
Bab 20
Obat penenang yang paling mujarab
Lysa sungguh terkejut ketika keluar dari kelas begitu selesainya perkuliahan dan melihat seseorang menunggu di depan kelasnya. Tidak seperti biasanya, Brian yang menunggu di depan kelas Lysa dengan membawa sebotol minuman soda itu membuat orang orang yang baru keluar dari kelas mendesus keheranan. Teman teman kelas Lysa, yang semua tahu tentang hubungan ‘baik’ antara Lysa dengan Brian itu mendesus desus pelan sambil melirik ke arah Lysa dengan pandangan aneh. Sementara Lysa sendiri menahan diri untuk tidak segera keluar dan menunggu sampai orang orang di dalam kelas berhamburan keluar.
Begitu semua orang telah keluar dari kelas, dan menyisakan Lysa seorang di dalamnya, Lysa pun beranjak keluar. Ia menghampiri Brian yang akhir akhir ini bersikap aneh.
“Sam, apa yang kau lakukan? Untuk apa kau ada di sini? Apa Sam tidak ada kelas mengajar siang ini? Atau tidak ada pekerjaan di lab biologi?” rutuk Lysa begitu tiba di hadapan Brian. Brian yang memasang wajah tak berdosa itu hanya mengernyirkan kedua alis dan menatap Lysa tanpa memberikan jawaban.
Suara desas desus itu masih terdengar di telinga Lysa. Rupanya, orng orang yang tadi keluar dari kelsnya belum benar benar pergi. Mereka menggerombol di ujung lorong dan melirik ke arah Lysa dan juga Brian yang sedang ada di depan kelas.
Melihat hal itu, Lysa yang merasa tidak nyaman langsung menarik tangan Brian. Gadis itu menarik Brian untuk masuk ke dalam kelas bersamanya. Begitu masuk ke dalam kelas, Lysa mengunci pintunya dan berhadap hadapan dengan Brian.
“Sam, kau tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi padamu? Dan ada urusan apa kau menungguku di depan kelas?” Lysa kembali bertanya kepada Brian yang sikapnya sungguh aneh. Tidak biasanya laki laki itu seperti ini. Dan, ini pertama kalinya Brian mencarinya ke depan kelas bahkan sampai menunggu Lysa sampai selesai kuliah.
Terus terang saja. Sikap Brian terhadap Lysa akhir akhir ini berubah. Entah bagaimana ceritanya, laki laki yang biasanya sungguh cuek dan lebih sering bersikap dingin kepada Lysa itu mendadak menjadi sangat perhatian padanya. Brian jadi sering mengirim pesan ke Lysa. Pesan pesan tidak jelas yang hanya bertanya ‘kau ada di mana?’ ‘apa kau sudah makan siang?’ ‘apa hari ini kau juga bekerja di kafe?’ apa kau sedang mengikuti kelas di kampus?’. Yang jelas, semua pertanyaan yang dikirimkan Brian melalui pesna teks itu hanyalah pertanyaan basa basi yang memperlihjatkan kalau laki laki itu penasaran apa yang sedang Lysa lakukan, di mana Lysa berada, bersama siapa Lysa berada, apa ia sudah makan atau belum.
Jika itu dulu. Hanya jika saja Brian melakukan hal itu sejak dulu, mungkin Lysa akan menyukainya dan akan memberikan balasan secepat mungkin. Namun karena sekarang perasaan Lysa sudah banyak berubah, dan Lysa sudah banyak mengalami perubahan (lebih dewasa), Lysa merasa terganggu setiap kali Brian mengiriminya teks demikian. Bukan hanya merasa terganggu, tetapi Lysa juga merasa risi. Jika sempat ia akan membalas pertanyaan Brian itu seadanya. Namun jika tidak sempat, maka Lysa tidak akan membalas pesan teks itu sampai akhirnya Brian mengiriminya pesan teks kembali.
Secara garis besar, sikap Brian sungguh berubah. Pun perubahan itu terjadi dengan sangat drastis. Sampai sampai Lysa merasa bingung dan pusing tidak habis pikir.
