Rebirt Into A Single Mother

Rebirt Into A Single Mother
Chapter 367



“Kakak tertua dan kakak kedua, maukah kalian duduk sebentar? Beristirahat dan minum sebelum pergi?” Liang Jinqiao berkata kepada Liang Jinshun dan Liang Jinhui.


"Hmm ... Kalau begitu kami akan disini sebentar lagi ..." jawab Liang Jinhui. Liang Jinhui menyodok lengan Liang Jinshun, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu. Sudut mulut Liang Jinshun berkedut, membuatnya semakin malu.


Liang Jinqiao buru-buru bertanya, "Ada apa? Saudaraku? Apakah ada yang salah?"


Liang Jinshun berdehem, terbatuk, dan berkata dengan malu, "Baiklah, Saudari ... Hadiah uang yang baru saja diberikan kepadamu sedikit kecil, jadi kami harus menebusnya! Tapi aku tidak membawa begitu banyak uang di sini hari ini, tunggu kami kembali, dan Aku akan membawanya kepada mu lagi. "


Diperlakukan seperti ini oleh keluarga Xin Qian, apalagi melihat kondisi keluarga Xin Qian tidak seperti dulu, sekarang mereka merasa bahwa memberi 20 koin tembaga, keluarga Xin Qian pasti akan mengingatnya ...


Liang Jinqiao mendengarkan dan buru-buru melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak, tidak usah, kakak, mengapa repot-repot datang dan melakukannya! Tidak perlu memberikannya, tidak perlu memberikannya!"


"Ini ... adik ... kami yang merasa malu karena hanya mengirim uang sedikit? Gadis Ping'er menikah adalah hal yang besar. Tentu saja kita berdua sebagai paman harus memberinya uang.” Ucap Liang Jinshun.


Liang Jinqiao menghela nafas dan berkata, "Kakak pertama, kakak kedua, kalian tidak perlu sopan dengan ku, kami benar-benar tidak membutuhkannya! Daripada mengirim lebih banyak uang, lebih baik kalian gunakan untuk membeli daging untuk diri sendiri dan anak-anak di rumah. Keluarga kami tidak kekurangan uang sekarang. "


Melihat Liang Jinqiao menolak, baik Liang Jinshun dan Liang Jinhui malu untuk mengatakan lebih banyak. Bagaimanapun, dari awal mereka yang tidak ingin memberikan uang sebelumnya, tetapi sekarang, tiba-tiba mereka ingin memberikannya, itu agak memalukan.


Jadi Liang Jinhui tersenyum licik dan berkata, "Baiklah ... Adik, kalau begitu jangan salahkan kita nanti..."


Liang Jinqiao tersenyum kecut di sudut mulutnya, "Haha, kakak pertama, kakak kedua, keluarga kami tidak perlu uang sekecil itu untuk hidup ..."


Mengatakan bahwa tidak ada dendam di hati Liang Jinqiao, itu salah. Sekarang kakak tertua dan keduanya telah meemberikan begitu sedikit uang, jika mereka ingin menambahkan lagi, rasanya itu tidak ada artinya. Lagipula, Jika mereka benar-benar ingin, seharusnya dariawal mereka akan memberikan yang sepantasnya. Dia akan mengingat ini. Lagi pula, sekarang dia tidak punya perasaan untuk keluarga ibunya.


"Ya, ya... Keluargamu sekarang memiliki kehidupan yang baik! Ngomong-ngomong, adik ipar, bukankah kamu mengatakan bahwa keluargamu akan membangun rumah? Terakhir kali aku datang ke sini untuk meminta kami menjadi tukang batu, kapan kita akan membangun rumah? Kapan kami harus datang ke sini lagi? " Tanya Liang Jinshun.


Alasan Liang Jinshun dan Liang Jinhui menolak sebelumnya adalah karena takut mereka akan dibayar jika membantu adik perempuan mereka untuk membangun rumah.


Mendengar apa yang dikatakan Liang Jinshun dan Liang Jinhui, Xin Wenhua dan Liang Jinqiao saling memandang. Dia tidak berharap mereka berdua akan mengemukakan masalah ini saat ini.


Xin Wenhua telah menghubungi tukang batu lain yang dibutuhkan untuk membangun rumah Sanfang, dan harganya telah disepakati. Lagipula, mereka tidak butuh tukaang batu tambahan. Dariawal mereka sudah menawarkan pada keluarga Liang tapi ditolak, jadi mereka mencari orang lain. Sekarang, tanpa tahu malu mereka ingin datang?


"Ini ..." Xin Wenhua tampak agak kusut, tidak tahu bagaimana berbicara.


Liang Jinqiao juga sedikit malu, "Kakak sulung ... Kakak kedua, kami sudah menemukan tukang batu, dan sudah mulai membangun, kami tidak butuh lebih banyak orang."


Liang Jinqiao bermaksud menolak, tetapi Liang Jinshun dan Liang Jinhui sedikit tidak mau.


"Adik perempuan, tidak apa-apa untuk menambah dua orang lagi. Kakak sulungmu dan aku terampil. Kami pasti lebih baik daripada orang luar."


Tidak mungkin Liang Jinshun dan Liang Jinhui menyerah dengan sukarela. Jika mereka bisa datang untuk membantu, mereka bisa lebih dekat dengan keluarga Liang Jinqiao, dan dimasa depan mereka bisa menghasilkan uang dari keluarga Sanfang. Bahkan jika mereka tidak bisa menghasilkan banyak uang, tetap saja mereka bisa datang ke rumah Xin Qian untuk makan dan minum.


