
Bab 43
Mino adalah kekasih Lysa, dan Brian adalah kakak lelakinya!
Sikap Brian itu memang sangat aneh. Lysa yang telah mengenal Brian selama lebih dari dua belas tahun itu merasa bahwa sikap Brian itu snagat aneh dan tidak dapat Lysa tebak. Brian tiba tiba saja mendatangi Lysa di kamar hotelnya dan buru buru lari menjauh begitu selesai mennyampaikan apa yang ingin laki laki itu sampaikan.
Sebenarnya Lysa udah sangat capek tubuhnya, dan ia ingin segera istirahat begitu selesai mandi dan mengeringkan rambut. Namun kedtaangan Brian dan sikap aneh laki laki itu membuat Lysa mau tidka mau harus mengurungkan niatnya untuk segera tidur. Dan lebih dari apa pun, Lysa merasa khawtair pada Brian. Karena tidak pernah sebelumnya Brian bersikap seperti itu di hadapan Lysa dan bahkan di hadapan siapa pun. Jadi Lysa merasa khawatir dan mencemaskan laki laki itu. Karena sejak kemarin sore Lys atidka melihat Brian dan tidak tahu apa yang laki laki itu lakukan, serta berada di mana dia.
Begitu Brian pergi meninggalkan kamar hotel Lysa dengan terburu buru, Lysa pun kembali duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya sampai benar benar kering. Lalu memakai cardigan panjang untuk melapisi baju tidur yang sudah gadis itu pakai untuk bersiap tidur lebih awal pada malam ini.
Setelah selesai menegrinkan rambutnya, Lysa langsung turun menuju lantai dua. tepatnya di restoran hotel untuk bertemu Brian. Dan, seperti yang laki laki itu katakan, ia sedang menunggu Lysa di salah satu bangku restoran yang telah terisi dengan beberapa hidangan untuk makan malam.
“Apa kau memintaku turun untuk mengajakku makan malam bersama di sini?” tanya Lysa begitu tiba di meja restoran tempat brian menunggu. Gadis itu pun segera mendudukkan tubuh ke atas bangku seberang meja Brian dan berhadap hadapan dengannya.
“Ya... salah satunya,” jawab Brian tak yakin. “Pertama makan dulu. Kau pasti belum makan kan?” kata Brian sambil mengambil peralatan makan untuk mulai makan malam bersama Lysa.
“Benar sekali. Aku belum makan malam dan sekarang sangat lapar. Sebenarnya aku ingin tidur lebih awal sampai aku lupa kalau aku belum makan. Dan begitu melihat makanan, perutku jadi kerasa laparnya. Terima kasih, Brian. Kau juga makan dengan baik ya.” Lysa berucap.
Akhirnya kedua mansia itu pun melahap makan malam mereka dalam keheningan. Kedua duanya fokus untuk makan sehingga tidak mengajak bicara satu sama lain. Begitu pula Brian yang kelihatannya ingin mengatakan sesuatu pada Lysa.
Sampai akhirnya makan malam mereka pun selesai. Lysa telah menghabiskan makan malamnya dan disusul oleh Brian kemudian.
“Wah, kenyang sekali. Sekali lagi terima kasih, Brian,” kata Lysa setelah meminum satu gelas air putih pertanda ia telah menyelesaikan makan malamnya.
“Sama sama.”
“Ngomong ngomon, di mana wanita itu?” tanya Lysa. Ia merasa aneh saja karena Brian tidak bersama Jiwon padahal wanita itu juga menginap di hotel ini.
“Wanita itu? Ahh ... Jiwon?” tanya Brian yang akhirnya mengerti siapa yang Lysa maksud dengan sebutan wanita itu. Dan Lysa langsung mengangguk anggukkan kepala sebagai jawaban iya untuk Brian. “Jiwon ... dia mungkin sedang tidur karena capek penerbangan berjam jam dari Korea.”
Dari jawaban Mino yang didengar oleh Lysa itu, Mino terdengar tidak begitu peduli pada Jiwon. Lysa tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, namun Mino kelihatannya tidak semarah dulu ketika bertemu dengan Jiwon. Laki laki itu hanya tidka menunjukkan ketertarikan saja dengan Jiwon dan tidka begitu peduli padanya. Pun tadi ia datang ke bandara untuk menjemput Jiwon atas perintah dari ibu brian yang mengawasi setiap gerak gerik Brian dari Amerika.
“Begitu rupanaya,” gumam pelan Lysa dengan perasaan yang aneh. “Apa Jiwon akan menginap di kamarmu?” lanjut Lysa bersama.
