Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kemunculan orang mencurigakan



Yebin mengikuti langkah Yul dengan terbirit birit begitu mereka memasuki bangunan besar departemen store untuk berbelanja kebutuhan. Sore tadi, begitu Leo Park pergi dari rumah mereka setelah selesai membicarakan bisnis, ibu Yebin datang. Ia menyuruh anak dan juga menantunya itu untuk berbelanja kebutuhan bulanan yang mulai habis. Tetapi, Yul yang moodnya tidak begitu baik itu sejak tadi mengabaikan Yebin. Mendiamkannya seperti orang bisu.


“Sayang, tunggu aku. Kenapa langkahmu cepat sekali?” Yebin yang merasa kesusahan menyusul langkah kaki panjang Yul itu merutuk rutuk dari belakang. Lelaki itu sungguh tidak tahu diri. Sepertinya ia sedang ingin mengejek Yebin yang langkahnya pendek karena kakinya juga pendek.


Benar sekali. Yul kini sedang merajuk. Ia marah pada Yebin yang tak memberitahunya masalah krisis finansial Biniemoon. Ia heran saja. Sebagai suami, bukankah ia harusnya yang diberti tahu pertama kali oleh Yebin ketika ada permasalahan seperti itu? Tapi kenapa Yebin malah menceritakan pertama kali pada Leo Park yang notabenenya bukan siapa siapanya. Dan parahnya lagi, Yul sang suami itu justru mendengar mengenai krisis finansial Biniemoon dari Leo Park.


Yul yang sedang merajuk, mau tidak mau harus menemani istrinya berbelanja. Ia tidak mau ibu mertuanya mencurigai adanya pertengkaran jika Yul tak mau mengantar Yebin berbelanja di departemen store.


Akhirnya, Yul pun tetap mengantarkan dan menemani Yebin berbelanja. Tapi tingkahnya yang sangat kekanak kanakan itu membuat Yebin tidak habis pikir.


“Oppa! Kau sungguh akan seperti ini?!”


Merasa kewalahan, Yebin pun berteriak di dekat pintu departemen store. Kakinya menghentak dan ia langsung berhenti seperti anak kecil. Orang orang yang berlalu lalang di pintu masuk dan pintu keluar itu sontak menoleh ke arah Yebin yang tiba tiba memekik. Yul yang mendengar pekikan itu, seketika membalik tubuh. Melihat istrinya yang terlihat kewelahan menyusulnya sambil setengah berlari dari tempat parkir.


Jika dibiarkan, Yebin yang juga terlihat kesal itu pasti akan berbuat yang tidak tidak dan mempermalukan mereka di tempat yang ramai manusia ini. Sehingga, Yul pun mengalah. Ia berjalan mendekati Yebin. Menarik tangan sang istri lalu mengandengnya berjalan santai di dalam departemen store.


“Oppa, kau itu kekanakan sekali kalau sedang merajuk.”


Saat mereka mulai menaiki eskalator menuju lantai dua, Yebin yang berdiri berdempetan dengan Yul itu menggumam sebal. Ekor matanya melirik pada Yul yang sejak tadi tak berekspresi.


“Apa mungkin di situasi seperti ini aku tidak marah?” Yul menimpali. Ketika itu, mereka berdua telah sampai di lantai dua.


Sambil menggandeng tangan Yebin, Yul berjalan ke pojok. Menarik troli belanja yang akan menampung belanjaan mereka berdua.


“Baiklah, Sayang. Untuk masalah itu aku minta maaf. Aku benar benar minta maaf karena tak memberi tahumu sejak awal,”desus Yebin selagi berjalan di sebelah Yul yang sedang mendorong troli belanja. Mereka berjalan menuju tempat sayur mayur.


Tapi Yul masih diam. Tak menanggapi Yebin sama sekali.


“Aku sudah punya rencana untuk memberi tahumu, Sayang. Hanya saja kebetulan saat aku berbicara dengan Leo Park, dan membahas tentang keuntungan kerja sama, aku tanpa sengaja berkata bahwa Biniemoon sedang mengalami krisis internal. Jadi mau tidak mau aku menceritakan hal itu padanya terlebih dahulu, lalu mendengarkan beberapa saran darinya,” lanjut Yebin bercerita.


“Berapa kurangnya?” Setelah beberapa saat, Yul menanggapi.


“Apa?”


Yul menolehkan kepala, menatap Yebin. “Defisit anggarannya berapa? Berapa uang yang dibutuhkan Biniemoon untuk saat ini?”


Mendengar pertanyaan Yul itu, Yebin beragu. Ia menjawab dengan nada suara yang melirih.


“Sekitar... lima... tidak, tiga puluh juta won.”


“Baiklah. Nanti aku akan transfer uang lima puluh juta won ke Biniemoon,” ucap Yul.


Di sebelahnya, Yebin hanya diam dan menundukkan kepala. Sebenarnya uang yang dibutuhkan Biniemoon adalah lima puluh juta Won. Tapi Yebin sengaja menguranginya karena tak ingin membebani Yul. Yang mana uang lima puluh juta itu adalah untuk modal Biniemoon dan me-restok barang saja. Stok barang di Biniemoon sangat sedikit karena defisit anggaran setelah Biniemoon pindah ke kantor baru yang lebih luas dan berlantai dua.


