
"Ngomong-ngomong, aku akan pergi ke kota besok, apakah kamu memiliki sesuatu yang perlu kamu beli? Aku bisa membelikan sesuatu yang kamu minta." Ucap Liu Lei menawarkan bantuan.
"Kakak Lei, apakah kamu akan pergi ke kota juga besok?" tanya Xin Qian
"Benar." Ucap Liu Lei mengangguk.
"Aku juga akan ke kota besok, apakah kamu akan menjual mangsa?" tanya Xin Qian.
"Yah, ketika aku pergi ke gunung hari ini, aku mendapat dua kelinci dan seekor rusa jantan. Seharusnya aku akan menjual mereka, itu cukup mahal." Ucap Liu Lei
"Saudara Lei, selamat." Ucap Xin Qian tersenyum
"Cukup untuk menopang diri ku sendiri, tetapi aku inhin menabung lebih banyak. Aku ingin membeli beberapa ladang." Ucap Liu Lei
"Itu tidak buruk. Semoga berhasil.” Ucap Xin Qian tulus.
Liu Lei ingin mengatakan bahwa dia menabung untuk membeli tanah, dan itu semua untuk Xin Qian. Jika dia memiliki beberapa hektar tanah, dia bisa memberi Xin Qian dan Xiao Chen kehidupan yang stabil. Tapi, sampai saat itu terjadi, dia tidak percaya diri untuk mwngungkapkan perasaannya pada Xin Qian.
"Ngomong-ngomong, Kakak Lei, apakah mangsa buruan mu biasanya di jual di restoran?" tanya Xin Qian penasaran. Karena dia juga berniat untuk menjual daging katak miliknya.
"Yah, harga pengiriman langsung ke restoran akan lebih tinggi. Restoran biasanya menyukai daging segar. Jika kita menjualnya kepada orang lain, mereka akhirnya akan di serahkan ke restoran. Ini bukan kesepakatan yang bagus untuk ku. Jadi, lebih baik langsung menjualnya ke restoran.” Ucap Liu Lei menjelaskan.
"Oh begitu.” Xin Qian berpikir dalam hatinya, jika dia bisa pergi ke restoran bersama Liu Lei itu akan membantunya. Liu Lei sering berinteraksi dengan berbagai pemilik restoran, dan dia sedikit akrab dengan orang-orang yang ada di sana. Jika dia pergi untuk menjual katak sendirian, dia tidak tahu apakah dia akan di usir oleh pemilik restoran. Jadi, lebih baik aku minta tolong pada Liu Lei.
"Kakak Lei, bisakah kamu membawa ku ke restoran besok? Aku juga punya sesuatu untuk di jual." Ucap Xin Qian.
"Tentu saja, tapi Qian’er, apa yang kamu jual?" tanya Liu Lei.
"Itu bukan hal yang mahal, mungkin aku tidak bisa menjualnya, dan aku hanya mencobanya." Ucap Xin Qian.
"Baiklah." Liu Lei tidak bertanya dengan lebih rinci lagi, jadi dia pamit pulang. Dia tidaak bisa berlama-lama di depan rumah Xin Qian, itu akan buruk jika ada gosip yang menyebar dan merusak reputasi Xin Qian.
Xin Qian mengembalikan Panci kukusan milik Bibi Liu dan juga mengirim beberapa roti ke Bibi Liu. Ketika dia kembali ke rumah, anak-anak itu juga kembali dengan keranjang kecil, yang berisi dua puluh katak.
"Ibu, bisakah kita makan kodok lagi di malam hari?" tanya Xiao Chen
"Jika kamu ingin makan sekarang, Ibu akan membuatnya untuk mu." Jawaab Xin Qian tersenyum.
Sebelum dia menyadarinya, Xiao Chen juga telah memiliki nafsu makan yang besar akhir-akhir ini. Itu adalah hal yang baik untuk pertumbuhan anaknya, lagipula saat dia baru tiba di dunia ini, Xiao Chen terlihat sangat kurus. Untungnya, dia memiliki berbagai cara untuk mendapatkan uang, sehingga mereka bisa makan dengan cukup sehingga memperbaiki nutrisi anak itu.
……………
Xin Qian membunuh semua katak itu, untuk makan malam. Setelah membersihkan mereka, dia menyimpannya, sebagian untuk di masak hari ini, dan sebagian menunggu untuk di kirim ke kota besok.