Di saat Lysa masih memiliki harapan untuk tetap mempertahankan perasaannya pada Brian, laki laki itu menjauh dan tetap bersikap dingin kepada Lysa. Tetapi di saat Lysa telah memutuskan untuk berhenti menyukai Brian dan beralih menyukai laki laki yang dapat lebih dipercaya dari Brian, sikap Brian justru berubah dan makin mendekatkan diri kepada Lysa yang jelas jelas mengabaikannya dengan berbagai cara.
“Tidak apa apa. Terakhir kali bertemu denganmu, aku merasa telah melakukan kesalahan. Jadi aku datang untuk meminta maaf dan memberimu ini.”
Akhirnya, setelah beberapa saat belalu, Brian angkat suara. Ia mengulurkan sekaleng minuman berkarbonasi yang sangat segar untuk diminum di siang hari yang panas ini.
Lysa merasa ragu ragu untuk menerima kaleng soda itu. Namun tangannya tetap terulur untuk menerima minuman pemberian Brian itu.
“Kesalahan?” gumam Lysa tidak mengerti. Ia mencoba mengingat ingat apa kesalahan Brian pada pertemuan terakhir mereka beberapa hari lalu. Dan akhirnya ia teringat. Kesalahan Brian adalah telah menyinggung perasaan Lysa yang kebetulan hari itu sedang sensitif.
“Kesalahan yang membuatmu salah paham dan akhirnya terluka. Jadi, maafkan aku.” Brian lanjut menjelaskan. Laki laki itu lalu membenarkan kaca mata yang terpasang di wajahnya.
Baiklh. Tidka ada alasan untuk Lysa menolak minuman pemberian Brian itu. Lagi pula, jika diingat hubungan baik mereka yang sudah berlalu selama dua belas tahun, perkara sekecil itu tidak menjadi masalah. Toh, bukan pertama kali Brian membuat Lysa salah paham dalam mengartikan ucapannya dan akhirnya terluka.
“Tumben sekali kau meminta maaf, Sam. Padahal sebelumnya, sekali pun kau bersalah dan membuat preasaanku terluka, kau tidak pernah mengakui itu dan tidka pernah meminta maaf. Tumben sekali kau seperti ini, Sam.”
Lysa bergumam gumam sambil melayangkan sindiran pada Brian yang tampak memutar memorinya ke belakang untuk mengingat ingat apakah dirinya itu sepreti yang Lysa katakan. Dan sepertinya, benar. Brian memang sering membuat kesalahan pada Lysa dan sering membuatnya kecewa apa lagi terluka. Namumn Brian tidak pernah berinisiatif untuk meminta maaf apalagi menyogok Lysa dengan minuman semacam ini.
“Apa benar aku begitu?” Brian yang merasa tak yakin itu menanyakan kebenarannya kepada Lysa. Masalahnya, ia tidak pernah merasa menyakiti Lysa dan membuatnya merasa kecewa. Brian merasa tidak pernah melakukan kesalahan pada Lysa. Namun melihat Lysa yang sepertinya mengatakan yang sejujurnya, membuat Brian meragu dan perlahan lahan benaknya dipenuhi rasa bersalah.
Melihat raut wajah Brian yang dipenuhi rasa bersalah dan keragu raguan itu membuat Lysa tersenyum simpul. Ia hanya membatin. Mungkin Brian hanya ingin memperbaiki hubungan persaudaraan mereka. benar. Hubungan persaudaraan mereka, alias hubungan kakak adik mereka.
“Terima kasih. Aku memang sedang haus.”
Lysa tersenyum sambil mengacungkan minumannya. Lalu membuka minuman berdosa terebut. Seketika pengait kaleng dibuka, terdengar suara cissss dari kaleng soda tersebut. Dan setelah Lysa itu Lysa langsung meneguknya. Perlahan lahan rasa segar dari minuman tersebut memenuhi rongga tenggorokan Lysa dan menyegarkan tubuhnya dari hawa musim panas yang mulai datang dan juga hawa sumpek setelah mengikuti kelas kuliah sejak pagi hingga siang.
“Ahh, segar sekali.”
“Hari ini kau juga bekerja?” tanya Brian pada Lysa yang baru saja meneguk setengah kaleng dari minuman soda yang diberikannya.
Kepala Lysa mengangguk angguk. “Hmm. Aku bekerja paruh waktu di kafe hari ini, sampai jam lima sore.”
Setelah mendengar jawaban dari Lysa, raut wajah Brian tampak berubah. Laki laki itu mengembuskan napas sangat ringan sampai tidak dapat terdegar oleh telinga Lysa.
