Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perasaan cemburu atau ...



Bab 9


Perasaan cemburu atau ...


“Hei... Kim Lysa, apa kau sudah tidak


waras?”


Dari kursi pengemudi itu, tiba tiba saja


Brian berteriak dengan lantang. Suara kerasnya yang terlontar begitu saja


membuat tubuh Lysa menjingkat. Gadis itu seketika ternganga dan otomatis


menoleh kepada Brian yang nyaris saja menabrak mobil di depan.


“Ada apa dengnmu, Sam? Kenapa tiba tiba kau


berteriak?” protes Lysa yang terkejut karena Brian yang tiba tiba berteriak


itu.


Brian yang terlihat sedang mengendalikan


emosi itu mengembuskan napas panjang panjang. Ada segenap emosi aneh yang


menyulut benaknya ketika mendengar cerita bahwa Lysa telah melakukan ciuman


pertama dengan seorang laki laki, yang sepertinya laki laki itu yang membuat


Lysa terlihat begitu bahagia ketika membalas pesan teksnya.


“Tidak... Kau itu kan perempuan, kenapa


tidak bisa menjaga dirimu dengan baik? Apa laki laki yang menciummu itu


kekasihmu? Seberapa lama kau mengenal laki laki itu di saat kau sendiri masih


perlu beradaptasi untuk hidup di negara ini? Kenapa kau tidak bisa menjaga


bibirmu dengan baik dan berciuman dengan sembarang laki laki tanpa berpikir


panjang terlebih dahulu?” Brian lanjut merutuk rutuk.


Apa yang Brian katakan itu membuat Lysa tidak


habis pikir. Apa Brian berpikir kalau Lysa adalah gadis murahan yang bisa


berciuman dengan sembarang laki laki? Apa Brian mengira kalau apa yang terjadi


pada Lysa itu adalah hal yang dikehendakinya? Lysa sungguh merasa tercengang


mendengar Brian berkata sekasar itu kepadanya. Tidak peduli kalau laki laki itu


memang memiliki sikap yang dingin dan tidak begitu peduli padanya, tidak


seharusnya Brian menghakimi Lysa dengan menyamakannya dengan para gadis yang


bisa memberikan bibirnya pada siapa saja lelaki yang mau. Bagaimana pun, Lysa


juga merasa kehilangan. Meski ciuman pertama itu sampai detik ini maish


berkesan dalam benaknya, tetap saja Lysa merasa kehilangan. Karena seharusnya


ciuman pertamanya itu dilakukan dengan laki laki yang Lysa cintai dan tentunya


mencintai Lysa, bukan seorang Ajeossi yang baru Lysa kenal.


Perlahan lahan emosi Lysa meletup letup di


dalam benak. Ia sakit hati mendengar Brian berkata demikian tentangnya. Ia sungguh


tidak terima dan ingin sekali melayangkan tamparan di bibir Brian yang


berbicara sembarangan tentang Lysa dan ciuman pertama yang Lysa alami dengan


seorang lelaki.


“Kenapa kau jadi kesal sekali begitu, Sam? Apa


aku tidak boleh berciuman? Apa aku bahkan tidak bisa memakai bibirku untuk


melakukan ciuman dengan seorang laki laki? Kenapa kau berlebihan sekali? Ini kan


urusan pribadiku. Dan apa kau pernah peduli dengan siapa aku berciuman? Tidak


seharusnya Sam menyamakanku dengan wanita murahan yang berkeliaran di luar sana


kan? Jadi kau tidak usah berkata begitu, karena aku berciuman menggunakan


bibirku sendiri, bukan bibirmu!”


Lysa yang juga ikut merasa emosi,


melontarkan kata katanya dengan pedas. Toh, Brian tidak berminat terhadap


dirinya dan tak mengganggapnya apa apa selain sebagai adik. Jadi apa urusan


lelaki itu dengannya? Kenapa ia sok menjadi seorang kakak yang baik pada Lysa


di saat Lysa tidak ingin dianggap adik olehnya?