Jika orang-orang di restoran melihat katak dengan utuh, mereka akan memanggil seseorang untuk menangkapnya, dan mereka tidak akan membelinya. Itulah kenapa Xin Qian berniat menjualnya dalam bentuk daging katak yang siap di masak.
Dengan begitu, orang restoran tidak akan tahu daging apa itu. Apa yang Xin Qian harapkan adalah daging katak ini jadi bisnis jangka panjang untuk menghasilkan uang, sehingga dia bisa menjamin hidupnya. Semuanya pasti akan baik-baik saja.
Beberapa hari ini, ada Xin Yang yang membantunya menjaga Xiao Chen saat dia pergi ke kota. Terkadang, Xin Yang menginap dan mereka berdua tidur bersama saat malam hari.
Jika dia bisa menghasilkan uang kali ini, dia harus membeli selimut karena selimut yang ada terlalu tipis untuk musim dingin.
…………….
Hari berikutnya…
Xin Qian bangun tidur dini hari, dan bersiap untuk pergi ke kota lagi.
Ketika dia tiba di tempat Paman Hu, Liu Lei sudah tiba, membawa karung di tangannya, yang berisi daging buruan yang akan di jual hari ini. Pada aaat ini, Xin Qian melihat Paman Hu yang sedang mengisap sebatang rokok dengan bekas luka yang jelas di wajahnya.
Xin Qian bertanya, "Paman Hu, ada apa dengan wajah mu? Apakah kamu tidak sengaja jatuh?"
Paman Hu menghela nafas dan berkata, "Hei, di mana aku bisa jatuh? Ini karena nenek mu yang mengamuk dan mencakar wajah ku."
"Nenek ku?" tanya Xin Qian heran. Mungkinkah karena masalah kemarin?
"Ya, bukankah kita pulang lebih dulu dan meninggalkan mereka berdua kemarin? Pada malam hari, nenek mu datang ke rumah ku marah-marah dan berdebat bahwa dia telah kehilangan banyak uang karena harus menyewa kereta sapi untuk pulang. Dia membayar sebanyak 30 koin tembaga untuk itu.”
"·······" Xin Qian terdiam, dia hanya merasa bahwa Huo Chunhua benar-benar aneh. Ini jelas karena dia tidak mengerti aturan mainnya, tetapi pada akhirnya dia menyalahkan orang lain.
Namun, ini bukan pertama kalinya Huo Chunhua bertindak tidak masuk akal.
Setelah Paman Hu selesai berbicara, para wanita di kereta sapi yang mengetahui alasan masalah ini kemarin mengutuk Huo Chunhua.
"Oke, oke, jangan ribut lagi, ayo, berangkat!" Pastor Hu meletakkan rokoknya, dan kereta sapi itu berangkat.
Ketika Xin Qian tiba di Yangcheng, dia langsung mengikuti Liu Lei ke restoran yang relatif besar di Yangcheng, Fulin Restaurant.
Orang-orang di restoran sudah mengenali Liu Lei, Xin Qian dan Liu Lei memasuki halaman belakang restoran dengan lancar. Mereka langsung menuju ke bagian dapur. Liu Lei juga telah bekerja sama dengan restoran ini untuk waktu yang lama. Orang di dalam sangat sibuk, berlari bolak-balik.
Seorang pelayan pria menyapa Liu Lei, "Saudara ku, tunggu sebentar, penjaga toko sedang melakukan sesuatu, dan akan datang ke sini nanti."
Liu Lei tersenyum pada pelayan pria di restoran, "Tidak apa-apa, jangan terburu-buru, aku akan menunggu."
"Oke!" jawab Pelayan pria itu.
Xin Qian melihat sekeliling, bertanya-tanya seperti apa dapur restoran kuno ini. Setelah dia meregangkan kepala dan melihatnya, dia menemukan bahwa dapur restoran kuno ini sangat besar, banyak koki sibuk bekerja di depan dan belakang, serta para pelayan di dapur.
Pada zaman kuno, tidak ada gas atau gas alam, dan hanya menggunakan kayu bakar, jadi itu akan sedikit menyusahkan. Ada semburat aroma mengambang di halaman belakang.
-----------------
Jangan Lupa yah teman-teman!!
Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊
See you in the next chapter ya readers🤗