Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Amanat Untuk Yul



**Amanat Untuk Yul


Yul POV**


“Tentu aku tahu maksudmu. Tapi, apa Yebin tahu maksudmu?”


Ibu balik bertanya. Membuatku tak bisa menjawab apa apa. Yebin tidak tahu maksudku. Dia malah salah paham dengan menganggap bahwa aku tidka memercayainya karena tidak membiarkannya terlibat.


“Itu masalahnya,” sahut ibu kemudian. “Yebin tidak tahu maksudmu. Dan sepertinya kau juga tidak mengatakan alasan ini kepada Yebin. Jadi bagaimana Yebin bisa mengerti?”


Aku menghala napas dengan begitu pelan ke dalam perut. Apa yang ibu katakan benar juga. Sejauh ini aku hanya melarang Yebin untuk ikut terlibat. Tetapi tidak mengatakan alasanku melakukan semua itu.


Kepalaku kembali menunduk. Kudapatu ibu yang menepuk pundakku pelan sembari menguntai senyuman hangat.


“Yul~a, dalam pernikahan tidak hanya hal hal baik yang akan datang. tetapi hal buruk juga akan mengiringi. Tugas kalian adalah menghadapi hal buruk itu bersama dan mendatangkan hal yang baik bersama sama pula. Kau tidak bisa berjuang sendirian setelah nanti menikah. karena kalian berdua akan menjadi satu kesatuan yang saling mengiringi dan menguatkan.”


Ibu menuturiku dengan seutas senyum hangat yang menghiasi wajahnya yang berkeriput. Aku mencerna semua nasihat itu dengan baik selagi memikirkannya dalam dalam.


“Sekarang temuilah Yebin. Baik kau atau pun Yebin, aku yakin kalian tidak bisa tidur dengan nyenyak jika terus berjauhan seperti ini. Yebin ada di kamarnya, tapi dia tidak tidur. Dan aku akan mengikuti arisan di rumah tetangga Min sampai larut malam sambil bermain kartu Go. Jadi kalian bicaralah.”


Setelah menurutiku dengan banyak hal, ibu Miyoon pergi meninggalkanku di balkon. Ia turun. Lalu keluar dari rumahku. Berjalan menuju rumah seorang tetangga.


Setelah mempertimbangkannya dalam dalam, aku pun pergi mengunjungi rumah Yebin. semua ruangan di rumah Yebin masih memperlihatkan lampu yang menyala. Aku mengetuk pintu kamar Yebin.


Tok tok tok.


Tidak ada tanggapan. Aku mengetuk sekali lagi.


Tok tok tok.


Seketika itu pintu terbuka. Yebin membukakan pintu sambil merutuk-rutuk.


“Ada apa lagi, ibu? Sudah kubilang, aku tidak makan! Kenapa ibu—”


Rutukan Yebin terhenti ketika pintu terbuka dan ia bertatapan denganku. Kulihat kedua matanya yang bergetar melihatku. Cengkeraman Yebin pada knop pintu seketika itu terlepas. Ia kembali berjalan masuk ke dalam kamar. meninggalkanku di ambang pintu.


“Aku sudah mengantuk. Lebih baik Oppa pulang saja.”


Yebin mencetus sambil mulai membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Aku tahu ia sebenarnya masih belum mengantuk. Aku tahu ia hanya menggunakan alasan itu untuk menyuruhku pergi.


Perlahan lahan aku berjalan menuju ranjang Yebin. aku terduduk di atas kursi bundar tepat di sebelah ranjang tempat Yebin membaringkan tubuh. Dan begitu aku duduk, Yebin segera memutar tubuhnya membelakangiku.


“Soal tadi, aku sungguh minta maaf. Aku sudah keterlaluan. Aku sungguh minta maaf,” ucapku lirih. Tapi Yebin masih tak bergeming. Ia bersembunyi di balik selimut tebal dengan tubuh yang membelakangiku.


Aku pun lanjut berkata, “Aku tidak akan melarangmu lagi. aku tidak akan melarangmu untuk terlibat dalam permasalahan kafe. Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan.


Mendengar kata kataku, tubuh Yebin terperanjat duduk. Ia seketika menyibak selimut tebal yang dipakaianya dan langsung terduduk menghadapku. Raut wajah penuh tanda tanyanya menatapku bingung.


“Tapi berjanjilah satu hal,” lanjutku berkata. Aku menatap lekat wajah Yebin yang penuh tanda tanya.


Kuraih kedua tangan Yebin yang ada di atas pangkuannya. Mengecup kedua tangan mungl itu menggunakan bibirku yang hangat. Kemudian aku kembali menatap Yebin lembut.


“Jangan sampai terluka.” Kataku, yang seperti angin malam membuat kedua bola mata Yebin berkaca kaca. “Aku tidak ingin karena masalah yang kuhadapi kau juga ikut menderita. Aku tidak ingin membuatmu terlibat karena tidak ingin kau berada dalam kesulitan karenaku. Ini adalah egoku. Tapi sekarang kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan. Kau boleh terlibat. Tapi jangan sampai terluka.”


“Oppa tahu apa yang paling membuatku paling terluka?” Yebin menanggapi perkataanku dengan pertanyaan yang tidka bisa kujawab. Aku pun hanya diam.


“Melihat Oppa berjuang sendirian adalah yang paling membuatku merasa terluka.” Yebin menjawab dengan serius. “Padahal aku bukanlah wanita lemah. Aku bisa dan aku merasa mampu untuk kau ajak berjuang bersama. Tapi kau terus mendiamiku, seolah olah aku tidak bisa berbuat apa apa selain menyaksikanmu tertatih tatih menghadapi semuanya sendirian. Aku bukan lagi gadis kecil seperti saat pertama kau mengenalku. Bagaimana aku bisa diam saja melihatmu jatuh menanggung semua tanggung jawab itu sendirian?”


