Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hadiah tak terduga



 


 


“Ehmn...”


Aku berdeham ringan melihat Yebin yang tampak tersipu mendapat pujian pujian itu. Ahh, tiba tiba aku merasa sangat kesal. Kenapa juga lelaki itu terpusat pada Yebin dan melayangkan pujian pujian tidak biasa dengan tatapan penuh daya tarik lelaki iti.


Yebin yang sedang tersipu itu langsung kusadarkan. Aku menyenggol lengannya lalu membisikinya.


“Cepatlah naik ke atas.”


“Kenapa?” protesnya pelan.


“Pokoknya naik saja. Atau bereskan kasur yang penuh pakaian dalammu,” lanjutku berbisik pada Yebin dengan nada yang sedikit kutekan.


Meski tampak kesal karen tiba tiba kusuruh naik, Yebin pun beranjak dari duduk. Ia melemparkan tatapan penuh protes padaku. Lalu beranjak pergi meninggalkanku di sofa. Naik tangga menuju lantai dua dan segera tenggelam ke dalam kamar.


“Ehmn,”


Aku kembali berdeham sambil menguntai senyuman tipis di bibi. Lalu mengembalikan pandangan pada Leo Park yang duduk di seberang meja. Setelah beberapa saat pembahaan teralih pada hal lain, aku pun berniat mengembalikan pembicaraan kami tentang bisnis.


“Apa sebesar itu peluangnya jika berbisnis di bidang fashion? Bagaimana dengan kosmetik, sepertinya peluang pasarnya juga bagus,” kataku.


“Tentu, kosmetik juga bagus peluangnya. Tapi jika hanya kosmetik saja, masih sangat kurang. Perlu ditunjang oleh produk lain yang lebih menjanjikan. Sekarang tren fashion berganti setiap musimnya. Banyak orang suka berbelanja di marketplace luar negeri untuk mendapatkan barang branded dari luar negeri. Jika boleh usul, kenapa Anda tidak mencoba bermitra dengan Biniemoon? Selama ini produk yang di jual Biniemoon adalah produk dalam negeri, produksi desainer atau pun Brand ternama. Jika Anda bisa menggandeng Biniemoon dalam berbisnis fashion, peluang pasarnya akan sangat bagus. Dengan kekuasaan Moonlight Coffe dan dan brand kopinya yang sudah dikenal banyak orang, Anda cukup dipercaya untuk bisa mendatangkan barang fahion branded dari luar negeri. Jika dipadukan antara Biniemoon dengan produk dalam negerinya dan Moonlight Retail dengan barang impornya, peluangnya akan sangat bagus. Keduanya akan mendapat keuntungan yang besar.”


Selagi ia menjelaskan semua itu dengan detail dan gamblang, aku mendengarkan. Penjelasannya cukup baik untuk bisa kumengerti. Aku merasa usulannya itu bukan hal yang buruk. Tapi, ada suatu hal yang masih janggal dalam benakku.


“Tetaoi jika Moonlight Retail menggandeng Biniemoon untuk bekerja sama, bukannya itu sama saja dengan memanfaatkan popularitas Biniemoon untuk Moonlight Retail? Selama ini Moonlight dikenal dengan kafe dan brand kopinya, tetapi tidka dengan barang barang fashion. Otomatis akan membutuhkan banyak waktu untuk masyarakat bisa mengenali Moonlight Retail. Sedangkan Biniemoon sudah cukup terkenal dengan barang barang fashionnya yang dijual di sana. Jika saya menggandeng Biniemoon untuk bisnis ini, sama saja saya memanfaatkan Biniemoon yang sudah banyak dipercaya orang orang untuk berbelanja produk fashion.”


Leo Park tampak merenungkan kata kataku ini cukup dalam. Lalu ia bertanya, “Alih alih memanfaatkan itu sendiri, keuntungan yang akan didapat Biniemoon juga akan sangat besar. Dalam membangun bisnis, ungkapan saling memanfaatkan itu berarti kerja sama.”


Aku merenung dalam dalam. tetap saja, aku merasa tidak nyaman.


