
Ketika orang lain tidak tahu harus berkata apa, Xin Pinger melompat dan berkata, "Kakak Yuan, lalu pergilah ke toilet, Aku akan membawa kertas toilet untuk menemani mu!"
Setelah Xin Ping’er selesai berbicara, dia mengeluarkan kertas toilet dan menyerahkannya kepada Qin Yuan. “Pergilah, Kakak Yuan, biarkan aku pergi bersama mu!”
Kata-kata Xin Pinger yang begitu frontal, membuat Qin Yuan tertegun. Dia adalah laki-laki, dan Xin Pinger adalah perempuan! Bagaimana bisa wanita gila itu ingin menemaninya ke toilet?
Qin Dahai dan istrinya juga terkejut dengan apa yang di katakan oleh Xin Ping’er. Bagaimana bisa kata-kata seperti ini di katakan dengan sangat santai oleh seorang wanita? Mereka bahkan belum menikah!
Qin Yuan berpikir sebentar, dan berkata, "Tidak, katakan saja padaku di mana letak Toiletnya berada. Aku bisa pergi ke sana sendirian. Tempat itu baunya tidak enak, Kamu adalah seorang gadis, lebih baik tidak pergi ke tempat seperti itu. "
Xin Ping’er berpikir bahwa Qin Yuan hanya bersikap peduli pada dirinya, jadi dia menyerah untuk ikut, dan berkata, "Yah… baiklah, aku tidak akan menemani mu, kamu bisa pergi sendirian!"
Xin Qian yang ada di sela-sela, tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya di dalam hatinya. Apakah Xin Ping’er ini benar-benar terbelakang mental? Selain itu, dia tidak bisa memikirkan alasan bagi Xin Ping’er untuk melakukan hal seperti itu.
Qin Yuan akhirnya menghela napas lega, "Kalau begitu aku pergi!"
"Ya, Kakak Yuan, Toiletnya ada di belakang halaman rumah ini. Hati-hati!" Ucap Xin Pinger.
"Ya!" Jawab Qin Yuan, dan berlari dengan cepat dengan kakinya di jepit. Jika Xin Ping’er terus menundanya, dia tidak akan bisa lagi menahannya!
Melihat Qin Yuan bergegas keluar, Xin Qian tahu bahwa Qin Yuan sedang terburu-buru.
Keluarga Qin tidak punya uang, jadi makanan mereka biasanya tidak enak, kareena jarang memakan makanan yang pedas dan berminyak, mereka langsung sakit perut.
Melihat keluarga Qin yang makan dengan rakus tadi, Xin Qian sengaja tidak menghentikannya, diabtahu bahwa jika mereka makan terlalu banyak maka mereka juga yang akan menderita pada akhirnya.
Qin Yuan meninggalkan halaman rumah, dan setelah melihat toiletnya, dia bergegas dengan terburu-buru.
Setelah selesai, Qin Yuan keluar dari toilet. Namun, matanya terpaku pada wanita di hadapannya. Wanita itu berdiri memunggungi toilet, dan mengahalangi jalannya.
Qin Yuan berdeham dan berkata kepada wanita di hadapannya itu, "Nona, aku ingin lewat, bisakah kamu minggir?”
Begitu kata-kata itu selesai, Xin Hui menoleh dan menatap pria di depannya dengan kesal, tapi karena orang yang muncul adalah orang asing yang tampan, dia menahan amarahnya dan bertanya,, "Siapa kamu? Sedang apa kamu di rumah Keluarga Xin? Apa kau pencuri mesum?! Kenapa kau ada di toilet kami?!”
"Tidak! Jangan salah paham. Aku datang kesini untuk menemui wanita dari Keluarga Xin. Kami baru saja selesai makan, dan aku aakit perut, jadi aku pergi ke toilet ini.” Qin Yuan dengan cepat menjelaskan. Dia adalah orang yang lurus, bagaimana dia bisa di sebut pencuri mesum?
Xin Hui melihat wajah pria tampan itu, kini elah memerah saat ini. Tanpa sadar dia terus menatap Qin Yuan.
Melihat penampilan Xin Hui yang putih mulus sedang menatapnya, Qin Yuan merasa semakin malu. Awalnya, dia hampir terpesona olehnya tetapi dia cepat mengalihkan pandangannya.
Xin Hui bertanya kepada Qin Yuan dengan penasaran, "Siapa wanita yang ingin kau temui?Apa itu Xin Jinger?”
“Bukan. Aku datang untuk menemui Xin Pinger. Ada apa?” Ucap Qin Yuan.
“Haha Jadi kau calon mempelai prianya? Sungguh malang!” Xin Hui tahu bahwa calon mertua Xin Ping’er ada di sini hari ini, namun dia tidak melihat mereka jadi dia tidak melihat Qin Yuan seblumnya.
Ketika Xin Hui berbicara dengannya, Qin Yuan merasa tidak nyaman untuk tidak menjawab, jadi dia menjawab, "Ya benar. Apa masalahnya?”
Setelah menanggapi Xin Hui, dia merasa aneh, tidak ada alasan untuk berbicara dengan seorang wanita saat buang air.