Sunguh. Hatiku terasa teremas mendengar semua kata yang Yebin lontarkan. Aku dan Yebin tidak jauh berbeda. Kami ingin saling melindungi dengan cara masing masing. Dan kami sama sama memerontak karena katidak samaan cara yang dilakukan.


Kedua bola mataku berkaca setelah selesai mencerna semua kalimat yang Yebin lontarkan. Yebin yang melihatnya, beranjak turun dari ranjang. Ia mendekat ke kursi yang kududuki. Memeluk tubuhku dengan hangat. Menyandarkan kepalaku pada dadanya untuk aku bisa menjatuhkan air mata yang semakin lama membuatku sesak.


Aku membalas pelukan Yebin. meneteskan air mata di antara dekapan dadanya yang hangat. Karena sungguh, ini semua sangat berat untukku. Apa yang orang tuaku bangun semasa hidupnya sedang dilanda krisis besar karena satu kesalahan yang kuperbuat. Moonlight Coffe, yang diperjuangkan orang tuaku berada dalam krisis. Kesalahanku adalah, kenapa aku mengangkat manajer untuk mengelola Moonlight Coffe hanya karena hubungan pertemanan? Itu letak kesalahan terbesarku. Dan aku menyesalinya. Kini, karena temanku sendiri yang kupercaya menjadi manager Moonlight Coffe, Moonlight Coffe dilanda krisis. Yang terkena dampaknya bukan hanya aku, tetapi juga orang orang terdekatku dan orang- orang yang menggantungkan hidup di Moonlight Coffe. Aku yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka semua. Orang tercintaku, keluargaku, orang orang terdekatku, dan semua karyawan Moonlight Coffe beserta keluarganya... aku bertanggung jawab atas hidup mereka semua; sebuah beban yang terbayangkan betapa beratnya untukku.


Dadaku terasa semakin sesak setiap harinya. Tapi aku harus tetap terlihat tenang untuk tidak mebuat orang orang di sekelilingku bertambah khawatir. Dan sekarang, karena pelukan hangat Yebin dan setiap sentuhannya, aku tidak bisa lagi membendung semua bebanku. Aku tak mampu lagi membendung air mata karena sentuhan Yebin yang seolah menyuruhkan untuk menumpahkan semuanya. Menangis dengan leluasa. Melampiaskan segelintir emosi yang ketika aku tahan membuat dadaku semakin sesak hingga aku kesulitan bernapas.


Dalam dekapannya aku menangis tersedu. Aku tidak yakin apa Yebin ikut menangis melihatku seperti ini. Tetapi ini adalah aku dalam titik terendahku. Ini adalah aku yang sedang berada dalam titik terlemah. Dan Yebin tetap memberikan dekapan hangat kepadaku di titik ini.


Beberapa saat kemudian aku berhasil menghentikan tangisku. Ketika tangisku berakhir, kurasakan kelegaan yang teramat longgar dalam dadaku. Benakku terasa begitu lega. Dadaku tak begitu sesak dan aku mampu bernapas dengan baik tanpa merasa tercekat setiap kali menghela napas.


Setelah aku selesai meluapkan emosi, aku melepaskan pelukan Yebin. aku bangkit dari duduk. Berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku dengan air dingin. Begitu selesai, aku kembali menghampiri Yebin yang sedang duduk manis di pinggiran ranjang tidur.


“Sekarang tidurlah. Besok kita akan ke tempat membuatan kue untuk memesan kue pernikahan,” kataku seolah tidak terjadi apa apa.


“Oppa juga tidur di sini kan?” tanya Yebin tanpa kuduga.


“Tidak. Sebentar lagi ibu akan pulang. Aku tidak enak jika tidur di sini padahak kita belum menikah,” jawabku tegas.


Dengan cara bicaranya yang manja Yebin merutuk, “Apa salahnya? Toh kita akan menikah. Ibu juga mengerti kok. Atau paling tidak, tetaplah di sini sampai aku benar benar terlelap. Setelah itu Oppa bisa pulang ke rumahmu.”


Aku tidak yakin apa aku bisa keluar dari kamar ini setelah Yebin tertidur. Bagaimana pun keadaannya, insting lelaki ku tidak pernah hilang. Aku juga tidak yakin apakah aku bisa mempertahankan bentengku ketika sudah naik ke atas ranjang bersama Yebin.


Namun melihat wajah Yebin yang memelas seperti itu membuatku tidak tega untuk meninggalkannya. Aku pun menuruti kemauannya. Perlahan lahan aku naik ke atas ranjang. Begitu pun Yebin yang segera menempatkan diri di sebelahku.


“Jangan macam macam. Aku ingin tidur dengan tenang malam ini,” peringatku pada Yebin yang memelukku dari samping.


“Hey, bukankah sepasang suami istri yang habis baikan setelah bertengkar itu akan bermesra mesraan sepanjang malam?” goda Yebin di sampingku.


Kulirik tatapan nakalnya. Seketika itu juga gairahku meningkat. Dan tanpa kuduga, Yebin justru menggosok gosokkan telapak tangannya di atas dadaku. Membuat area bawah pusarku mulai menegang.


“Kang Yebin, aku sudah memberimu peringatan.” Tegasku sekali lagi. tapi dia tidak berhenti menggodaku. Benteng pertahananku pun runtuh.


“Kang Yebin!” aku menyeru selagi memutar tubuhku untuk menindih Yebih. Aku melihatnya yang tiba tiba melayangkan senyuman penuh godaan. “Aku sudah memberi peringatan. Jadi kau harus menanggung akibatnya.”


***