Lysa ingin dipandang sebagai wanita oleh


Brian. Bukan sebagai adik, tetapi dipandang sebagai wanita. Hanya itu yang Lysa


harapkan dari Brian. Lysa menyadari betul perasaannya terhadap Brian tidak akan


pernah terbalas karena ia tahu Brian hanya mengganggapnya sebagai adik. Namun terlepas


dari perasaannya yang tidak akan pernah terbalas itu, Lysa hanya ingin


dipandang sebagai wanita oleh Brian. Sehingga Brian tidak perlu bersikap


seperti ini menanggapi ceritanya tentang ciuman itu. Lysa merasa, reaksi Brian


terlalu berlebihan.


“Ti... tidak. Bukannya begitu, Lysa. Aku mengatakannya


supaya kau lebih menjaga...”


“Sudahlah.” Lysa dengan tegas memotong


perkataan Brian yang belum usai. Telinganya saat ini sedang tertutup. Ia tidak


dapat menerima apa pun kata yang diucapkan oleh Brian. Lysa sudah terlanjut


kesal dan marah pada lelaki itu.


Kemarahan Lysa hari itu berlanjut sampai


beberapa hari kemudian. Lysa yang biasanya selalu mencari keberadaan Brian,


kini menyibukkan diri dengan urusannya sendiri dan tak pernah menghubungi


lelaki itu. Bahkan satu minggu kemudian.


“Lysa, Mr Brian tadi menanyakanmu. Apa kau


masih tinggal di asrama dan kenapa kau tidak pernah membalas pesannya.”


Dahye baru saja masuk ke dalam kamar asrama


setelah menyelesaikan tugasnya di labolatorium biologi sebagai asisten lab. Dan


ia langsung menceletuk kepada Lysa yang sedang merebahkan tubuh ke atas kasur


sambil memainkan ponsel.


“Ada apa ini? Kalian berdua bertengkar?” Mira


yang sedang di depan cermin untuk menyisir rambut itu sontak menceletuk


mendengar kata kata Dahye, seniornya.


“Tidak. Aku hanya lupa membalas pesan


teksnya saja.” Lysa yang sedang terbaring di atas kasur itu menjawab dengan


acuh tidak acuh.


“Hehei, sudah jelas sekali kalau kalian


sedang bertengkar. Wah, ternyata persaudaraan bisa bertengkar juga. Kalian itu


sungguh sungguh seperti kakak adik saja.” Mira kembali mengimbuhkan.


Benar. Benar sekali.


Memikirkan perkataan Mira, Lysa yang


membawa ponsel itu menurunkan ponsel dari depan wajahnya. Ia memikirkan kembali


perkataan Mira. Benar sekali kalau Lysa dan Brian itu sudah seperti saudara


kandung yang sangat baik satu sama lain namun tetap bertengkar jika ada


kesempatan. Lysa merenungkan hal itu. Dan ia merasa harus menyudahi rasa


marahnya pada Brian yang sudah satu minggu berlalu.


Lysa selalu menyimpan kemarahan dalam waktu


lama. Ia bukan orang yang mudah memaafkan seseorang dan melupakan begitu saja


apa yang baru saja terjadi. Sehingga banyak orang mengira bahwa Lysa adalah


orang yang pendendam. Sebenarnya kata ‘pendendam’ itu juga bukan hal yang salah


untuk mendeskripsikan sikap Lysa. Sejak dulu, ketika ia marah kepada seseorang,


membutuhkan waktu yang sangat lama untuk ia bisa melupakan kesalahan orang


tersebut. sama halnya seperti Brian yang sudah tahu sifat Lysa tersebut


sehingga lelaki itu juga tak banyak berbuat sesuatu dan hanya menunggu Lysa


memaafkannya dengan sendirinya.


“Sepertinya Mr Brian sedang ada urusan


penting dengan keluarganya. Sejak pagi tadi ia ditelepon sama orang tuanya. Jadi,


kurasa kau harus membuka pesan teks Mr Brian, Lysa. Siapa tahu penting.”


Karena nasihat Dahye yang kepribadiannya


sangat ramah dan dewasa seperti malaikat tak bersayap itu, Lysa pun menyerah. Ia


membuka ponselnya dan membuka beberapa pesan teks yang dikirim Brian melalui


aplikasi KakaoTalk. Membaca beberapa pesan teks dari laki laki itu.


