
Pada sore hari, Xiao Chen dan Xin Yang pergi ke ladang untuk menangkap katak, sedangkan Xin Qian, dia akan mengganti pakaian Mo Lianfeng dan membalut lukanya. Ketika Mo Lianfeng pingsan kemarin, Xin Qian tidak merasa malu untuk membantu Mo Lianfeng membalut luka. Sekarang, Mo Lianfeng bangun, Xin Qian tidak tahu bagaimana memulainya.
"Em… Pangeran Mo... bisakah kamu memakai obat ini sendiri?" Xin Qian bertanya dengan takut-takut.
Mo Lianfeng terkejut sesaat, kemudian dia merenung selama beberapa detik, dan berkata kepada Xin Qian, "Qianqian, Aku mungkin masih harus menyusahkan mu saat Aku mengganti pakaian. Aku tidak bisa menggerakkan lengan ku, dan Aku tidak bisa memakai obat itu dengan satu tangan... "
Xin Qian tidak berdaya, itu berarti dia harus membantu Mo Lianfeng dengan semua itu, karena tidak ada orang lain di sini yang bisa membantu Mo Lianfeng. Lagipula, Xin Qian tidak ingin mengekspos keberadaan Mo Lianfeng.
"Kalau begitu... Lalu aku akan melakukannya untuk mu!" ucap Xin Qian dengan wajah menunduk karena malu.
“Tolong." Ucap Mo Lianfeng mengangguk.
"Aku perlu melepas pakaian mu untuk menerapkan obatnya... Apakah kamu tidak keberatan terlihat oleh ku, Pangeran Mo?" Xin Qian bertanya dengan hati nurani yang bersalah.
"Pakaian ku tidak di ganti oleh mu kemarin? Karena Qianqian sudah melihatnya, mengapa tidak melihatnya lagi, atau bahkan yang ketiga kali? Aku tidak keberatan." Ucap Mo Lianfeng tersenyum menggoda.
Xin Qian menjadi lebih malu ketika dia mendengar apa yang di katakan Mo Lianfeng. "Aku…”
Mo Lianfeng tidak salah paham bahwa dia adalah seorang gadis yang nakal, kan? Ada perasaan menangis tanpa air mata. Tapi, itu sudah terjadi!
"Qianqian, tidak apa-apa, aku pria dewasa dan bukan seorang wanita. Bahkan jika aku keluar tanpa atasan, aku tidak akan menderita." Mo Lianfeng berkata lagi.
Jika kalimat ini di dengar oleh seseorang yang mengenal Mo Lianfeng, di perkirakan rahang mereka akan jatuh! Mo Lianfeng adalah putra kebanggan di Mansion Mo, bahkan jika tidak ada gadis yang dia sukai. Semua pelayan yang melayani dia adalah laki-laki! Untuk orang seperti Mo Lianfeng, tidak ada pelayan wanita yang di izinkan tinggal di sisinya. Dia tidak suka ada kehadiran wanita di sekitarnya, dia juga tidak suka di lihat oleh para wanita.
"Qianqian tidak keberatan, kan? Apakah Kamu merasa di rugikan oleh ku?" ucap Mo Lianfeng.
"Tidak bukan begitu..." ucap Xin Qian menggelengkan kepalanya. Apa yang dia pikirkan? Menolak untuk melihat pria yang begitu cantik?
"Ayo kita oleskan obatnya!" ucap Xin Qian buru-buru.
Tangan Xin Qian gemetar saat membantu Mo Lianfeng melepaskan pakaian yang di pakainya. Kain putih yang awalnya membungkus lukanya itu telah kotor, jadi Xin Qian mengeluarkan kain putih bersih baru dan menerapkan obat pada lukanya.
Setelah beberapa saat, Xin Qian selesai mengoleskan obat ke tubuh Mo Lianfeng, dia bahkan butuh lebih dari setengah jam.
"Sudah selesai, kamu sebaiknya berbaring di tempat tidur dan istirahatlah. Aku akan keluar sebentar." Ucap Xin Qian.
"Baiklah." Mo Lianfeng menyaksikan sosok Xin Qian yang pergi, dia menyingkirkan pikiran di matanya.
