
Anggota Keluarga Baru
Sore harinya setelah menjemput Hanyul di lembaga pengasuhan anak, Yul pergi ke rumah sakit untuk menjenguk adiknya yang sedang menjalani pengobatan. Ia pergi ke rumah sakit sementara Yebin dan Hanyul sedang beradaptasi di rumah. Yebin sedang mengenalkan tempat tinggal baru untuk Hanyul dan membangun hubungan yang lebih baik dengan anak itu. Sedangkan Yul pergi ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus untuk membicarakan suatu hal yang penting dengan sang adik.
Seperti biasanya, ruang rawat Hun maish dijaga oleh dua orang bodyguard. Semenjak Hun bangun dari koma, ada banyak sekali kejadian menjanggal terjadi di ruang rawat itu. Di mana ada seorang perawat mencurigakan masuk ke dalam ruang rawat Hun dan hendak menyuntikkan sesuatu di tubuh Hun. Ketika itu Miyoon yang sedang menjaga Hun yang sedang tidur. Miyoon mengamati pergerakan mencurigakan perawat itu dan mengungkap bahwa perawat itu bukan perawat yang biasanya datang untuk menyuntikkan obat pada tubuh Hun.
Gara gara peristiwa itu, Yul menjadi lebih waspada. Artinya masih ada yang memiliki niat buruk kepada Hun yang telah selamat dari kecelakaan yang terjadi lebih dari satu bulan yang lalu. Dan karena itulah ruang rawat Hun yang semula berhenti dijaga setelah Hun bangun dari koma, kembali diawasi seperti sebelumnya.
Yul datang dengan membawa makan malam dan kopi untuk dua bidyguard yang sedagn berjaga itu.
“Tuan Moon, selamat malam,” sapa seorang penjaga.
“Selamat malam juga. Apa ada yang tadi berkunjung ke mari?” tanya Yul.
“Hanya Pengacara Jin Haeri dan kekasih Hakim Hun yang datang hari ini,” jawab seorang pengacara.
Kepala Yul mengangguk angguk. “Baiklah. Ini makan malam dan juga kopi untuk kalian,” kata Yul sambil menyerahkan sekotak pizza dan kopi pada penjaga.
“Terima kasih banyak, Tuan Moon.”
Yul beranjak masuk ke daam ruang perawatan Hun kemudian. Di ruangan itu, terlihat Hun yang sedang duduk di atas ranjang pasien sambil membaca sebuah buku setebal bantal.
“Kau itu benar benar.... Keadaanmu seperti itu apa yang sedang kau lakukan? Apa kau mau ikut ujian lagi?” celetuk Yul yang terheran heran melihat adiknya itu belajar di tengah keadaannya yang masih sangat lemah.
Pandangan Hun seketika menaik melihat kedatangan sang kakak. Ia tersenyum tipis lalu membuat alasan.
“Hanya saja aku merasa sangat bosan. Selain Kak Haeri dan juga Jina, tidak ada yang datang menjengukku dan mengajakku bicara. Aku merasa sangat bosan ada di kamar ini. Bagaimana tidak ada seorang pun teman yang menjengukku?” keluh Hun. Tidak tahu kenapa lelaki yang biasanya sangat cuek dan pendiam itu menjadi banyak mengeluh seperti anak remaja yang sednag melalui tahap pubertas.
“Itu kenapa kau harus punya banyak teman, supaya ada yang datang menjengukmu saat kau sakit. Bagaimana ada teman yang datang di saat kau sendiri tidak punya banyak teman? Sekarang coba kau hitung berapa teman yang kau punya. Pasti jari jari di tangan kananku ini saja tidak penuh,” rutuk Yul yang baru duduk di kursi dekat ranjang Hun.
Hun mengembuskan napas panjang panjang. “Aku menyesal karena tidak punya banyak teman,” gumamnya pelan.
“Harusnya kau menyadari itu sejak dulu,” timpal Yul.
Suasana menghening sejenak. Hun menutup buku tebalnya. Lalu meletakkanya ke samping bantal tempatnya menyandarkan tubuh.
