
“Ada apa?” Xin Hui bertanya dengan kesal.
"Bibi, aku pasti tidak bisa mendapatkannya bahkan jika aku masuk... Xin Qian pasti tidak akan memberikannya pada ku juga!” Ucap Xin Pinger dengan wajah murung.
"Kamu adalah adiknya, mengapa kamu tidak bisa memakannya? Beri tahu ibu mu jika Xin Qian tidak membiarkan mu memakannya! Biarkan ibu mu berbicara padanya dengan baik." Ucap Xin Hui.
"Ya, gadis Ping'er, kamu adalah anggota keluaraga Sanfang, bagaimana mungkin kamu tidak boleh memakannya? Pergilah meminta sesuatu untuk bibi Hui’er mu!" Ucap Huo Chunhua mendesak Xin Pinger juga.
Xin Pinger hanya bisa menurut, jika tidak dia mungkin di marahi oleh semua orang. Jadi dia masuk ke rumah dengan enggan. "Kalau begitu aku akan mencoba ..."
"Ya, pergi lah sekarang." Ucap Huo Chunhua.
“Baik, nenek.” Xin Ping'er pun bangkit dan berjalan menuju rumah Keluarga Sanfang.
Di rumah Sanfang, Xin Qian dan Liang Jinqiao sedang mengobrol. Setelah pemisahan keluarga, satu hektar sawah dan satu hektar lahan kering yang di alokasikan untuk Sanfang bukanlah tempat yang baik untuk bertani. Karena, lahan sawah satu hektar itu lokasinya sangat jauh, jika dari rumah Keluarga Xin, itu mungkin membutuhkan waktu setidaknya setengah jam untuk sampai di sana. Apalagi, lahan sawah itu jauh dari kanal, jadi irigasi tidak terlalu baik juga. Oleh sebab itu, padi yang di tanam di sawah harus sering di siram, jika tidak sawah akan mengering dan padi akan mati.
Namun, untuk mengambil air itu adalah hal yang menyusahkan. Ketika Keluarga Xin memisahkan Sanfang, mereka hanya menyebutkan bahwa Sanfang mendapatkan lahan satu hektar sawah, dan satu hektar lahan kering, tetapi tidak secara khusus mengatakan dimana itu. Melalui kebodohan seperti itu, Sanfang di berikan lahan yang paling buruk.
Xin Qian merasa marah ketika Liang Jinqiao mengatakan masalah itu padanya. Keluarga Xin ini, haruskah mengintimidasi orang seperti ini? Ini sama saja seperti memperlakukan orang sebagai orang bodoh.
Selain itu, satu hektar tanah kering yang di berikan, bahkan lebih terpencil karena letaknya di kaki gunung. Selama ini, Keluarga Xin tidak pernah mengolah tanah ini, karena tanahnya sangat tandus dan tidak banyak tanaman yang bisa tumbuh di sana.
Pada saat ini, Xin Wenhua dan Xin Tianan akan membersihkan lahan dan mengendurkan tanah di lahan kering ini. Karena tanah itu telah di distribusikan kepada Sanfang, jadi mau tak mau, itu harus di urus. Kalau tidak, Sanfang tidak akan punya makanan dan pemasukan untuk beberapa bulan ke depan!
Xin Qian menggertakkan giginya dan berkata kepada Liang Jinqiao, "Ibu, mereka pasti sengaja memperlakukan keluarga kita seperti ini! Aku akan pergi ke mereka dan mendiskusilan masalah pembagian tanah ini."
Saat dia melihat Xin Qian berdiri, Liang Jinqiao segera meraih lengan Xin Qian dan berkata, "Qian’er, lupakan saja! Tidak mudah bagi kita untuk memisahkan keluarga, jadi tidak apa-apa seperti ini, semoga saja kita bisa segera menemukan solusi untuk mengolah kedua lahan itu. Meskipun kita telah mendapatkan lahan yang buruk, itu masih lebih baik dari pada tidak ada. Jika kita begitu menuntut, bagaimana jika Keluarga Xin mengatakan bahwa Sanfang tidak bisa berpisah? Qian’er, ayah mu dan Tianan sama-sama rajin, bahkan jika kita tidak bergantung pada dua hektar tanah ini, hidup kita cepat atau lambat pasti akan menjadi lebih baik."