“Iya, toh aku sejak kemarin tidak menginap lagi di hotel ini. jadi biar kamarku ditempati saja oleh Jiwon.” Brian berucap.
Pantas saja, Brian tidak terlihat berada di hotel ini sejak kemarin. Rupanya Brian sudah tidak menginap lagi di sini.
“Jadi kau sudah tidak menginap di sini lagi. Pantas saja aku tidak melihatmu,” gumam Lysa menanggapi jawaban Brian. “Kalau begitu, kau menginap di mana jika tidak di hotel ini?”
“Aku menginap di apartemen lama ayah. di sana lebih luas dan fasilitasnya lebih lengkap. Aku bisa memasak dan melakukan kegiatan lainnya di apartemen lama ayahku,” jawab Brian santai. Memang benar kalau keluarga Brian itu sangat kaya dan memiliki banyak apartemen di banyak tempat. Alasannya tidak mengajak Lysa tinggal di apartemen itu dan lebih memilih untuk menyewakan kamar untk Lysa di hotel adalah, “Aku tidak bilang pada ibu dan ayahku kalau aku mengajakmu liburan ke Indonesia. Mereka tau kalau aku ke sini sendirian. Dan akhirnya mengutus Jiwon untuk datang kemari dan menemaniku.”
Lysa mengangguk anggukkan kepala. Ia merasa dapat memahami apa yang Brian katakan dengan baik.
Lysa memang telah akrab dan kenal lama dengan Brian sebelum akhirnya hubungan mereka sedikit canggung akhir akhir ini. dan keluarga Brian dengan keluarga Lysa juga kenal sangat dekat. Namun, itu dulu ketika ayah Lysa masih menjadi pebisnis yang sukses dan menjalankan roda bisnis di negeri ini bersama ayah Brian. Namun sejak bisnis ayah Lysa di sini bangkut, hubungan mereka tidak begitu baik. Ada konflik antara ayah lysa dan ayah Brian terkait dengan bisnis yang telah bangkrut itu. Dan sampai detik ini, hubungan keduanya sepertinya tidak begitu baik.
Ibu Brian masih bisa ‘berakting’ baik di hadapan Lysa sama seperti dulu bagaimana ia memperlakukan gadis itu. Namun, Lysa tidak pernah tahu apa yang ibu brian pikirkan tentangnya. Dan juga, Lysa tidak tahu apa yang ibu brian perintahkan kepada Brian sampai sampai Brian tidak pernah mengajak Lysa untuk bertemu dengan keluarganya lagi.
Lysa memahami semua itu. Dan merasa mengerti mengapa Brian tidak mengatakan pada ibunya bahwa ia berlibur ke Indonesia bersama dengan Lysa. Brian adalah putra semata wayang di keluarganya. Semua hal yang laki laki itu lakukan sangat dikontrol oleh sang ibu. Setiap gerak geriknya diperhatikan oleh ibu dan ayahnya yang ada di Amerika. Meski pun mereka berdua ada di negeri yang sangat jauh dari Indonesia, ayah dan ibu Brian memiliki banyak pasang mata yang bisa mengawasi Brian di sini. Dan alasan Brian memilih hotel ini adalah karena letak hotel ini berada cukup jauh dari pengawasan tempat tempat milik orang tuanya di kota ini. alias, Brian sengaja menyembunyikan Lysa di sini supaya tidak ketahuan. Namun, sepertinya usaha Brian iu gagal karena pada akhirnya Brian memutuskan untuk menginap di apartemen ayahnya sejak kemarin, dan bahkan ibu Brian mengutus Jiwon untuk menemani Brian liburan di Indonesia.
Itulah sebenarnya alasan kedatangan Jiwon di Indonesia. Namun Brian menyembunyikan hal itu karena tidak ingin menyakiti Lysa jika sampai Lysa tahu kalau ibunya sebenarnya tidak suka jika Brian terlalu dekat dengan Lysa.
Tiba tiba saja Brian tediam. Pandangannya perlahan menurun selama beberapa detik. Lalu kembali menatap Lysa yang wajahnya sungguh polos dan lugu.
“Apa yang ingin kau katakan, Brian? Sepertinya dari tadi kau mencemaskan sesuatu. Tidak apa apa, katakan saja. Aku akan mendengarnya.” Lysa yang melihat rasa cemas di wajah Brian itu berkata demikian. Mencoba meyakinkan Brian supaya laki laki itu dapat mengatakan apa yang ingin ia katakan kepada Lysa.