“Hun-a, aku sekarang punya anak,” kata Yul setelah sejenak menghening.
Kening Hun mengernyit. Wajahnya berubah senang mengikuti raut wajah Yul yang terlihat semringah.
“Yebin hamil lagi? Syukurlah,” ucap Hun. Tetapi Yul menggelengkan kepala.
“Bukan, bukan itu. Yebin tidak sedang hamil.”
“Ha? Lalu?” tanggap Hun bingung.
“Aku dan Yebin mengadopsi anak. Ceritanya sangat panjang, tapi kurasa ini adalah takdir. Kami mengadopsi seorang anak yang ditelantarkan orang tuanya. Aku tidak yakin apa yang sedang terjadi pada orang tua anak itu di luar negeri sampai menelantarkan anaknya. Tapi begitu semua proses hukum selesai, anak itu akan sah menjadi anakku dengan Yebin secara hukum. Kuharap Haeri bisa menyelesaikan ini dengan baik,” cerita Yul panjang.
“Kak Haeri juga yang megurusi pengadopsianmu?” tanya Hun. Yul menganggukkan kepala menjawb ‘iya’. “Hyung, tidakkah kau terlalu kejam pada Kak Haeri? Dia kan sedang mengurus kasus kecelakaanku. Itu saja belum tuntas. Kenapa kau memberinya tugas baru?” rutuk Hun.
“Dia kan tidak sendirian. Dia bekerja sama dengan seorang pengacara dari firma hukumnya untuk menyelesaikan kasus kecelakaanmu,” terang Yul. Ia teringat suatu hal dan bertanya, “Ah, benar! Apa kau dan Jina sudah balikan? Kelihatannya kalian tambah mesra sekarang. Kurasa Jina juga setiap hari datang ke sini untuk menjenguk dan menemanimu.”
Hun mengangguk rungan.
“Seperti itulah yang terjadi. Aku sangat terkejut melihat perubahan sikap Jina setelah aku bangun dari koma. Dia melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Juga mengatakan hal hal yang sebelumnya tidak pernah kudengar,” cerita singkat Hun.
“Pasti itu karena dia menyadari seberapa berharganya kau untuknya. Kau tau? Saat kau koma selama satu bulan itu, Jina selalu datang kemari setiap selesai bekerja dan semalaman bersamamu di tempat ini. Lalu dia kembali saat subuh karena pagi harinya harus bekerja. Maka dari itu kau juga harus banyak terima kasih pada Jina. Kalau kau mencintainya jangan hanya memendamnya dalam hati, tapi ungkapkan dengan kata kata. Bagaimana perempuan bisa mengerti kalau kau mencintainya kalau kau tidak bilang apa apa? Apa gunanya kata kata kalau kau tidak menggunakannya?” Yul mencermahi sang adik yang sesungguhnya sangat payah dalam hal percintaan. Jika tidak payah, mungkin hubungan Hun dengan kekasihnya akan semakin membaik sejak dulu dan tidak pernah ada niat untuk putus. Tetapi karena adiknya itu sangat bodoh dalam urusan cinta, makanya hubungannya dengan Jina pun tidak karuan.
“Baiklah, baiklah. Berhenti mengomeliku,” sahut Hun yang selalu diomeli oleh sang kakak.
Tepat setelah itu ponsel Yul di dalam saku kemejanya bergetar. Ada satu panggilan masuk yang tidak lain adalah dari Jin Haeri.
“Halo, Haeri-ya, ada apa?” sahut Yul begitu panggilan teleponnya dengan Jin Haeri tersambung.
[Yul-a, aku punya kabar baik sekaligus buruk]
“Apa maksudmu?” sergah Yul.
[Polisi menemukan jenazah seorang laki laki yang diduga menjadi pengemudi mobil van yang menabrak mobil Hun. Jenazahnya sudah diidentifikasi. Dan diduga meninggalnya tidak lama setelah kecelakaan itu terjadi. Dia dikuburkan di Gunung Bukhan.]
