Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Bibir merah yang menggoda



Di bawal pencahayaan kamarnya yang tidak terlalu terang, Yebin berdiri menghadap kaca rias. Ia tengah melihat penampilannya melalui cermin itu. Melihat apakah ada yang kurang dari pakaian yang dikenakannya ini. Juga menilai semua hal yang menempel di tubuhnya.


“Apa aku kelihatan seperti anak kecil jika memakai ini?”


Setelah menimbang, Yebin pun melepas jepit rambut mutiara yang bertengger di belahan samping rambutnya. Ia mempertimbangkan kembali tatanan rambutnya. Dan memutuskan untuk mengikat rambutnya yang panjang ke atas seperti dandanan Sekretaris Kim dalam drama televisi yang disiarkan beberapa bulan lalu.


“Sepertinya laki-laki menyukai perempuan yang rambutnya diikat. Ah, itu tidak hanya berlaku di televisi kan? Laki-laki di dunia nyata juga menyukainya kan? Katanya kalau rambut diikat ke atas, garis leher akan terlihat indah. Apa benar begitu?”


Sambil menggumam-gumam tidak jelas dengan dirinya sendiri, Yebin pun selesai mengikat rambutnya ke atas. Ia mengencangkan tali rambutnya. Kemudian duduk di atas kursi rias untuk melihat kembali make up yang telah dipakainya.


“Riasan wajahku tidak berlebihan. Hanya saja ada yang kurang.”


Yebin meraih ponselnya di atas meja rias. Membuka aplikasi pencarian dan mengetikkan ‘warna lipstick yang disukai pria’ di kolom search.


Dalam dua detik ada ratusan artikel yang muncul dari kata kunci yang diketiknya. Yebin menge-klik salah satu artikel yang ada di urutan paling atas dan membaca setiap kata dalam artikel itu dengan seksama.


“Ahh, ternyata laki-laki menyukai lipstik merah. Aduh. Aku yang bodoh karena tidak tahu hal ini sejak dulu. Kalau tahu aku pasti sudah pakai lipstick merah setiap hari. Apalagi saat bertemu Ajeossi.”


Merasa telah menemukan apa yang dicarinya, Yebin segera menutup ponselnya dan menghapus lipstick merah muda yang telah dipakainya. Ia mengambil salah satu lipstick yang disusunnya di atas meja rias. Mengambil lipstick yang berwarna red velvet. Kemudian mengaplikasikannya di bibir dengan teliti.


Tepat setelah Yebin selesai memakai lipstick merah tersebut, suara klakson dari depan rumah terdengar. Yebin segera beranjak dari duduk. Mengambil tas bahunya lalu melesat turun menghampiri Yul yang menunggu di depan gerbang.


Begitu keluar dari gebang Yebin segera naik ke dalam mobil Yul. Di dalamnya, Yul yang terkejut melihat penampilan Yebin, membelalakkan mata selama beberapa waktu. Ia merasa ada yang aneh.


“Kang Yebin, apa yang kau lakukan pada tubuhmu?” tanya bingung Yul yang melihat penampilan Yebin malam ini benar-benar berubah.


Selesai memakai sabuk pengaman, Yebin menoleh. Ia menatap Yul yang kelihatan sangat kaget.


“Bibirmu... astaga. Kenapa juga kau mengikat rambutmu di udara sedingin ini?” lanjut Yul menanyai. Ia kaget setengah bingung melihat penampilan Yebin yang seperti Bae Suzy dalam acara Baeksang Award.


Padahal Yul hanya ingin mengajak wanita itu untuk makan malam di restoran setelah melaksanakan upacara peringatan sore tadi. Sebagai permintaan maaf Yul. Tetapi penampilan Yebin yang seperti ini membuat Yul kebingungan. Apakah mereka benar akan ke restoran, bukannya ke hotel.


“Kenapa? Aku hanya ingin terlihat cantik malam ini. Karena itu aku mengikat rambutku dan memakai lipstick merah yang disukai laki-laki.”


Yebin menjelaskan itu dengan menggerutu pelan. ia merasa reaksi Yul ini terlalu berlebihan untuknya yang telah berusaha keras agar terlihat cantik di mata Yul. Masalahnya, selama ini Yul menganggap Yebin seperti remaja. Dan mulai sekarang, Yebin ingin dipandang sebagai wanita. Ia ingin dipandang sebagai wanita oleh laki-laki yang dicintainya.


