
Di tempatnya, Yul terkekeh kekeh mendengar cerita Yebin tentang dua laki laki bertato yang ingin membawanya pergi ke sebuah tempat. Awalnya ia sangat terkejut dan khawatir pada Yebin yang hampir saja terculik. Tetapi setelah mendengar cerita tentang bagaimana Yebin bisa bebas dari kedua laki laki yang hendak membawanya itu, Yul merasa amat heran sekaligus tak menyangka. Ia hanya terkekeh kekeh menunjukkan rasa herannya terhadap Yebin.
“Jadi kau melumpuhkan dua laki laki bertubuh tinggi besar dan bertato dengan cara seperti itu?” Yul mengulangi cerita Yebin selagi terkekeh pelan. Di sampingnya, Yebin yang sedang berbaring itu mengangguk anggukkan kepala.
“Untung saja ada Yul kecil yang tiba tiba menghadang dua laki laki itu. Kalau saja Yul tidak melakukannya, aku tidak punya kesempatan untuk melawan. Yul sangat hebat. Keberaniannya melebihi anak usia lima tahun pada umumnya,” kata Yebin.
Suasana hening sejenak. Yul sedang memiringkan tubuhnya menghadap Yebin. Ia tersenyum hangat sembari merapikan beberapa helai rambut Yebin yang menutupi keningnya.
“Aku sangat khawatir. Aku takut kau kenapa napa. Kau tau? Aku mengendarakan mobil dengan sangat cepat karena ingin segera memastikanmu baik baik saja.”
Yebin mengerutkan kening. Ia merasa ada hal yang aneh dibalik perilaku Yul itu.
“Oppa, siapa yang baru saja kau temui? Apa orang yang kau temui itu ada hubungannya dengan dua laki laki bertato yang hendak membawaku? Makanya kau begitu khawatir seketika kembali.” Yebin menegaskan.
Sejujurnya, Yul nyaris tidak bisa keluar dari tempat itu. Karena Leo berkata bahwa sebentar lagi Yebin akan datang, Yul hampir saja menunggu di tempat itu. Namun jika Yul benar melakukannya, ia menjadi suami yang sangat bodoh. Karena itu berarti ia membiarkan istrinya diculik oleh orang lain. Mereka akan diculik bersama. Dan tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Dengan pertimbangan itu, Yul yang percaya bahwa Yebin akan baik baik saja, melesat pergi meninggalkan tempat itu. Berkendara sekencang yang ia bisa untuk segera sampai di rumah sakit. Dan begitu sampai di rumah sakit, betapa terkejutnya Yul melihat Yebin tidak ada di taman. Sedangkan Yul kecil pun sudah tidak ada, mungkin sudah kembali ke ruangan rawat inapnya.
Kekhawatiran Yul benar benar tak terbentung. Segala bentuk pemikian negatif merasuki kepala Yul. Membuatnya nyaris tak bisa berpikir apa apa. Membuatnya benar benar putus asa dan bertanya tanya bagaimana jika Yebin benar telah diculik oleh Leo dan anak buahnya.
Di sela kehawatiran yang memuncak itu, Yul melihat dua orang laki laki berpakaian hitam meringis kesakitan di atas ranjang pasien. Segerombol perawat rumah sakit sedang memindahkan dua laki laki itu menuju UGD. Dan itulah yang membuat Yul yakin bahwa Yebin baik baik saja.
Akhirnya Yul masuk ke dalam rumah sakit. Dan mendapati Yebin sedang mengantre lift. Seketika itu, Yul tidak berpikir apa apa dan langsung berlalu menghampiri Yebin. Lantas memeluknya erat tanpa memedulikan orang orang di lobi yang memandangnya aneh.
Yul masih terdiam cukup lama. Mempertimbangkan pertanyaan yang diajukan Yebin. Berpikir dua kali untuk menjawab.
“Oppa, kau menyembunyikan sesuatu dariku?” cetus Yebin dengan wajah yang bersungut sungut. Keningnya mengerut makin dalam, sebagai pertanda kewaspadaan.
Dengan tenang Yul menjawab, “Tidak. Tidak apa apa. Aku hanya khawatir karena kau sedang sakit. Jadi aku merasa bersalah karena tiba tiba meninggalkanmu.”
Bukan Kang Yebin yang langsung percaya begitu saja pada jawaban Yul yang sama sekali tak meyakinkan. Yebin yang semula terbaring pun beranjak duduk. Ia menceletuk, “Oppa! Ahg....”
Karena tiba tiba bangun dari tidur, dada Yebin terasa nyeri. Tulang rusuknya yang masih dalam tahap pemulihan itu berkontraksi ketika wanita itu tidak hati hati mengatur posisi tubuh bagian atasnya.