“Apa setiap hari kau bekerja?” tanya Brian kembali.
Sambil mengingat ingat jadwalnya, Lysa menjawab. “Hari senin sampai sabtu aku bekerja. Kecuali hari kamis aku hanya mengambil shif malam. Dan hari minggu fleksibel, bisa bekerja dan bisa tidak. Kenapa Sam menanyakan semua itu?” Begitu selesai menjawab, Lysa balik bertanya. Ia merasa aneh karena dari tadi Brian terus bertanya tentang pekerjaannya.
Brian menggelengkan kepala. Tetapi raut wajahnya terlihat kecewa.
“Aku hanya ingin sesekali mengajakmu jalan jalan keluar, seperti dulu. Tapi kelihatannya kau sibuk sekali.” Brian berucap pelan, bersama raut wajah kecewanya yang tak dapat ia tutupi.
Kedua mata Lysa memicing. Ia tak percaya Brian mengatakan hal seperti itu.
“Dulu saja aku harus memaksamu berulang kali supaya kau mau mengajakku jalan jalan keluar. Sekarang yang berinisiatif mengajakku jalan jalan keluar? Yang benar saja! Dan bukannya kau yang lebih sibuk dari pada pekerja paruh waktu sepertiku?” Lysa merutuk rutuk karena tak percaya Brian berkata seolah olah Lysa lebih sibuk darinya. Padahal, laki laki jauh lebih sibuk dari Lysa. Jadwal mengajar di kelas, dan yang paling banyak adalah melakukan penelitian di labolatorium biologi. Dan Brian selalu menggunakan alasan kesibukannya ketika ingin membatalkan janjinya dengan Lysa atau membuat Lysa menunggu lebih lama lagi untuk memenuhi suatu janji.
Menanggapi hal itu, Brian hanya terdiam. Seolah olah ia tidak memiliki alasan untuk menyanggah, menyalahkan, atau membenarkan argumen Lysa. Lelaki itu hanya diam dan mengernyitkan kedua alisnya seolah tidak terjadi apa apa. Dan, jika sudah seperti ini, Brian tidak mau mendengar argumen Lysa dan tetap kukuh pada keinginannya.
“Jadi kapan kau bisa aku ajak keluar?” lanjut Brian bertanya. Wajahnya yang terlihat lebih sendu dari biasanya itu membuat Lysa merasa ada yang aneh dari lelaki itu.
“Kenapa kau ingin sekali untuk keluar Sam? Apa ada yang tidak beres?”
Bodohnya Lysa bertanya ‘apa ada yang tidak beres’ kepada Brian yang jelas jelas tidak akan memberi tahunya. Ketika Brian terlihat sendu seperti itu, kemungkinan besar ada yang tidak beres pada pekerjaanya, ada permasalahan dalam keluarganya, atau ia memiliki permasalahan pribadi lainnya. Alasannya pasti salah atu di antara ketiga tebakan Lysa itu. Dan, mirisnya, setiap kali Brian terlihat sendu dan Lysa bertanya apa dia baik baik saja, jawaban brian selalu sama; ‘ya, aku baik baik saja’. Artinya laki laki itu tidak mau membagi kesedihannya dengan Lysa dan tidak mau Lysa tau bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi tidak baik baik saja dan ada suatu permasalahan dalam hidupnya.
“... Ah, tidak. Lupakan saja pertanyaanku tadi. Jadi untuk apa kau ingin sekali mengajakku keluar?” Karena sadar diri, Lysa mengoreksi pertanyaannya dan kembali bertanya dengan benar kepada Brian.
Saat ini brian sedang menyandarkan tubuhnya ke atas bangku kuliah. Ia setegah duduk di pinggiran bangku kuliah itu. Dan tiba tiba memeluk perut dan pinggang Lysa, serta menyungkurkan kepalanya di depan dada sang gadis.
Lysa yang terkejut itu segera menceletuk, “Oh! Sam... Ada apa? Kenapa tiba tiba ....”
“Kua tahu, kalau aku tidak sedang baik baik saja. Tapi kenapa kau tidak bertanya apakah aku baik baik saja? Kenapa kau tidak seperti Kim Lysa yang dulu kukenal? Kenapa kau tidak lagi peduli padaku dan sibuk dengan urusanmu sendiri?”
