Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Jauh dari ekspektasi



“Kau... sungguh Yebin?”


Kening Yebin mengerut. ia memberengutkan wajah mendengar Yul mengatakan hal itu.


“Ada apa dengan reaksimu itu Ajeossi? Apa biasanya aku tidak cantik sampai membuatmu menganga begitu melihatku berdandan?” celetuk Yebin. Ia merasa Yul yang sedang menganga itu mengejeknya.


“Kau sungguh cantik, Kang Yebin.” Yul mengucapkannya dengan begitu ringan. Seolah pujian itu keluar secara otomatis dari tenggorokannya. “Bukan berarti kau tidak cantik sebelumnya. Hanya saja hari ini kau terlihat lebih cantik.”


Wajah Yebin tersipu merah mendengar ucapan Yul. Entah Yul itu hanya berbasa basi atau sungguh-sungguh melontarkan pujian itu kepada Yebin, Yebin merasa senang. Ia tersenyum tipis menanggapi ucapan tersebut.


“Ayo, Nona Kang.”


Yul menyeru sambil mengulurkan lengannya untuk digandeng Yebin. Yebin pun segera meraih tangan Yul dan menggandengnya. Mereka berjalan keluar dari salon. Melesat menuju lokasi pernikahan berlangsung.


Sesampainya di sana mereka disambut oleh banyak orang. Teman-teman Yul yang mayoritas laki-laki, menyambut kedatangan Yul dengan wanita yang dibawanya. Mereka saling berkenalan. Juga mempertanyakan siapa wanita cantik yang digandeng Yul ke pesta tersebut. Dan dengan santainya Yul menjawab, “Ya, seperti yang kalian itu pikirkan,” ketika ada yang bertanya siapa Yebin.


Ruang resepsi yang luas nan mewah ini diisi sekitar lima ratus undangan dari mempelai laki-laki maupun perempuan. Ruangan yang dipenuhi dekorasi bunga dengan pencahayaan berwarna putih yang menyilaukan. Di bawah sinar lampu yang menyala tersebut, kulit tubuh Yebin tampak bersinar. Baju navy yang dipakainya tampak berkilauan terkena cahaya lampu ruangan yang memantul dari segala sudut. Yebin berjalan mengikuti langkah kaki Yul.


“Yul~a,” panggil Haeri yang sedang bergandengan dengan kekasihnya, Gojun. “Pada akhirnya kau tetap datang. Membawa gandengan.”


Langkah Yul berhenti ketika Haeri bersama Gojun berhenti di hadapannya. Kedua manusia yang terlihat serasi itu menatap Yul yang menguntai senyum misterius.


“Sudah kubilang, aku akan datang,” kata Yul. Ia menoleh pada Yebin yang terlihat bingung.


“Laki-laki itu adalah kekasih Haeri. Mereka sudah berpacaran selama sepuluh tahun.” Yul membisiki Yebin yang terlihat sedang berpikir.


Sebenarnya wanita itu sangat terkejut mendengar laki-laki itu adalah pacar Haeri. Ia juga kaget mendengar mereka yang sudah berkencan selama sepuluh tahun. Namun, Yebin menahan rasa kagetnya di dalam benak. Ia mengangguk pelan menyapa Haeri dan kekasihnya, Gojun.


Setelah itu Yul mengajak Yebin berjalan kembali. Sementara Haeri dan Gojun sedang menyapa teman-teman lainnya.


“Jadi mereka berkencan selama sepuluh tahun? Wah, unik sekali. Kalau itu aku, mungkin sudah merasa muak. Apalagi laki-laki itu tidak terlihat seperti laki-laki yang perhatian dan berhati hangat,” celetuk Yebin.


“Benar juga. Tidak mudah menjaga hubungan selama sepuluh tahun. Makanya, setiap kali ada kesulitan, Haeri lebih memilih mengadu padaku, bukan mengadu pada kekasihnya. Karena kekasihnya itu tidak suka mendengar aduan dan tidak suka orang lain mengeluh terlalu banyak.” Yul bercerita.


“Itu namanya laki-laki brengsek. Bisa-bisanya memliki hubungan yang bertahan selama sepuluh tahun dengan laki-laki seperti itu. Aneh sekali.”


“Aku juga merasa demikian. Tapi, setiap kali aku berkata begitu, Haeri selalu bilang kalau dia mencintai lelaki itu. Karena perasaan cinta itu, ia rela melakukan apa pun untuk tetap bersamanya,” kata Yul yang terdengar seperti keluhan.