“Sama uang untuk menggaji keempat karyawanku, Oppa.”


Yebin yang tak memiliki pilihan selain meminta uang Yul, kembali menyahut lirih. Ia tahu tindakan ini sangat bodoh. Tetapi, Yebin tak punya pilihan lain selain meminta uang pada suaminya untuk menutupi defisit anggaran dan menggaji keempat karyawan Biniemoon bulan ini. Benar, tidak ada pilihan lain. Saat ini ia akan meminta uang suaminya. Tapi di masa depan ia berjanji akan mengembalikan uang itu lagi.


Mengetahui bahwa bisnis istrinya itu benar benar sedang dilanda krisis, Yul menghela napas ringan. Ia menoleh pada Yebin yang sednag menundukkan kepala sambil terus berjalan bersebelahan dengan Yul.


“Kenapa kau mempekerjakan empat karyawan jika tidak mampu menggajinya? Dan kenapa juga memindah kantor Biniemoon jika pada akhirnya semuanya jadi berantakan? Sewa di tempat yang kemarin kan juga belum berakhir. Kenapa kau memindah kantornya?” omel Yul. Ia sungguh tidak mengerti kenapa istrinya itu melakukan hal hal yang sebenarnya tidak begitu mendesak hingga akhirnya kesulitan seperti ini.


“Aku mempekerjakan empat karyawan untuk membantuku yang saat itu sedang hamil. Saat itu pesanan sedang ramai ramainya karena menjelang akhir tahun di mana edisi fashion musim dingin semua diluncurkan. Dan kantornya kupindah karena kebetulan ada bangunan yang dijual sangat murah. Sisa sewa kantor yang lama memang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi aku tidak bisa melewatkan bangunan yang dijual murah karena habis kebakaran itu. Bangunan itu dijual setengah harga pada umumnya. Dan aku hanya mengeluarkan sedikit uang lagi untuk perbaikan dinding dan interior.”


Mendengar penjelasan panjang Yebin itu, kepala Yul pun mengangguk angguk. “Ya, ya.... Kau sangat pintar dan perhitungan Nyonya Moon.”


Yebin memberengutkan bibirnya mendengar Yul yang mengejeknya dengan pujian. Yul melanjutkan berjalan untuk memilih sayuran sementara Yebin menghentikan langkahnya. Ia menatap punggung Yul dengan mata yang berapi api karena kesal.


“Andai saja aku tidak membutuhkan uang lima puluh juta won darinya, aku bisa menghajarnya sampai aku puas.”


Saat Yebin sibuk menggumam gumam sambil berimajinasi liar tentang suaminya yang kadang menyebalkan itu, Yul dari kejauhan menceletuk.


“Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak akan memilih sayuran untuk ibu?” celetuk Yul yang menghampiri etalase berisi sayuran hijau yang telah ter-pak rapi menggunakan plastik dan label.


Tanpa melawan, Yebin pun menjawab, “Ya. Aku ke sana,” sambil berjalan menghampiri Yul yang sibuk mendorong troli sambil mengamati sayur sayuran di dalam plastik steril.


Saat keduanya masih sibuk berbelanja, Yul yang memperhatikan sekeliling itu tiba tiba tersenyum senyum sendiri melihat sesuatu. Ia menyenggol lengan Yebin yang sedang memilih sayuran dalam kemasan, sambil berbisik.


“Lihatlah ke arah jam dua belas. Ada Hun dengan kekasihnya yang sedang belanja bersama. Cham.... Mereka sudah seperti suami istri saja. Jika sudah seperti itu, kenapa mereka tidak segera merencanakan untuk menikah.”


Mendengar suaminya itu menggumam gumam, Yebin pun ikut memperhatikan adik iparnya itu sedang berbelanja daging dengan sang kekasih. Tapi, ada sesuatu yang janggal.


“Sayang, kau melihat? Ada orang mencurigakan yang terus mengikuti pergerakan mereka. Orang berpakaian hitam hitam itu... dia sangat mencurigakan kan?” desus Yebin sambil mengamati orang mencurigakan yang terus berada di sekeliling Hun dengan kekasihnya.


Kening Yul mengerut. Melihat ke arah sosok pria mencurigakan yang tampak mengamati gerak gerik Hun dan juga Jina.


“Siapa pria itu? Kenapa dia ada di sekeliling adikku?” gumam pelan Yul.


Merasa was was, Yebin langsung menggandeng lengan Yul untuk berlindung. Gelagak laki laki berpakaian hitam hitam itu memang sangat mencurigakan. Ia menyembunyikan kedua tangan di dalam jaket hitamnya seolah olah sedang menyembunyikan sesuatu di tangannya. Apalagi keberadaannya selalu di sekitar Hun dan Jina.


Lalu tiba tiba laki laki berpakaian hitam yang semakin mencurigakan itu menengok sekeliling. Bertatapan dengan Yul yang memelototinya dari kejauhan.


