
Jari-jari putih Mo Lianfeng yang langsing seperti batu giok, dan mereka sebenarnya lebih baik dari tangan wanita. Mangkuk porselen di tangannya bahkan lebih terlihat inferior.
"Saya tidak lapar……" jawab Xin Qian lemah.
"Kamu belum makan dalam sehari ini, bisakah kamu tidak lapar? Makanlah dengan cepat, jika kamu juga sakit, apa yang akan di lakukan putra mu? Siapa yang akan menjaganya dan siapa yang akan merawatnya?" ucap Mo Lianfeng membujuk.
Xin Qian memandang pria yang berdiri di depannya, tinggi dan lurus. Dapat memberi orang merasa ketergantungan.
“Hei, ayo, makanlah.” Suara Mo Lianfeng melembut lagi, berjongkok di tanah, bersiap untuk menyuapi Xin Qian.
Wajah Xin Qian memerah tiba-tiba, "Aku ... aku akan memakannya sendiri."
"Baiklah." Jawab Mo Lianfeng tersenyum, lalu menyerahkan mangkuk itu. ‘Ekspresi malu-malu gadis ini sangat menarik. Gadis yang biasanya terlihat sangat kuat, ternyata tetap saja seorang gadis.’
Xin Qian mulai makan bubur di tangannya. Buburnya memiliki rasa yang ringan, dengan sedikit daging tanpa lemak dan telur, rasanya cukup lezat. Xin Qian makan satu mangkuk bubur dengan cepat.
"Hari ini, terima kasih banyak. Aku berhutang budi pada Pangeran.." ucap Xin Qian dengan tulus berterima kasih padanya, dia selalu merasa terlalu banyak merepotkan Mo Lianfeng.
"Tidak perlu. Itu keinginan ku sendiri." Jawab Mo Lianfeng sambil tersenyum. Untuk beberapa alasan, dia bersedia terus membantu Xin Qian.
………
Pada hari kedua, demam Xiao Chen akhirnya mereda. Hati Xin Qian juga lebih tenang. Dokter meresepkan dua obat lagi dan menginstruksikan Xin Qian untuk pergi merebus obat untuk Xiao Chen tepat waktu, dan dengan begitu tidak ada yang akan terjadi dalam dua hari ke depan.
"Dokter, obat-obatan ini masih memiliki biaya diagnosis dan perawatan, berapa biayanya?" Tanya Xin Qian. Dia bisa menebak bahwa pasti memerlukan banyak uang, dia tidak punya uang di sakunya sekarang, dan dia tidak mampu untuk saat ini. Jadi, dia berniat untuk membahas tentang utang.
"Total lima puluh koin perak," kata dokter.
Xin Qian tiba-tiba terkejut. Lima puluh koin perak bukanlah jumlah yang kecil, dan rata-rata keluarga tidak bisa mendapatkannya bahkan setelah bekerja selama sebulan. Dia sekarang bahkan merasa kesulitan untuk memberi makan dirinya sendiri dan Xiao Chen, apalagi mengeluarkan lima pulub koin perak untuk pengobatan. Bahkan jika itu hutang, kapan dia bisa membayar kembali lima puluh koin perak?
"Dokter, aku ..." ucap Xin Qiam kebingungan. Bahkan hanya ada 50 koin tembaga di tangannya saat ini.
Dokter sepertinya melihat kecemasan Xin Qian. Seorang wanita desa, berpakaian sangat lusuh dan polos tanpa perhiasan atau pun make up, bagaimana dia bisa mendapatkan beberapa puluh perak? Jadi dia menghibur Xin Qian, "Nona, jangan khawatir, biaya pengobatan Anda sudah dibayar oleh Pangeran."
"Telah di bayar? Oleh Pangeran??” tanya Xin Qian. Bahkan Mo Lianfeng sudah membayarnya? Xin Qian tidak tahu bahwa Mo Lianfeng telah banyak membantunya. Pada saat ini, selain rasa terima kasih, ada lebih banyak beban di hatinya. Xin Qian tidak tahu kapan dia akan bisa membalas kebaikan Mo Lianfeng.
"Itu benar. Nona, kembali dan istirahatlah. Buatlah makanan yang lebih lezat untuk anak mi beberapa hari ini untuk membantu tubuh nya selama penyembuhan" jawab dokter sambil tersenyum ramah.