‘Baiklah. Aku minta maaf jika kata kataku


kemarin membuatmu terluka.’


‘Lysa, Kim Lysa. Apa kau masih marah


padaku?’


‘Lysa, ayah dan ibu menanyakan keadaanmu. Mereka


akan datang besok lusa. Apa kau bisa menemui mereka?’


Lalu, pesan Brian yang terakhir adalah


pesan teks ‘Baiklah. Kalau kau tidak mau bertemu dengan mereka, aku akan


berkata kalau kau sedang sibuk mempersiapkan banyak ujian sebelum liburan musim


panas’ yang dikirim pagi tadi pada pukul sembilan.


Kadang Lysa merasa kalau perkataan ayahnya


itu sangat benar, bahwa sikapnya masih sangat kekanakan di usianya yang sudah


menginjak 22 ini. Lysa kadang merasa kalau dirinya itu sangat kekanakan dan


tidak terkontrol. Buktinya saja, ia masih memiliki sikap pendendam dan tidak


mudah disembuhkan.


Setelah merenungkan dirinya yang masih


bersikap kekanakan itu, Lysa pun menggerakkan jari tangannya untuk membalas


pesan teks yang dikirimkan oleh Brian


‘Kapan orang tuamu datang lagi, Sam?’


Begitu membalas pesan teks Brian, Lysa


segera beranjak dari tidur. Bangun dan mengenakan mantel panjangnya untuk


keluar ke sebuah tempat.


Tempat yang dituju Lysa adalah labolatorium


biologi. Ia tadi bertanya pada Dahye apakah Brian sedang berada di labolatorium


dan Dahye menjawab kalau Brian tadi sedang mengajar dan mungkin sebentar lagi


akan selesai.


Setibanya di labolatorium, Lysa masuk ke


dalamnya. Mendapati keadaan lab yang kosong tanpa satu orang pun yang mengisi. Ia


hanya seorang diri berada di dalam lab. Menunggu kedatangan Brian untuk


mengatakan suatu hal padanya.


Cklek.


Ketika terdengar suara itu dari arah pintu,


padnngan Lysa sontak menaik. Ia yang sedang berdiri menyandarkan tubuh di salam


satu meja dalam lab itu seketika menaikkan pandangan, menatap brian yang baru


mengajar, tepat seperti presiksi Dahye ketika Lysa bertanya kapan Brian akan


selesai mengajar.


“oh, kau di situ rupanya.”


Brian yang cukup terkejut melihat


keberadaan Lysa itu menggumam pelan. Ia menutup kembali pintu yang ia buka. Berjalan


ke arah meja lab untuk meletakkan bahan ajar yang ia gunakan sesaat lalu. Lalu memakai


pakaian lab yan g berwarna putih lengkap dengan kaca mata minusnya.


“Sam, ada yang ingin kutanyakan padamu,


untuk yang terakhir kalinya.” Lysa berkata sambil berjalan mendekat ke arah


Brian berdiri.


Kening Brian mengernyit dalam. Merasa penasaran


pada apa yang hendak gadis itu tanyakan.


“Kau mau bertanya apa?”


“Sungguhkah ... sungguhkah kau tidak pernah


memandangku sebagai wanita? Apa keberadaanku itu tidak berarti apa apa untukmu


kecuali anggapan bahwa aku ini adalah adik perempuan yang harus kau jaga?” Lysa


bertanya dengan serius.


Brian terdiam sejenak. Pandangannya me-layu.


Ia melemaskan kedua bahu dan segera menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja


tempat beberapa peralatan penelitian biologi diletakkan. Menatap Lysa selama


sejenak. Menatapnya lekat lekat, seolah mencari cari satu jawaban di dalam


kedua mata Lysa yang sendu itu.


“Berapa kali aku katakan, bagiku, kau


adalah adikku. Seperti itu ayah dan ibuku mengenalkanmu padaku dua belas tahun


lalu. Dan sampai detik ini aku merasa bahwa kau adalah adikku, sekaligus


keluarga yang bisa aku ajak berkomunikasi di tempat ini, yang jauh dari kota


asalku.” Brian menjelaskan panjang lebar.