“Hun-a!”


Yul beretriak memanggil adiknya yang sedang berbelanja daging. Karen panggilan keras itu, beberapa orang menengok ke arah Yul dan Yebin. Dan kemudian orang mencurigakan berpakaian hitam hitam itu menghilang secara tiba tiba. Pergi dari tempat itu dan entah ke mana.


“Hyung!”


Hun balas berteriak sambil melambaikan tangannya. Itu membuat Yul menghela napas lega.


**


“Sayang, siapa orang mencurigakan tadi? Sepertinya Hun Oppa tidak tahu.”


Begitu masuk ke dalam mobil, Yebin menceletuk. Mereka baru saja selesai berbelanja. Dan karena orang mencurigakan tadi, Yul dan Yebin yang merasa khawatir, terus mengikuti Hun dan kekasihnya ke mana pun mereka berjalan. Yul tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi sehingga ia terus berada di sekeliling Hun meskipun kegiatan belanjanya dengan sang istri sudah selesai. Yul mengikuti Hun sampai adiknya itu keluar dari pusat perbelanjaan dengan selamat.


“Aku juga tidak tahu siapa orang itu.”


“Dia menyeramkan sekali. Apa mungkin dia itu ******* yang mau meledakkan bom di pusat perbelanjaan? seperti yang terjadi di luar negeri itu lho.”


Perkataan Yebin yang sedikit melenceng itu membuat Yul tidak habis pikir. Ia langsung menoleh pada Yebin dan berkata, “Sayang, kau jangan terlalu sering menonton drama


tentang *******.”


Ucapan Yul itu menutup pembicaraan mereka tentang orang mencurigakan yang ada di pusat perbelanjaan. Mobil yang mereka kendarai melaju meninggalkan pusat perbelanjaan. Menuju tempat tinggal mereka di Distrik Gwangjin.


“Sayang,” panggil Yul di sela perjalanan mereka.


“Hm?”


“Kapan kira kira kau bisa mulai ikut aku bekerja di kafe?” tanya Yul.


“Ikut Oppa bekerja? Kenapa?”


Yul yang baru saja menghentikan mobil di lampu merah itu seketika menoleh pada Yebin. Diam menatap sang istri seolah memberikan jawaban secara tidak langsung.


“Ahh, Oppa mau megajariku menjadi bos kafe?” yakin Yebin setelah selesai mencerna tatapan Yul.


“Aku akan memberikan waktu beberapa bulan untuk simulasinya. Jika kau merasa pekerjaan itu terlalu sulit untuk kau kerjakan, atau pikiranmu berubah, aku yang akan kembali ke kafe. Dan kamu bisa meneruskan pekerjaanmu sebagai pemilik Biniemoon.”


“Pikiranku tidak akan berubah. Dan meskipun pekerjaan itu lebih sulit dari mengelola Biniemoon, aku bisa melakukannya jika belajar lebih banyak darimu. Mana mungkin seorang Kang Yebin itu menyera karena merasa tidak mungkin? Sesulit apa pun pekerjaannya aku akan bisa melakukannya. Kan aku tidak sendirian. Ada Oppa yang selalu ada di belakangku."


Yul tersenyum hangat. Lantas menggenggam tangan Yebin dan menciumnya. Sedangkan tangan Yul yang lain mengemudikan mobil di tengah jalanan Seoul yang cukup padat pada malam hari.


Setibanya di rumah, Yul mengeluarkan semua barang belanjaan. Membawanya masuk ke dalam rumah. Lalu meletakkannya ke atas meja dapur.


“Sayang, besok mau sarapan apa?” tanya Yebin yang sedang mengeluarkan barang barang belanjaan. Menatanya di dapur.


“Ah, benar. Ibu baru saja pergi ka Incheon ya. Karena itu Ibu menyuruh kita berbelanja kebutuhan makanan sendiri.”


“Tidak apa apa. Besok aku yang memasak untuk sarapan kita.”


Mendengar itu, Yul terdiam. Lalu perlahan


menoleh.


“Kau... yang akan memasak untuk besok? Kau yakin?” Yul bertanya ragu.


“Tentu. Ibuku pandai memasak. Sudah pasti aku juga pandai memasak.”


Kepala Yul memiring mendengar klaim Yebin tentagn dirinya yang bisa memasak makanan lezat seperti sang ibu. Padahal, terakhir kali memasak beberapa minggu lalu, masakan Yebin itu sangat asin. Tapi Yul memaksakan diri untuk menelan makanan itu karena tak ingin membuat sedih Yebin yang rela bagun subuh untuk membuatkn sarapan untuknya.


Yul yang terancam akan memakan makanan asin itu lagi, sedang memikirkan cara untuk bisa menghindar.


“Sayang, bagaimana kalau kita sarapannya sereal saja? Tadi kan kita juga belanja sereal. Jadi kita sarapan sereal saja ya?” bujuk Yul.


“Begitukah? Baiklah kalau begitu. Karena besok hari minggu, aku akan memasakkan makan siang dan makan sore saja.”


Kedua mata Yul terbelak. Makan siang dan makan malam... oh....


**