apa pun dari orang lain." Ucap Lu San’er agak takut.
"Bibi, punya begitu banyak di sini. Kamu menangkap seekor katak untuk bibi hari ini. Ini hadiah untuk mu." Ucap Xin Qian tersenyum seraya memberikan roti itu lagi.
"Tapi……" Lu San'er ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat Xiao Chen dan Xin Yang sama-sama makan dengan wajah puas, dia menelan liur di mulutnya. Tidak dapat menahan godaan dari aroma roti kukus, jadi Lu San'er juga mengambilnya.
Xin Qian menepuk kepala Lu San'er dan berkata, "San'er, jangan takut, karena Bibi yang memberikannya kepada mu, itu untuk mu dengan tulus."
Lu San'er juga mengucapkan terima kasih dengan sopan kepada Xin Qian, "Terima kasih bibi."
"Sama-sama." Jawab Xin Qian
"Ibu, roti daging yang Ibu buat begitu harum dan lezat, jauh lebih enak dari pada roti yang Ibu beli di kota." Ucap Xiao Chen senang.
"Ya, kakak kedua, aku juga berpikir masakan kakak perempuan yang kedua lebih enak." Ucap Xin Yang menimpali.
"Kalian anak-anak bermulut manis. Jika kalian suka makan, kalian bisa makan lebih banyak. Ada banyak di sini." Ketika Xin Qian menyapa beberapa anak untuk makan, dia juga makan satu.
Satu gigitan, dan bau daging penuh di mulut. Keahliannya sangat bagus. Meskipun rasanya enak, beberapa anak tidak bisa makan lagi setelah makan tiga roti kukus, mereka sudah makan banyak saat siang hari, dan isi perut mereka belum di cerna. Berat dari tiga roti itu tidak kecil, dan perut seorang anak itu tidak lebih besar dari orang dewasa.
“Ibu, bolehkah aku memberi Xiao Hei roti daging?” Setelah Xiao Chen selesai makan, dia tidak melupakan Xiao Hei. Tapi Xiao Chen tahu bahwa roti daging adalah makanan mahal, dan Xin Qian mungkin tidak suka.
"Ibu, aku akan makan lebih sedikit lain kali. Jadi, bisakah roti milik ku di berikan pada Xiao Hei, oke?" ucap Xiao Chen menawar.
Xin Qian tertawa, "Hahaa, Tentu saja tidak apa-apa, ibu akan mengambilkannya sekarang."
“Terima kasih Ibu.” Ucap Xiao Chen senang.
Xiao Hei tidur di ranjang nya, jadi Xiao Chen membangunkannya dan berkata, "Xiao Hei, ayo bangunlah, ayo makan roti daging."
Xiao Hei membuka matanya, melihat Xiao Chen dan segera mengibaskan ekornya, sangat antusias.
Setelah memberi makan Xiao Hei, anak-anak tidak bisa tinggal lama di rumah Xin Qian, jadi mereka berlari keluar dan berkata bahwa mereka ingin menangkap katak. Xin Qian tidak mencegah, dan membiarkan mereka pergi. Jika mereka menangkap lebih banyak, dia akan mencoba menjualnya di kota besok.
Setelah anak-anak pergi, Liu Lei datang ketika Xin Qian hendak mengantarkan roti kukus ke Bibi Liu. Kali ini Liu Lei datang untuk memberikan kayu bakar ke Xin Qian. Dia memberikan satu ikat kayu bakar dan meletakkannya di halaman rumah Xin Qian. Mengetahui bahwa Xin Qian merawat seorang anak sendirian, dia tahu pasti tidak mudah bagi seorang wanita untuk mencari kayu bakar.
"Qian’er, ku pikir kamu membutuhkan kayu bakar di rumah. Aku punya banyak, jadi aku memberi mu sedikit." kata Liu Lei.
"Terima kasih, saudara Lei." ucap Xin Qian seraya tersenyum. Menampilkan lesung pipinya yang menawan.
“Sama-sama,” Liu Lei tersenyum dengan malu-malu. Pipinya agak memerah.
“Kalau begitu, aku akan meetakkan kayu bakar ini di sini, dan aku akan pergi sekarang.” Liu Lei menatap Xin Qian dengan senyum ramah, setelah meletakkannya Liu Lei berniat akan langsung pulang.
"Tunggu, Kakak Lei," Xin Qian memanggil Liu Lei.
“Ada apa?” Liu Lei mamamdang ke arah ng Xin Qian, dengan beberapa harapan di matanya, berpikir bahwa Xin Qian akan mengatakan sesuatu.
"Kakak Lei, aku membuat roti kukus, dan aku akan memberi mu beberapa untuk mencicipi." Ucap Xin Qian
Liu Lei hanya ingin menolak, tapi Xin Qian telah memasuki dapur dan keluar dengan tiga roti di tangannya.
"Ini, Kakak Lei, semoga kamu menyukai rasanya.." ucap Xin Qian tersenyum seraya memberikan bungkusan. Roti kukus di tangannya masih panas dan berbau lezat.
Liu Lei mengambilnya di tangannya dan tidak makan.
Xin Qian buru-buru mendesak, "Kakak Lei, kenapa kamu tidak makan?"
"Aku……" Liu Lei bingung menjawan apa. Sebenarnya dia canggung untuk memakannya di depan Xin Qian.
"Cepat makanlah selagi panas, jangan malu, kamu sudah mengirimi ku begitu banyak kayu, tiga roti kukus bukanlah apa-apa?" ucap Xin Qian.
Liu Lei tersenyum, "Baiklah, Qian’er, aku akan makan, terima kasih."
"Tidak, terima kasih kembali, ayo makanlah."Ucap Xin Qian,
---------------
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