Mendengar kata-kata ibunya, Xin Qian akhirnya duduk kembali ke tempatnya, dia memang bersyukur bahwa ada kesempatan seperti ini untuk memisahkan Sanfang. Jika tidak dia tidak lagi kapan kesempatan itu akan datang. Selama Sanfang dapat meninggalkan rumah Keluarga Xin, itu sudah merupakan hal yang baik. Bagaimanapun, memilih untuk berpisah juga akan membuat Sanfang menjalani kehidupan yang baik.
Xin Qian berkata dengan sedikit tidak senang, "Ibu, bagaimana mereka bisa memperlakukan Ayah dan Ibu seperti ini? Bukankah Ayah juga anak dari Keluarha Xin? Mereka tega memperlakukan Sanfang dengan buruk selama ini. Sampai kapan Ayah dan Ibu ingin tetap bersabar?"
Liang Jinqiao tersenyum kecut dan berkata, “Qian’er, Ibu sudah bersyukur jika Sanfang bisa berpisah dari mereka. Jadi, masalah tanah, kita hanya bisa mencari solusi untuk itu. Apalagj, Ibu tidak bisa tidak peduli pada masa depan Paman kelima mu. Terutama, saat paman kelima mu mendengar bahwa kamu mengalami musibah sebelumnya, dia langsung buru-buru meminta cuti dan kembali ke desa untuk membantu mu. Kakek mu bahkan memberikan uang sebanyak dua puluh koin perak pada Paman kelima mu, untuk meminta bantuan dari pejabat di kota Yangcheng! "
Xin Qian mengerutkan keningnya, saat Liang Jinqiao mengatakan itu, dia merasa bahwa Xin Baoshan masih memiliki hati nurani. Dia bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membantunya, apalagi dua puluh koin bukan jumlah kecil. Setelah tiga tahun berlalu, di perkirakan uang tahun itu pasti sudah tidak banyak yang tersisa. Akan tetapi Xin Baoshan bersedia mengeluarkan uang sebanyak dua puluh koin perak sekaligus, hanya untuk menyelamatkannya ...
Xin Qian tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Keluhan awalnya terhadap Xin Baoshan tampaknya tidak terlalu dalam lagi.
"Ibu, Kamu mengatakan bahwa Paman kelima pergi untuk menyelamatkan ku? Bagaimana kabar dari Paman kelima sekarang? Mengapa dia tidak di rumah Keluarga Xin, padahal aku sudah di sini, Apakah dia tidak berada di Kota Yangcheng?" Tanya Xin Qian buru-buru.
Berbicara tentang Xin Wensheng, Liang Jinqiao juga tiba-tiba teringat. "Qian’er, ibu juga ingin bertanya pada mu, mengapa saat kamu kembali, paman kelima mu tidak juga ada kabar? Bukankah seharusnya dia datang kepada mu di pengadilan daerah?"
"Ini……" Xin Qian tidak tahu harus berkata apa untuk sementara waktu, dia, paman kelimanya pasti tidak mengetahui bahw dia, telah mendapatkan bantuan dari Mo Lianfeng. Kalau tidak, Xin Wensheng tidak akan pergi ke Kota Yangcheng.
Meskipun itu adalah pekerjaan yang sia-sia, tetapi hati Xin Qian merasa hangat, karena dia menghargai niat Xin Wensheng dan Xin Baoshan untuk membantunya. Xin Qian akan berterima kasih dan tergerak untuk mereka yang peduli pada dirinya.
"Ibu, Pangeran adalah orang yang membantu ku menyelesaikan masalah itu, karena aku tidak melakukan apa-apa, aku bisa bebas dengan mudah. Tetapi, selama aku di kota Yangcheng, aku tidak pernah bertemu dengan Paman Wen.” Ucap Xin Qian seraya mengerutkan keningnya.
Jika Xin Wensheng tidak bertemu dengannya, lalu kemana dia pergi? Apakah dia tertipu di bawah tangan pejabat kota? Xin Qian bahkan bisa bebas tanpa harus menyogok pejabat! Bukankah, mereka hanya buang-buang uang sebanyak dua puluh koin perak?!
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