"Huh!" Xin Hui mendengus. Nada bicara Hui mengandung sentuhan sarkasme. “Aku hanya berpikir bahwa kamu ini sangat pemberani atau bodoh, bagaimana kamu bisa menikahi wanita jelek seperti Xin Ping’er!”
"Nona ini, izinkan aku memberitahu mu, keluarga ku miskin, aku tidak punya pilihan. Sejujurnya, aku juga ingin menikahi seorang Istri yang cantik. Meskipun Xin Ping’er jelek, selama dia bisa Melahirkan, setidaknya keluarga ku bisa meneruskan keturunan!” Ucap Qin Yuan menjelaskan dengan jujur.
Xin Hui mengangguk, ternyata seperti itu. Dia tiba-tiba mulai bersimpati dengan Qin Yuan. Hanya karena keluarganya miskin, dia harus menikahi monster yang jelek.
Xin Hui menjawab, "Aku bibinya, Xin Hui!"
"Ternyata Pinger masih memiliki bibi kecil. Aku benar-benar tidak menyangkanya, saudari, kamu begitu muda dan cantik. Jika kamu tidak mengatakannya sendiri, orang lain tidak akan percaya bahwa kamu adalah Bibi dari Xin Pinger. Di bandingkan dengan Xin Ping’er, kamu terlihat seperti peri. "Qin Yuan menatap Xin Hui.
Xin Hui yang di puji oleh Qin Yuan, merasa sangat banggal di hatinya. Pria ini benar-benar bisa berbicara manis. Dia merasa lebih kasihan pada Qin Yuan, "Gadis Xin Ping’er bertemu dengan Kamu, itu benar-benar bunga yang jatuh ke kotoran sapi."
Takut dengan kesalahpahaman Qin Yuan, Xin Hui juga menjelaskan, "Kamu adalah bunga, dan Pinger adalah kotoran sapi!"
Qin Yuan tersenyum malu-malu, "Aku... aku bukan bunga,kan?"
Xin Hui menatap wajah Qin Yuan yang putih dan memperhatikan, "Kamu terlihat sangat tampan, bagaimanapun, Ping’er tidak layak untuk mu yang tampan."
"Hahh…” Qin Yuan menghela nafas.
Semakin Xin Hui mengatakannya, semakin dia merasa sedih. Memikirkan wajah Xin Ping’er, jika mereka saling bertemu setiap hari, dan harus memiliki anak, bagaimana dia akan hidup di masa depan?
Qin Yuan menatap wajah Xin Hui lagi, mengapa pasangan kencan butanya hari itu bukan Xim Hui tapi Xin Ping’er?
Keduanya mengobrol di depan toilet untuk waktu yang lama. Xin Hui pikir Qin Yuan itu menarik, qDan Qin Yuan sendiri menyukai Xin Hui yang cantik, dan ingin dekat dengannya.
Di dalam ruangan, pasangan Qin, Xin Wenhua dan Liang Jinqiao membahas pernikahan Xin Ping’er dan Qin Yuan. Mereka sependapat untuk menetapkan tanggal sedini mungkin untuk menyelesaikan pernikahan.
Xin Ping’er menunggu lama sebelum Qin Yuan datang, dan berkata dengan cemas, "Mengapa kakak Yuan belum kembali? Bukankah dia jatuh ke dalam lubang?"
“Pffttt!!” Xin Qian sedang minum air, dia tersedak karena kata-kata Xin Pinger.
Xin Ping’er ini adalah wanita yang sangat aneh, dia tidak pernah memikirkan kata-katanya.
“Ya, Yuaner sudah berada di toilet sejak lama, mengapa dia belum kembali?” Mu Chunfang juga merasa aneh, dan mengerutkan keningnya.
"Mungkin perutnya masih sakit, jadi tetap di toilet sebentar," jawab Qin Dahai, agar Istrinya, Mu Chunfang tidak terlalu khawatir.
"Paman, tidak ada orang yang jongkok di Toilet begitu lama, dua kakinya pasti tidak tahan sama sekali!" Ucap Xin Ping’er dengan cemas.
“Ya, benar juga.” Qin Dahai berpikir bahwa itu memang benar.
Melihat Xin Ping’er berjalan dengan sangat cemas, Xin Qian menyisihkan cangkir teh dan berkata kepada Xin Ping’er, "Saudari Pinger, karena Kamu khawatir padanya, Kamu sebaiknya memeriksanya. Jika Qin Yuan benar-benar jatuh. Masuk ke dalam lubang, Kamu bisa menangkapnya! "
“Kau benar! Ayah, Ibu! Aku ke belakang sebentar!” Ucap Xin Pinger, lalu berbalik pergi.
Xin Pinger berlari tanpa menolah ke belakang. Setelah beberapa saat pemandangan yang dia lihat adalah Qin Yuan yang mengobrol dengan bahagia bersama Xin Hui! Hati Xin Pinger terasa pedih, kakak Yuannya tidak pernah sebahagia itu saat bersamanya…
Xin Pinger buru-buru berlari menghampiri kedua orang itu, dan berteriak memanggil, “Kakak Yuan! Kenapa kamu begitu lama di Toilet? Dan kenapa kalian bersama?!”
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