
Bab 51
Awal tinggal bersama yang manis
“Hm. Rumah. Ahh... lebih tepatnya, ke apartemenku. Kamu akan tinggal di sana, bersamaku.” Mino menjawab tanpa ragu sambil menyibak selimut yang dipakai Lysa dan mulai mengangkat tubuh gadis itu untuk dipindahkan ke atas kursi roda.
“Ap... apa? Aku akan tinggal di apartemenmu? Bagaimana bisa? Tidak, maksudku, bagaimana caranya? Apa kita akan tinggal bersama, di satu atap yang sama, di tempat yang sama, seperti suami istri?” celetuk Lysa dengan bingung. Ia telah mendarat di kursi roda dengan aman. Sedang menatap bingung Han Mino yang tengah berjongkok di hadapannya.
“Kenapa kau terkejut sekali? Toh kita sudah pernah melakukannya, tidur di kamar hotel yang sama, ber’main’ di bawah selimut yang sama... tidak mungkin kau lupa kan? Malam itu, di hotel Indonesia, kau meminta dua kali dan akhirnya kita melakukan tiga kali di waktu yang sama—”
“Ti—tidak! Bukan itu maksudku....”
Wajah Lysa memerah karena Mino yang tiba tiba mengungungkit ungkit apa yang terjadi di kamar hotel waktu itu. Astaga, kenapa Mino mengatakannya dengan jelas sekali? Membuat Lysa ingin menjerit dan berlari sekencang mungkin karena merasa sangat malu. Ia hanya heran saja... kenapa laki laki itu tiba tiba membahasnya terang terangan seperti ini? Seperti sedang memutar ulang sebuah adegan ranjang di sebuah film romantis. Memalukan!
Mino hanya menahan rasa ingin tertawanya di dalam mulut melihat Lysa yang tersipu malu dan kelabakan seperti itu. Lelaki itu hanya diam memandangi wajah Lysa yang telah bersemu merah karena mengingat adegan panas di malam yang dingin waktu itu.
Saking merasa malu, Lysa sampai tergagap gagap saat ingin melanjutkan bicara. “Ti—tidak... jadi, maksudku ... aku kan punya tempat tinggal. Jadi kenapa Sayang tidak kembalikan saja aku ke asrama? Aku bisa menjaga diriku dengan baik di sana. Percayalah. Tinggal di satu rumah seperti pasangan suami istri ... entah kenapa aku akan merasa sangat canggung. Karena itu pertama kalinya untukku,” jelas Lysa malu malu dengan kepalanya yang perlahan menunduk. Ia terlalu malu untuk menatap wajah Mino.
Mino mengembuskan napas panjang sambil berdiri dari duduk.
“Tinggal sendiri dalam kondisimu yang seperti ini sangat berbahaya. Kau pikir aku akan membiarkan kekasihku tinggal di tempat yang sepi seperti rumah hantu itu di saat aku memiliki apartemen bagus yang kutinggali sendirian? Percaya atau tidak, ini juga pertama kalinya aku tinggal bersama wanita.” Mino berkata demikian sambil mulai mendorong kursi roda Lysa keluar dari ruangan itu.
Sejenak Lysa terdiam. Dalam hati, ia merasa sangat lega karena ternyata Mino tidak pernah tinggal bersama seorang wanita meski lelaki itu pernah menjalin hubungan yang cukup lama. Lysa merasa sangat lega. Dan ia juga mulai berhayal macam macam ketika dirinya tinggal bersama dengan Mino di apartemennya. Berhayal yang indah indah pastinya, seperti adegan romantis suami istri yang pernah ditontonnya di drama Korea.
Sstt! Lysa, sadar!
Lysa segera menyadarkan otaknya dari hayalan yang membuatnya terlena itu. Lalu kembali memprotes untuk basa basi saja.
“Tapi tetap saja... tinggal bersama sepertinya sedikit berlebihan. Kita belum menjadi suami istri. Aku sendiri bahkan baru sekali berkunjung ke apartemenmu, Sayang....” Lysa menggumam pelan, daripada tidak bicara sama sekali.
