Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Membangu Kepercayaan



**Membangun Kepercayaan


Yebin POV**


H-1 bulan


Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku satu bulan menjelang pernikahanku ini. Semuanya terasa semakin jauh. Sebentar lagi aku akan menikah. Tapi aku tidak merasakan apa-apa selain mencurigai sikap Yul Oppa yang semakin hari semakin berubah.


Apa dia tertekan karena hendak menikah? Atau ada permasalahan lain di kafenya?


Sejak sore itu jelas-jelas Yul Oppa menunjukkan sikap yang berbeda. Ia terlihat jauh lebih murung, seolah ada banyak beban yang sedang ditanggungnya di pundak. Namun di hadapanku ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. tersenyum penuh kegetiran. Bahkan melontarkan candaan yang entah bagaimana justru membuat perasaanku semakin perih. Saat aku bertanya ‘apa ada sesuatu yang terjadi?’ Yul Oppa hanya menjawab sambil bercanda ‘tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi menjelang pernikahan kita. Berhentilah menanyakan hal-hal yang tidak penting.’


Bukannya merasa semakin tenang, anehnya aku merasa semakin curiga. Jika memang terjadi sesuatu, Yul Oppa bisa kan bercerita padaku? Kami bukan lagi pasangan yang sedang berkencan. Tetapi pasangan yang akan menikah. Benar, menikah! Bukannya itu cukup untuk membuat Yul Oppa membeberkan apa yang sedang terjadi padaku? Jika memang dia percaya padaku bahkan hendak menikahiku, bukankah seharusnya dia akan menceritakan segalanya padaku?


Aku tidak menuntutnya banyak hal. Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisinya yang sebenarnya. Aku ingin memastikan apakah calon suamiku benar baik-baik saja. Apakah aku salah?


Setiap kembali dari kafe raut wajahnya memurung. Bukan memurung lagi lebih tepatnya, tetapi sorot matanya menggelap seperti ketika seseorang mendapat masalah besar. Malam-malam bahkan ia sering keluar. Banyak sekali orang yang dia temui akhir-akhir ini. Bahkan di akhir pekan ia tetap berangkat ke kafe dari pagi sampai pagi lagi. Sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya barang sejenak. Sampai aku tidak memiliki kesempatan untuk mengajaknya bicara. Entah kesibukan apa yang tengah Yul Oppa lakukan, aku ingin sekali membicarakan banyak hal tentang persiapan pernikahan kita.


Satu bulan menjelang pernikahanku, tetapi aku belum mempersiapkan apa-apa.


Undangan belum disebar. Gaun pengantin yang henak kukenakan bahkan belum sempat kupilih. Setiap kali aku mengajak Yul Oppa untuk memilih gaun pengantin, dia selalu mendapat telepon mendadak yang membuatnya segera pergi ke suatu tempat tanpaku. Bahkan gedung pernikahan dan lain sebagainya sama sekali belum siap. Aku ragu saja. Apa benar aku akan menikah? Kenapa aku tidak merasa kalau aku akan segera menikah?


“Ada apa dengan wajahmu itu? Wanita yang sebentar lagi menikah tidak boleh cemberut.”


Ibu menceletuk melihatku memasang raut wajah bersungut-sungut. Aku hanya melamun menatapi layar televisi yang memperlihatkan sebuah adegan romantis drama akhir pekan.


Rumahku terasa sepi sekali tanpa Kak Jangmi yang beberapa minggu lalu melangsungkan pernikahan. hanya ada aku dan ibuku. Kini kehidupan kami kembali seperti sedia kala, hanya berdua.


“Senang sekali Kak Jangmi karena sudah menikah. Aku yang merencanakan pernikahan lebih dulu. Tapi dia yang menikah duluan. Pasti menyenangkan,” gumamku pelan. aku ragu apa ibu bisa mendengar gumaman tidak jelasku yang sangat pelan ini.


“Sebentar lagi kau akan menikah. Jadi apa masalahnya?” sahut ibu yang sedang mengupas kacang kenari selagi menonton drama bersamaku.


“Benar sekali. Sebentar lagi aku menikah. Tapi kenapa aku tidak merasa apa-apa?”


Aku melontarkan kalimat itu seperti menghela napas panjang sembari merebahkan tubuhku di atas sofa. Menatap langit-langit ruang keluarga selagi mendengarkan dialog kedua tokoh utama dalam drama yang berputar.


“Sekarang kau memang tidak merasa apa-apa. Tapi saat nanti kau berjalan di tengah altar, kau akan merasakan pukulan yang bisa membuatmu menangis tersedu-sedu. Itu yang aku alami saat menikah dengan ayahmu.” Ibu bercerita sembari mengingat-ingat hari pernikahannya dengan ayah.