Sembari memeluk tubuh Lysa, Brian mengutarakan semua itu. Ia sungguh tidak tahan dengan semua perubahan Lysa. Ia menginginkan Lysa kembali seperti dulu. Selalu mendatanginya terlebih dahulu dan menyapanya dengan semangat. Selalu mengajaknya makan bersama dan merengek meminta jalan jalan atau pergi ke sebuah tempat. Brian rindu diganggu oleh Lysa di sela sela pekerjaannya. Dan rindu pada Lysa yang dulu sangat perhatian padanya dan selalu melontarinya banyak pertanyaan tidak terduga.
“Sam... Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Sikapmu sangat tidak biasa. Apa yang terjadi padamu?”
Merasa bingung, Lysa hanya dapat melontari Brian beberapa pertanyaan. Lysa sungguh tak mengerti mengapa Brian menjadi bersikap aneh dan manja seperti ini. Padahal sebelumnya lelaki itu berkata kalau dirinya tidak menyukai wanita yang manja.
Mendengar pertanyaan Lysa itu, perlahan lahan Brian meregangkan pelukannya. Ia lantas mendongakkan kepala. Menatap kedua bola mata Lysa yang memperlihatkan tanda tanya besar atas perubahan sikapnya yang tidak biasa ini.
“Aku tidak baik baik saja, Lysa. Semua yang kulakukan tidak berjalan dengan lancar dan aku merasa sangat lelah. Ayah dan ibuku menekanku untuk segera menikah dengan wanita yang kau lihat di restoran itu. Tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Aku sama sekali tidak ingin bersamanya dan tidak ingin menikah dengannya.”
Brian, untuk pertama kalinya, menceritakan permasalahan pribadinya kepada Lysa, satu satunya orang yang bisa mendengar ceritanya dan mendengar semua keluh kesahnya. Brian selama ini tidak menyadari bahwa satu satunya orang yang ia miliki di negeri ini adalah Lysa. Ia tidak memiliki siapa siapa selain gadis itu. Teman berceritanya hanyalah Lysa seorang. Dan Brian tidak menyadari itu sampai akhirnya perlahan lahan Lysa menjauh darinya dan membuatnya benar benar merasa kosong, kesepian, dan hampa. Seolah olah ia tak memiliki siapa siapa di dunia ini.
Sepanjang perjalanan hidupnya, Brian tidak pernah mengenal yang namanya wanita. Sejak kecil ia hanya terlalu fokus pada tujuan dan cita citanya. Bahkan ketika usianya mengunjak usia dua puluh, ia tidak bersentuhan sama sekali dengan yang namanya cinta dan hanya terfokus sepenuhnya pada tujuan yang ingin ia capai. Brian sama sekali tak pernah dekat dengan wanita. Dan satu satunya wanita yang ada di hidupnya, selain ibunya, adalah Lysa yang selama ini dianggapnya sebagai adik perempuannya sendiri. Paling tidak, dengan mengenal Lysa, hidupnya tidak pernah kesepian. Karena Lysa selalu ceria dan membawa warna baru untuk Brian. Brian merasa keberadaan Lysa itu sungguh berharga. Namun sampai detik itu, ia tidk bsia menganggap Lusa apa apa selain sebagai adik perempuannya. Sampai akhirnya lelaki itu menyadari bahwa kedudukan Lysa lebih berarti dari pada adik perempuan yang selama ini ia yakini.
Brian merasa sangat kosong dan kesepian ketika Lysa perlahan lahan menjauh. Ia juga merasa sangat sunyi ketika Lysa tak lagi menggangunya setiap waktu dan tak mengomelinya karena suatu hal. Brian merasa sangat kehilangan ketika sikap Lysa terhadapnya benar benar berubau seratus delapan puluh derajat. Brian merasakan ada satu hal yang kosong dalam dirinya ketika Lysa menjauh dan berubah menjadi tidak begitu memedulikannya, tak seperti dulu lagi.
Desusan panjang Brian itu terhenti sejenak. Dn ia kembali memeluk Lysa dengan sangat erat. Menyusupkan kepalanya di depan dada Lysa untuk mencari kenyamanan.
