Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 120



Xin Qian tidak ingin melanjutkan perbincangan tentang Liu Lei. Dia tidak bisa bersama Liu Lei karena dia sudah punya anak dari pria lain, dan tentu saja dia tidak ingin membicarakan sesuatu yang pribadi seperti ini. Yang paling penting adalah bahwa Xin Qian tidak ingin berbicara tentang pria lain di depan Mo Lianfeng!


Xin Qian membantu Mo Lianfeng memijat, sambil memikirkan hal-hal lain di pikirannya, sampai dia linglung dan sehingga tidak mendengar Mo Lianfeng memanggilnya beberapa kali.


Mo Lianfeng berpikir ada yang salah dengan Xin Qian, dan ketika dia memalingkan kepalanya, wajah keduanya segera menjadi sangat dekat, dan mereka bahkan bisa merasakan napas di hidung masing-masing.


Kepala Xin Qian menjadi kosong sesaat, wajahnya langsung memerah, dan dia tiba-tiba melompat berdiri. "Pangeran Mo..."


Mo Lianfeng juga memerah, Lalu berkata, "Maaf, Qianqian, Aku tadi memanggil mu beberapa kali, tapi kamu tidak menjawab. Jadi, aku berbalik untuk melihat mu…”


"Tidak apa-apa." Xin Qian tersenyum dan menjawab. "Aku akan membuat pakaian Xiao Chen."


"Baiklah." Ucap Mo Lianfeng.


Xin Qian pindah, duduk di kursi, dan melanjutkan untukmembuat pakaian untuk Xiao Chen. Jantungnya masih berdebar karena adegan barusan! Setelah beberapa waktu, baru dia bisa menenangkan hatinya.


Xin Qian mulai memotong dan memperbaiki pakaian sesuai dengan apa yang di katakan Bibi Liu. Tidak mudah saat melakukan ini untuk pertama kalinya, dan kemampuan menjahit Xin Qian buruk. Tapi dia punya waktu, jadi tidak terburu-buru.


"Ah ~" Xin Qian tersentak kesakitan ketika jarum secara tidak sengaja tertusuk ke jarinya.


“ Qianqian, ada apa dengan mu?” Mo Lianfeng langsung bertanya dengan mata khawatir.


"Tidak apa-apa, Aku tidak sengaja tertusuk oleh jarum," Ucap Xin Qian.


“Biar ku lihat!” Mo Lianfeng merangkak keluar dari tempat tidur sambil terhuyung-hutung, dan berjalan ke Xin Qian, lalu, meraih tangan Xin Qian, dan melihatnya.


Gerakan Mo Lianfeng begitu tiba-tiba sehingga Xin Qian tidak sempat bereaksi. Lalu, tangannya yang terluka ada di tangan Mo Lianfeng…


Melihat jari Xin Qian yang keluar darah, Mo Lianfeng segera memasukkan jarinya ke mulutnya. Xin Qian tertegun untuk sementara waktu. Saat jari itu masuk ke mulut Mo Lianfeng, rasa sakitnya tidak begitu berat, tetapi ada perasaan yang sangat nyaman.


Hanya saja orang seperti Mo Lianfeng memperlakukannya seperti wanita desa, bukan? Ini terlalu...


Mo Lianfeng hanya melakukan tindakan bawah alam sadar, dia tidak banyak berpikir. Dia hanya khawatir saat melihat Xin Qian terluka.


“Qianqian, sudah tidak berdarah.” Ucap Mo Lianfeng seraya melepaskan tangan Xin Qian dan melihat darahnya telah berhenti. Begitu dia mengangkat kepalanya, mata Xin Qian yang terkejut bertemu dengan mata Mo Lianfeng.


Setelah dua orang saling memandang selama beberapa detik, suasananya tampak sedikit ambigu.


Xin Qian dengan cepat memindahkan wajahnya dan berbalik. Lalu berkata dengan suara berbisik, "Terima kasih..."