“Sudahlah, jangan banyak bicara! Aku yakin hatimu sedang menjerit senang karena akan tinggal bersamaku bukan?” potong Mino. Yang seketika membuat Lysa diam membisu karena merasa ditebak dengan benar oleh Mino. Sepertinya... Lysa belum berubah. Gadis itu masih sangat mudah ditebak melalui ekspresi wajahnya. Ia tidak bisa bohong, apalagi di hadapan Mino. Dan karena tidak ada yang ingin dikatakan, Lysa pun terdiam sepanjang perjalanan menuju apartemen Mino. Ia hanya menurut dan tidak lagi memprotes sama sekali, dengan jantungnya yang berdebar debar. Mungkin yang gadis itu rasakan dan gadis itu pikirkan ... seperti yang dipikirkan dan dirasajan oleh pengantin wanita ketika pertama kali dibawa ke kediaman si pengantin pria.
**
Pertama kali tiba di rumah itu, Lysa sudah merasa sangat familiar. Meski baru kedua kalinya ia berkunjung ke apartemen Mino, rasanya Lysa seperti sudah sering ke tempat itu. Tidak ada yang berubah sama sekali di apartemen Mino. Semuanya masih sama seperti yang pertama kali Lysa lihat ketika datang berkunjung ke apartemen Mino untuk pertama kalinya.
“Berjalanlah pelan pelan, aku akan membantumu,” ucap Mino sambil menggandeng kedua bahu Lysa untuk membantunya berjalan. Tubuh Lysa masih terlihat lemas meski tak sepucat beberapa waktu lalu. Tapi tetap saja masih terlalu berat untuk gadis itu berjalan sendirian tanpa bantuan.
“Aku bisa berjalan sendiri.”
“Diamlah. Meski pun sakit kau maish saja banyak memprotes,” rutuk Mino yang tidak bisa membiarkan Lysa jatuh tersungkur di atas lantai jika ia lepaskan.
Lysa pun terdiam. Mino menuntunnya berjalan menuju kamar tidur. Ya, sudah pasti. Itu adalah kamar tidur Mino. Artinya, mereka tidka hanya tinggal bersama di satu apartemen, tetapi juga tidur bersama di ranjang yang sama ... setiap hari.
Memikirkan itu semua jantung Lysa berdebar debar. Ahh, sungguh mendebarkan. Lysa tidak tahu apa yang akan terjadi karena sejak tadi ia membayangkan hal hal yang membuat hatinya berdesir desir. Segera Lysa menggelengkan kepala seketika tubuhnya telah terduduk di atas kasur milik Mino yang besar dan nyaman itu. Tubuhnya terasa sangat kelelahan meski hanya berjalan beberapa meter saja. Keningnya berkeringat dan deru napasnya mencepat.
“Hfuuhh.” Lysa mengembuskan napas panjang.
“Lihatlah. Berjalan sebentar saja kau sudah berkeringat. Buat apa kau memprotes karena aku membantumu berjalan?” Mino kembali mengomeli setelah melihat kening Lysa yang berkeringat. Ia pun segera meraih selembar tisu dan menyeka keringat yang mengalir di kening Lysa.
Setelah itu Mino melihat ke araj jam dinding. Sudah pukul enam sore. Di luar suasana mulai meredup karena matahari yang telah hilang dari langit.
“Istirahatlah dengan baik. Aku akan keluar sebentar,” ucap Mino.
“Chagi akan keluar? Ke mana?” tanya Lysa.
Mino berjalan menuju sudut ruangan. Ia melepaskan baju atasannya. Lalu mengambil baju lainnya yang maish bersih di dalam lemari pakaian. Sambil memakai baju kering itu, Mino menjawab, “Aku mau ke rumah orang tuaku. Aku belum sempat menyapa mereka begitu tiba di Seoul. Jadi aku akan ke sana sekarang. Sekaligus ada seseorang yang ingin aku temui.”
Selesai memakai baju itu Mino mengambil coat panjang berwarna coklat. Memakai coat itu dan berjalan menuju ranjang Lysa. Duduk di pinggiran ranjang yang ditiduri Lysa sambil menyeka wajah sang gadis dengan lembut.
“Tidurlah dengan baik. Sepertinya aku akan kembali agak larut. Sekaligus aku juga akan mengambil barang barangmu yang masih tertinggal di asrama. Kau tinggallah di sini sampai liburan musim panas berakhir. Terlalu berbahaya jika kau tinggal di asrama yang sangat sepi dan tidak ada teman sama sekali.” Mino menasihati Lysa dengan lembut. Sungguh. Ia tadi sangat khawatir ketika menemukan Lysa terbaring tak berdaya di atas ranjang asramanya sendirian.