“Kumohon jangan berubah. Aku tidak memiliki siapa siapa selain kau, Lysa. Tidak ada yang bisa mendengar keluhanku dan tidak ada yang bisa membuatku merasa senang saat diganggu kecuali dirimu. Kumohon jangan berubah. Tetaplah menjadi Lysa yang seperti dulu. Tetaplah menjadi Lysa yang selalu mencariku dan menggangguku ke mana pun aku pergi.” Brian lanjut berucap dengan nada suaranya yang terdengar loyo sekali.
Lysa sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada Brian hingga membuatnya seperti ini. Namun, mendengar suara Brian yang sungguh loyo dan tinglah lakunya yang benar benar memprihatinkan ini membuat hati Lysa sedikit bergetar. Lysa yang merasa prihatin melihat kondisi Brian yang seperti ini pun membalas pelukannya. Menepuk pelan punggung Brian untuk membuatnya semakin tenang.
Selama beberapa saat Lysa tak mengeluarkan suara apa pun. Ia hanya terdiam dan menepuk nepuk punggung atas Brian dengan pelan. Baiklah. Untuk kali ini sepertinya Brian benar benar berada di tengah situasi yang sulit. Ia yang biasanya tidak pernah menceritakan permasalahan pribadinya pada orang lain, menceritakannya pada Lysa. Bahkan mengatakan bahwa dirinya tidak sedang baik baik saja kepada Lysa. Lysa menduga bahwa Brian tengah berada di situasi sulit di mana ia merada didesak oleh orang tuanya untuk segera menikah dengan wanita yang diinginkan orang tuanya sedangkan Brian sendiri masih berada dalam kesulitan dalam mencapai tujuannya. Lysa tau ambisi Brian sangat tinggi di ranah keilmuan, dan ambisi yang tinggi itu tidak mungkin dapat dicapainya dengan mudah. Sehingga ia membutuhkan lebih banyak waktu dan lebih banyak dukungan dari orang orang di sekelilingnya. Namun dari orang tuanya sediri tidak memberikan dukungan yang baik justru memberinya banyak tekanan.
Baiklah. Lysa dapat mengerti posisi Brian. Sebagai satu satunya orang yang dekat dengan Brian, ralat, sebagai satu satunya adik perempuan untuk Brian, Lysa akan memberi sang kakak itu tempat untuk berlabuh. Tempat untuk mencurahkan semua keluh kesah dan rasa lelahnya terhadap dunia.
Selama beberapa saat Brian mendekap tubuh Lysa. Lalu sesaat kemudian, Brian yang merasa jauh lebih tenang itu pun perlahan lahan melepaskan pelukannya pada tubuh Lysa. Ia menggosok gosok wajahnya beberapa kali menggunakan kedua telapak tangannya. Lalu megalihkan wajah dari Lysa yang menatapnya prihatin dan penuh rasa pilu.
“Hhh. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menjadi seperti ini di hadapanmu. Hanya saja ... semuanya terasa smekain sulit untukku. Maafkan aku jika sikapku tadi membuatmu merasa tidak nyaman dan membuatmu terganggu. Aku pun tidak tahu mengapa aku menjadi seperti ini di hadapanmu. Aku benar bnar minta maaf.”
Menyadari sisi apa yang telah ditunjukkannya kepada Lysa, Brian buru buru minta maaf. Ia tidak mengira dirinya akan menunjukkan sisi lemah dan kekanakan itu pada Lysa yang delapan tahun lebih muda darinya. Brin merasa sanagt bodoh karena telah menunjukkan sisi itu, dan merasa sangat lemah di hadapan Lysa. Brian juga merasa malu. Dan, saking malunya, ia sampai tak dapat menatap kedua bola mata Lysa yang menatapnya penuh rasa pilu dan prihatin, penuh rasa belas kasihan terhadapny.
Mendengar Brian segera meminta maaf membuat Lysa sadar, bahwa Brian sekarang telah kembali menjadi dirinya yang sesungguhnya. Dan ia menyadari kalau sepertinya situasi yang dihadapi Brian saat ini sungguh sungguh sulit sampai sampai membuat lelaki itu tidak dapat menahan diri di hadapan Lysa dan menunjukkan sisi sisi yang ingin lelaki itu sembunyikan pada wanita yang jauh lebih muda darinya. Sisi lemah dan kekanakan yang ia rasa menjadi aib dan tidak seharusnya ia tunjukkan kepada Lysa.