Aku hanya terdiam. Banyak sekali hal yang tersebit dalam kepalaku saat ini. Namun aku tidak bisa menjelaskannya satu per satu. Yang jelas, aku berpikir kembali. Menanyakan pada diriku sendiri, jauh di lubuh hati yang paling dalam. Apa aku merasa bahagia seperti ini? Apa ini sungguh kebahagiaan yang aku inginkan? Bolehkah aku merasa bahagia karena pernikahanku sementara ‘dia’ terlihat semakin tertekan setiap harinya. Tunggu.... Apakah ia tertekan karenaku? Apakah pernikahan ini terlalu membebaninya? Apakah ini kami berdua sudah saling pantas dan memantaskan untuk menjadi pendamping hidup masing-masing? Kalau iya, kenapa aku tidak tahu apa pun tentang yang terjadi padanya saat ini?


Saat aku masih berkecimpung dengan pemikiran dalam benak, kudengar suara mobil menderu. Aku tahu suara deru mobil siapa itu. Telingaku masih mengingat dan selalu mengingat deru mobil yang selalu dikendarakan Yul Oppa.


Yul Oppa sudah datang. Ia pulang setelah pagi tadi berkata akan keluar untuk mengurus beberapa hal.


Segera aku melompat turun dari sofa.


“Astaga! Kenapa kau tiba-tiba berdiri dan membuatku terkejut?” Ibu merutuk karena aku yang tiba-tiba berdiri dari sofa.


“Ibu, aku akan pergi ke rumah Yul Oppa dulu.” Sambil berjalan menjauh aku menyeru kepada ibu.


“Pulangkah sebelum larut.”


“Baiklah.”


Aku berjalan menjauhi rumah menuju rumah besar yang dihuni oleh dua lelaki jakung. Gerbangnya masih terbuka. Sepertinya Yul Oppa belum sempat menutupnya setelah tiba sesaat lalu. Atau sengaja dibiarkan terbuka karena Hun Oppa belum pulang.


“Oppa,” panggilku. Kulihat Yul Oppa yang sedang berdiri balik meja dapur untuk menyeduh secangkir teh bunga Chamomile.


Seketika itu juga Oppa menoleh. Ia tersentak melihat keberadaanku.


“Ooh, Yebin~a. Ada apa?”


Perlahan aku berjalan mendekat ke arah dapur. Perasaan ini.... Perasaan yang membuatku murung seharian.


Kami sama-sama dekat dalam hal jarak. Tetapi akhir-akhir ini aku merasa Oppa semakin jauh. Membuatku selalu merindukannya. Membuatku selalu merasa kesepian karena ia menyibukkan diri sampai aku tak memiliki kesempatan untuk melihatnya secara leluasa.


Setibanya di dapur, aku segera memeluk tubuh Yul Oppa. Aku memeluknya dari belakang. Memeluk punggungnya yang lebar dan kokoh. Menghirup aroma tubuhnya. Mencium bau segar dari parfum aroma musk yang bercampur dengan keringat.


“Sulit untuk melihatmu akhir-akhir ini. Apa yang membuat Oppa begitu sibuk?” gumamku pelan sembari mengeratkan pelukan pada perutnya. Aku merasakan kehangatan dari Oppa yang membalas pelukanku dengan genggaman tangannya yang kekar. Ia menggenggam kedua tanganku yang bertengger di atas perutnya.


“Maaf. Ada urusan yang tidak bisa kuhindari.”


Rengkuhan tanganku perlahan meregang. Aku mengangkat kepalaku dari punggung Oppa. Melepaskan pelukanku dari tubuhnya.


Ketika itu juga Oppa menolehkan tubuhnya menghadapku. Teh bunga Chamomile telah selesai diseduh. Oppa menyeruput minuman hangat wangi itu perlahan. Lalu menawarkannya padaku.


“Kau mau?”


Sorot mata itu lagi yang aku lihat dari kedua bola mata Oppa yang biasanya cerah. Sorot mata penuh sendu yang menyiratkan keriuhan hati dan pikiran. Sudah dapat dipastikan, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Oppa tanpa sepengetahuanku. Namun jika aku bertanya apa yang sedang terjadi, pasti ia akan menjawab hal yang sama.


Baik. Untuk saat ini aku hanya akan diam. Meski aku tahu ia tak baik-baik saja, aku akan tetap diam. Seperti orang bodoh aku akan diam. Aku tidak ingin bertengkar dengannya di hari menjelang pernikahanku. Karena itu aku akan diam. Entah apa aku benar bisa diam atau tidak.