“Itu bukan cinta lagi, tetapi obsesi. Cinta itu saling menerima dan memberi. Saling mengerti dan dimengerti. Saling kasih dan mengasihi. Kalau yang laki-laki bahkan tidak mau mendengar keluhan kekasihnya, artinya ia hanya ingin menerima tanpa mau memberi. Itu sangat egois. Tidak ada cinta yang egois di dunia ini. Yang namanya cinta itu saling mengerti dan memahami.”


Yebin menyangkal ucapan Yul menggunakan argumennya yang panjang dan masuk akal. Ucapannya tidak salah namun cara bicaranya yang sewot membuat Yul sedikit tidak dapat membenarkan Yebin.


“Itu karena kau tidak tau banyak tentang cinta, Kang Yebin. Saat kau mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, kau seolah-olah mampu berbuat apa pun untuk cintamu. Dan itu bukan obsesi, tapi pengorbanan.”


Langkah Yebin seketika itu berhenti. Ia melepaskan cengkeramannya dari lengan Yul. Membuat Yul berhenti dan segera menyerongkan tubuh.


“Ajeossi berkata begitu karena kau meragukan ketulusanku?” lirih Yebin serius. Ia bertatapan dengan Yul yang terdiam seribu bahasa. “Ucapanmu barusan, terdengar seperti kau mengintimidasiku. Seolah-olah aku ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang cinta. Seolah-olah perasaanku padamu ini bukanlah hal yang serius.”


Napas Yul berembus dengan sangat pelan.


“Tidak. Bukan itu maksudku. Kau tahu, bukan itu yang kumaksudkan.” Yul menyanggah dengan tegas. Ia meraih tangan Yebin namun wanita itu segera menyentakkannya.


“Sudahlah. Lupakan pernyataan cintaku hari itu. Toh aku tahu kalau pada akhirnya Ajeossi menolakku.”


***


“Kang Yebin!”


Yul berlari keluar mengejar Yebin yang baru saja meninggalkan gedung pernikahan. Setelah perdebatan singkat mereka di dalam gedung, Yebin berlari keluar karena merasa tak dapat menahan kemarahan sekaligus kepedihan yang bercampur dalam benak. Ia keluar tepat sebelum upacara pernikahan dimulai. Membuat Yul mau tidak mau mengejarnya keluar di saat mempelai wanita mau memasuki altar.


Selagi mengatur pernapasannya, Yul menolehkan tubuh ke segala arah. Mencari keberadaan Yebin yang telah menghilang dari pandangan. Wanita itu telah berlari pergi entah ke mana. menghilang begitu saja seperti ditelan bumi.


“Ke mana perginya? Dia tahu, bukan itu yang aku maksud.”


Di tempat lain, Yebin baru saja menghentikan langkah kakinya setelah berlari lebih dari dua ratus meter. Ia terlihat kewelahan. Napasnya menderu cepat dan dalam. Yebin yang sedang kelelahan itu, memutuskan untuk duduk di kursi halte.


Wajah yang sendu penuh kekecewaan. Raut muka yang kacau seperti baru melihat adegan kecelakaan yang mengerikan. Napas yang menderu cepat. Rambut bergelombang yang diterpa angin sore. Gaun navy dan sepatu perak. Serta, wajah yang familiar.


Hun yang sedang memarkirkan mobil di pinggir jalan untuk menerima telepon itu seketika mengernyit. Ia langsung mematikan teleponnya. Beranjak turun dan menghampiri Yebin yang sedang duduk di halte seorang diri, tanpa kakaknya. Bukannya mereka sedang manghadiri resepsi pernikahan? batin Hun.


“Kang Yebin,” panggil Hun yang berjalan menuju halte. Ia melihat Yebin yang tersentak kaget mendapati keberadaannya.


“Hun Oppa,” pekik Yebin yang seketika itu beranjak berdiri. “Bagaimana bisa kau ada di sini?”


“Bagaimana lagi? Kantorku ada di dekat sini. Dan aku baru mau pulang bekerja,” ucap Hun. Ia menunjuk arah selatan di mana bangunan tinggi Pengadilan Pusat Seoul terlihat.


Yebin mengangguk sadar. “Ah, begitu rupanya.” Ia kembali mendudukkan tubuh ke atas kursi halte.


“Bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau menghadiri resepsi bersama kakakku?” lanjut Hun menanyai.