Yul mendnegarkan penjelasan Haeri dengan baik. Lalu menanggapi, “Baiklah. Tunggu sampai hasil autopsinya keluar. Tidak mungkin lelaki itu sendirian karena yang menabrak mobil Hun saat itu tidak hanya satu mobil van, tapi dua. Tunggu saja. Kerja bagus, Haeri-a. Aku menunggu kabar selanjutnya darimu.”
Setelah itu telepon terutup. Yul memasukkan ponselnya ke dalam saku.
“Apa yang terjadi, Hyung?” tanya Hun seketika panggilan Yul dengan Haeri berakhir.
“Pengemudi van yang menabrakmu sudah ditemukan. Tapi dalam keadaan sudah meninggal,” jelas singkat Yul.
Hun menghela napas ringan. “Ini kabar buruk. Sekaligus memberikan petunjuk yang baik tentang siapa pelaku yang sebenarnya.”
**
“Hanyul-a, kau menyukainya?” tanya Yebin kepada Hanyul yang sedang berjalan pelan di sebelahnya. Sedang memilih beberapa mainan yang terpajang di dalam sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Gangnam
Keduanya sedang berbelanja perlengkapan anak anak di pusat perbelanjaan itu. Membeli beberapa mainan untuk Hanyul, beberapa pakaian, susu, vitamin, dan semua perlengkapan yang dibutuhkan Hanyul.
Sebetulnya Yebin tidak memiliki persiapan apa apa. Semalam ia diberi tahu Yul dengan sangat mendadak sehingga tak sempat menyiapkan aapa apa atas kedatangan Hanul. Pun pagi harinya Yul dan yebin segera berangkat menuju lembaga pengasuhan anak sehingga tak sempat berbelanja aa pun untuk Hanyul.
Rumah Yebin masih kosong tidak memiliki mainan anak anak. Tidak memiliki kasur khusus anak dan perlengkapan bermain sehingga siang tadi Yul mendadak membeli ranjang tidur untuk anak anak dan memasang hiasan dinding di kamar baru Hanyul. Dan sekarang Yebin sedang berbelanja mainan serta semua perlengkapan kebutuhan Hanyul. Juga mengajak Hanyul berjalan jalan ke tempat yang ramai supaya anak itu tidak murung lagi karena peristiwa tidak menyenangkan yang ia alami.
“Aku mau yang itu, Bibi.” Hanyul menyeru sambil menunjuk sebuah mainan puzzle dan juga rumah rumahan.
“Ah, yang itu? Baiklah.” Yebin menjawab lalu mengambil mainan yang ditunjuk Hanyul tersebut lantas memasukkannya ke dalam troli. “Wah, jadi Hanyul menyukai mainan puzzle. Kebetulan sekali, Paman Yul juga suka menyusun puzzle, lho! Kalian bisa bermain bersama nanti,” seru Yebin sambil mengambil satu mainan puzzle untuk Hanyul.
“Ayo kita ke sebelah sana,” kata Yebin sambil menggandeng tangan Hanyul untuk berjalan ke sisi yang lain dan melihat lihat beberapa mainan yang lain.
Membutuhkan waktu cukup lama untuk Yebin dan juga Hanyul memilih mainan dan perlengkapan anak anak lainnya di pusat perbelanjaan itu. Sampai akhirnya Hanyul yang sudah lama berjalan itu merasa kelelahan.
“Hanyul sudah capek berjalan?” tanya Yebin melihat Hanyul yang terlihat lemas. Hanyun menjawab pertanyaan itu dengan menganggun anggukkan kepala.
“Kita cari tempat duduk di sebelah sana ya.”
Mereka pun pergi ke tempat duduk yang disediakan di salah satu pojok pusat perbelanjaan. Yebin meletakkan troli belanjaannya yang sudah penuh di samping tempat duduk yang diduduki Hanyul. Lalu ikut duduk memangku Hanyul di bangku pojok.
