
“Pangeran, apakah aku menyakiti luka mu? Aku menabrak mu cukuo keras barusan.” Tanya Xin Qian khawatir.
"Qian Qian..." Mo Lianfeng tiba-tiba memeluk Xin Qian di tangannya.
Xin Qian tertegun. Apa? Kenapa pria ini tiba-tiba memeluknya? “Pa.. Pangeran Mo? “
Di dapur yang atapnya cukup rendah, Xin Qian merasa bahwa ruangan itu sangat kecil untuk mereka berdua. Saat dia berada di pelukannya, bau wangi tubuh Mo Lianfeng memasuki di hidungnya. Xin Qian sangat gugup ketika di peluk seperti itu oleh Mo Lianfeng, bahkan tubuhnya sangat kaku.
"Mo Lianfeng... apa yang kamu lakukan?" Tanya Xin Qian pelan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Qian Qian, aku hanya ingin memeluk mu. Aku akan pergi pada sore hari ini. Aku mungkin akan terpisah dari mu untuk sementara waktu. Jadi, biarkan aku memeluk mu seperti ini sebentar. Qian qian, aku pasti akan sangat merindukan mu. Apakah kamu juga akan merindukan ku saat aku pergi?” Ucap Mo Lianfeng dengan lembut. Kemudian mencium puncak kepala Xin Qian yang ada di pelukanya.
Ketika di tanyai seperti itu oleh Mo Lianfeng, Xin Qian tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Apakah dia juga akan merindukannya? Mungkin saja itu terjadi... Tapi dia sendiri tidak pernah memikirkan lelaki mana pun seumur hidupnya, kecuali ayahnya! Dia bahkan tidak pernah pacaran di dunia modern! Jadi, dia masih sangat awam tentang hubungan pasangan kekasih…
"Aku... aku tidak tahu..." jawab Xin Qian dengan jujur.
"Qian Qian, apa kamu sungguh tidak akan merindukan ku?" Tanya Mo Lianfeng sedikit kecewa.
"Kamu saja belum pergi, bagaimana aku tahu, apakah aku akan merindukan mu atau tidak? Tapi, bukankah yang paling penting saat itu terjadi adalah kamu harus segera kembali?" ucal Xin Qian dengan malu-malu. Wajahnya terasa sangat panas sekarang, dia tidak tahu semerah apa dia sekarang!
Mendengar itu, Mo Lianfeng kembali tersenyum, dia memeluk Xin Qian lebih erat, dan berkat, "Jangan khawatir, aku akan kembali secepat mungkin. Ketika aku kembali, kita bisa bersama terus.”
"Itu bagus." Jawab Xin Qian merespons dengan suara rendah.
Ketika keduanya saling berpelukan di dapur, tiba-tiba suara Xin Hui dan Xin Ping'er datang dari luar pintu. Ketika Xin Hui dan Xin Ping'er melihat Mo Lianfeng dan Xin Qian saling berpelukan, mereka menggigit gigi mereka sendiri dengan keras.
Xin Hui bahkan bergegas masuk, dan mulai mengutuk Xin Qian. "Xin Qian, di siang hari bolong, kamu merayu seorang pria dan memeluknya! Kamu sangat tak tahu malu!”
Suasana yang awalnya harmonis, segera di hancurkan oleh Xin Hui, dan hal itu membuat Mo Lianfeng sangat marah. Mo Lianfeng menatap Xin Hui dengan jijik.
Xin Qian yang tertangkap basah, secara alami merasa malu, jadi dia dengan cepat berpisah dari peukan Mo Lianfeng. Xin Qian berdeham, dan menjawab dengan sedikit tidak senang, "Ehem~ Bagaimana pun sikap ku, ino adalah urusan ku, bukan? Jadi, kamu tidak berhak menilai ku.”
"Bagus, Xin Qian, kamu telah melakukan sesuatu yang tak tahu malu tapu kamu begitu percaya diri! Apakah kamu tidak memiliko sedikit pun rasa malu? Aku belum pernah melihat wanita seperti kamu!" Ucap Xin Hui dengan mada suara yang tinggi.
Xin Qian melihat reaksi Xin Hui. Gadis ini jelas cemburu dan marah padanya karena melihat dia dan Mo Lianfeng berpelukan. Pada saat ini, Xin Hui drngan sengaja mengatakan hal-hal ini hanya untuk mengutuknya. Haha! Apakah Xin Hui pikir, dia benar-benar mudah di atasi?
Xin Qian menatap Xin Ping'er dan Xin Hui dengan jijik, dia menyeringai, dan berkata, "Aku tidak tahu malu? Aku pikir kalian adalah yang tidak tahu malu di sini? Kalian bahkan tidak sabar untuk datang kemari hanya untuk mendekati seorang pria. Aku belum pernah melihat kalian berdua begitu rajin sebelumnya. Sekarang kalian datang ke rumah untuk menawarkan bantuan? Ck ck, bukankah kalian berdua hanya ingin dekat dengan Pangeran? "
Xin Qian tersenyum lebih dingin, Xin Hui ini benar-benar menarik. Xin Qian berkata dengan dingin, "Bibi Hui, bukankah kamu adalah orang yang harus sadar diri? Jangan lupa tujuan mu kemari, bukankh kamu datang kemari untuk menggoda pria? Ah! Apakah itu prilaku yang baik, jika itu di lakukan oleh mu? Tapi, tidak untuk ku?”
“Kamu!” Xin Hui dengan marah.
Xin Qian melanjutkan, "Ah benar… Bibi Hui. Kamu sudah setua ini tapi belum menikah. Apakah bibi begitu gatal ingin kawin seperti gadis liar? Itu sebabnya Bibi datang kemari merayu pria? Lebih baik tinggal di rumah dan tidak mempermalukan Keluarga Xin. Jika Bibi ingin menegur prilaku orang lain, sebaiknya Bibi mengintrospeksi diri sendiri terlebih dahulu.”
Xin Hui menjadi sangat marah ketika Xin Qian mengatakan itu tentangnya. Pelacur ini, Xin Qian! Dia harus membunuhnya!
Jadi, Xin Hui melempar ember di tangannya ke tanah, dan bergegas menuju Xin Qian. "Jal*ng, aku harus merobek wajah mu hari ini! Kamu adalah orang yang merayu pria, wanita jal*ng yang tak tahu malu, tetapj kamu berani memarahi ku!"
Melihat Xin Hui bergegas, Mo Lianfeng yang awalnya ingin membantu Xin Qian, tetapi Xin Qian mendorongnya. Xin Qian tidak ingin bersembunyi di belakang Mo Lianfeng dan menjadi wanita kecil yang di lindungi oleh pria. Selain itu, Xin Qian masih menganggap hal seperti ini adalah masalah sepele. Berurusan dengan Xin Hui, baginya, itu bukanlah masalah sama sekali.
Ketika Xin Hui bergegas ke arah Xin Qian, Xin Qian dengan tenang melangkah ke samping untuk menghindar, dan Xin Hui yang berlari sekuat tenaga jatuh ke arah kompor rumah Xin Qian. Perut Xin Hui yang ter kena meja itu terasa sakit.
“Aduh! Perut ku~” Xin Hui menggertakkan giginya dan jatuh ke tanah berteriak kesakitan. "Oh, itu sangat menyakitkan! Perut ku, ow!”
Xin Ping'er memperhatikan dari samping, dan tidak bermaksud datang untuk membantu Xin Hui, sebaliknya dia menutup mulut dan diam di tempatnya. Xin Hui baru saja mengatakan bahwa dia jelek, jadi sekarang dia tidak berniat untuk membantunya sedikit pun! Xin Hui ini memang harus di beri pelajaran. Semakin Xin Hui menjerit, perasaan Xin Ping'er lebih bahagia.
Xin Qian memandang Xin Hui, yang sedang berjongkok di tanah, lalu dia menarik Xin Hui dan melemparkannya keluar dari dapur.
“Ah!! Jal*ng, beraninya kamu melempar… Ow! Perut ku! Saki sekali ah!” Xin Hui menabrak meja kompor sangat keras. Dia merasa bahwa tulang rusuknya retak, itu sebabnya dia snagat kesakitan. Di tambah Xin Qian yang melemparnya ke tanah, dan itu membuatnya semakin menderita!
"Xin Ping'er, apakah kamu adalah patung? Apa kau tidak tahu bagaimana caranya untuk membantu ku?! Kenapa kau hanya melihat ku di tanah!" teriak Xin Hui mengutuk ke arah Xin Ping'er.
“Apa? Kamu sendiri yang bergegas menabrak kompor itu, jadi apa hubungannya itu drngan ku?” Ucap Xin Ping'er dengan kesal.
"Gadis nakal, aku akan menyelesaikan akun denganmu nanti! Aduh!! Ini sakit sampai mati ah! Xin Pinger! Sekarang, cepat bantu aku berdiri!” Teriak Xin Hui
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