Keadaan Lysa tidak terkontrol di sana. Tidak ada yang memastikan apakah dia sudah makan apa belum. Kalau dia sakit, tidak ada orang lain yang bisa membelikannya makanan. Tidak ada yang tahu kalau gadis itu sakit atau bahkan pingsan. Bisa bisa, ketika ditemukan Lysa sudah tidak bernyawa. Mino sanagt takut kehilangan Lysa. Dan ia ingin memastikan kalau Lysa baik baik saja, dengan tinggal bersamanya.
Mendengar nasihat Mino yang terdengar tulus itu, Lysa menganggukkan kepala. “Baiklah. Aku akan tinggal di sini sampai liburan musim panas berakhir.”
Mino pun tersenyum mendengar jawaban Lysa. Akhirnya, gadis itu tidak lagi memprotes dan menuruti apa yang Mino ucapkan.
Terakhir, Mino menarik selimut tebal untuk mengerubuti tubuh Lysa. Demam Lysa sudah turun. Tidak apa apa kalau gadis itu memakai selimut untuk menghangatkan diri. Setelah memastikan kalau tubuh Lysa hangat oleh selimut, Mino pun berdiri dari duduk. Ia berjongkok untuk mengecup kening Lysa sebelum akhirnya pergi keluar meninggalkan Lysa istirahat sendirian di dalam apartemennya.
**
“Oppa! Kau sudah tiba di Korea? Bukannya kau bilang akan sedikit lama tinggal di sana?”
Mina yang terkejut akan kedatangan kakak laki lakinya itu menceletuk begitu melihat sang kakak masuk ke dalam rumah. Gadis yang sedang membaca novel di ruang tamu itu langsung beranjak duduk dan melatakkan novelnya untuk menatap Mino. Ia pikir, kakaknya itu masih berada di Filipina. Sejak kapan dia kembali?
“Bukannya kau bilang kalau Oppa akan berada di sana cukup lama? Apa sekarang Oppa sudah pulang? Ah ... kau mengambil cuti sebentar untuk kembali ke Korea kan?” tanya Mino sambil beranjak dari sofa. Ia berjalan menghampiri Mino yang sedang menyebarkan pandangan ke sekeliling, mencari keberadaan seseorang yang biasanya berada di samping jendela untuk merajut pakaian dan mendengarkan musik klasik.
“Di mana ibu?” tanya Mino ketika tidak mendapati sosok ibunya di ruang tamu.
Mendengar jawaban itu, Mino pun segera menoleh ke arah Mina yang masih menantikan jawabannya.
“Aku ada urusan penting di Seoul, jadi pekerjaanku di Filipina aku serahkan pada orang lain,” jawab Mino.
Mina mengangguk anggukkan kepala, merasa paham.
“Oh, Mino ya. Kapan kamu kembali ke Seoul”
Terdengar suara seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu Mino, yang sedang keluar dari sebuah bilik kamar di rumah ini. duduk di atas kursi roda elektrik yang bisa ia kendalikan menggunakan tangannya.
“Ibu,” panggil Mini sambil berjalan cepat ke arah sang ibu. Mino segera memeluk ibunya begitu tiba di hadapan. Lantas mencium kedua pipinya karena sangat merindukan sang ibu.
“Kapan kau kembali ke Seoul? Kenapa tidak bilang? Kalau bilang, aku pasti sudah memanggil bibi untuk memasak beberapa makanan untukmu.” Sang ibu berkata.
“Aku kembali mendadak. Jadi tidak sempat meneleponmu, ibu,” kata Mino. Ia pun beranjak berdiri lalu berjalan ke belakang kursi roda sang ibu. “Ibu, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucapnya sambil menorong kursi roda ibu menuju teras rumah. Mino mengajak ibunya berbicara sambil menikmati suasana malam di depan rumahnya.
“Kenapa? Ada apa?” tanya ibu yang melihat sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan putranya.
Mino berjongkok di depan ibunya, menggenggam tangan sang ibu dan mendongakkan kepala untuk menatapnya. Ia merasakan genggaman tangan hangat sang ibu yang semakin renta.