Napas panjang tertarik ke dalam perut Yul kemudian dihembuskannya dengan sangat pelan. Dalam waktu cukup lama Yul bergeming menatap Yebin yang sibuk membenarkan ikatan rambut. Yebin memang tidak terbiasa mengikat rambutnya ke atas seperti itu. Ia merasa sedikit tidak nyaman dan terus membenarkannya.


Yul mengerti maksud Yebin yang ingin terlihat cantik di hadapannya. Pun ia menghargai usaha Yebin. Namun, bukan ini yang Yul inginkan. Ia mengakui bahwa Yebin terlihat cantik dan menggoda dengan penampilan seperti ini. Warna lipstick yang menyala dan garis lehernya yang terekspos itu membuat jiwa Yul sebagai laki-laki tergugah. Yul mengakui dirinya yang tergoda pada penampilan Yebin malam ini. Namun, sekali lagi. Bukan ini yang Yul inginkan dari Yebin.


Setelah berpikir panjang, Yul mengambil sapu tangan di dalam saku coat-nya. Ia menggunakan sapu tangan itu untuk menghapus lipstick Yebin dengan perlahan.


“Malam ini kau terlihat cantik, dengan lipstick merah dan rambut yang terikat.” Yul bergumam pelan sementara tubuhnya mendekat untuk menyeka bibir Yebin dengan pelan. “Tapi, kau perlu tahu. Tanpa berandan seperti ini kau tetap terlihat cantik. Nona Kang selalu terlihat cantik di mataku.”


Yul selesai menghapus lipstick merah di bibir Yebin. Terakhir, pria itu menggunakan jarinya untuk menyeka sisa lipstick yang masih menempel di bibir Yebin. Lalu menjauhkan tubuhnya kembali di kursi kemudi.


“Kau bisa melepas ikatan rambutmu. Udara sangat dingin. Kau bisa membeku nanti,” perintah Yul setelah ia kembali menyakui sapu tangan yang terdapat noda lipstick.


Perlahan-lahan Yebin melepaskan ikatan rambutnya. Menata rambutnya yang terurai seperti sedia kala.


“Aku hanya ingin terlihat lebih cantik di matamu, Ajeossi. Aku ingin kau berhenti memandangku seperti anak kecil. Aku ingin memperlihatkan kalau aku ini bisa menjadi wanita yang memesona untukmu.” Yebin berucap lirih sembari menyisir rambutnya menggunakan jari tangan. Lalu ia mengambil lipgloss di dalam tas bahu. Mengolesi bibirnya menggunakan lipgloss itu.


“Kau sudah menjadi wanita yang memesona, dengan caramu sendiri.”


Ucapan Yul seketika membuat Yebin menoleh. Menatap sayu Yul yang terlihat lembut dan serius.


“Di mataku kau sudah menjadi wanita memesona. Melihat bagaimana kau mengelola Biniemoon. Dan melihat bagaimana kau melindungi apa yang menjadi hakmu. Keteguhanmu, kerja kerasmu, dan apa yang kau lakukan di usiamu saat ini, lebih memesona daripada lipstick merah dan ikatan rambut. Kau harus menyadari itu.” Yul melanjutkan ucapannya.


Mobil Yul pun melaju perlahan menjauhi gerbang rumah Yebin. Melesat di jalanan padat kendaraan pada malam yang belum larut ini. Kemudian berhenti setelah keduanya tiba di sebuah restoran berbintang yang masih terdapat di area Seoul.


Beberapa makanan mewah tersaji di atas meja setelah dua orang pelayan mengantarkan semua pesanan Yul. Yebin sama sekali tidak tahu makanan apa yang ada di daftar menu karena semuanya berbahasa inggris. Yul yang memesankan semua makanan itu untuk Yebin yang terlihat lapar.


“Setelah mentraktirmu ini, semuanya sudah tuntas, ya? Jangan memperhitungkan kesalahanku lagi, Nona Kang.”


“Tentu saja. Aku tidaklah seserakah itu untuk terus mencari kesalahanmu dan meminta hal semacam ini.” Yebin berucap sambil meraih garpu di atas meja restoran. Ia mengambil pasta menggunakan garpu itu dan melahapnya dengan lezat.


Senyum Yul tersimpul melihat Yebin makan dengan lahap.


