Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 318



Xin Qian benar-benar tidak suka pada paman pertama dan paman keduanya. Tapi, Xin Qian akan membiarkan Xin Wenhua mengembalikan semua makanan itu. Jadi, Mulai sekarang, mereka tidak memiliki hutang dengan keluarga Liang lagi.


Xin Qian takut jika dia tidak membayar utang itu sekarang. Saat hidup Sanfang menjadi lebih baik, keluarga Liang pasti akan datang mengambil keuntungan dari merema, dan membuat keluarga Xin Qian menderita. Jadi, lebih baik selesaikan masalah ini secepatnya.


"Ayah, ibu, keluarga Xin dulu juga ikut makan tiga karung gandum ini bersama-sama, kan?" Tanya Xin Qian.


"Ya, pada waktu itu, Keluarga Xin kita mengalami masa sulit jadi kita meminjam tiga karung untuk dimakan." Ucap Xin Wenhua.


"Kalau begitu, sekarang untuk mengembalikan makanan ke Keluarga Liang. Orang-orang dari keluarga Xin harus ikut membantu. Kita tidak bisa membayarkan makanan yang dimakan semua orang bersama! Kenapa harus Sanfang yang menanggungnya? Keluarga Xin juga ikut menikmatinya." Ucap Xin Qian.


Xin Wenhua tampak sangat malu, "Sekarang kita telah terpisah, tidak mudah untuk berbicara dengan nenekmu, apalagi soal uang…."


"Ayah, apa yang sulit untuk dikatakan? Bukankah mereka ikut memakan makanannya saat itu?” Ucap Xin Qian kesal.


"Hahh, baiklah, aku akan membicarakannya dengan nenek dan kakek mu.” Ucap Xin Wenhua.


Xin Qian mengangguk, dia tidak ingin Sanfang menderita kerugian ini sendirian. Jadi, Keluarga Xin juga harus membayarnya.


Ketika Xin Wenhua memasuki kamar Xin Baoshan, dia mendengar kutukan datang dari kamar, yang merupakan milik Huo Chunhua. Kemudian Xin Baoshan berkata sesuatu, dan akhirnya Huo Chunhua setuju untuk memberikan uang itu.


“Ah, uangku? Kenapa aku harus kehilangan uang lagi?!?” Raungan Huo Chunhua keluar lagi.


Xin Wenhua buru-buru berkata, "Ibu, ini utang yang harus dibayar. Kita tidak bisa menghindar terus.”


“Baiklah, baiklah, pergi sekarang!” Ucap Huo Chunhua kesal.


Setelah melihat Ayahnya berhasil mendapatkan uang dari Keluarga Xin. Xin Qian merasa lega, jadi dia pamit pergi. "Ayah, Ibu, aku akan kembali dan memasak dulu!"


“Ya, hati-hati.” Xin Wenhua dan Liang Jinqiao mengangguk dan merespons.


Xin Qian membawa Xiaomao kembali ke rumah, sesampainya di rumah dia melihat Mo Lianfeng sedang membawa Xiao Chen ke halaman. Xiao Chen tampaknya sedang berjuang, dan Mo Lianfeng sedang mengajarinya.


Xin Qian bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa yang sedang dilakukan Xiao Chen?"


Melihat Xin Qian kembali, Mo Lianfeng tersenyum dan menjelaskan, "Aku sedang mengajar Xiao Chen Kungfu."


"Ya, ibu, Xiao Chen harus belajar kung fu dari Ayyah, jadi Xiao Chen bisa melindungi orang-orang yang ingin ku lindungi! Saar Xiao Chen tumbuh dewasa, dia bisa melindungi Ibu!" Ucap Xiao Chen dengan antusias.


Melihat bahwa putranya sangat pintar dan berbakti, Xin Qian sangat menghargainya dan mendukung Xiao Chen untuk belajar beberapa kungfu mengikuti Mo Lianfeng. Mempelajari Kungfu bukanlah hal yang buruk, kemampuan bela diri bukan haanya untuk melindungi orang lain, tapi juga bisa untuk perlindungan diri. Setidaknya dengan ini, Xiao Chen tidak akan lagi diintimidasi oleh orang lain.


Tetapi belajar Kungfu juga tidak mudah. Mulai belajar di usia yang begitu muda, beberapa gerakan sangat sulit untuk dilakukan dan akan sulit untuk bertahan.


Mo Lianfeng memiliki persyaratan ketat pada Xiao Chen, dan dia bersikeras pada Xiao Chen sejak awal.


Pada akhirnya, dahi Xiao Chen mulai berkeringat, dan bibir kecilnya bergetar. Xiao Chen tidak bisa berhenti jika Mo Lianfeng tidak memintanya untuk berhenti, jadi dia masih bersikeras.


