Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 115



Xin Qian memeluk pinggang Mo Lianfeng, dan Mo Lianfeng meletakkan tangan di bahu Xin Qian. Ketika Mo Lianfeng berdiri, Xin Qian merasa seperti boneka gadis kecil yang lemah. Itu karena tubuh Mo Lianfeng sangat tinggi!


Berada sangat dekat di sampingnya, Xin Qian dapat mencium aroma tubuh Mo Lianfeng. Kepalanya mulai merasa pusing, dia sangat menyukai perasaan terikat pada Mo Lianfeng. Apakah dia sedang jatuh cinta? Xin Qian merasa, dia sering memulai beberapa fantasi yang tidak realistis selama hari-hari ini!


Xin Qian kesulitan saat berjalan sambil menopang Mo Lianfeng. Tubuh Mo Lianfeng terlalu berat baginya, dan perawakannya yang lemah tidak memiliki banyak kekuatan.


Toilet di pedesaan kuno itu sangat sederhana, sebuah pondok yang di bangun seadannya, dengan lubang di tanah, dan sebuah tangki di dalam lubang. Ada dua papan kayu di atas tangki untuk injakan.


Mo Lianfeng di bantu oleh Xin Qian sampai ke depan Toilet, dan dia terkejut sejenak saat melihat kondisi toilet di depannya, dia melihat dengan bingung.


“ Qianqian, apakah toiletnya di sini?” Mo Lianfeng bertanya.


“Benar. Kamu pasti berpikir bahwa toilet ini terlalu rusak, bukan?” ucap Xin Qian menebak pikiran Mo Lianfeng.


Identitas Mo Lianfeng itu luar biasa, dia adalah Pangeran yang agung, dan dia tinggal di Mansion Pangeram yang megah. Toilet di rumahnya pastilah jauh lebih baik daripada toilet di rumah Xin Qian.


Awalnya, sebagai manusia modern, Xin Qian merasa sulit menggunakan toilet seperti ini, tapu lama-lama Xin Qian terbiasa dengan ini. Setelah menggunakannya untuk sementara waktu sekarang, dia pun perlahan-lahan beradaptasi lingkungan. Tapi, tetap saja terkadang Xin Qian merindukan toilet flush di dunia modern!


"Itu di sini... itu bisa di gunakan… di pedesaan semua toilet nya seperti ini." Ucap Xin Qian lagi. Lalu, dia melirik reaksi Mo Lianfeng, dan seperti yang di harapkan, jejak keheranan dan ketidakberdayaan melintas di mata pria itu.


Xin Qian merasa tidak enak, tapi dengan rumah yang hampir ambruk seperti itu, apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak punya uang untuk membangun rumah, apalagi membangun toilet?


“Itu ... apakah itu bisa di gunakan?” Mo Lianfeng bertanya dengan ragu.


Ketika dia berjongkok, kaki yang terluka harus di tekuk, tetapi dengan cedera serius di kakinya, bukankah lukanya akan retak saat dia memaksanya?


"Pangeran Mo… apa kau bisa melakukannya? Semua toilet di desa semuanya seperti ini, dan aku tidak bisa membantu mu untuk menemukan yang lebih baik. Jika aku tahu, aku pasti akan membawa mu ke sana ..." Semakin banyak ucapan Xin Qian, semakin rendah suaranya.


Setelah beberapa saat, senyum tipis muncul di sudut mulut Mo Lianfeng. Melihat wajah memerah Xin Qian, dia merasa bahwa gadis ini sangat imut.


"Qianqiam... tidak apa-apa.” Ucap mo Lianfeng.


"Baiklah……" ucap Xin Qian, dia ingin membantu Mo Lianfeng masuk. Tapu, Toilet itu terlalu kecil, jadi Xin Qian hanya bisa berdiri di luar dan membiarkan Mo Lianfeng berjalan sendiri.


"Masuklah sendiri, aku ... aku menunggu mu di sana," Ucap Xin Qian, wajahnya sudah memerah seperti tomat.


Mo Lianfeng tidak banyak bicara, hanya mengangguk. Ketika Xin Qian membalikkan punggungnya untuk pergi,


Mo Lianfeng memanggil Xin Qian lagi. "Qianqian..."


"Ada apa?" Tanya Xin Qian, tanpa berbalik.


"Qianqian, mungkin aku perlu merepotkan mu," Ucap Mo Lianfeng.


Xin Qian bisa mendengar rasa bersalahnya dalam nada suaranya. "Pangeran Mo, katakan saja pada ku jika kamu butuh sesuatu."


