
"Kakak, masih ada banyak katak di punggung bukit. Xiao Chen dan aku menangkap banyak dalam waktu singkat! Kakak harus memasakkan katak untuk kita saat makan siang hari." Ucap Xin Yang senang.
Setelah Xin Qian membuat katak untuk kedua anak itu sebelumnya, Xin Yang dan Xiao Chen sama-sama menyukai rasanya yang lezat. "Hahaha, kamu hebat, tidak masalah, aku akan membuatkannya untuk kalian nanti." Ucap Xin Qian tersenyum.
"Horee~" Kedua anak itu tersenyum penuh harap, melihat bahwa sudah hampir siang, mereka sudah agak lapar.
Xin Qian juga mulai menyiapkan makan siang. Ada beberapa sayuran hijau kecil di rumah, yang bisa di masak, di tambah ada daging katak, itu cukup untuk tiga orang. Xin Qian memotong sedikit daging yang dia beli tadi, memasukkannya ke dalam paprika hijau dan menggorengnya. Sepiring daging babi suwir dengan paprika hijau adalah yang terbaik untuk hidangan.
Makan siang memakan waktu lebih dari satu jam untuk disiapkan. Xin Qian buru-buru memanggil kedua anak itu untuk makan. “Anak-anak ayo makan!”
"Kakak kedua, kakak sulung awalnya ingin datang untuk makan lagi hari ini, dan dimarahi oleh ayah Hehe" ucap Xin Yang menceritakannya kepada Xin Qian sambil makan. Lagi pula, dia sudah berusia delapan tahun, dia mengerti banyak hal. Sekarang, dia memberi tahu Xin Qian, karena dia pikir masalah ini agak penting.
Xin Qian menyentuh kepala Xin Yang dan berkata, "Tidak apa-apa. Jika Xin Pinger dating, kakak kedua juga bisa mengurusnya."
Dia tidak mudah digertak, jika Xin Ping'er itu berani datang untuk makan dan dia tentu saja akan menghukumnya! Bagaimanapun, dia tidak mau menderita sendirian.
"Kakak kedua, aku tidak ingin kakak sulung datang untuk makan. Jika kakak sulung datang untuk makan, kita tidak akan bisa makan." Ucap Xin Yang dengan jujur.
Di masa lalu, kedua adik Xin Qian juga lebih dekat dengannya. Secara alami, sekarang mereka akan berdiri di sisi Xin Qian dan membantu Xin Qian berbicara.
Katak tumis pada siang hari dimakan dengan bersih, dan tidak ada sup yang tersisa. Masih ada banyak sayuran hijau kecil dan daging babi tersisa. Melihat perut dua anak yang menggembung,
Xin Qian tersenyum dan berkata, "Lihat, kalian berdua makan begitu banyak, bagaimana bisa kamu makan roti daging di sore hari?"
“Ibu, apakah kamu punya roti untuk di makan di sore hari?” Mata Xiao Chen berbinar.
“Kakak kedua, apakah kamu membuat roti untuk kami?” Xin Yang bertanya dengan sedikit bersemangat.
"Ya, aku membeli daging dan aku akan membuat roti kukus untuk kalian sore hari." Jawab Xin Qian tersenyum
"Oke, ibu, Xiao Chen suka makan roti kukus." Ucap Xiao Chen semangat
"Kakak kedua, aku juga suka makan." Ucap Xin Yang menimpali
"Perut mu sangat besar, berapa banyak yang bisa kalian makan?" ucap Xin Qian bercanda
"Kakak kedua, aku bisa makan banyak." Ucap Xin Yang mengangkat tangannya
"Yah, kamu kucing kecil, aku akan membuatnya untuk mu sore ini." Ucap Xin Qian seraya mencubit pipi adiknya itu
"Yeyy~." Ucap Xin Yang senang
Xin Qian pergi ke dapur dan melihat masih ada nasi tersisa di pot. Karena apa yang terjadi kemarin, Xin Tian terlalu malu untuk datang lagi, takut Xin Ping'er akan mengikutinya juga. Nasi yang dimasak di atas tungku api di desa ini akan meninggalkan lingkaran kerak nasi setelah suhunya, renyah dan lezat.