Melihat kesulitan Xiao Chen untuk bertahan, Xin Qian hanya bisa merasa tertekan, "Afeng, Xiao Chen telah berjuang begitu lama, kan? Tidak bisakah dia istirahat sebentar?"


Mo Lianfeng menggelengkan kepalanya. Meskipun dia merasa kasihan pada Xiao Chen, dia tidak boleh merasa lembut terhadap Xiao Chen.


"Tidak, itu tidak akan bekerja sampai waktunya. Karena Xiao Chen mengatakan ingin belajar kungfu, dia harus menaatinya. Dia tidak bisa menyerah di tengah jalan, kan?"


“Hah…” Xin Qian menghela nafas, merasa bahwa persyaratan Mo Lianfeng untuk seorang anak terlalu ketat.


“Ibu, jangan khawatir pada Xiao Chen, Xiao Chen bisa melakukannya!” Xiao Chen berkata kepada Xin Qian, sambil menggigit bibir bawahnya.


“Xiao Chen luar biasa! Ibu bangga padamu!” Xin Qian tidak tahu harus berkata apa lagi selain ini.


Butuh sekitar seperempat jam sebelum Mo Lianfeng menghentikan Xiao Chen.


Xin Qian bergegas maju dan menyeka manik-manik keringat di dahi Xiao Chen, sangat tertekan. Kemudian dia meremas tangan dan kaki Xiao Chen, berharap putranya akan lebih nyaman.


“Ibu, Xiao Chen baik-baik saja!” Wajah kecil Xiao Chen mengungkapkan tekad yang kuat. Sebelum Xiao Chen belajar Kungfu, Mo Lianfeng menjelaskan pada Xiao Chen bahwa jika dia memutuskan untuk belajar, maka dia harus menanggung kesulitan, dan tidak boleh menyerah dengan mudah.


Xiao Chen menggertakkan giginya dan merasa bahwa dia akan bisa bertahan.


"Apanya yang tidak apa-apa! Kamu pasti sangat lelah!" Ucap Xin Qian.


"Ibu, Xiao Chen sungguh baik-baik saja, Xiao Chen adalah laki-laki." Jawab Xiao Chen.


“Oke, oke, Xiao Chen adalah laki-laki. Ibu tahu.” Xin Qian membelai kepala Xiao Chen.


Mo Lianfeng juga melangkah maju dan memuji Xiao Chen tanpa ragu-ragu. "Xiao Chen luar biasa. Putra Ayah memang terbaik."


Mo Lianfeng yakin putranya, sama seperti dia. Ketekunan ini adalah sesuatu yang tidak dimiliki anak biasa. Xiao Chen masih di usia yang begitu muda, tapi dia bisa menahan lelah tanpa menangis.


"Hehe ~" Xiao Chen tersenyum malu-malu.


“Xiao Chen sangat hebat, apakah Ayah harus memberi hadiah pada Xiao Chen sesuatu?” Mo Lianfeng mengelus dagunya dan berpikir sejenak.


"Bagaimana jika Ayah akan memberi hadiah Xiao Chen seekor kuda! Saat Xiao Chen sudah tumbuh dewasa, Xiao Chen bisa menunggangj seekor kuda sendiri?" Ucap Mo Lianfeng.


Xiao Chen segera menjadi bersemangat ketika dia mendengarnya. "Oke, ayah!"


"Yah, Ayah akan mencarikan Xiao Chen kuda dalam dua hari ini." Ucap Mo Lianfeng.


"Terimakasih ayah!” Ucap Xiao Chen.


“Sama-sama.” Ucap Mo Lianfeng.


Xin Qian menyaksikan interaksi ayah dan anak itu dengan tenang, dan sudut mulutnya tanpa sadar tersenyum lembut. Lebih baik memiliki sosok ayah di sisi Xiao Chen daripada hanya sosok Ibu. Terkadang sebagai wanita, dia tidak bisa sepenuhnya memikirkan apa yang Xiao Chen inginkan.


Bahkan, anak-anak yang tumbuh dalam keluarga normal ingin ayah dan ibu mereka berada di sisinya bersama.


Pada siang hari, Mo Lianfeng menyerahkan Xiao Chen kepada Xin Qian dan berkata pada Xin Qian. "Qianqian, aku akan mengunjungi Kota Yangcheng untuk mencarikan obat untuk mu, agar bisa menghilangkan bekas luka di dahimu."


"Kenapa kita tidak pergi bersama? Xiao Chen akan ku titipkan ke ibuku." Ucap Xin Qian.


Mo Lianfeng setuju dan mereka lun pergi bersamanya. Dengan adanya Xin Qian, dia juga bisa membiarkan dokter melihat bekas luka di wajahnya dan meresepkan obat yang tepat. Salep yang diberikan pasti akan lebih tepat untuk menghilangkan bekas luka.


"Kalau begitu Qianer, kita harus berangkat sore ini ..." Ucap Mo Lianfeng.