“Nikmati makan malammu, Nona Kang.”


Terdengar alunan biola pelan ketika kedua manusia itu menikmati makan malam mereka di restoran outdor yang meriah ini. Pijar lampu warna-warni mengisi seisi taman tempat restoran ini berada. Gemercik air dari kolam kecil di bawah pohon cemara terdengar tersamarkan oleh alunan biola yang merdu ini.


“Apa agendamu akhir pekan besok?” Yul bertanya setelah menyesap minuman hangat yang tersaji di atas meja. Minuman sejenis teh herbal itu memiliki aroma yang harum dan dapat menghangatkan tubuh.


“Aku ada janji bersama Hun Oppa.”


Di hadapan, Yebin tengah memasukkan satu potong kue pencuci mulut sambil menggumamkan jawaban itu.


“Kalian mau ke mana?”


“Hun Oppa mengajakku nonton ke bioskop. Katanya film kesukaannya akan rilis. Dia membeli dua tiket nonton dan memberinya padaku salah satu.”


Pandangan Yebin masih tertuju pada kue stroberi ketika ia menceritakan hal itu. Yul yang mendengarnya, mengernyitkan kening.


Film kesukaan? Sejak kapan Hun suka nonton film? Setahuku dia tidak suka melihat film dan lebih suka membaca novel. Yul membatin sembari menatap Yebin yang memakan kue dengan lahap. Wanita itu makan dengan baik. Dari cara makannya ia menunjukkan tak memiliki masalah dengan selera makan dan dapat mengonsumsi semua makanan dengan baik. Tipe yang disukai ibu-ibu namun tak begitu disukai kebanyakan pria. Pria cenderung suka melihat wanita yang terlihat elegan ketika makan. Tetapi anehnya Yul menyukai cara makan Yebin. Yul menyukai bagaimana wanita itu makan dengan lahap di hadapannya.


“Sepertinya... kalian berdua semakin akrab saja.”


Kepala Yebin spontan menaik.


“Siapa? Aku dengan Hun Oppa?”


Alis Yul yang menaik sebagai jawaban ‘iya’.


“Tentu saja. Hun Oppa orangnya menyenangkan dan enak kuajak bercerita. Walau kadang ucapannya yang teoritis itu tidak dapat kumengerti, aku bisa merasa nyaman saat berceirta dengannya. Hun Oppa adalah tipe laki-laki yang disukai banyak wanita. Yang kadang dingin namun juga hangat di saat yang bersamaan.”


Entah mengapa cerita itu bukan hal yang menyenangkan untuk didengar Yul. Padahal Yebin mengatakan hal baik tentang adiknya, Hun. Namun ada satu titik dalam hati Yul yang tidak menyukai hal itu. Bukan tidak suka karena Yebin menceritakan hal baik tentang Hun. Tapi tidak suka karena Yebin yang menceritakan itu. Ya. Karena itu Yebin. Yul tidak suka Yebin mengunggulkan pria lain di hadapannya.


Yul berdeham-deham lalu kembali menyesap minuman hangatnya.


“Kenapa Ajeossi tidak meminum wine?” Yebin yang telah melahap habis sajian penutup, menyahut. Ia kini sedang menyesap minuman wine yang disajikan oleh seorang pelayan restoran.


“Aku harus mengemudi.”


“Ah, benar sekali.”


Makan malam mereka selesai tidak lama setelah itu. Keduanya beregrak pulang setelah perut terasa kenyang karena hidangan-hidangan mewah yang disajikan.


Malam ini pun berakhir seperti malam-malam sebelumnya. Yang menggoreskan sebuah warna di atas kanvas untuk dijadikan kenangan. Bersama kejadian yang terjadi di hari ini, kenangan indah pun terbentuk dan meredam dalam ingatan yang abadi. Yul mengakhiri harinya dengan sebuah karya lukisan indah yang tercipta. Ia melukiskan kenangan di hari ini pada kanvas yang semula polos dan bersih itu. Melukiskan sebuah restoran outdor, salju yang menumpuk di atas tanah, air di dalam kolam yang jernih dan bergelombang, alunan merdu biola, lampu hias warna warni yang mengikuti lekukan rangkaian besi nikarat yang menjadi atap, pemandangan malam kota Seoul, serta dirinya sendiri dan Yebin yang menghabiskan waktu bersama di tempat itu.


***