Kepala Lysa mengangguk angguk. Namun sedikit


demi sedikit perasaan getir melanda batinnya. Pandangannya menurun. Ia terlihat


begitu sendu dan merasakan patah hati meski yang ke sekian kalinya dari laki


laki yang sama. Bodoh sekali.


“Lalu kenapa kau sangat marah ketika aku


bercerita tentang ciuman itu?” lanjut Lysa bertanya.


Brian menarik napas panjang. “Itu ... aku


minta maaf, aku memang sudah keterlaluan. Aku hanya merasa syok ketika tahu kau


yang masih kuanggap sangat polos dan lugu itu melakukan ciuman. Tapi aku akui


kalau aku sudah berlebihan. Dan mulai sekarang aku tidak akan mengurusi hal


pribadimu.”


Mendengar kata kata bijak Brian, hati Lysa


bertambah sedih. Meski hanya seujung kuku, ia sempat berharap bahwa reaksi


Brian yang berlebihan hari itu adalah tanda kecemburuan lelaki itu. Tanda bahwa


ia tak erla melihat Lysa bersama laki laki lain, yang artinya, meski hanya


setitik, Lysa memiliki harapan untuk bersama Brian. Namun harapan yang  hanya seujung kuku itu seketika musnah. Lysa


kini benar bnar akan berhenti menyukai Brian. Apa pun yang terjadi, Lysa akan


berhenti menyukai lelaki yang jelas jelas menolaknya dengan banyak alasan itu.


Kepala Lysa mengangguk angguk.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan ingat ingat


hal itu. Dan aku berharap kau tidak pernah berubah, Sam. Sikapmu terhadapku,


caramu memperlakukanku, dan caramu memandangku, aku harap itu semua tidak akan


berubah meski banyak keadaan yang akan berubah nantinya.” Lysa berucap.


Apa yang ingin Lysa ucapkan dan tanyakan


pada Brian telah selesai. Sekarang waktunya pergi. Lysa baru akan beranjak dari


tempat sebelum Brian menghentikan langkahnya dengan bertanya, “Sekarang kau mau


ke mana?”


“aku mau ka Moonlight Coffe, untuk melihat


apakah aku diterima bekerja di sana atau tidak. Hari ini adalah hari pengumuman


siapa saja yang diterima untuk bekerja paruh waktu di sana. Jadi aku harus


segera ke sana dan melihat apakah ada namaku yang tercantum di sana.” Lysa


menjawab.


“Oh, begitu.”


Setelah itu Lysa benar benar pergi


meninggalkan Brian. Meninggalkan lab biologi. Berjalan menuju Moonlight Coffe


dengan perasaan patah hati yang ia rasakan. Baiklah. Mulai sekarang, ia akan


mengganggap Brian sebagai kakak laki lakinya—seperti yang Brian lakukan


terhadapnya. Tidak ada yang perlu Lysa khawatirkan. Apa pun yang ia lakukan


tidak akan memengaruhi cara pandang Brian terhadapnya. Sekarang saatnya Lysa


bersiap siap untuk kehadiran orang baru dalam kehidupannya. Kalau dipikir


pikir, perkataan ayahnya tempo hari ada benarnya juga. Kalau sekarang adalah


waktu yang tepat untuk Lysa menemukan seorang laki laki yang cocok dan


berkencan dengannya.


Sambil berjalan menuju Moonlight Coffe,


Lysa menebarkan pandangan ke sekeliling. Lihatlah, para mahasiswa lelaki yang


berjalan di sekelilingnya, semuanya tampan dan semua lelaki itu berpotensi


untuk menjadi kekasihnya. Ternyata, dunia ini sangat indah jika dipenuhi oleh


laki laki tampan. Lysa baru menyadari, kalau mahasiswa laki laki kampusnya itu


tampan tampan dan memilki tubuh yang tinggi seperti yang ia lihat di drama


Korea.


Selama ini Lysa tak memerhatikan laki laki


di sekelilingnya karena terlalu sibuk memerhatikan Brian. Ia tak sempat menatap


laki laki lain karena yang ada di dalam hatinya adalah Brian. Ia terlalu sibuk


mengurusi perasaannya pada laki laki yang sudah jelas menolak perasaannya sejak


awal. Namun kini Lysa tersadar, ternyata ada banyak sekali laki laki tampan


yang bisa ia jadikan sebagai kekasih.