"Ya, terima kasih, dokter." Jawab Xin Qian.
Xin Qian memeluk Xiao Chen dan berjalan keluar dari rumah sakit. Ada kereta yang diparkir di luar rumah sakit, itu adalah kereta milik Mo Lianfeng.
Ketika kusir melihat Xin Qian keluar, dia buru-buru melangkah maju dan berkata, "Nona, masuk lah ke dalam kereta, Pangeran telah meminta saya untuk mengantarkan Anda kembali."
Xin Qian mengenali kusir dan mengangguk. Dia sudah menanggung begitu banyak kebaikan dari Mo Lianfeng, dan saat ini dia tidak peduli untuk menambah satu lagi. Lagi pula, dia harus membayarnya kembali di masa depan, meski dengan lambat.
"Baiklah. Kamu tidak perlu terlalu formal dengan ku, Tuan." Jawab Xin Qian dengan ramah.
"Baik……" jawab sang kusir.
…………
Setelah beberapa saat, Mo Lianfeng terlihat kembali dengan banyak barang di tangannya. Setelah itu dia masuk ke dalam kereta dan duduk di kursi depan Xin Qian. “Maaf menunggu lama.” Ucap Mo Lianfeng tersenyum.
“Tidak lama. Santai saja Pangeran.” Jawab Xin Qian.
“Baiklah.” Ucap Mo Lianfeng.
Saat kereta bersiap untuk pergi. Tiba-tiba terdengar suara teriakan di luar, “Tunggu!” teriak seorang pria dari jauh.
Tiba-tiba mata Mo Lianfeng menyipit dengan tidak senang, dia tahu benar siapa pemilik suara ini. Benar saja itu adalah orang yang di kenal nya, Helian Ming.
Helian Ming telah sampai di depan kereta dan melihat ke arah Mo Lianfeng yang duduk di dalam nya. “Hei! Mo Lianfeng, akhirnya aku menemukan mu. Kau tidak tahu betapa sulitnya untuk menemui mu? Padahal aku selalu datang saat kau memanggil ku! Kau sangat tidak setia kawan!” ucap Helian Ming dengan nada kesal.
“Berhenti lah mengomel. Kau seperti wanita tua sekarang. Aku sibuk sekarang, jadi tidak bisa meladeni mu. Kusir, ayo berangkat.” Ucap Mo Lianfeng dengan malas.
Helian Ming sangat marah di buatnya, “Tunggu! Aku ikut! Sebenarnya kau akan kemana?? Kenapa terburu-buru sih?” tanya nya.
“Ke desa Shuilan.” Jawab Mo Lianfeng dengan malas.
Desa? Untuk apa seorang pangeran pergi ke sebuah desa kecil? Baru pada saat ini lah Helian Ming menyadari kehadiran Xin Qian di dalam kereta. “Siapa gadis ini? Dari pakaiannya yang sederhana, dia pasti gadis desa biasa. Penampilannya juga bukan yang tercantik, meski usia nya masih muda tapi gadis itu sedang memeluk seorang anak di tangan nya. Jika itu benar anak nya, sudah pasti dia sudah menikah. Apa yang di lakukan Mo Lianfeng dengan seorang gadis yang sudah menikah? Ini sangat tidak biasa…. Ah! Jangan bilang…. Mo Lianfeng sedang menjalin hubungan terlarang?!!” batin Helian Ming.
Mo Lianfeng mulai kesal karena teman nya itu menatap Xin Qian dengan tatapan yang penasaran. Dia tahua benar apa yang di pikir kan oleh si bodoh itu! “Helian Ming. Jangan menghalangi jalan. Aku pergi sekarang.”
Helian Ming buru-buru menahan kereta itu dan berkata, “Aku ikut dengan mu!” dengan itu, dia langsung naik ke dalam kereta dan duduk di sebelah Mo Lianfeng.
Setelah gangguan itu, akhirnya kereta kuda pun pergi ke arah desa Shuilan. Tanpa menghiraukan rasa tidak suka Mo Lianfeng. Helian Ming sibuk menyelidiki gadis di depannya, “Hallo, Nona. Perkenalkan nama ku Helian Ming. Aku adalah teman masa kecil pria ini.”
Xin Qian tersenyum ringan dan menjawab, “Aku Xin Qian. Salam kenal, Tuan muda Helian.”
------------
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