“Sama-sama. Qianqian, berhati-hatilah, jangan terluka lagi.” Jejak kesusahan melintas di mata Mo Lianfeng,


"Baiklah." Xin Qian mengangguk, tetapi tidak berani melihat Mo Lianfeng lagi. Setelah itu, Xin Qian memberi tahu Mo Lianfeng untuk berbaring kembali di tempat tidur.


Xin Qian juga tidak peduli, karena Liu Shanzi sudah di minta untuk memcari katak di desa lain, dia pasti akan menerima banyak katak nanti.


Xin Qian tidak bertanya, tetapi Xiao Chen menjelaskan, "Ibu, hari ini katak yang ada sangat sedikit."


"Tidak apa-apa," Xin Qian menepuk kepala Xiao Chen.


“Ibu, jika tidak ada lagi katak yang bisa di tangkap, apakah semua orang yang membantu kita menangkap katak hari ini, tidak akan mau bermain dengan Xiao Chen? Mereka bialang orangtua mereka tidak akan membiarkan mereka bermain dengan Xiao Chen lagi.” Xiao Chen menunduk dalam suasana hati yang buruk.


Anak-anak suka bermain dengan lebih banyak teman. Sebelumnya, anak-anak di desa mengasingkan Xiao Chen. Mereka akhirnya mau bermain dengan Xiao Chen karena penangkapan katak. Sepertinya, sekarang anak-anak itu telah berubah kembali ke cara sebelumnya. Xiao Chen merasa sedikit sedih.


Melihat penampilan menyedihkan Xiao Chen, Xin Qian membujuk beberapa kata.


Dia menduga itu karena Gou Dan telag jatuh ke dalam lubang lumpur, Qin Hailan takut telur Gou Dan akan mengalami kecelakaan lain, jadi dia tidak membiarkan Gou Dan terus bermain dengan Xiao Chen.


Xin Qian hanya tidak tahu apakah Gou Dan berbicara tentang katak pada Ibunya Adapun anak-anak lain, Xin Qian juga menebak bahwa Qin Hailan telah mengatakan sesuatu secara diam-diam, sehingga orang tua dari anak-anak lain tidak akan membiarkan anak-anak mereka bermain lagi dengan Xiao Chen.


Setelah menyentuh wajah kecil Xiao Chen, Xin Qian merasa sedikit tertekan.bTidak peduli seberapa baik dia bagi Xiao Chen, Xiao Chen adalah seorang anak dan suka bermain dengan anak-anak lain.


"Oke, Xiao Chen, jangan sedih. Mereka tidak akan menangkap katak bersama mu, tapi bukankah masih ada paman mu yang akan menemani mu bermain? Saat Xiao Chen berusia 8 tahun, Ibu akan mengirim Xiao Chen ke sekolah, sehingga Xiao Chen dapat bermain dengan banyak teman dan belajar ilmu di sana. " Ucap Xin Qian membujuknya.


Xiao Chen mengangkat kepalanya dan memandang Xin Qian, "Ibu, apa itu sekolah?"


"Sekola adalah tempat kamu belajar dan bermain bersama anak-anak yang seusia dengan Xiao Chen." Ucap Xin Qian menjelaskan.


"Ibu, untuk apa sekolah itu?" tanya Xiao Chen lagi.


"Pergi ke sekolah berarti belajar ilmu... Yah, sama seperti paman besar mu. Saat kamu bisa lulus dari sekolah, di masa depan kehidupan Xiao Chen akan bisa maju dan menjalani kehidupan yang baik dengan ibu.” Ucap Xin Qian.


“Xiao Chen, mengerti Ibu!” Xiao Chen mengangguk mengerti.


Terutama setelah mendengar Xin Qian mengatakan bahwa Xiao Chen bisa maju dan memimpin Xin Qian menjalani kehidupan yang baik, Xiao Chen lebih bertekad dalam hatinya, dan dia harus belajar dengan baik di masa depan saat dia pergi ke sekolah.


Berbicara tentang Xiao Chen yang pergi ke sekolah, Xin Qian memandang ke arah Xin Yang. Xin Yang juga berusia delapan tahun, dan dia telah mencapai usia sekolah, tetapi jelas, keluarga besar Xin tidak berniat menyekolahkan Xin Yang.


zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