"Um ... Aku memakai ikat pinggang, aku tidak bisa melepaskannya dengan satu tangan, bisakah kamu membantu ku… untuk melepaskannya?” ucap Mo Lianfeng lagi.


Xin Qian terdiam, setelah beberapa waktu dia akhirnya merespon, dengan mulut terbuka, tapi dia tahu harus berkata apa untuk sementara waktu! Pria ini meminta bantuannya untuk melepas celananya! Apa lagi yang lebih canggung dan memalukan daripada ini? Xin Qian adalah seorang wanita, secara alami dia merasa malu.


"Qianqian..." Mo Lianfeng tahu bahwa Xin Qian malu, dia juga malu, tapi tangan kirinya benar-benar tidak bisa di gerakkan....


Ketika Xin Qian mendekati Mo Lianfeng, jarak antara mereka berdua menjadi sangat dekat. Xin Qian mengulurkan tangannya ke sabuk di pinggang Mo Lianfeng, tangannya mulai bergetar. Sabuk orang kuno mirip dengan sabuk di dunia modern, tapi itu lebih rumit. Xin Qian berusaha membukanya setelah tiga menit, tetapi masih tidak bisa menyelesaikannya, dan dia menjadi lebih cemas. Bukankah ini terlalu memalukan?


Mo Lianfeng tidak berharap bahwa Xin Qian tidak dapat melepaskan sabuknya. Saat dia menundukkan kepalanya, dia melihat mata indah Xin Qian yang menatap ikat pinggangnya, dan tangan mungil gadis itu sedikit gemetar, dia bisa merasakan ketegangan Xin Qian.


" Qianqian, tidak apa-apa, tenanglah, jangan khawatir," Mo Lianfeng menghibur.


Saat Mo Lianfeng berbicara, itu justru membuat Xin Qian merasa lebih malu! Xin Qian berkata, "Emm ... Pangeran Mo, aku belum pernah melihat ikat pinggang mu. Aku tidak bisa membukanya."


"Lalu……" Jawaban Xin Qian membuat Mo Lianfeng tertegun.


"Aku... aku akan mempelajarinya lagi, Pangeran Mo, tunggu sebentar," Ucap Xin Qian dengan wajah memerah.


Keduanya saling memandang, mereka sama-sama merasakan sesuatu yang aneh. Setelah Mo Lianfeng tertegun selama beberapa detik, sudut mulutnya melengkung dengan senyum yang licik, tetapi Xin Qian menundukkan kepalanya dan tidak melihatnya.


"Oke, Qianqian, aku bisa menunggu." Ucap Mo Lianfeng menyeringai.


Xin Qian memandang Mo Lianfeng, dan akhirnya membantu Mo Lianfeng melepaskan ikatan ikat pinggangnya. Melihat bahwa celana Mo Lianfeng hampir jatuh, Xin Qian buru-buru membantu Mo Lianfeng menahan celana, jika tidak, dia benar-benar akan melihat bagian bawah pria!


Tidak masalah jika dia melihat tubuh bagian atas pria itu, tetapi itu benar-benar memalukan untuk melihat bagian bawah!


"Pa ... Pangeran Mo, celana mu akan jatuh, kamu bisa memegangnya sendiri." Ucap Xin Qian dengan wajah merah.


"Oke." Mo Lianfeng mengulurkan tangannya dan mengangkat celananya.


Xin Qian buru-buru berbalik dan meninggalkan toilet. Lalu, berkata, "Emm… jika kamu punya masalah, kamu bisa memanggil ku, aku akan menunggu mu di luar,"


“Baik… Oh, Qianqian, apakah Kamu memiliki kertas toilet?" tanya Mo Lianfeng.


"Kertas toilet? Ah, benar, maaf aku lupa, aku akan mengambilnya segera!" Ucap Xin Qian. Dia lupa membawanya sekarang. Jadi, dia segera berlari ke dalam rumah!


Orang-orang di era ini, terutama penduduk desa, jarang menggunakan kertas toilet, tetapi menggunakan daun pohon. Tapi, Xin Qiam selalu membeli kertas toilet, meski itu mahal dia tetap membelinya.


"Oke, Qianqiam, aku akan menunggu mu." Ucap Mo Lianfeng.


Xin Qian buru-buru berlari kembali, dan tepat sebelum memasuki rumah, dia mendengar keributan di luar.


"Xin Qian, kau jalang murahan, keluar sekarang!”


Xin Qian mengerutkan kening, dia ingat bahwa dia tidak memprovokasi siapa pun lagi, mengapa seseorang melabrak ke rumahnya lagi?


zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