“Harusnya kita berbelanja bersama Paman Yul supaya dia bisa menggendongmu. Kita tunggu sebentar ya, Paman Yul akan segera datang ke sini,” kata Yebin. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Tadi, sebelum berangkat ke pusat perbelanjaan ini menggunakan taksi, Yebin sempat berpesan kepada Yul supaya menyusul mereka di pusat perbelanjaan pada pukul lima. Otomatis tidak lama lagi Yul akan datang ke tempat ini.
“Hanyul-a, mulai sekarang kalau ada apa apa Hanyul bilang ke Bibi atau ke Paman Yul ya? Atau kalau Hanyul menginginkan sesuatu atau ingin mengeluhkan sakit, bilang saja ke paman atau bibi dan tidak usah ragu,” tutur Yebin sambil memeluk tubuh mungil anak lima tahun yang ada di pangkuannya.
“Ya, Bibi.” Hanyul menjawab pelan.
“Anak pintar,” sahut Yebin sambil mengelus kepala Hanyul yang ditutupi penutup kepala.
Mereka duduk di tempat itu selama beberapa menit sebelum akhirnya seorang lelaki datang. Lelaki berpakaian rapi, atasan putih dengan celana hitam dan berjas itu menghampiri Yebin yang sedang memangku seorang bocah lelaki berusia lima tahun.
“Permisi, Nona.” Lelaki muda yang usianya terlihat masih dua puluhan akhir itu mengambil duduk di sebelah Yebin. Seperti ingin mengajaknya bicara. “Anda sedang menunggu seseorang?” lanjutnya bertanya.
“Anda siapa?” tanya Yebin tak banyak berpikir. Sepetinya lelaki yang duduk di sebelahnya itu ada maunya mengajaknya mengobrol secara tiba tiba.
Lelaki itu tersenyum manis. Raut wajahnya yang ramah menunjukkan kalau dia bukan orang aneh yang ingin bermacam macam.
“Saya manajer operasional di pusat perbelanjaan ini. Maaf jika mengganggu waktu Anda sebentar,” ucap lelaki itu.
“Ah, Anda manajer rupanya. Ada keperluan apa?” tanya Yebin.
Kepala Yebin mengangguk angguk. “Anda ingin wawancara rupanya.”
Lelaki itu tiab tiba terkekeh. Ia tertawa pelan menanggapi gumaman Yebin.
“Bukan wanwancara, hanya seperti mengobrol biasa saja,” kata lelaki itu.
Mengobrol apanya. Sudah jelas kalau lelaki itu memiliki tujuan tertentu mengajak Yebin mengobrol seperti ini. Yebin membatin.
“Ah, ya.... Anggap saja begitu,” desus Yebin tak yakin.
Lelaki itu terus saja tersenyum manis. Menatap Yebin penuh keramahan yang sebetulnya itu membuat Yebin sedikit merasa tidak nyaman.
“Apa Anda berbelanja sendirian?” tanya lelaki itu.
Kening Yebin mengerut. “Sendirian? Apa Anda tidak lihat kalau saya sedang memangku anak saya?” cetus Yebin.
Lelak itu tampak terkejut. “Anak Anda?” tanyanya tak percaya. “Ah, maaf. Hanya saja Anda terlihat terlalu muda untuk memiliki seorang anak laki laki seusia anak Anda ini.”
Yebin tersenyum getir. Menatap sinis manajer lelaki yang mulai menyebalkan itu.
“Jangan menilai orang berdasarkan perkiraan Anda. Itu bisa membuat orang lain merasa tersinggung,” cetus Yebin.
Lelaki itu terdiam mendengar cetusan Yebin. Lalu tersenyum kagum sambil menatap dalam ke arah Yebin.
“Apa Anda tidak ingat saya?” tanya lelaki itu secara tiba tiba. “Kita pernah bertemu di sebuah tempat. Ah, sepertinya Anda tidak ingat.”
Yebin mengerutkan kening. Mencoba memutar kembali memorinya tengang siapa lelaki yang mengaku pernah bertemu dengannya ini. Tetapi berapa kali pun mencoba mengingat ingat, Yebin tetap merasa tidak ingat.
