Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Adegan mesra yang mana?



Adegan mesra yang mana?


Yul Pov


Pada akhir tahun ini aku sangat diberkati. Moonlight Coffe yang dilanda krisis akhirnya bisa kembali seperti semula. Aku yang sebelumnya super sibuk dengan segala pekerjaanku sebagai bis kafe, sekarang memiliki banyak waktu untuk bersantai. Waktu untuk menghabiskan hari bersama istri tercintaku. Belum lagi kabar kehamilan Yebin yang sangat tdak terduga dan menjadi hadiah terbaik sepanjang tahun ini.


Kami memang tidak sednag merencanakan kehamilan. Sebelumnya kami juga sama sama setuju untuk tidka merencanakan kehamilan terlebih dahulu. Namun jika bayi itu diberkati sebagai ‘hadiah’, dengan senang hati kami akan menerima dan merawatnya dengan baik.


Malam itu sebenarnya aku tidak sedang merencanakan untuk berhubungan intim dengan Yebin. aku sibuk dengan tabletku ketika sedang duduk menyandarkan punggung di atas ranjang tidur kami. Dan tiba tiba Yebin keluar dari kamar mandi. Tidak tahu kenapa malam itu Yebin terlihat begitu cantik dan juga segar. Aku mengamati setiap gerakannya yang sedang mengeringkan rambut. Lalu tiba tiba pengering rambut itu mati dan Yebin memintaku untuk memeriksanya. Dari hal itu gairahku semakin terangsang. Aku mendekat pada Yebin dan mencium aroma wangi tubuhnya yang habis mandi. Itu yang membuatku semakin tak kuasa menahan hastratku dan akhirnya melakukannya dengan Yebin.


Semua itu sungguh di luar rencana kami. Tapi, jujur saja. aku merasa sangat gembira mendapat hadiah itu. Sungguh tidka terduga mengingat kami yang melakukannya tanpa perencanaan. Aku merasa sangat bahagia. Lebih dari apa pun aku merasa bahagia karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah.


Sekarang kami tiba di sebuah gedung bioskop untuk menghabiskan akhir pekan kami dengan menonton. Aku mengerti kondisi Yebin yang sedang hamil. Sehingga memesankan ruang bioskop VVIP di mana fasilitas untuk penontonnya bukanlah kursi berdempetan yang sesak. Melainkan ranjang tidur yang berukuran minimalis namun cukup untuk dua orang.


Yang ada di ruangan ini adalah pasangan pasangan, yang semuanya terlihat berasal dari golongan menengah ke atas. Satu ruangan bioskop yang cukup luas ini terisi lima belas ranjang tidur yang artinya hanya ada sekitar tiga puluh pentonton yang terdiri dari lima belas pasang. Fasilitas selain ranjang tidur adalah satu meja berukuran kecil di sebelah kanan ranjang tidur bersandaran belakang. Di atas meja itu terisi dua gelas wine dan juga camilan manis. Namun karena Yebin sedang hamil, aku meminta seorang pelayan untuk mengganti salah satu gelas wine nya dengan susu khusus untuk ibu hamil.


Ruangan mulai menggelap ketika film sebentar lagi akan diputar. Aku merangkul bahu Yebin yang duduk di sebelahku dengan selonjoran di atas ranjang. Kedua kaki kami diselimuti selimut hangat yang disediakan bioskop.


“Bagaimana? Kau menyukai suasananya? Biasanya kita kan menontonnya di bioskop yang biasa. Di sini bagaimana? lebih nyaman kan?” tanyaku setengah berbisik. Aku tidka ingin menganggu penonton lain di ruangan ini yang sangat hening. Sehingga bertanya dengan suara pelan tepat di samping telinga Yebin.


“Aku menyukainya. Sepertinya tempat ini lebih baik.”


Tepat seteah itu adegan pembuka film bermula. Aku dan Yebin mulai fokus menonton film bertajuk romantis yang berputar di layar besar di depan sana. Sekedar informasi saja, film yang sedang kami tonton ini adalah film Korea yang dibintangi oleh aktor terkenal Korea bernama So Ji Sub.


Film terus berputar dan kulihat Yebin tampak berkonsentrasi mendegarkan dialog dari kedua tokoh utama dalam film dan juga lakon yang mereka lakukan. Yebin terlihat asyik dengan tontonannya, sambil menikmati popcorn rasa yang dipeluknya dengan lengan kiri, tepat di sebelah kananku.


Aku tidak yakin apakah Yebin memang terlalu larut dalam cerita yang dilakonkan di dalam film. Atau sedang adik memandangi aktor tampan yang wajahnya terus terpampang di layar besar bioskop. Tapi, melihatnya menatap laki laki lain dengan cara seperti itu, membuatku merasa sedikit cemburu.


“Tidakkah kau terlalu asik menonton aktor itu?” bisikku pada Yebin yang kelihatannya sangat menghayati film yang sedang diputar.


Kepala Yebin menoleh. Keningnya mengerut menatapku sambil memicingkan kedua mata.


“Lalu kenapa Oppa tidak menonton film dan malah memandangiku?” balas Yebin bertanya.