“Aku ... ingin meminta tolong padamu, Lysa. Bisakah kau menolongku?” kata Brian ragu ragu. Raut wajahnya terlihat cukup misterius dan tidak dapat Lysa tebak.
“Minta tolong? Minta tolong apa?” sahut Lysa. Ia menatap lekat lekat Brian yang duduk di hadapannya. Mencoba membaca setiap ekspresi pada wajah Brian. Namunj, tetap saja hasilnya nihil karena Brian memang bukan orang yang mudah ditebak. Kecuali kalau Lysa adaah seorang ahli pembaca pikiran dan juga mikro ekspresi manusia, Lysa tidak akan dapat menebak apa yang sedang Brian pikirkan dan apa yang terjadi pada laki laki itu.
“Aku ingin meminta tolong agar kau mau membantuku menyingkirkan Jiwon.”
“Me ... menyingkirkan? Kenapa? Bukannya ibumu sangat menyukai wanita itu dan ingin menikahkanmu dengannya? Kenapa kau ingin menyingkirkannya, Brian? Tidakkah kau mulai bisa menerima wanita itu?” Lysa yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan berpikir Brian itu bertanya karena merasa sangat bingung. Ia kira Brian mulai dapat menerima keberadaan Jiwon. Karena itu Brian bersikap lebih terbuka dengan wanita itu. Tapi, rupanya dugaan Lysa itu salah karena Brian masih tegas berkata tidak untuk Jiwon. Hati Brian benar benar tertutup rapat untuk wanita itu. Dan Brian ingin meminta bantuan Lysa untuk menjauhkan Jiwon dari Brian.
“Tidak. Itu sama sekali tidak benar. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyetujui pernikahan itu. Aku tidak mau dipaksa menikah dengan wanita yang hanya mencintai harta dan kekayaan orang tuaku. Aku ingin menikah dengan wanita yang aku cintai dan yang bisa mencintaiku dengan tulus, menmcintaiku tanpa pamrih, dan membuatku selalu merasa berharga ... sama sepertimu, Lysa. Sama sepertimu di saat dulu kau masih menyukaiku.” Brian berucap ia menatap Lysa lekat lekat karena Lysa lah yang Brian maksud sebagai wanita yang ingin dikikahinya, wanita yang ia cintai dengan tulus dan yang bisa mencintainya tanpa pamrih, sama seperti yang dulu Lysa lakukan, yang tidak mendapat balasan perasaan dari Brian.
Hati Lysa seketika membeku mendnegar itu. Memang benar bahwa siapa saja ingin menikah dengan orang yang dicintainya dan yang mencintainya dengan tulus dan tanpa pamrih. Namun, membawa bawa masa lalu Lysa dan perasaan Lysa terhadap brian yang telah lalu itu membuat Lysa merasa tidak nyaman.
Lysa mengembuskan napas panjang panjang. Ia lantas mengambil gelas air minum yang masih berisi sedikit air di hadapannya. Meminum sedikit air itu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
“Sebentar, Brian. Katakan dulu kenapa kau sangat tidak menyukai wanita itu, dan kenapa kau diam sama selama ini? kenapa kau tidak mengatakannya pada orang tuamu? Bukannya masalah ini akan beres jika kau mengatakan yang sejujurnya pada mereka?” Lysa bertanya karena merasa sangat penasaran akan itu semua.
Sejenak Brian diam. Ia menarik napas panjang panjang untuk bersiap bercerita.”
“Jadi seperti ini, Lysa. Aku tidak menyukai wanita itu karena dia hanya ingin memanfaatkanku dan memanfaatkan keluargaku. Dia menginginkan kekayaan dari keluargaku, karena itu dia ingin sekali menikah denganku meski aku tahu dia juga sama sekali tidak mencintaiku. Dan Jiwon, wanita itu memiliki tutur kata yang sangat halus namun juga memiliki racun di lidahnya. Dia berhasil mengelabuhi ibu dan ayahku untuk memberinya dukungan. Dia ingin memenangkan segalanya dan akhirnya menikah denganku untuk ia ambil apa yang bisa dia miliki.”
“kalau begitu katakan saja pada ayah dan ibumu kalau sebenarnya Jiwon itu punya niat yang busuk terhadap keluargamu. Kau bisa mengatakan yang sejujurnya pada mereka bukan, dan katakan juga kalau benar benar tidak ingin menikah dengannya,” sahut Lysa menyela penjelasan Brian.