"Baiklah. Aku akan membiarkan kakak Mu Lan dan ibuku melakukan tugas memasak, kita bisa pergi ke kota bersama.” Ucap Xin Qian.


"Ya.” Jawab Mo Lianfeng.


Setelah makan, mereka istirahat sebentar. Menunggu Mo Yan untuk mengirim kuda, setelah itu, keduanya melaju menuju Kota Yangcheng dengan menunggang kuda. Secara alami, kuda itu berlari lebih cepat daripada Xiaomao, dan setelah sepuluh atau dua puluh menit, mereka sudah tiba.


Mo Lianfeng bertanya-tanya, dan semua orang menyebutkan bahwa ada dokter jenius yang bernama Hua Tuo, nama keluarganya Hua, jadi dia disebut dokter genius Hua. Dokter jenius Hua tidak tinggal di pusat kota Yangcheng, tetapi di luar Yangcheng.


Xin Qian dan Mo Lianfeng mencari untuk waktu yang lama sebelum mereka akhirnya menemukan di mana dokter jenius Hua tinggal.


Ketika mereka bergegas datang, Xin Qian melihat sebuah halaman yang dibangun rapi dengan sebuah rumah bambu. Halaman itu dikelilingi oleh pagar. Ada banyak bunga dan pohon buah-buahan di halaman. Itu adalah musim semi, jadi bunga persik mekar dan halaman itu penuh dengan warna pink. Cantik sekali. Xin Qian merasa kagum ketika dia melihat adegan seperti itu, dia harus membuat rumahnya seperti ini nanti.


Melihat kediaman dokter jenius Hua, Xin Qian juga tahu kira-kira bahwa kepribadian dokter jenius Hua mungkin seorang pertapa yang eksentrik.


Ketika kedua orang itu tiba di depan rumah dokter jenius Hua, pintu halaman ditutup.


Setelah memanggil beberapa kali, seorang bocah laki-laki datang dan membuka pintu, dengan pandangan tidak nyaman, dan berkata kepada Xin Qian dan Mo Lianfeng, " Mengapa kalian membuat suara yang begitu keras, tuanku sedang tidur siang! "


Xin Qian dan Mo Lianfeng tampak malu, dan berkata kepada Pelayan itu, "Maaf, kami tidak tahu bahwa Dokter Hua sedang tidur siang, kami di sini untuk meminta obat."


Pelayan melirik Xin Qian dan Mo Lianfeng, "Minta obat? Tuanku tidak akan mau melayani pasien yang meminta obat di sini!"


Pelayan laki-laki ini baru berusia dua belas atau tiga belas tahun, tetapi ketika dia berbicara dengan Xin Qian dan Mo Lianfeng, dia tampak sombong.


"Maka kamu harus mencoba bicara dengan Tuanmu. Kecuali dokter jenius Hua, aku tidak tahu di mana mendapatkan obatnya." Ucap Mo Lianfeng.


"Tuanku sudah tidur sekarang dan tidak bisa melihatmu." Ucap Pelayan.


"Tidak apa-apa, kita bisa menunggu dokter jenius Hua bangun." Ucap Mo Lianfeng gigih.


"Kalau begitu, masuklah dulu dan tunggu!" Ucap Pelayan dengan tidak senang.


Xin Qian dan Mo Lianfeng merespons dan mengikuti Pelayan ke halaman dokter jenius Hua. Halamannya cukup besar, dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan bambu hijau, sangat sunyi. Ada juga kolam kecil di halaman, airnya jernih, ada beberapa ikan mas yang berenang di dalamnya, dan bunga-bunga yang tidak dikenal di sekitarnya berwarna merah cerah.


Pelayan menyapa Xin Qian dan Mo Lianfeng untuk duduk di bangku batu di bawah rak anggur, dan membawa dua gelas air. Meskipun Pelayan laki-laki ini sangat sombong, dia benar-benar bersikal sopan pada tamu.


Xin Qian dan Mo Lianfeng tidak terburu-buru, dan mereka kebetulan bisa mengagumi halaman dokter jenius Hua.


"Mo Lianfeng, akankah kita membuat rumah seperti ini di masa depan?" Ucap Xin Qian.


"Selama kamu suka, aku bisa melakukan apa saja." Ucap Mo Lianfeng.


"Yah, setelah rumah kita dibangun, aku akan membuat halaman kita menjadi seperti dokter jenius Hua." Ucap Xin Qian. Tinggal di rumah seperti itu juga merupakan semacam kesenangan. Xin Qian mulai menantikannya.


Setelah menunggu sekitar satu jam, Pelayan datang dan berkata, "Kalian bisa masuk, tuanku sudah bangun."


"oke terima kasih!" Keduanya bangun bersama dan mengikuti Pelayan laki-laki itu ke kamar.


zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