Liang Jinshun dan Liang Jinhui sudah sangat bersikeras, dan Liang Jinqiao tidak tahu harus berkata apa. Dia tentu saja enggan untuk menerima kedua saudara lelakinya ...


"Kakak pertama, kakakedua, aku mengerti apa yang kamu katakan, tetapi kami sudah memiliki tukang batu lainnya, aku tidak bisa meninggalkan mereka sekarang, kan? Mereka semua orang-orang dari desa, dan mereka juga jujur ..." Ucap Liang Jinqiao.


Liang Jinshun melambaikan tangannya, "Adik perempuan, tidak apa-apa, Aku tidak mengatakan kepada mu untuk meninggalkan mereka. Kamu bisa menambahkan kakak kedua mu dan Aku untuk datang. Dengan dua orang lagi, rumah mu seharusnya dapat dibangun lebih cepat ... "


“Itu benar, jika kamu bisa membangun rumah lebih cepat, keluargamu juga bisa tinggal di rumah besar secepatnya. Jadi, keluarga besarmu tidak tinggal di satu ruangan, dengan rumah besar kalian bisa hidup dengan nyaman.” Liang Jinhui mengikuti.


Liang Jinqiao tahu bahwa kata-kata kakak laki-lakinya memiliki sedikit kebenaran. Jika rumah itu dibangun lebih cepat, dan keluarganya bisa pindah lebih cepar daripada berdesakan dengan Keluarga Xin.


"Suamiku ..." Tatapan Liang Jinqiao jatuh pada Xin Wenhua, mencari saran Xin Wenhua.


"Baiklah. Tetapi bagaimana dengan upahnya ..." Xin Wenhua lebih khawatir tentang upah, takut bahwa mereka akan menaikkan harga terlalu banyak dan keluarganya tidak mampu membayarnya. Selain itu, tukang batu lainnya akan komplain jika mereka tahu bahwa ada yang mendapat upah berbeda.


"Mudah saja, upahnya akan sama dengan pengrajin lainnya," Ucap Liang Jinshun. Menghitung dengan cara ini, dia tidak akan menderita kerugian dan dia bisa membuat Xin Wenhua setuju. Jika dihitung sesuai dengan apa yang dia katakan sebelumnya, dia takut Xin Wenhua akan menolak.


Xin Wenhua menghela nafas dan berkata, "Tidak apa-apa, Paman-paman Qian’er, Aku akan memberi tahu mu waktunya nanti."


"Bagus, bagus ~" Liang Jinshun dan Liang Jinhui sangat senang.


Xin Qian dan Mo Lianfeng meninggalkan halaman dan melihat Xin Tianan. Dia berjalan masuk dan keluar dari halaman, tetapi tidak berani masuk.


Tiba-tiba Xin Tianan melihat Xin Qian keluar, dia melirik Xin Qian dengan perasaan bersalah.


Xin Qian menatap adiknya, dan sepertinya dia sudah lama berdiri di luar. Memikirkan hal itu, dia juga mengetahui alasannya, Xin Tianan seharusnya ingat apa yang dia katakan sebelumnya, jadi dia tidak kembali untuk makan malam.


Xin Qian menghela nafas sedikit, dan bertanya, "Tianan, apakah kamu sudah makan?"


Xin Tianan menggelengkan kepalanya, sangat tulus.


“Ma Xiaofeng tidak membiarkanmu ikut makan?” Xin Qian terus bertanya, dengan nada ironi kecil.


Wajah Xin Tianan memerah, dia tergagap dan menjelaskan, "Kakak kedua ... aku ... aku tidak enak ikut makan di rumah Xiaofeng, takut orang-orang akan bergosip ..."


“Lalu, kenapa kamu lari ke rumahnya setiap hari? Saat melakukannya, mengapa kamu tidak takut gosip disebarkan?” Xin Qian bertanya balik.


"Kakak kedua ... ini berbeda ..." Ucap Xin Tianan malu.


"Di mana bedanya? Tidak masalah jika kamu mengirim sesuatu padanya, tetapi bagaimama bisa dia tidak memberikan apa-apa padamu? “ Ucap Xin Qian kesal.


"Kakak kedua ... aku ..."


Xin Qian merasa sedikit sedih juga lucu. Melihat wajah merah Xin Tianan yang tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Xin Qian sedikit menghela nafas, "Hahh… Karena kamu belum makan, cepat pulang dan makan. Masih ada beberapa hidangan yang tersisa, biarkan ibu menghangatkannya untuk mu."


Xin Tianan menanggapi dengan pengecut. “Baik…”


"Aku kembali dulu," sapa Xin Qian, dan keduanya melanjutkan berjalan sambil memegang tangan Xiao Chen.


Xiao Chen berjalan di tengah, memegang tangan Xin Qian di satu tangan, dan tangan Mo Lianfeng di tangan lainnya, Dia mengayun-ayunkannya, terlihat sangat senang.


Melihat senyum bahagia di wajah Xiao Chen, Xin Qian juga ter senyum. Rasanya sangat indah ...


Namun, berbeda dengan penampilan bahagia Xiao Chen, Mo Lianfeng masih sedikit tidak bahagia. Orang ini ... tidak pernah mengatakan apa-apa. Jika dia tidak bicara bagaimana dia tahu alasannya?


Zz zz zz zz zz zz zzz zzz zz zz zz zz zz zz zz zz zz zz


Jangan Lupa yah teman-teman!!


Kalian harus klik Like, Vote, dan Komentar di sini yahh😊😊 Kasih TIP juga boleh xixi Author sangat mengharap kan dukungan kalian semua supaya author jadi lebih semangat nulis nya nih😁 Semoga kita semua selalu sehat yah! Ingat jaga kesehatan loh😊


See you in the next chapter ya readers🤗