“Tentu, aku sudah melakukannya. Aku sudah menjelaskan panjang lebar pada ibu dan ayah bahwa Jiwon hanya ingin memanfaatkan mereka untuk keuntungannya semata. Tapi, aku tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa Jiwon memang memiliki niat busuk terhadap keluargaku. Wanita itu sangat menakutkan, dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan lebih parahnya lagi, cara kerjanya sangat bersih dan tidak meninggalkan jejak. Aku tidak bisa menemukan bukti untuk itu.” Brian menjawab dengan tegas.
Lysa menghela napas panjang panjang. Sekilas ia tahu seperti apa wanita bernama Im Jiwon itu. Sejak tadi bertemu di bandara dan wanita itu menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya di hadapan Lysa, Lysa telah merasakan aura gelap pada wanita itu. Dan mirisnya, bagaimana seorang wanita seperti Jiwon membuat Mino begitu tergila gila padanya di masa lalu? Bagaimana bisa wanita itu membutakan hati Mino dan membuat Mino begitu hancur, seolah olah tidka memiliki harapan hidup lagi saat dia tinggalkan? Bagaimana itu bisa terjadi? Dan seperti apa senjata rahasia yang digunakan Jiwon untuk menaklukkan laki laki seperti Mino?
Yang Lysa pikirkan saat ini menjadi Mino. Kaerna bagaimana pun, Im Jiwon adalah mantan kekaish Mino yang telah bertahun tahun bekencan dengannya. Mantan kekasih yang cukup berkesan sampai membuat Mino susah untuk melupakan masa lalu dan bahkan merasa ragu terhadap Lysa. Sungguh, Lysa tidka menyukai mantan apa pun. Mantan ketua kelas, mantan presiden, mantan didektur, atau pun mantan kekasih ... Lysa tidak menyukai semua jenis mantan dan merasa alergi dengan kata MANTAN!
Tiba tiba hati Lysa mejadi sangat kesal karena memikirkan kata MANTAN. Teringat Jiwon, teringat masa laly Mino, dan akhirnya Lysa mencoba menerka nerka apa saja yang telah kedua manusia itu lakukan di masa lalu ketika belum menjadi mantan. Dan begitu memikirkannya, tiba tiba kemarahan Lysa memuncak. Lysa yang sudah sangat lelah dengan banyaknya emosi dan tenaga yang telah ia keluarkan hari ini, memilih untuk berhenti memikirkannya. Lysa pun menggeleng gelengkan kepala untuk mengusir semua emosi buruk yang ia pikirkan.
Untuk mengusir semua pemikiran negatif yang memicu amarah di benak Lysa, Lysa pun kembali melontarkan pertanyaan untuk Brian.
“Kalau begitu, apa kau sudah pernah mengatakan keinginanmu yang sebenarnya pada ayah dan ibumu? Bahwa kau hanya ingin menikah dengan orang yang kau cintai saja, bukan pernikahan karena bisnis atau semua hal yang tidak menguntungkan untuk kelanjutan hidupmu?” lanjut Lysa bertanya.
Seketika itu Juga Brian menghela napas panjang panjang.
“Huh. Memang kau pernah melihat orang tuaku mendengarkan keinginanku?” Brian berkata dengan pasrah. Dua belas tahun lebih Brian mengenal Lysa. Harusnya Lysa cukup tahu bagaimana Brian diperlakukan oleh orang tuanya.
Baiklah. Lysa cukup tau kalau orang tua Brian, terutama ayahnya itu memegang kendali sangat penuh pada Brian. Brian tidak dapat berkutik apa apa jika ayahnya sudah berkata tidak dan menggunakan smeua koneksinya untuk menghentikan apa yang Brian ingin lakukan.
Pernah ada cerita ketika Brian masih menjadi mahasiswa S1 di Universitas Gajah Mada. Ketika itu Brian berada di semester tengah studinya di universitas. Dan Lysa baru berusia lima belas tahun pada waktu itu dan masih duduk di bangku SMP. Ceritanya Brian sedang sangat stres karena semua beban kuliahnya. Brian sering bercerita kepada Lysa kalau dirinya merasa sangat tertekan sebagai mahasiswa dan ingin sekali melupakan semua beban itu meski sebentar dengan cara mengikuti sebuah komunitas pecinta lam. Dan aklhirnya Brian pun masuk di komunitas pecinta alam itu. Paling tidak, ia ingin memiliki kegiatan lain selain belajar supaya bisa sedikit menikmati masa mudanya sebagai mahasiswa kampus terkenal tersebut.