Xin Qian menguleni beberapa kerak nasi dan nasi menjadi bola, dengan beberapa sayuran dan daging babi di dalamnya. Setelah membuat empat bola nasi, Xin Qian menaruhnya di piring dan menutupinya dengan piring lain.
“Aku mendengar Xin Yang mengatakan bahwa sekarang keluarga Xin telah mulai mengolah ladang lagi hari ini, dan para pria menggunakan kekuatan mereka untuk panen, pasti Xin Tian juga bekerja di ladang.” Batin Xin Qian.
"Yang’er, apakah kamu tahu di mana Tian’er bekerja siang ini?" Tanya Xin Qian
"Tahu." Jawab Xin Yang
"Oke, mari kita pergi memberikan bola nasi kepada Tian sore hari dan kemudian menangkap seekor katak, oke?" ucap Xin Qian
"Baiklah." Jawab Xin Yang.
Dalam hal menangkap katak, kedua anak itu tidak hanya suka makan, proses menangkap katak juga menyenangkan. Anak-anak di desa ini tidak memiliki banyak kegiatan hiburan, dan tidak banyak hal yang mereka minati.
Selain menangkap katak, anak-anak juga bermain game lain bersama. Hanya saja anak-anak di desa kurang suka terhadap Xiao Chen karena usianya yang paling muda dan anak-anak lain tidak mau bermain dengan Xiao Chen. Kalau bukan karena adiknya Xin Yang, Xiao Chen akan kesepian, dan dia tidak tahu harus berbuat apa sendirian.
"Kakak kedua, bisakah kita membawa ketiga anak lain bersama ketika kita menangkap katak di sore hari? Dia juga membantu menangkap katak hari ini." Tanya Xin Yang
Xin Qian tersenyum dan berkata, "Tentu saja bisa."
Akan lebih menarik untuk memiliki lebih banyak anak bersama. Xin Qian pergi ke Bibi Liu dulu dan mengembalikan timbangan ke rumah Bibi Liu. Setelah mencuci piring dan sumpit, sudah jam dua atau tiga sore.
Xin Qian membawa keranjang berisi bola nasi di tangannya, dan juga menaruh kendi kecil berisi air madu dan teh yang dibuatnya. Xin Qian berjalan menuju ladang keluarga Xin dengan beberapa anak.
Keluarga besar Xin belum berpisah. Selama bertahun-tahun, mereka membeli ladang setelah menabung, dan secara bertahap meningkatkan ladang mereka. Secara umum, kondisi di Desa Shuilan juga di atas rata-rata.
Ketika Xin Qian pergi, kakeknya Xin Baoshan sedang sibuk di ladang, bersama dengan paman-pamannya, dan juga ayahnya. Sepupu kedua juga datang untuk membantu, dan ada Xin Tianan. Setelah beberapa hari sibuk bekerja, ladang keluarga Xin telah selesai di tanami bibit.
Sekarang yang sedang di kerjakan Xin Tianan adalah menyiram air ke ladang, kemudian menyebarkan beras, dan kemudian tinggal menunggu bibit tumbuh. Ketika Xin Qian datang, orang pertama yang melihat Xin Qian adalah sepupunya, Xin Fan. Xin Fan adalah anak dari paman keduanya.
“Sepupu, mengapa kamu di sini?” Tanya Xin Fan. Dia adalah satu-satunya sepupu yang masih sopan kepada Xin Qian dan sering menyapa.
"Aku mencari Tian'an," Xin Qian tersenyum sedikit.
"Oh, Tianan?" setelah menjawab Xin Fan berteriak memanggil Xin Tianan, "Tianan! Saudara kedua mu mencari mu!"
Xin Tianan menoleh ke belakang, dan ketika dia melihat Xin Qian, dia sedikit senang dan berjalan ke arah Xin Qian. "Kakak kedua, mengapa kamu di sini?"
"Membawakan mu makanan lezat. Apakah kamu lapar sekarang?" ucap Xin Qian seraya menunjukkan keranjang makanannya.
"Kakak kedua, mengapa kamu jauh-jauh membawakan ku makanan? Kamu makanlah sendiri!" ucap Xin Tianan agak tidak enak. Kakaknya sudah lama hidup sendiri, dia pasti kesulitan selama ini.
--------------
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