Tanpa berkata apa-apa aku meraih cangkir teh yang diulurkan Yul Oppa. Menyesap tek hangat beraroma bunga yang selesai Oppa seduh. Aromanya harum. Rasa manis teh oriental memenuhi rongga mulutku. Aroma harum dari minuman hangat ini membuat perasaanku menenang, seolah membawa kedamaian.


“Hangat. Pantas saja Oppa menyukainya,” ucapku sekali mengembalikan cangkir teh kepada Oppa. Ia menyesap minuman itu kembali sembari menguntai senyum tipis di bibir.


“Oppa, besok kau sibuk?” tanyaku setelah beberapa waktu hening. Aku mengikuti langkah Oppa menaiki tangga menuju lantai dua. Mengikutinya masuk ke ruang televisi.


“Sepertinya. Kenapa?” Oppa menjawab pertanyaanku ragu. Ia menekan remote televisi kemudian duduk di sofa. Aku pun mendudukkan tubuhku tepat di sebelah kirinya.


“Berkali-kali aku ditelepon butik. Mereka memintaku datang untuk mencoba gaun pengantin. Hari ini mereka juga meneleponku. Aku sungkan karena terus menolak. Jadi kukatakan saja kalau besok aku akan datang ke butik bersamamu,” kataku dengan berani.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, Oppa menjawab, “Kalau begitu besok siang kita ke sana.”


“Sungguh?!” pekikku tak percaya. Tersentak, kepala Yul Oppa reflek menoleh. “Bukankah tadi Oppa berkata besok sibuk?”


“Sibuk. Tapi aku bisa meluangkan sedikit waktu untuk ke butik,” jawab Oppa.


Otomatis senyumku tersimpul mendengar Oppa bisa meluangkan waktu untuk besok. Tidak seburuk yang kubayangkan. Aku merasa senang mendengarnya.


Melihat senyumku yang merekah, Yul Oppa ikut tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibirku dengan hangat.


Kedua mataku terpejam saat kecupan yang singkat itu berlangsung. Kemudian Oppa menjauhkan wajahnya. Tangannya yang hangat membelai wajahku dengan lembut.


“Kau sesenang itu? Sampai bola matamu bersinar seperti rembulan,” gumamnya pelan.


“Hanya saja, Oppa terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.”


Yul Oppa menghela napas panjang sembari membaringkan tubuhnya ke atas sofa. Ia mendaratkan kepalanya ke atas pahaku. Lalu terpejam. Oppa meraih tanganku untuk ditangkupkan pada kedua pipinya.


Suara Oppa yang merendah menandakan kalau ia benar-benar lelah. Tanpa berkomentar, aku pun membiarkannya terpejam. Bersama belaian lembutku pada wajahnya, Oppa melelapkan diri.


Benar. Mungkin ini yang bisa kukakukan untuk Oppa. Aku memang tidak tahu apa yang sedang ia alami dan masalah seperti apa yang ia hadapi. Tapi, setidaknya aku telah melakukan sesuatu untuknya. Seperti ini. Memberinya kenyamanan. Memberinya kehangatan. Memberinya suasana tenang seperti ini.


“Yebin~a.”


Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba Yul Oppa memanggil namaku. Ternyata dia belum tidur. Matanya terpejam tapi tidak sepenuhnya terpejamkan.


“Ada apa?”


Kedua bola mata Yul Oppa terbuka. Ia menatapku sayu sembari menggem kedua tanganku yang menangkup wajahnya.


“Aku ingin memohon sesuatu,” kata Yul Oppa dengan pandangan sayunya.


Jujur. Aku terkejut mendengar Yul Oppa tiba-tiba ingin memohon sesuatu. Perasaanku waswas saat menanggapi perkataannya dengan, “Memohon? Tumben sekali. Apa yang Oppa inginkan?”


Yul Oppa beranjak bangkit dari tidurnya. Terduduk di atas sofa dengan menghadapku. Menatap kedua mataku lekat sementara kedua tangannya masih menggenggam tanganku erat.


“Apa pun yang terjadi nanti, percayalah padaku. Jangan percaya pada perkataan orang lain, cukup percayalah padaku. Kau bisa melakukannya kan?”


Deg-deg-deg.


Detak jantungku mencepat mendengar Yul Oppa berkata seserius itu. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Juga tak pernah melihatnya memohon seputus asa ini—kecuali saat ia memintaiku permohonan maaf saat itu.


Aku masih bergeming saat Yul Oppa menunggu jawaban kepastian dariku. