Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pertemuan Mendadak



Tak kalah terkejutnya dengan Yul dan Yebin, Leo Park yang baru saja turun dari mobil diam terpaku melihat pemandangan tak terduga di hadapannya saat ini. Wajahnya membingung, sekaligus terkejut. Astaga. Kebetulan macam apa ini? Kebetulan hanya kaan menjadi kebetulan jika terjadi satu atau dua kali saja. Tapi, kebetulan ini sudah terjadi yang kesekian kalinya. Leo Park yang menatap keempat orang di depan gedung restroran secara bergantian itu, mulai berpikir bahwa ini bukan lagi kebetulan namanya. Tetapi takdir. Ya, ini mungkin takdir. Takdir yang selalu mempertemukannya dengan Kang Yebin—yang di pertemuan pertama membuatnya terpesona—yang tidak terhindari.


Jika diingat ingat, Leo Park itu jatuh hati pada Kang Yebin saat melihatnya duduk di depan restoran sambil memandangi langit yang kelabu. Saat itu, ia menatap Yebin dalam waktu lama. Lalu mendekatinya dan mengajaknya bericara. Saat itu, Yebin terlihat sangat murung dan wajahnya sangat kelam. Ia tak tahu kenapa. Tetapi Yebin yang sekarang jauh membuatnya terpesona. Mulai dari fakta bahwa usia Yebin yang masih  dua puluh lima—menuju dua enam, juga keberhasilannya membangun Biniemoon. Semua itu membuat Leo Park terkagum kagum. Ia sama sekali tak bisa memalingkan hatinya dari sosok wanita bernama Kang Yebin meski wanita itu telah memiliki suami. Namun, karena wanita itu tak kunjung menghubungi Leo, Leo pun melakukan hal di luar dugaan; mengunjungi rumah Yul. Membicarakan bisnis itu hanya untuk alasan saja. Sebenarnya bukan di hari minggu dan tanpa perlu datang ke rumah pun ia bisa memanggil Yul sewaktu waktu utnuk membicarakan bisnis. Tetapi karena Leo Park memiliki tujuan lain, ia memilih berkunjung secara langsung ke tempat tinggal Yul dan menatap wanita yang disukainya sepuas hati.


“Leo Park?” gumam Yebin yang merasa terkejut melihat keberadaan Leo Park.


“Oho! Jadi kakak Jina ssi itu Leo Park?” Yul menceletuk setelah merasa yakin bahwa yang dilihatnya itu adalah Leo Park.


“Ya, saya kakaknya Jina. Kebetulan sekali bertemu Anda di sini, Tuan Moon Yul dan Nyonya Moon Yebin,” sahut Leo Park sambil berjalan ke arah kedua manusia itu. Lalu mengulurkan tangannya pada Yul untuk berjabat tangan. “Ngomong ngomong, kalian itu....”


“Ya, saya kakaknya Hun. Kakak kandung.”


Setelahh merasa yakin pada terkaannya, Leo Park menganggukkan kepala. Lalu menoleh pada Hun dan menyalaminya.


“Aku banyak mendengar tentangmu dari Jina, Hun ssi. Terima kasih sudah menjaga adik saya selama ini,” ucap Leo Park sambil berjabat tangan dengan Hun. Hun menerima jabatan tangan itu dengan baik sambil tersenyum hangat.


“Oppa, kau sudah mengenal mereka?” sahut Jina curiga menatap kakaknya.


“Siapa yang kau maksud?”


“Kakak ipar... maksudku, Tuan Yul dan istrinya.”


“Tentu saja aku sudah mengenal mereka. Aku sudah pernah bilang padamu kan? Kalau aku sedang mengerjakan proyek baru. Tuan Moon Yul itu yang aku maksud sedang mengerjakan proyek baru bersamaku. Aku mendapat pekerjaan di Moonlight Coffe untuk mengembangkan bisnis di bidang retail. Tuan Moon Yul ini yang memperkajanku,” jelas Leo Park.


Seketika itu wajah Jina berubah pucat. Ia mengarkan dengan baik kata kata kakaknya dan menjadi pucat pasi. Raut wajhanya pun berubah cemas sambil menatap Yul dan yebin bergantian. Dan mulutnya membisu. Ia tak dapat mengeluarkan kata kata sama sekali.


“Ngomong ngomong, kalau Anda itu kakaknya Jina, berapa jarak usia kalian. Sepertinya Leo Park ssi itu masih sangat muda untuk memiliki adik seusia Jina,” kata Yul.


Leo park pun tertawa. Lalu menjawab, “Kami ini kembar. Karena kami ini tidak identik, jadi banyak yang tidak tahu kalau sebenarnya kami saudara kembar yang lahir di waktu yang hampir bersamaan. Secara fisik, wajah, maupun kepribadian, kami benar benar berbeda. Tapi kami ini sebenarnya kembar.  Hanya saja saya tumbuh di lingkungan yang sedikit berbeda dari Jina.”


Yul menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan semua penjelasan Leo Park.


Leo Park, yang sebenarnya memiliki urusan dengan Jina yang harus segera di selesaikan itu, segera pamit undur diri. Ia merasa tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi karena suatu hal yang mendesak.


“Kalau begitu, saya pamit undur diri dulu. Lain kali, mari kita minum bersama, berlima,” kata Leo Park dengan serangkaian senyum ramah di wajahnya.


“Ya, tentu saja,” jawab Yul dengan senang hati.


Begitu pun Hun yang segera menjawab, “Tentu saja.”


Setelah itu Jina dan Leo Park berjalan menuju mobil. Masuk ke dalam mobil itu dan melaju pergi meninggalkan tiga orang yang masih berdiri di depan pintu masuk restoran.


“Aku juga pulang dulu, Hyung. Sampai jumpa.”


Hun pun ikut beranjak dari tempat. Masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi meninggalkan restoran. Diikuti Yul dan Yebin yang segera beranjak pergi meninggalkan restoran menggunakan kendaraan pribadi mereka.


Setibanya di rumah, Yebin yang merasakan tenggorokannya mengering, segera menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Selagi menuangkan air dari teko ke dalam gelas kaca dalam genggamannya itu, ia menggumam gumam.


“Oppa, tidakkah kau merasa ada yang aneh?”


“Apanya yang aneh?” sahut Yul sambil berjalan menuju Yebin.


“Leo Park, bukannya dia itu mencurigakan?” kata Yebin.


“Maksudmu?”


“Identitasnya saja tidak jelas. Di resumnya jelas jelas namanya itu Lee Jong Ho. Tetapi ia menggunakan nama Leo Park. Dan ternyata dia itu adalah saudara kembarnya Cho Jina. Bukannya harusnya lelaki itu juga bermarga Cho seperti adiknya? Tapi kenapa nama asline Lee Jong Ho dan nama Amerikanya Leo Park. Itu mencurigakan, Oppa.” Yebin menjelaskan seselesainya meneguk satu gelas air putih.


“Bukannya punya banyak nama itu jadi tren jaman sekarang? Banyak orang yang mempunyai nama lahir, lalu berubah saat dewasa, lalu mereka membuat nama Amerika. Kurasa itu tidak se aneh yang kau bayangkan.”


Yebin mulai memikirkan kembali perkataannya tadi. Benar. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Sikap laki laki bernama Leo Park dan semua hal misterius tentang identitas lelaki itu, mungkin hanya perasaan Yebin karena kesan dari pertemuan pertama mereka yang tidak baik.


“Ngomong ngomong, Oppa. Apa kau tidak akan menceritakan padaku tentang itu?” lanjut Yebin berucap.


Kening Yul mengerut. “Cerita apa?”


“Tentang bisnis barumu itu. Oppa tidak akan mengatakannya padaku? Tentang rapatmu dengan Leo Park seminggu yang lalu. Dan tentang semua persiapan Moonlight Retail. Oppa, kau mencurigakan sekali. Setiap kali aku membahas hal ini kau juga selalu mengalihkan topik. Seolah olah kau sedang menyembunyikannya padaku.” Yebin bercerita panjang lebar. Ia merasakan keanehan sikap Yul ketika ia mulai membahas tentang Moonlight Retail. Selain itu, Yul juga tak pernah mengatakan apa apa pada Yebin perihal itu.


Yul diam sejenak. Lalu menyangkal perkataan Yebin.


“Bukannya aku tidak mau bercerita. Hanya saja aku juga masih bingung. Belum ada persiapan apa apa dan aku belum mengambil keputusan,” desus lirih Yul dengan pandangannya yang menurun.


“Oppa masih belum memutuskan? Bukannya kau mempekerjakan Leo park untuk membantumu menentukan pilihan? Kenapa Oppa lama sekali memutuskan? Apa yang sebenarnya terjadi, Oppa? Apa ada kendala?” sahut Yebin. Ia merasa sikap Yul ini semakin aneh.


Yul hanya kembali terdiam. Wajahnya berubah sendu dan tatapannya berpaling dari Yebin. Berapa kali pun berpikir, usulan yang diungkapkan Leo Park hari itu memang yang terbaik. Yaitu bekerja sama dengan Biniemoon untuk membangun yang semakin besar. Selain itu peluang pasarnya juga akan sangat terjamin jika Moonlight Retail yang masih sangat baru berniaga di bisang fashion itu bisa menggandeng Biniemoon yang sudah lima tahun beroperasi di dunia daring. Tentu itu sama saja Moonligjht Retail berusaha mencari keutungan yang lebih besar dari Biniemoon, sama seperti menggunakan popularitas Biniemoon untuk menaikkan market penjualan Moonlight Retail. Tapi, untuk Yul yang menemani yebin dan mengerti dengan baik seberapa besar usaha yang Yebin kerahkan untuk membangun Biniemoon, perasaan Yul sebagai pebisnis pun melemah. Ia tak bisa sepenuhnya mengambil peran sebagai pebisnis karena perannya sebagai suami jauh lebih penting.


Itu semua membutuhkan waktu yang lama untuk Yul berpikir. Tidak ada yang lebih menjanjikan jika bukan bisnis fashion dan kosmetik. Karena sudah terlaulu banyak pebisnis yang membuka bisnis retail di makanan atau pun kebutuhan harian. Peluang pasar terbesarnya tetap fahion. Karena kebanyakan pencari fahion dan barang barang branded itu adalah golongan anak muda, yang sanagt sesuai dengan pelanggan Moonlight Coffe saat ini.


Memikirkan itu semua membuat Yul kembali merasa pusing. Ia pun memutuskan untuk beranjak pergi tanpa menjawab rutukan Yebin sebelumnya.


“Ahh, tubuhku lelah sekali. Aku harus segera istirahat.”


Yul menggumam selagi berjalan meninggalkan Yebin di dapur. Menaiki lantai dua tanpa memedulikan Yebin yang semakin bingung dan curiga terhadap sikapnya.


***


Yul yang selalu mendapatkan kecupan manis setelah mengantar istrinya bekerja itu pun tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk angguk.


“Sampai bertemu nanti. Kau juga jangan lupa makan siang.”


Setelah itu Yebin turun dari mobil. Ia melambai lambaikan tangan pada Yul sebelum akhirnya Yul melajukan kembali mobilnya menjauhi kantor operasional Biniemoon. Begitu melihat kepergian suaminya pun, Yebin berjalan masuk ke dalam kantor. Menyapa keempat orang karyawannya dengan ramah seperti biasanya.


“Selamat pagi, semuanya.”


“Selamat pagi.”


“Yebin-a, apa kau sudah memeriksa proposal kerja sama yang beberapa hari lalu dikirimkan Hansung Grup? Tawarannya cukup menjanjikan. Kenapa tidak kau coba pertimbangkan?” Somin yang menjadi manajer pemasaran itu menceletuk begitu melihat Yebin datang. Wanita berambut sebahu yang merupakan sahabat baik Yebin itu berjalan mendekati meja kerja Yebin.