Namun, suatu karika ayah Brian mengetahui hal itu. Beliau menentang keras apa yang ingin Brian lakukan karena menganggap bahwa komunitas pecinta alam itu hanya untuk orang orang kelas menengah ke bawah dan katanya bisa merusak citra keluarga. Wajar saja, ayah Brian itu adalah seorang pebisnis besar di Indonesia yang juga memiliki banyak perusahaan di luar negeri. Tentu saja ia merasa malu jika sampai ada orang yang tahu bahwa putra semata wayangnya mengikuti kegiatan di hutan, mendaki gunung, dan menaik menaiki pohon yang itu dinilai sangat memalukan untuk iayahnya. Tetapi Brian sangat ingin bergabung di komunitas itu, dan ia menentang keinginan ayahnya. Namun yang terjadi selanjutnya adalah, komunitas pecinta alam itu bubar dan semua orang yang tergabung dalam komunitas itu membenci Brian. Brian yang semakin merasa tertekan, akhirnya kabur dari rumahnya dan menginap selama beberapa hari di rumah Lysa. Di rumah Lysa itu, Brian dirawat dengan baik oleh ayah dan ibu Lysa. Mulai saat itu juga, Lysa lah yang menjadi satu satunya teman Brian dan teman yang bisa membantunya meredakan stres. Karena ketika Brian bercerita kepada Lysa bahwa dirinya sedang stres, Lysa akan mengajak laki laki itu untuk bermain play station, berenang di danau belakang rumah nenek Lysa, dan mencari kerang di pesisir pantai tempat nenek Lysa tinggal waktu sang nenek masih belum meninggal.
Secara keseluruhan Lysa mengenal baik sosok Brian dan juga bagaimana pria itu diperlakukan di keluarganya. Dan itu yang membuat Lysa merasa berempati padanya.
Ketika mengingat kembali momen itu, Lysa merasa sangat bahagia. Karena ia memiliki teman bermain yang dapat ia ajak berkompromi. Masa kecil Lysa indah karena Brian. Masa remaja gadis itu berwarna karena Brian. Dan sebaliknya. Masa masa sulit yang Brian lalui selama ini terasa menjadi ringan karena ia melaluinya bersama Lysa.
“Baiklah baiklah. Kalau begitu, sekarang apa yang kau inginkan, Brian?” Lysa kembali bertanya. Inti dari pembicaraan mereka adalah hal ini, apa yang ingin Brian lakukan dan apa yang harus Lysa lakukan untuk menolong laki laki itu.
“Kau serius ingin membantuku?” tanya Brian meyakinkan.
Setidaknya, itu yang bisa Lysa lakukan untuk Brian. Sedikit bernostalgia tentang masa masa indah yang pernah mereka lalui bersama di Indonesia, Lysa merasa sangat iba kepada Brian. Lysa memang tidak bisa membalas perasaan Brian lantaran hatinya telah dipenuhi oleh rasa cintanya terhadap Mino. Dan Lysa memang tidak dapat kembali menyukai Brian karena ia memiliki Mino dan memilih Mino untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Namun, bukan berarti Lysa dapat mengabaikan Brian begitu saja. Mengingat semua waktu dan kebersamaan yang telah mereka lalui bersama. Masa menyenangkan dan semua masa masa sulit. Lysa merasa dirinya itu bisa sekuat sekarang juga berkat bantuan Brian yang selalu membantu Lysa memecahkan setiap masalah yang gadis itu miliki.
Jujur, Lysa ingin mmebantu Brian. Setidaknya hanya dengan membantu Brian itu rasa bersalah Lysa terhadapnya berkurang banyak. Lysa merasa bersalah pada Brian karena tidak bisa membalas perasaan tulus laki laki itu. Dan ia ingin membantu Brian yang selama ini telah menjadi kakak laki laki yang baik untuknya. Benar, kakak laki laki. Bagi Lysa, Brian adalah kakak laki lakinya yang tidak bisa ia anggap sebagaimana Lysa memandang Mino selama ini. Mino adalah kekasihnya, laki laki yang Lysa inginkan untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Dan Brian adalah kakak laki lakinya dan Lysa ingin terus memiliki hubungan yang baik dengannya selayaknya saudara pada umumnya.
“Aku serius, jadi, bagaimana aku bisa membantumu, Brian?” tanya Lysa.
“Aku ingin menunjukkan pada Jiwon bahwa yang aku cintai adalah kamu, Lysa. Aku ingin menunjukkan itu sampai akhirnya Jiwon merasa kalah dan akhirnya menyerah.”
**