Karena pandangan Lysa yang terlalu luas itu


dipenuhi oleh laki laki tampan, ia sampai tak menyadari kalau saat ini ia sudah


tiba di Moonlight Coffe. Tepat di depan kafe tersebut, terlihat seorang laki


laki yang Lysa kenal baru saja keluar dari mobil.


“Oh, Ajeossi!”


Lysa menceletuk sambil melambai lambaikan


tangan menyapa Mino yang baru saja turun dari mobil. Langkahnya pun otomatis


mencepat, setengah berlari menghamiri Mino.


“Oho, kau sudah lihat pengumumannya?” tanya


Mino begitu Lysa tiba di hadapannya.


“Aku baru akan melihatnya. Entah mengapa


aku sangat gugup. Ajeossi, apa aku diterima bekerja paruh waktu di sini? Aku terlalu


gugup sampai sampai mataku terasa buram untum membaca pengumuman di dalam.”


Lysa menceletuk, membuat Mino seketika terkekeh mendengar ucapan konyolnya.


“Ah, aku baru tahu kalau mata seseorang


bisa buram ketika merasa gugup. Hahaha.” Mino tertawa lepas mencerna lelucon


Lysa.


Lelaki itu menertawakannya. Tapi, Lysa


hanya diam dan tersenyum melihat Mino. Ia kira Mino adalah laki laki yang tida


bisa tertawa seperti itu. Selama ini Lysa hanya melihat sosok Mino yang muram,


suntuk, pedih, dan kalut dalam kesedihan. Dan baru kali ini Lysa melihat Mino


tertawa. Ternyata, Ajeossi yang satu ini sangat menawan saat tertawa.


Lama kelamaan Lysa menyadari kalau kata


katanya tadi itu tidak masuk akal. ia memang cukup gugup. Tapi tak sampai


membuat matanya buram, itu hanya candaannya saja supaya Mino mau membocorkan


padanya pengumumannya.


“Apakah tidak? Hehehe.” Lysa menggumam


gumam sambil tersenyum kikuk dan menggaruk garuk rambutnya yang tidak gatal.


“Jadi kau belum melihat pengumumannya? Sebenarnya


kau tidak perlu datang kemari untuk melihat pengumuman, karena kau bisa


melihatnya melalui situs resmi Moonlight Coffe.” Mino menjelaskan.


“Oh ya? Ah... aku baru tahu. Aku pikir aku


harus datang ke sini untuk melihat pengumuman.” Lysa menggumam gumam.


“Sekarang kau bisa coba kunjungi situs


resmi Moonlight Coffe dan melihat apakah ada namamu di sana,” kata Mino.


Itu membuat Lysa buru buru mengeluarkan


ponsel dari tas bahu yang ia bawa. Membuka situs resmi Moonlight Coffe sesuai


alamat URL yang Mino berikan. Lalu mengecek apakah namanya tercantum dalam


pengumuman siapa saja yang dipekerjakan oleh Moonlight Coffe.


“Kenapa aku tidak menemukan namaku?” Lysa


menggumam bingung sambil menelusuri layar ponselnya untuk mencari namanya ‘Kim


Lysa’. Dan beberapa detik kemudian...


“Oh! Aku diterima. Wahh. Aku lolos,


Ajeossi! Aku sekearang bukan pengangguran!” Lysa berteriak senang begiu melihat


namanya tertulis di dalam daftar. Dengan bola matanya yang membulat antusias,


Lysa menaikkan pandangan. Ia menyeru senang sambil menatap Mino tak percaya.


“Ajeossi, aku sekarang punya pekerjaan.


Ajeossi! Terima kasih Ajeossi!!!”


Saking senangnya, Lysa yang menyeru di


depan Brian itu melompat lompat kegirangan dan langsung memeluk lelaki jakung


yang ada di depannya. Apa yang Lysa lakukan itu membuat Mino tersentak kaget. Namun


Lysa yang sedang antusias itu tidak menyadari kalau dirinya sedang memeluk seorang


Ajeossi.


“Yeyy! Aku sekarang bukan pengangguran. Aku


punya pekerjaan sampingan!!”


**