“Mungkin benar jika Biniemoon juga akan mendapat keuntungan besar. Tetapi dibanding semua keuntungan yang akan didapat, usaha dan kerja keras seperti apa yang selama ini dilakukan istri saya untuk mempertahankan dan mengembangkan Biniemoon, juga harus dipertimbangkan. Saya mengenal istri saya sudah cukup lama. Dan saya bersamanya di setiap tahapan perkembangan Biniemoon. Lebih dari siapa pun, saya tahu usaha sekeras apa yang istri saya lakuan untuk Biniemoon yang sekarang. Jadi perihal ‘memanfaatkan’ seperti yang Anda katakan tadi, masih harus saya pertimbangkan matang matang. Bagaimana pun, Biniemoon adalah milik istri saya, hasil dari semua keringat dan tenaga bahkan pikiran yang istri saya kerahkan dalam waktu yang tidak sebentar. Saya akan mempertimbangkan usulan Anda ini dan memikirkannya lebih dalam lagi,” ucapku panjang lebar.


Leo Park yang tampak memahami ucapanku itu segera beranjak dari duduk.


“Kalau begitu, saya pamit dulu. Jika Anda sudah mengambil keputusan atau ada yang ingin didiskusikan dengan saya, silakan langsung hubungi saya.”


Selagi mengatakan hal itu, Leo Park mengulurkan tangannya. Berjalan tangan denganku. Lalu pamit undur diri setelah membicarakan hal yang serius ini.


Sekepergiannya Leo Park dari rumahku, Yebin yang telah selesai merapikan kamar itu berjalan menuruni tangga. Dari arah tangga itu ia menceletuk begitu melihatku berjalan menjauhi sofa sambil membawa dua cangkir teh kembali ke dapur untuk mencucinya.


“Apa yang sebenarnya kalian bicarakan itu sampai sampai kau menyuruhku meninggalkan kalian berdua, Oppa?” celetuk Yebin yang baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu. Ia berjalan menghampiriku yang sedang membilas cangkir teh ini dengan air yang mengalir dari wastafel.


“Bukan apa apa, hanya masalah bisnis,” sahutku sambil meletakkan dua cangkir yang telah kering ini di gantungan cangkir keramik.


Aku yang selesai mencuci ini mengibas ngibaskan kedua tanganku yang basah. Lalu mengambil lap bersih dan mengeringkan tanganku.


“Hanya masalah bisnis? Tapi aku tidak boleh mendengarnya? Oppa, kau mencurigakan sekali,” cetus Yebin begitu tiba di belakangku.


Setelah selesai meneringkan tangan, tubuhku pun berbalik menghadap yebin. Kutatap wajah sebalnya. Istriku yang sedang sebal itu memberengutkan wajah dengan bibirnya yang memaju. Ia tampak seperti anak anak yang sebal karena tak dibelikan es krim saat pulang sekolah.


“Bukannya begitu. Aku menyuruhmu naik bukan karena tak boleh mendengarkan percakapan bisnisku dengan Leo Park, tapi karena kau terlihat sangat senang mendapat pujian darinya,” jawabku sambil merutuk. Aku yang juga dibuat kesal karena hal itu, menenggerkan kedua tanganku di pinggang untuk lanjut mengomeli Kang Yebin. “Aku hanya kesal saja melihatmu tersipu senang karena pujian dari lelaki itu. Apa kau sesenang itu mendapat pujian? Sesenang itukah kamu mendaat pujian dari laki laki selain suamimu sendiri? Aku benar benar tidak mengerti kenapa kau begitu senang sampai tersipu malu mendengar pujian seperti itu dari laki laki lain, Kang Yebin.”


Yebin yang sampai beberapa waktu lalu terlihat kesal, langsung melunak. Ia memasang raut wajah tidak bersalah sambil melangkah mendakat padaku. Menurunkan kedua tanganku ini dari pinggang. Setelah itu ia memeluk pinggangku dan mengelus ngelus dadaku.


“Tidak, Oppa. Aku tidak senang sama sekali. Aku hanya bersikap sopan padanya,” desah Yebin dengan nada suaranya yang manja. Ia berusaha membujukku dengan belaian lembut di dadaku yang sedikit demi sedikit membuat kekesalanku ini meredak.