“Ibu, aku memiliki kekasih baru.”
Ibu Mino tampak terkejut mendengar putranya mengatakan hal itu. Namun, dalam hatinya ia merasa senang sekali mendengarnya. Ketika hubungan Mino dengan Jiwon berakhir dengan tidak baik, ibu sangat sedih karena melihat Mino terlihat begitu hancur. Mino bahkan pernah berkata bahwa dirinya tidak akan menikah karena merasa trauma dan takut untuk memulai lagi. Tetapi mendengar sekarang Mino telah memiliki kekasih, ibunya merasa terkejut sekaligus senang. Ia pikir keputusan Mino untuk tetap melajang seumur hidup alias tidak menikah itu benar akan dilakukan. Namun kenyataannya Mino sekarang memiliki seorang wanita sebagai pengganti Jiwon.
“Benarkah? Baguslah. Jadi kapan kau akan mengenalkannya pada ibu?” sahut sang ibu.
“Sekarang dia sedang sakit. Dan jujur, aku merasa takut, Ibu.”
Kening ibu Mino mengernyit. “Oh ya? Apa yang kau takutkan? Apa gadis itu membuatmu takut?”
“Tidak.” Mino menggeleng gelengkan kepala. Lalu kepalanya menunduk. “Aku belum lama mengenalnya, Ibu. Tapi aku merasa sangat menyayanginya. Dia menghilangkan semua keraguanku tentang apa yang pernah kualami di masa lalu. Aku yakin kalau dia sangat berbeda dengan Jiwon. Aku sangat yakin kalau dia tidak akan meninggalkanku. Tapi aku khawatir kalau pada akhirnya aku tetap tidak bisa bersamanya.”
Malam ini Mino bercerita panjang lebar kepada ibunya, satu satunya wanita yang paling ia percayai di dunia ini. Mino menceritakan semua keluh dan kesahnya. Menceritakan apa yang ada di pikiran dan juga hatinya. Bercerita tentang Lysa, tentang keinginan besarnya untuk bersama gadis itu. Juga bercerta tentang ketakutannya akan suatu hal yang akhir akhir ini membuatnya merasa cemas. Yaitu konflik Lysa dnegan Hangin Grup.
Ibu mendengarkan semua cerita dan keluh kesah Mino sepanjang waktu. Ibu memberikan nasihat nasihat yang baik kepada putra sulungnya yang sepertinya sedang berada dalam kegelisahan dan juga rasa takut akan kehilangan. Lebih dari apa pun, Mino sekarang membutuhkan kata semangat dari ibunya. Semangat untuk melawan kekuasaan Hangin Grup demi mendapatkan Lysa.
Setelah bertemu dengan ibunya dan mengajak semua anggota keluarga makan malam, waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Pada pukul sembilan itu Mino pergi meninggalkan rumahnya. Menuju sebuah tempat yang tidak lain adalah kafe. Moonlight Coffe masih buka pada malam hari ini ketika Mino datang. Dan seketika itu dia disambut oleh para karyawan dan juga asistennya. Mereka semua terkejut melihat kedatangan Mino yang sangat tiba tiba. Dan begitu tiba di sana, Asisten Min, berkata kepada Mino bahwa Moon Yul sudah menunggunya di ruang kerjanya.
Di dalam ruang kerja itu kedua laki laki itu berbincang dengan cukup serius.
“Sebenarnya waktu aku berlibur ke Indonesia bersama istri dan anak anakku, aku telah menandatangani sebuah sertifikat. Jadi sebuah kafe yang dibangun di sebelah gedung hotel X, yang kontrak sewanya akan segera habis. Pemilik tanah sekaligus properti kafe itu menawarkan kafenya padaku untuk dibeli secara utuh. Dan kurasa itu lokasi yang bagus untuk membangun Moonlight Coffe pertama di Yogyakarta. Aku sudah menandatangani surat kepemilikan kafe itu dan telah membeli lahan sekaligus properti mereka. dan rencananya, aku akan membangun Moonlight Coffe di lokasi itu setelah proyek kafe di Filipina selesai. Tapi, aku mendengar ada sebuah skandal yang muncul dari kafe itu.” Moon Yul bercerita panjang lebar setelah beberapa saat Mino duduk di hadapannya. Sebenarnya ketika skandal tentang Brian dan Lysa itu muncul, Yul telah mendapat kabar itu dari Indonesia. Dan ia cukup terkejut kalau ternyata wanita yang terlibat dengan skandal itu adalah salah satu karyawan barunya di kafe.
Tidak salah lagi. Sebenarnya Mino sudah menduga duga kalau sebenarnya bosnya itu telah medengar tentang skandal Lysa dengan Brian di Indonesia. Pasalnya, Mino pernah mendengar kalau Moon Yul akan membuka cabang kafe di Indonesia. Dan karena itu, pastinya Yul telah memiliki banyak link atau banyak koneksi di sana. Tidak menutup kemungkinan kalau sebenarnya Yul sudah tahu tentang skandal itu.
“... aku tidak begitu mengerti siapa keluarga Alvendo yang terlibat dalam skandal itu karena aku tiak mengikuti berita di Indonesia. Yang aku tahu hanyalah wanita yang terlibat dalam skandal itu. Aku dengar dia adalah karyawan kafe. Dan kurasa kau juga mengenalnya. Atau, jangan jangan... wanita itu yang kau maksud dengan calon istrimu? Karena itulah kau ingin segera kembali ke Seoul untuk melindunginya dari keluarga Alvendo?” lanjut Yul berkata.
Tidak ada yang bisa Mino sangkal. Karena semua yang diucapkan Moon Yul itu benar.
“Tidak ada yang bisa saya sangkal, Bos Moon. Semua yang Anda katakan itu benar.”
Yul mengangguk anggukkan kepala. Kemudian ia mengeluarkan sebuah dokumen yang ia bawa di dalam tas kerjanya.
“Aku sudah menduga hal itu. Jadinya aku meminta bantuan seseorang yang kukenal untuk menyelidiki berita berita yang sedang beredar di Indonesia. Aku yakin selama ini kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu di proyek kafe itu, jadi tidak sempat mencari tahu banyak hal kan? Yang kubawa ini adalah berita berita yang beredar di media Indonesia selama sepekan terakhir, dan ada pernyataan resmi yang dirilis Hangin Grup dalam konferensi pers di Jakarta sehari yang lalu, bersamaan dengan peresmian sebuah hotel dan tempat wisata di Jakarta. Kau bisa lihat, semua artikelnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris.”
Sambil mengatakan smeua itu, Moon Yul menyerahkan beberapa artikel yang didapatnya itu kepada Mino. Dan memang benar kalau Mino tidak sempat mencari tahu apa apa karena kesibukannya di Filipina sebelum menyerahkan pekerjaannya pada penggantinya.
Mino menerima setumpuk artikel menggunakan bahasa inggris itu. Dan di tumpukan paling atas adalah tentang konferensi pers Hangin Grub di Indonesia dalam peresmian sebuah gedung hotel yang dibangun di Jakarta. Dalam artikel itu, disebutkan bahwa Hangin Grup membenarkan bahwa gadis yang terlibat skandal dengan putranya ‘Brian Alvendo’ itu adalah tunangannya. Mereka sedang berlibur di Indonesia, sekaligus sedang mempersiapkan pernikahan yang akan digelar di Bali.
Namun itu semua adalah pernyataan sepihak Hangin Grup yang dipimpin oleh Tuan Alvendo. Ia tidak ingin posisi Hangin Grup terancam karena skandal Brian, dan akhirnya membenarkan semua dugaan tentang pertunangan itu untuk menjaga nama baik Hangin Grub. Karena jika diungkapkan bahwa gadis yang ‘dicium’ Brian itu bukanlah tunangannya, akan menimbulkan prangsangka buruk terhadap pewaris Hangin Grup yang melakukan pelecehan seksual dan perlakuan tidak senonoh terhawap perempuan.
Membaca artikel itu, tubuh Mino terasa lemas. Pernyataan resmi telah dirilis. Mino yakin, sekarang keberadaan Lysa pasti sedang dicari cari oleh Hangin Grup. Oleh Brian, oleh Tuan Alvendo, dan semua yang terlibat dengan mereka.
Melihat Mino yang wajahnya langsung memucat membaca artikel itu, Moon Yul segera bertanya, “Mino ya, kau baik baik saja?”
**