“Aku sudah membaca emailnya. Tapi entah kenapa aku merasa tidak tertarik. Aku tidak berniat memberinya balasan. Toh, kalau mereka benar benar serius ingin mengajak kita bekerja sama, pasti bagaimana pun caranya salah satu dari mereka akan mengajakku bertemu secara langsung,” jawab Yebin yakin.


“Pasti begitu. Apa itu artinya kau tetap membuka peluang untuk perusahaan retail bekerja sama dengan kita dalam hal marketnya?” Somin kembali melontarkan pertanyaan.


“Asalkan mereka tidak serakah. Dan asalkan kerja sama itu benar benar fair dan menguntungkan kedua belah pihak, tidak ada salahnya. Menurutku ini sudah saatnya Biniemoon untuk berkembang lebih besar lagi. Artinya kerja sama kita dengan pihak luar juga harus semakin luas. Aku juga punya beberapa rencana masa depan untuk Biniemoon.”


Yebin pun melanjutkan pekerjaannya di kantor Biniemoon. Menjalankan program di komputer Biniemoon untuk memantau laporan panjualan yang tersaji dalam bentuk tabel statistik. Juga melakukan pekerjaan seperti karyawan; menjawab pesan dari pelanggan, menanggapi komplain maupun review bintang, juga memantau jumlah stok barang.


“Ahh, turun 0,02% dari pernjualan minggu kemarin. Kenapa ya? Apa karena ada banyak stok kosong?” Yebin menggumam gumam saat mengamati data staistik yang terpampang di layar komputernya. Ia melihat grafik berwarna hijau yang turun sebanyak 0,02% dari penjualan minggu kemarin.


“Somin-a, coba nanti kau hubungi pihak dari brand Channel dan Dior apakah sudah ada stok baru untuk daftar yang kita kirim minggu lalu. Penjualan minggu ini turun. Sepertinya karena ada banyak stok kosong dari dua brand yang paling banyak peminatnya.” Selagi masih memantau data statistik itu, Yebin berbicara dengan Somin yang sibuk menata barang barang di gudang.


“Baiklah. Nanti coba aku hubungi departemen pemasaran kedua brand itu. Ah! Stok barang dari Desainer Kang juga tinggal beberapa biji saja. Akhir akhir ini penjualan dari label Desainer Kang mengalami peningkatan yang drastis. Aku khawatir jika sampai kehabisan stok dan pelanggan jadi lari ke online shop lain. Nanti akan sekalian kuhubungi pihak dari Desainer kang,” kata Somin.


“Baik, kerja bagus.”


Meski pun Somin adalah karyawan pertama Yebin yang direkrut atas dasar pertemanan mereka, Somin menunjukkan kinerja yang baik bersama Yebin. Ia sama sekali tak menggunakan alasan pertemanannya utnuk malas malasan bekerja. Justru ia bekerja lebih baik dari tiga karyawan lainnya yang baru beberapa bulan bergabung bersama Biniemoon.


Ketika Yebin masih sibuk membaca data penjualan minggu ini, telepon kantor Biniemoon berdering. Yebin pun menghentikan kegiatannya sejenak. Meraih gagang telepon kantor itu untuk menjawab panggilan yang masuk.


“Selamat siang, dengan operasional Biniemoon, ada yang bisa saya bantu?” sahut Yebin begitu telepon itu tersambung.


Selama beberapa detik tak terdengar sahutan dari seberang telepon. Hingga kemudian suara seorang lelaki menyahut dari seberang sana.


[Nyonya Moon, halo! Aku Leo Park. Aku kesulitan sekali mendapatkan nomor teleponmu. Jadi aku coba saja menelepon kantor Biniemoon. Ternyata benar benar kau yang menjawab.]