“Kang Yebin yang di awal tadi melemparkan sindiran itu ingin bersikap sopan padanya? Dari awal bertemu kau juga yang bilang padaku, kalau kau sangat tidak menyukai sikap laki laki itu. tapi kau ingin bersikap sopan padanya?” Aku menimpali.


“Ya. Aku memang tidak menyukai caranya bersikap dan berbicara. Sebelum akhirnya aku tahu kalau dia adalah pelanggan setia Biniemoon. Mana mungkin aku memperlakukan pelanggan setia Biniemoon dengan kasar lagi? Sesama pebisnis, Oppa pasti tahu maksudku kan?” lanjutnya menjelaskan. Baiklah. kali ini aku berhasil dibujuknya.


Aku mencengkeram kedua bahu Yebin dan sedikit menjauhkannya dari tubuhku. Kutatap kedua mata Yebin penuh peringatan.


“Baiklah. kali ini aku akan memafkanmu, Nyonya Moon. Tapi lain kali jangan termakan oleh pujian laki laki lain apalagi tersipu karenanya. Kau tahu banyak sekali laki laki jahat di luar sana yang suka menggoda wanita yang bahkan sudah memiliki suami. Karena itu hati hatilah.”


Sembari menguntai senyuman yang sangat indah, Yebin menganggukkan kepala. “Baiklah, Sayangku. Kau tidak perlu khawatir. Istrimu yang cantik ini hanya memiliki satu hati yang semuanya bagiannya sudah menjadi milikmu dan hanya untuk kamu seorang saja.”


Kini aku yang tersipu karena kata kata Yebin. Aku merapikan helaian rambut Yebin di atas keningnya sambil bergumam, “Istriku ini, makin hari makin cantik saja. Sekarang sudah tidak ada orang di rumah. Bagaimana jika kita melanjutkan yang tadi?”


“Tidak apa apa. Nanti kita bereskan lagi.”


Setelah mendapat lampu hijau dari tatapan Yebin yang bersinar seperti lentera itu, aku pun melancarkan aksiku. Aku hendak mencium bibirnya yang menawan itu sebelum suara bel rumah kembali menghentikan kami.


Ting tong ting tong.


“Sial! siapa lagi itu yang datang?” desahku kesal. Bibiku yang haus sentuhan ini hampir saja menyentuh permukaan bibir Yebin. tetapi suara bel rumah lagi lagi menghentikanku.


“Selamat pagi! Anda mendapatkan paket.”


Huh! Ternyata itu adalah pengantar paket. Cham.... waktu yang sangat tepat untuk mendapatkan paket.


***


Author POV


Alunan musik jazz menjadi teman yang syahdu seorang Moon Hun yang sedang menunggu kedatangan kakak dan juga kakak iparnya. Ini adalah hari ulang tahun Hun yang ke 30. Dengan niat merayakan hari ulang tahun pertamanya di usia tiga puluhan, Hun mengundang Yul dan juga Yebin untuk dayang di restoran Asia yang memiliki interior dan desain ruangan yang sangat indah.


“Hun, kenapa kau sendirian saja?”


Suara celetukan itu datang dari Yul yang tengah menggandeng lengan istri cantiknya. Kepala Hun seketika itu tertoleh. Seketika untaian senyuman indah terpapar di wajah Hun melihat kedatangan kakaknya.


“Jina masih ada urusan bersama kakaknya. Nanti dia akan menyusul,” jawab Hun.


Seketika itu Yul menarikkan tempat duduk untuk istrinya, Yebin. membiarkan wanita itu duduk dengan nyaman. Lalu ia beranjak duduk berhadap hadapan dengan Hun yang hari ini terlihat bahagian.


“Wahh... tidak terasa. Adikku ini usianya sudah berkepala tiga. Padahal aku masih mengingat dengan baik saat menyuapimu makan bubur di usia lima tahun. Juga masih mengingat saat mengajarimu menendang dengan baik di permainan sepak bola. Sekarang kau sudah beranjak tiga puluh tahun rupanya. Karena usiamu sudah berkepala tiga, cobalah untuk menjalin hubungan dengan lebih serius lagi, Hun-a. Kau juga harus segera menikah. Kau tahu, sebenarnya aku ini sedikit terlambat untuk menikah. dan aku tidak ingin kau juga terlambat sepertiku. Mumpung usiamu baru menginjak tiga puluh, kau juga harus memikirkan pernikahan. mempersiapkan pernikahan lebih awal lebih baik dari pada tidak menyiapkan sama sekali. nanti saat kau benar benar menikah, aku akan memberimu satu unit rumah di dekat rumahku sana.”