Napas Yebin berembus panjang-panjang. pandangan sedihnya menatap lurus ke depan.


“Aku tidak tahu. Kenapa aku ada di sini.”


“Kang Yebin!”


Tidak jauh dari halte itu berdiri, Yul berteriak memanggil Yebin. Pria itu sedang terengah-engah setelah berlarian mencari ke mana wanita itu kabur.


Perlahan-lahan langkah Yul mendekat. Ia menunjukkan raut wajah cemas sekaligus bersalah kepada Yebin. Yebin yang melihat itu, segera melengos.


“Hyeong, apa yang terjadi?” celetuk Hun begitu Yul tiba di halte. Hun yang pandai membaca situasi, seketika itu tahu. “Ah, kalian bertengkar?”


“Tidak. Hanya ada salah paham.” Yul otomatis membenarkan spekulasi Hun. Pria itu berdiri tepat di hadapan Yebin. Lalu mengulurkan tangannya. “Ayo kita masuk. Acara sudah dimulai.”


“Tidak mau. Kenapa aku harus?” cetus Yebin tanpa mendongakkan kepala.


“Kang Yebin. Sudah kukatakan, bukan itu maksudku.”


Mendengar Yul yang berkata penuh putus asa, Hun memutuskan untuk segera pergi. Sepertinya kedua orang itu punya hal penting yang harus dibicarakan. Hun yang merasa tidak ingin menganggu, segera memutar tubuh dan berjalan pergi menuju mobilnya. Namun sebelum melangkah lebih jauh, ia mendengar Yebin bersuara.


“Apanya yang bukan kau maksud, Ajeossi? Kenyataan bahwa kau akan menolak pernyataan cintaku malam itu? Atau, kenyataan kau yang masih memandangku seperti bocah kecil yang dungu?” celetuk Yebin.


Hun yang mendengarnya seketika itu membatin, Yebin sudah menyatakan cinta... pada kakakku. Kemudian pria itu berlalu pergi dan masuk ke mobilnya untuk bergegas pulang.


Yul mendenguskan napas panjang.


“Dengarkan perkataanku kali ini, Kang Yebin. Kumohon, dengarkan aku. Aku tidak mengatakannya karena mengangapmu anak kecil. Aku juga tidak mengatakannya untuk menolak perasaanmu.”


“Lantas kau menerima perasaanku?” tanya spontan Yebin.


Tubuh Yul dalam sekejap memaku. Ia tak dapat menjawab apa-apa saat ini. Sama sekali, ia belum memikirkan jawaban atas pengakuan cinta Yebin malam itu. Semua terasa semakin membingungkan untuk Yul. Perasaannya tidak bisa diprediksi dan sulit untuk diartikan. Pria itu tidak tahu apakah dirinya menyayangi Yebin sebagai wanita. Atau hanya sebatas menyayangi wanita itu sebagai kakak, atau sebagai satu-satunya orang dewasa yang ada di sekitar Yebin.


“Ajeossi bahkan tidak bisa menjawab ‘ya’ atau pun ‘tidak’.” Yebin menyahut mendapati mulut pria itu yang membeku seperti es.


Tanpa menunggu lama Yebin pun beranjak berdiri. Ia berlalu pergi sambil berucap tegas. “Kalau begitu ayo masuk. Setidaknya aku harus masuk untuk membayar kembali jutaan won yang sudah Ajeossi habiskan di salon.”


Yebin berlalu pergi tanpa memedulikan Yul yang masih membeku seperti patung es. Sesaat kemudian, ia menyusul langkah Yebin dan menyahut, “Setelah acara nanti selesai, aku akan memberikan jawaban.”


Kedua manusia itu kemudian masuk ke dalam gedung pernikahan. sementara mereka mengikuti berjalannya acara, di sudut lain jalanan kota Seoul yang padat, Hun mengendarakan mobilnya menuju Seocho. Wajah tampannya dengan kacamata minus yang menengger di pangkal hidung terlihat sendu. Hun mengemudikan mobilnya dengan perasaan bercampur aduk yang terasa menyesakkan. Ia merogoh saku jas hitam yang dipakainya. Mengambil sebuah kotak persegi berwarna maroon yang didalamnya terdapat kalung dengan liontin bintang yang tertera ukiran nama bertuliskan ‘Yebin Kang’ di bagian belakangnya.


Hun meraih kotak maroon tersebut dan melemparnya ke kursi belakang.


“Sia-sia saja. Pada akhirnya kakakku yang menang.”


***