Kedua mata Yebin terbelalak mendengar seruan itu. Ia tak habis pikir saja, untuk apa Leo Park mencari nomor teleponnya bahkan menelepon Biniemoon untuk mencarinya. Padahal, jika untuk menanyakan keberadaan Yul, Leo Park itu sendiri lebih mudah untuk mengontak langsung dengan Yul. Namun sepertinya tujuannya itu bukan untuk mencari Yul, tetapi mencari Yebin.


“Leo ssi, ada apa kau mencari nomor teleponku dan menghubungi kantor Biniemoon untuk berbicara denganku seperti ini? Bukannya urusanmu itu dengan suamiku? Maaf, suamiku sedang bekerja. Dan aku juga sedang sibuk saat ini. Kalau kau menghubungiku hanya untuk hal yang tidak penting, lebih baik kututup sa....”


[Aku ingin bertemu denganmu. Kira kira kapan kau bisa bertemu denganku?] Leo Park memotong saat ucapan Yebin belum selesai. Dan apa yang dikatakannya itu membuat kening Yebin mengerut dalam, merasa curiga.


“Kau mau bertemu denganku? Ada perlu apa?”


[Yang pasti bukan untuk mengajakmu berkencan.]


Yebin menghela napas panjang. Mulai merasa kesal.


“Jangan bercanda. Kalau sekali lagi kau mengatakan hal tidak masuk akal, lebih baik kututup saja teleponnya dan silakan kau hubungi suamiku jika ingin membicarakan apa apa.”


[Hei, jangan marah begitu dong. Cantik cantik kok pemarah. Padahal suamimu itu orang yang sangat ramah tamah dan berkepala dingin. Tetapi kau istrinya justru sangat jutek dan pemarah.]


“Katakan saja apa maksudmu!” cetus Yebin yang mulai merasa geram.


[Sudah kukatakan, aku ingin bertemu denganmu.]


“Maaf. Aku sibuk. Aku tidak bisa bertemu dengan siapa pun saat ini.” Yebin menolak dengan ketus.


[Setelah mendengar apa yang ingin kubicarakan denganmu saat bertemu, kau tidak akan bisa menolak. Aku jamin kau akan langsung bergegas menemuiku di kafe dekat taman Sungai Han.]


“Apa pun yang ingin kau bicarakan, aku tidak tertarik. Berhenti mengganggu waktu bekerjaku....”


[Ini tentang suamimu.]


Sela Leo itu sontak membuat Yebin terdiam. Ia mulai penasaran apa yang hendak Leo Park itu bicarakan ketika memintanya bertemu.


“Suamiku? Ada apa dengan suamiku?”


[Tentang suamimu dan tentu saja... Moonlight Retail. Kalau ingin mendengarnya lebih lanjut, segera temui aku di sini. Aku sedang berada di tempat yang tadi kusebutkan.]


Begitu ucapan itu berakhir, Leo Park mengakhiri teleponnya. Sementara Yebin yang masih memegangi gagang telepon di telinga itu, tampak terdiam untuk menimbang nimbang. Sikap aneh Yul. Tingkahnya yang mencurigakan setiap kali Yebin menanyakan tentang Moonlight Retail. Dan suatu hal yang mencoba Yul tutup tutupi dari Yebin. Semua rasa penasaran Yebin berkecamuk menjadi satu dalam kepalanya. Bagaimanapun, ia adalah istrinya Yul. Yul, si pemilik Moonlight Coffe itu adalah suami yang sangat dicintainya dengan sepenuh jiwa dan raga. Apa pun yang terjadi pada Yul, Yebin merasa harus tahu. Ia harus tahu kenapa Yul selama ini bersikap aneh dan mencurigakan.


Semua pemikiran itu yang membuat tatapan Yebin seolah berkobar kobar. Ia segera meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Langsung beranjak dari duduk. Memakai mantel panjang yang hangat dan tas bahu.


“Kau mau ke mana jam segini?” tanya Somin melihat Yebin yang tampak tergesa gesa.


“Aku harus pergi ke sebuah tempat. Aku akan menghubungimu nanti.”


***