“Yebin-a, kau baik baik saja?” celetuk Yul yang seketika itu juga bangkit dari tidur. Ia melihat Yebin meringis kesakitan sambil memegangi dada.
Namun Yebin langsung menepis tangan Yul. “Oppa, jangan mencoba menyembunyikan sesuatu lagi dariku!” tukas Yebin yang merasa kesal pada Yul yang tak mau mengatakan sebenarnya.
Mendengar celetukan Yebin, Yul hanya berdeham deham ringan. Ia hanya tak mau membuat Yebin khawatir. Apalagi jika tahu siapa Leo sebenarnya, yang mencoba menculik Yebin dan melakukan provokasi pada Yul. Yul ingin untuk saat ini Yebin hanya fokus pada pemulihannya. Tak usah memikirkan hal lain yang tidak lebih penting dari kesehatannya sendiri.
“Ba ... baiklah. Aku tidak menyembunyikan apa apa darimu,” gumam pelan Yul. Di samping itu, Yebin masih terlihat kesakitan. Rasa nyeri di bagian dadanya membuat Yebin meringis kesakitan. Membuat Yul kembali khawatir. “Kau baik baik saja? Perlukah kupanggil dokter untuk memeriksamu?”
“Tidak. Tidak perlu. Aku hanya perlu berbaring lagi,” desah Yebin sambil menahan rasa sakit pada dadanya.
Setelah itu Yul membantu Yebin membaringkan tubuh perlahan lahan di atas kasur. Menata posisi tubuh senyaman mungkin sehingga rasa nyeri itu berkurang. Begitu Yebin tampak nyaman dengan posisi berbaringnya, Yul beranjak turun dari ranjang. Ia mengecup lembut kening Yebin lalu berucap, “Istirahatlah dengan baik. Aku akan bergegas pergi untuk rapat begitu ibu nanti tiba.”
**
Setelah sepuluh hari dirawat di rumah sakit setelah operasi tulang rusuk itu, Yebin pun akhirnya diperbolehkan pulang. Dokter memperbolehkan Yebin untuk pulang setelah melihat foto X-Ray terakhir yang menunjukkan pertumbuhan tulang yang baik. Tetapi ia masih harus dipantai oleh dokter dengan melakukan kontrol secara rutin di rumah sakit.
Malam sudah semakin gelap. Meski siang Yebin sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, baru malamnya ia bisa keluar. Alasannya tidak lain adalah karena pekerjaan Yul yang tidak bisa ditinggalkan. Yul menjadi cukup sibuk sejak diresmikannya Moonlight Retail. Ia tak memiliki banyak waktu di siang hari untuk bisa mengantarkan Yebin pulang. Sehingga mau tidak mau Yebin harus menunggu sampai malam hari supaya Yul bisa mengantarnya pulang.
Tidak ada orang yang bisa Yul percaya untuk saat ini. Ia tidak bisa memercayakan orang lain untuk menjemput Yebin pulang dari rumah sakit. Sebab itulah ia harus menjemput Yebin sendiri setelah semua pekerjaannya selesai.
Semua barang telah dikemasi oleh Yebin. Sehingga begitu Yul tiba, barang barang yang sudah dipack dalam tas besar itu bisa langsung Yul pindahkan ke mobil.
Begitu selesai memasukkan semua barang barang di bagasi mobil, Yul menutup bagasi belakangnya dengan keras. Lalu menghampiri Yebin yang berdiri di sebelah kanan mobil sambil membengong.
“Kenapa tidak segera masuk? Kau bisa masuk angin,” celetuk Yul.
“Yul....” Yebin menggumam tidak jelas dengan tatapan sayunya ke sebuah tempat.
“Eh?”
Yebin yang tiba tiba menyebut nama ‘Yul’ dengan begitu sendu itu membuat Yul mengernyit bingung. Tidak biasanya Yebin memanggilnya dengan cara seperti itu.
Perlahan Yebin mengalihkan pandangannya pada Yul. Menatap sendu sang suami lalu berkata, “Yul pingsan. Dia barusan dibawa masuk ke UGD.”
Untuk beberapa saat Yul masih merasa bingung. Kemudian ia mulai mengerti apa yang Yebin maksud.