“Wajar dong. Karena aku menganggapmu lebih cantik dari paa aktor wanita yang ada di film itu. jadi aku lebih memilih untuk memandangimu dari pada memandangi aktor wanita dlam film.”


“Kalau begitu Oppa tidak udah mengajakku menonton film,” celetuk Yebin yang entah bagaimana membuatku merasa sedikit kesal.


Aku pun hanya menghela napas. Lalu mengambil dua butir pop corn dan langsung melahapnya.


“Kalau menonton film itu, yang diamati jalan ceritanya. Apa selama ini Oppa menonton film untuk memandangi wanita cantik yang keluar di film? Tidak kan? Jadi Oppa tidka usah memprotes dan tonton saja filmnya sampai habis. Oppa kan yang tadi mengusulkan untuk menonton film?” Yebin mengimbuhkan. Mungkin ia melihat wajah kesalku dan menanggapinya begitu.


“Baiklah. Tapi, ngomong ngomong, biasanya aku memilih film untuk ditonton dari pemeran utawa wanitanya yang cantik,” desusku pelan.


“Apa!”


Yebin nyaris saja mengganggu penonton lain dengan meninggikan suaranya. Aku pun dengan cekatan menutup mulutnya menggunakan telapak tanganku. Lalu menanggapi.


“Hussttt. Jangan berteriak. Kau bisa kena semprong penonton lain yang merasa terganggu.”


“Lalu apa maksud Oppa mengatakan hal itu padaku?” lanjut Yebin bertanya dengan nada suaranya yang terdengar penuh emosi.


“Tidak begitu, Nyonya Moon. Aku kan hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya dengan begitu serius?” sanggahku.


Jujur. Aku tidak bercanda ketika menceritakan bahwa aku memilih film berdasarkan pemeran wanitanya, bukan cerita yang ada di dalamnya. Tapi, Yebin pasti akan langsung berteriak jika tau kejujuranku. Lebih baik aku berbohong saja dengan mengatakan bhwa aku hanya bercanda. Dengan begitu, setidaknya Yebin tidak akan menjadi pusat kekesalan para penonton lain yang mungkin akan merasa terganggu jika ia berteriak.


Menanggapi penjelasanku, Yebin hanya berdeham deham. Ia kemudian melanjutkan kegiatan menontonnya. Sementara aku mencoba melihat ke arah layar sebelum perhatianku teralih pada hal lain. dari arah dudukku saat ini, aku melihat ke arah ranjang yang berada di satu deret di belakangku, ranjang nomor empat belas. Itu adalah ranjang yang ada di deretan paling belakang, tepat di belakangku agak ke kanan. Di ranjang nomor empat belas itu, kulihat sepasang pemuda pemudi tengah berciuman dengan mersra. Untung saja ranjang mereka di belakang sendiri, sehingga tidka ada yang melihat selain aku yang tak fokus menonton film.


Sepasang kekasih yang ada di ranjang menonton nomor empat belas itu tampak sedang berciuman dengan mesra dan sedikit vulgar. Dilihat dari sang pria yang mencium kekasihnya sambil meremas punggung sang kekasih.


Aku hanya bisa membatin, wah ... anak muda zaman sekarang tidak main main. Hei, anak muda ... sepertinya kau datang ke tempat yang salah. Harusnya kau datang ke hotel, bukan ke bioskop.


Saat aku merutuk rutuk di dalam hati melihat kelakukan pasangan muda sekitar dua puluh delapan tahunan itu, aku menggeleng geleng keheranan. Saat pandanganku kembali tertuju ke depan, aku menyadari suatu hal. Anak muda yang sedang berciuman di belakang itu ... sepertinya aku mengenalnya.


Sekali lagi aku menoleh ke belakang. Ketika itu ciuman mereka telah selesai. Dan, seperti yang kuduga. Anak muda itu adalah orang yang sangat sangat ku kenal. Benar. Sangat kukenal karena ia adalah ...


“Hun~a! Hei, Moon Hun! Apa itu kau? Hun ... adikku?!”


Kedua mataku seketika itu terbelalak. Tanpa kusadari nada suaraku meninggi dan membuat semua orang menoleh. Begitu pula Yebin yang seketika itu menolehkan kepalanya ke belakang.


Teriakanku ini memang memicu perhatian semua orang di dalam ruangan. Padahal tadi yang kucemaskan menjadi pusat kekesalan adalah Yebin. Tapi, sekarang aku yang mendapat tatapan kesal dari pada penonton biopskop yang merasa terganggu terhadap teriakanku.


Mengabaiklan semua ornag yang sedang menataoku penuh sinis itu, seisi kepalaku ini hanya terpusat pada Hun. Benar, Hun! Adikku, Hun, yang tadi berciuman dengan begitu mesra dengan kekasihnya tepat di belakangku. Hun, benar benar berkencan dengan wanita hakim yang katanya hanya rekan kerjanya itu?


Dari arah ranjang menontonnya, Hun tidak kalah kagetnya dariku. Kedua matanya terbelalak lebar, begitu pun wanita yang duduk di sebelahnya. Melihatku secara mengejutkan ada di tempat ini, Hun memanggilku dengan terbata bata.


“Hy ... Hyung ....”


***