“Maaf, Anda... siapa?” tanya Yebin ragu.
Seketika laki laki itu tersenyum lebar. Ia menyenggol pelan bahu Yebin dan menceletuk, “Kang Yebin, kau benar tidak mengingatku? Wah... aku kecewa sekali. Mentang sekarang kau sudah menjadi istri bos Moonlight Coffe, kau sudah lupa padaku?”
Yebin terbelalak terkejut melihat lelaki itu yang menceltuk dengan semangat sambil menepuk bahunya. Kemudian Yebin mencoba mengingat ingat kembali.
“Oh, Senior? Senior Min?” seru Yebin tak yakin.
“Benar. Aku Kang Min, senior klub film yang dulu kau ikuti saat masih kuliah. Semudah itukah kau melupakanku?” celetuknya.
Mulut Yebin terbelalak. Lelaki yang menjadi manajer operasional itu ternyata adalah seniornya di kampus dulu. Senior yang dulu pernah disukai Yebin di tahun pertama masuk universitas.
“Bagaimana kabarmu, Kang Yebin? Aku mendengar kau menikah begitu lulus universitas dengan bos Moonlight Coffe. Aku tidak menghadiri pernikahanmu karena sedang ada di luar negeri. Sekarang bagaimana kabarmu? Kau kelihatan tambah sukses saja, bisnis baru suamimu juga berjalan dengan baik. Aku melihat foto suamimu terpampang di berbagai majalah kota dan bahkan televisi,” kata Min.
Yebin hanya tersenyum. “Ya itu semua berkat kerja keras suamiku.”
“Kapan kapan aku ingin bertemu dan mengobrol dengan suamimu. Aku merasa tertarik untuk menanamkan beberapa modal di Moonlight Retail,” ucap Min.
“Itu bisa kau bicarakan langsung saja dengan suamiku,” sahut Yebin.
Min menganggukkan kepala. “Tapi, apa benar kau sudah memiliki anak? Kudengar kau hamil tapi....”
Min menghentikan ucapannya karena merasa tidak bisa meneruskannya. Namun Yebin cukup mengerti apa yang ingin lelaki itu bicarakan. Sudah diduga. Pasti lelaki itu mendengar kabar itu dari teman alumni yang suka sekali menggosipkan teman lain.
“Dia adalah anakku. Hanyul-a, perkenalkan dirimu,” pinta Yebin pada Hanyul.
Setelah itu Hanyul menundukkan kepala untuk menyapa Min. “Annyeonghaseyo. Hanyul imnida.”
Yebin tersenyum hangat kemudian mengeratkan pelukannya pada Hanyu. “Anak pintar,” kata Yebin sambil memeluk bahu Hanyul.
Min juga ikut tersenyum membalas sapaan anak lelaki yang dipangku Yebin.
“Besok lusa alumni kampus mau mengadakan reuni. Kau datang ya, Kang Yebin? Banyak yang menanyakan kabarmu. Teman teman semuanya penasaran padamu karena kau tidak pernah menghadiri pertemuan alumni. Jadi datanglah ya? Besok aku beri tahu kalau ada kabar apa apa.”
Semenjak kelulusannya, Yebin memang tak pernah menghadiri pertemyan alumni. Alasannya karena ia tidak suka menjadi topik pembicaraan ketika pertemuan alumni di selenggarakan. Yebin tahu dengan baik bahwa banyak di antara teman teman yang tidak menyukainya dan cenderung sinis membicarakan kehidupannya yang sekarang. Banyak di antara teman teman Yebin yang merasa iri pada Yebin sehingga mereka sinis. Itulah alasan kenapa Yebin tidak pernah menghadiri pertemuan alumni. Bahkan ia juga telah keluar dari grup chatting alumni yang sering membicarakannya di dalam grup dan memperbincangkan dirinya dengan tidak menyenangkan.