“Ah, maksudmu anak kecil bernama Han Yul itu? Yul yang menggambar sketsa wajahmu itu?” Yul meyakinkan. Dan Yebin langsung mengangguk angguk. Pandangan Yebin kembali tertuju pada pintu UGD tempat Yul dibawa masuk oleh segerombol tim medis.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Yul. Dia kejang kejang saat dibawa masuk oleh tim medis. Yul akan baik baik saja kan? Ah.. aku belum sempat berpamitan dengannya kalau hari ini sudah mau keluar dari rumah sakit.” Yebin mendesus desus penuh sesal. Ia menatap iba pintu UGD tempat Yul kecil masuk.
dua kali seminggu Yul kecil menjalani pengobatan kemo di rumah sakit ini. Dan hari ini bukan jadwal kemoterapi Yul kecil sehingga Yebin belum sempat bertemu untuk berpamitan. Sehingga Yebin merasa benar benar menyesal dan sedih melihat Yul kecil dilarikan ke rumah sakit dengan keadaan kejang kejang. Ia hanya dapat berharap bahwa Yul kecil bisa diselamatkan dan lekas sembuh dari penyakit kankernya.
“Yul akan baik baik saja. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk Yul. Sekarang masuklah ke dalam mobil sebelum kau masuk angin.”
Tanpa banyak berpikir Yebin pun menuruti ucapan Yul. Ia beranjak naik ke dalam mobil. Memasang sabuk pengaman. Diikuti Yul yang akan mengendarakan mobilnya. Lantas mereka melaju bersama meninggalkan gedung rumah sakit yang tinggi dan besar.
“Oppa, jujurlah padaku. Kenapa kau menyewa bodyguard untuk menunggu Hun Oppa?”
Di sela kehenigan mobil, Yebin bertanya. Sudah berlalu sepuluh hari sejak kecelakaan yang menimpanya dengan Hun. Tetapi berita kasus tersebut hanya ditayangkan pada hari pertama saja. Dan penyelidikan tentang penyebab kecelakaan masih terus diselidiki. Jika itu kasus kecelakaan biasa, tidak mungkin polisi membutuhkan waktu sebanyak itu untuk mengungkap kebenarannya. Tetapi sampai detik ini tidak terjadi apa apa. Bahkan tidak ada satu orang pun dari kepolisian yang mendatangi Yebin untuk meminta pernyataan saksi.
Itu semua sungguh aneh. Tetapi sejauh ini Yul tidak mengatakan apa apa dan hanya berkata bahwa semuanya akan baik baik saja.
“Sudah sepuluh hari berlalu. Tapi tidak ada satu orang pun yang meminta pernyataan padaku. Bahkan berita kecelakaan yang menggemparkan di hari pertama itu sama sekali tidak muncul di televisi dan media masa. Seolah olah telah dibloking supaya tidak ada satu pun berita yang membahasnya,” lanjut Yebin menggumam gumam.
“Aku yang memblokingnya. Aku telah membloking semua stasiun berita dan media masa supaya tak memberitakan berita kecelakaan kalian.” Yul berkata.
Hal itu tentunya menjadi hal yang sangat mengejutkan untuk Yebin dengar. Ia terpaku selama beberapa saat menatap Yul yang menunjukkan raut wajah datar selagi berkonsentrasi mengendarakan mobil.
"Sungguh? Oppa yang melakukannya? Kenapa? Tidak, tidak, bagaimana caranya?” Yebin bertanya dengan begitu penasaran.
“Dengan uang....”
Satu jawaban singkat yang dilontarkan Yul sontak membuat Yebin ternganga heran. Heol... tidak mengherankan. Lelaki itu adalah Moon Yul. Yang memiliki uang banyak dan memiliki banyak ‘kenalan’ dan pertemanan yang tentu bisa melakukan hal hal semacam itu. Okey, bisa jadi semua memang bisa dilakukan dengan uang. Tapi, kenapa Yul melakukannya?
“Kenapa? Kenapa Oppa melakukannya?” lanjut Yebin bertanya.
“Untuk melindungi privasi Hun. Citra Hun sebagai hakim Mahkamah Agung perlu dijaga. Jika berita kecelakaan tunggal terus disiarkan, lama lama identitas Hun akan terekspos. Dan itu tidak akan berdampak baik untuk karir dan kehidupannya.” Yul menjelaskan dengan masuk akal.
Ada satu hal yang tak dapat Yebin cerna.
“Kecelakaan... tunggal? Itu bukan kecelakaan tunggal, Oppa. Aku sudah mengatakan padamu. Bahwa itu bukan kecelakaan tunggal dan Hun Oppa tidak bersalah apa apa.” Yebih menyentak karena merasa terkejut.
“Aku tahu. Aku percaya padamu dan penjelasanmu tentang kronologi kecelakaan itu. Aku juga percaya pada Hun yang tidak mungkin melakukan kecerobohan seperti itu. Aku percaya pada kalian berdua. Tapi belum ada yang bisa membuktikannya. Tidak ada yang membuktikan bahwa itu bukan kecelakaan tunggal.” Yul berkata panjang lebar untuk meyakinkan Yebin yang terlihat amat terpukul.
“Bagaimana bisa? Semuanya akan terjawab dengan rekaman blackboks mobil Hun Oppa. Rekaman CCTV di jalan pastinya juga bisa membuktikan itu semua. Kenapa ribet sekali?” celetuk Yebin.