Jelas dia terluka parah. Tapi saat ini, bukan saja dia tidak merasakan sakit, tetapi dia juatru merasa senang hatinya! Jika mungkin, dia benar-benar ingin tinggal di sini bersama Xin Qian. Apakah itu dengan Xin Qian atau Xiao Chen, Mo Lianfeng memiliki perasaan santai. Dan perasaan semacam ini adalah sesuatu yang tidak dia miliki di Mansion Pangeran.
Xin Qian mengambil kain kotor dan pergi ke Bibi Liu, dan bertanya bagaimana cara meembuat pakaian sendiri. Dia tidak bisa mengerti caranya, bahkan setelah dia memikirkannya.
Ketika Xin Qian pergi ke rumah Bibi Liu, Bibi Liu sedang memberi makan ayam di luar rumah.
Orang desa lebih suka memelihara ayam betina, karena bisa bertelur dan mereka bisa menukarnya uang. Harga sebutir telur adalah satu koin tembaga. Saat ayam di beri makan, itu hanya menggunakan dedak, sayuran cincang, atau kadang-kadang ayam-ayam bisa menggali cacing di tanah, jadi biaya pemeliharaannya tidak terlalu tinggi.
"Bibi Liu!" Xin Qian menyapa.
Tetapi Bibi Liu tampaknya sedang fokus dan tidak menyadari kedatangannya. Bibi Liu tidak bereaksi sampai Xin Qian memanggil beberapa kali. "Hei, Qian, kamu ada di sini? Ada apa?"
Xin Qian mengangguk, "Bibi Liu, Aku membeli kain untuk Xiao Chen dan ingin membuatkannya pakaian, tapi Aku tidak tahu bagaimana melakukannya sendiri, jadi Aku datang untuk meminta saran bibi sekarang."
Bibi Liu melihat kain di tangan Xin Qian, "Gadis Qian, bukankah kain ini tidak murah?"
"Agak mahal memang. Tapi, aku jarang membuat pakaian untuk Xiao Chen. Kalau pun lebih mahal, tidak apa-apa!" ucap Xin Qian tersenyum.
"Haha, itu benar. Kita tidak bisa memperlakukan anak-anak kita dengan buruk jika kita punya uang." Ucap Bibi Liu tertawa.
"Ya, tapi aku belum pernah membuat pakaian untuk Xiao Chen, jadi aku minta baantuan bibi untuk mengajari ku caranya.” Ucap Xin Qian.
"Yah, Gadis Qian, selama kau ingin belajar bibi akan mengajari mu, ayo kemarilah dan duduk di ruangan ku. Aku akan mengajari mu secara perlahan," ucap Bibi Liu.
Xin Qian mengangguk, dan memasuki ruangan dengan Bibi Liu.
Dua menantu Bibi Liu, sedang kembali ke keluarga kelahirannya. Sedangkan, Zhou pergi untuk membawakan teh kepada para pria yang bekerja di ladang. Bibi Liu, mempunyai tiga cucu perempuan di rumah, yang tertua berusia 8 tahun, yang kedua 6 tahun, dan yang termuda berusia 4 tahun, mereka semua anak seusia dengan Xiao Chen.
Meskipun anak-anak ini masih muda, mereka berperilaku sangat baik. Selain bermain, mereka membantu keluarga dengan beberapa tugas kecil. Beberapa gadis kecil sangat cantik
Xin Qian menatap anak-anak. Setelah memiliki seorang putra, dia tiba-tiba ingin memiliki anak perempuan lagi. Jika dia memiliki seorang putri di masa depan, dia harus mendandani anak itu dengan indah, dengan gaun kecil terbaik, dan berpakaian seperti seorang putri kecil.
Tentu saja, ini hanya pikiran Xin Qian sendiri, lagipula dia belum menikah, dia tidak melakukannya sendirian saat melahirkan seorang anak, setidaknya harus ada seorang pria.
Xin Qian menatap anak-anak di depannya, dan mereka semua menundukkan kepala karena malu. Tiba-tiba, mereka lari dari Xin Qian. Xin Qian tersenyum, sepertinya mereka malu.
zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