Selain alasan itu, Yebin tidak suka ditanya tanya tentang bagaimana kehidupannya setelah menikah. Karena di antara semua teman sekelas Yebin, baru Yebin yang sudah menikah. Sedangkan yang lainnya maish sibuk melanjutkan studi di dalam dan di luar negeri, ada yang sudah bekerja, ada yang sedang mencari pekerjaan, dan ada yang masih menganggur. Hanya Yebin yang sudah menikah dan merasakan beberapa pengalaman tidak menyenangkan dalam pernikahannya seperti keguguran dan lain sebagainya. Dan itu pastinya akan menjadi perbincangan hangat di antara para alumni.
Sebenarnya Yebin ingin memikirkan dua kali tawaran Min untuk menghadiri pertemuan alumni itu. Tetapi Yebin hanya mengangguk untuk menjaga perasaan Min.
“Akan kupertimbangkan. Jika tidak berbenturan dengan kesibukanku yang lain, aku akan datang.”
Tidak lama kemudian, telepon Yebin berdering. Segera ia mengambil ponsel dari dalam tas bahunya. Lalu menjawab telepon yang masuk dari Yul.
“Halo, Sayang. Kau sudah tiba? Aku ada di lantai empat. Bisa kau segera datang? Keadaan Hanyul tidak begitu baik,” ucap Yebin kepada Yul di seberang telepon.
Setelah panggilan itu berakhir, Min kembali menyahut, “Suamimu akan datang?”
Yebin mengangguk.
“Wah, aku merasa terhormat sekali bisa bertemu langsung dengan suamimu,” desus pelan Min.
Tak lama setelah itu Yul terlihat berjalan dari kejauhan. Yebin melambai lambaikan tangannya kepada Yul untuk memberikan isyarat keberadaannya. Yul yang melihat tangan Yebin melambai lambai, mempercepat langkah kakinya menghampiri Yebin dan Hanyul.
“Sudah menunggu lama?” tanya Yul begitu tiba di hadapan Yebin.
“Tidak. Hanyul capek berjalan jadi aku mengajaknya duduk di sini,” ucap Yebin.
“Sini, paman gendong.”
Yul mengulurkan tangannya untuk menggendong tubuh kecil Hanyul. Hanyul pun merentangkan tangannya untuk menerima uluran tangan Yul. Dalam sekejap, tubuh Hanyul pun berada di pelukan Yul. Ia digendong Yul di depan dadanya.
Setelah menggendong Hanyul dengan nyaman, pandangan Yul teralih pada Min yang baru saja beranjak dari duduk. Lelaki itu mengulurkan tangan terlebih dahulu kepada Yul. Dan Yul menyambut uluran tangan Min dengan baik.
“Perkenalkan, saya manajer operasional pusat perbelanjaan ini, sekaligus senior Yebin sewaktu kuliah,” lelaki itu memperkenalkan diri.
Yul mengangguk mengerti. “Saya Moon Yul. Senang bertemu dengan Anda.”
"Justru saya yang senang bertemu dengan Anda, Tuan Moon. Saya merasa terhormat bisa bertemu dengan Anda,” ucap Min. Ia mendapat senyuman ramah dari Yul.
“Ayo, Sayang.” Yebin kemudian menyahut kepada Yul sambil mendorong troli yang sangat penuh.
“Aku duluan ya, Senior Min.” Yebin kemudian berpamitan dengan Min.
“Usahakan datang di acara pertemuan alumni ya? Teman teman banyak yang penasaran kabarmu. Oh ya, untuk pertemuan alumni besok lusa itu akan diadakan di klub malam, di Everyday Night Club.” Min menceletuk.
Yebin terdiam, terkejut. Ia bertatapan dengan Yul yang ikut terkejut mendengar Everyday Night Club.
“Everyday ... Night Club?” tanya Yebin ragu.
“Ya. Kami selalu mengadakan pertemuan alumni di klub malam itu. Kenapa?” Min balik bertanya.
Yebin kembali bertatapan dengan Yul. Tatapan mereka terlihat aneh. Everyday Night Club... itu kan klub malam milik Leo Park?