Belum sampai sepuluh menit tiba di tempat ini, Yul sudah bertutur panjang lebar untuk adiknya yang sudah benar benar beranjak menjadi dewasa. Ia bahkan sudah berencana mempersiapkan hadiah rumah untuk Hun di hari pernikahannya. Sekitar satu minggu yang lalu, Yul telah menandatangani surat tanah sekaligus kepemilikan rumah besar yang berdiri di sebelahnya. Untuk saat ini ia masih menyewakan rumah itu. tetapi sebetulnya ia membeli rumah itu untuk menghadiahkan kepada Hun di hari pernikahan sang adik. Alasannya, karena ia ingin hidup berdekat dekatan dengan Hun, hidup bertetangga.


Mendengar hal itu, Hun tertawa terbahak bahak. Ia tak mengira kakaknya itu sudah berpikir sejauh ini tentang dirinya dan bahkan sudah mempersiapkannya rumah.


“Hyung, kenapa kau langsung mengomel begitu datang? Aku ini kan sedang ulang tahun. Jadi berhentilah mengomeliku. Jika saatnya menikah nanti aku akan tetap menikah. tidak perlu kau mencemaskanku,” rutuk Hun yang merasa kakaknya itu berlebihan.


“Aku hanya mengkhawatirkanmu sebagai kakak, Hun-a.”


“Tapi tetap saja, ini kan hari ulang tahunku. Jadi tolong jngan omeli aku sehari ini saja,” rutuk Hun.


“Aku tidak mengomelimu, hanya sedikit menasihatimu.”


“Sudahlah, Sayang.” Yebin yang merasa lelah mendengar kedua saudara laki laki ini beradu mulut, segera menengahi. Kedua kakak adik itu memang selalu bedebat ketika sedang bertemu. Meski sebenarnya perdebatan ringan itu hanya sebgai bentuk kasih sayang mereka satu sama lain. “Hun Oppa sedang berulang tahun. Jadi lakukan saja apa yang dia minta, Sayang, jangan mengomelinya,” ucap Yebin pada suaminya.


Setelah itu Yul pun menghela napas panjang. Karena tak ada yang meihaknya, ia pun terdiam.


Kemudian Yebin mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Satu kotak hadiah yang segera diulurkannya pada Hun.


“Selamat ulang tahun, Oppa. Hadiah ini tidak seberapa, tapi semoga kau suka.”


Hun menyambut hadiah itu dengan seutas senyum di bibir. “Terima kasih, Yebin-a.” Lantas membuka kotak hadiah pemberian Yebin. Satu set jam tangan canggih edisi terbaru dari brand ternama Korea Selatan. Masih jarang yang memilikinya dan mencari punn cukup susah untuk orang awam. Tetapi karena Yebin adalah pemilik Biniemoon, tentu bukan hal yang sulit untuk mendapatkah jam tangan canggih itu.


“Terima kasih banyak. Aku akan menggunakannya dengan baik.”


Setelah itu Hun menutup kembali kotak hadiahnya. Meletakkan kotak hadiah itu ke pinggir meja.


“Yang ini hadiah dariku.”


Yul pun mengulurkan satu kotak hadiah seukuran kotak jam tangan pemberian Yebin. Dengan senang Hun pun menerima hadiah itu dan langsung membukanya.


Raut wajah Hun sontak berubah. Antara terkejut, kesal, sekaligus jijik. Yang ia lihat itu bukan set jam tangan atau barang bagus seperti yang diberikan Yebin. Melainkan satu lusin kond*m ukuran super.


“Apa apaan ini, Hyung?!” protes Hun. Ia beteriak sambil menutup kembali kotak hadiah itu dengan wajah yang memerah karena malu.


**