Lysa merasa bisa memahami sikap Brian tadi. Gadis itu tersenyum hangat selagi ikut mendudukkan tubuh di bangku yang diduduki oleh Brian. Lalu ia meneguk minuman soda dalam kaleng yang tersisa dua tegukan lagi.
“Kenapa kau meminta maaf Sam? Kau tidak berbuat kejahatan. Dan kau tidak melakukan kesalahan padaku. Jadi kenapa kau meminta maaf padaku?” Lysa berucap. Kemudian ia melempar kaleng sodanya yang telah kosong ke tempat sampah yang terletak beberapa meter di hadapannya.
Satu ... dua ... tiga ...
Kaleng minuman kosong itu tepat masuk ke dalam tempat sampah tanpa meleset. Lysa sukses melempar sampai itu ke tempat sampah. Lalu menoleh pada Brian yang duduk di sebelahnya. lelaki itu tersenyum hangat, menatapnya lekat lekat.
“Lysa, kau ... sungguh berubah. Aku seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang baru dalam hidupku.” Brian berucap.
Lysa hanya terkekeh kekeh. “Aku tidak berubah, Sam. Aku tetaplah Kim Lysa yang dulu kau kenal. Hanya saja, seseorang telah mengajarkanku bagaimana caranya bersikap yang lebih baik dan dewasa. Aku tidak ingin dianggap seperti anak kecil lagi, oleh ayah atau pun olehmu. Jadi aku memutuskan untuk bersikap selayaknya orang dewasa. Dan aku merasa inilah diriku yang sebenarnya. Inilah diriku yang selama ini tersembunyi dalam luka penghianatan ibu. Luka penghianatan itu yang membuatku takut untuk menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya. Karena aku merasa lebih nyaman menjadi anak kecil yang selalu dalam perlindungan ayah dan keluarga. Tapi aku tidak bisa lagi terkungkung dalam luka itu.”
Brian tersenyum bangga melihat Lysa yang seperti ini. Dalam senyumannya yang hangat dan penuh emosi itu, Brian menata Lysa penuh rasa kagum.
Belum sempat Brian berkata apa apa untuk menanggapi ucapannya, Lysa kembali menceletuk.
“Sam, sekarang aku sudah tak membenci ibuku lagi. Aku tak membenci ibu lagi dan merasa sudah bisa memaafkan semua perbuatannya seperti yang ayah lakukan. Rasanya, sangat melegakan sekali. Meski lukaku tidak bisa sembuh begitu saja, aku merasa beban dalam hidupku terasa lebih ringan. Aku sungguh sungguh. Kau percaya kan?” Lysa kembali menceletuk dengan semangat. Dari tatapannya, Lysa memperlihatkan bahwa dirinya sekarang sama sekali tak menaruh rasa benci pada sang ibu. Padahal, dulu ketika ada seserorang mengatakan kata ‘ibu’ atau mengingatkannya pada ibunya, Lysa langsung mendidih dan hatinya dipenuhi rasa bendi akibat penghianatan yang dilakukan ibunya terhadao dirinya dan sang ayah.
“Tentu, aku percaya.” Brian menyahut.
Tepat setelah itu ponsel Lysa di dalam tas berdering. Ia mendapatkan satu telepon masuk dari laki laki yang tidak lain adalah Mino.
Tidak menunggu lama Lysa menjawab panggilan telepon itu.
“Halo, ada apa Ajeossi?” Lysa langsung menyahut begitu panggilan mereka tersambung.
Dari seberang telepon terdengar suara Mino yang menceletuk, [Kau ada di mana? Tidak lupa kan kalau siang ini kau ada shif kerja di kafe? Ahh, aku hanya sekedar mengingatkan saja. Siapa tau kau lupa.]
Bersama senyum semringah yang berseri di wajah Lysa, ia menjawab, “Tentu aku ingat. Terima kasih sudah mengingatkan. Sekarang juga aku akan berangkat ke kafe.”
Di sebelah Lysa, Brian yang tahu dengan siapa Lysa bercakap cakap, mengerutkan kening. Ia merasa tidak suka melihat Lysa tersenyum seperti itu untuk karena laki laki lain. Benaknya terusik. Brian merasa sangat terganggu. Dan tak suka.
**