“Masalahnya, blackboks mobil Hun itu hilang. Dan tidak ada rekaman CCTV yang membuktikan bahwa kecelakaan yang dialami Hun itu disebabkan oleh dua mobil van yang sengaja menabrak kalian. CCTVnya mengalami error.” Dengan penuh kesabaran, Yul menjelaskan itu semua kepada Yebin.
Terdengar embusan napas yang sangat panjang dari Kang Yebin. Tubuhnya seketika terasa lemas mendengarkan hal yang sangat tidak terduga ini.
“Blackboks mobil Hun Oppa hilang saat ditangani polisi? Jelas sekali kalau ada oknum dalam kepolisian yang mencurinya! Dan tidak ada rekaman CCTV? Apa itu mungkin di saat semua ruas jalan di kota Seoul ini terpantau oleh CCTV? Kepolisian negara kita ini punya sistem sangat canggih dan tidak mungkin terjadi error di saat yang paling genting seperti itu. Sudah jelas semua telah dimanipulasi.” Yebin berkata dengan nada suara yang meninggi. Semudah itu ia menarik kesimpulan dari cerita yang diungkapkan Yul.
“Karena itu, aku membungkam semua media berita untuk tidak menayangkan berita kecelakaan Hun. Bahkan menyewa pengawal untuk menjaga ruangan Hun dua puluh empat jam.”
Nada suara Yul terdengar lemah. Ia sungguh pilu merasakan semua ironi yang menimpanya dan orang yang disayanginya. Hun masih belum sadarkan diri akibat cedera otak dan penyumbatan pembuluh darah. Sedangkan kasus kecelakaannya semakin runyam dan belum menemukan titik cerah. Bahkan Yul juga selalu dilanda rasa cemas dan waspada terhadap seseorang yang tergila gila pada istrinya, Yebin.
“Apa ada seseorang yang sengaja melakukan itu pada Hun Oppa? Karena Hun Oppa seorang hakim, ia berurusan dengan banyak penjahat dan itu membuat semuanya terasa semakin runyam. Banyak sekali penjahat yang ingin melukainya, karena dia adalah seorang hakim. Bisa juga itu dari pihak penguasa yang mencoba melakukan suap tetapi gagal. Ah... kenapa banyak sekali orang yang patut dicurigai? Swihh...! menyebalkan sekali.”
Di saat Yebin menggumam gumam seorang diri dengan rasa pusingnya memikirkan itu semua, Yul hanya terdiam. Bahkan pengacara yang ia mintai pertolongan untuk menuntaskan kasus itu mendadak mengundurkan diri. Semuanya terjadi begitu saja, seolah olah telah direncanakan. Yul mengalami kebuntuan dan rasa bimbang yang teramat besar. Bimbang karena Hun yang tak kunjung siuman. Bimbang jika saja kecelakaan yang menimpanya itu benar dilakukan oleh orang yang ingin membunuh Hun. Juga bimbang jika Yebin terseret dalam semua urusan yang terasa runyam ini.
Hal pertama yang benar benar Yul harapkan adalah keberlangsungan hidup Hun. Hun saat ini berada dalam batas atara hidup dan mati. Yul selalu berdoa supaya Hun lekas siuman dan tersadar dari keadan koma yang berkepanjangan ini.
Saat Yul masih sibuk melamun, tiba tiba saja ada suatu hal yang melesat di depan mobilnya.
Cyyyiiiittttt!
Yul mengerem mendadak mobilnya yang melaju dengan kecepatan standar itu. Tubuhnya tergoncang karena rem mendadak itu. Dan ia melongo dengan detak jantung yang menggebu gebu karena terkejut.
Seketika Yul menoleh pada Yebin. Melihat keadaan Yebin.
“Yebin-a, kau baik baik saja? Ahh, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf,” cetus Yul sembari memeriksa keadaan Yebin.
Di kursi penumpang itu, napas Yebin juga mencepat. Ia tak kalah terkejutnya dari Yul. Sembari memegangi dadanya yang bedegup kencang, Yebin menatap Yul yang terlihat begitu khawatir. Raut wajah Yul menunjukkan kepiluannya terhadap suatu hal.
“Oppa, ada apa? Apa yang terjadi padamu?” desus Yebin khawatir melihat Yul yang tampak hancur.
Keadaan Yul masih belum stabil. Tatapannya mengosong. Begitu pun deru napasnya yang belum stabil. Perlahan lahan ia meluruskan pandangan pada Yebin yang menatapnya khawatir.
“Aku... aku melihat Hun melintas di hadapanku,” desus lirih Yul dengan terbata bata. Bola matanya mulai meremang menatap Yebin.
**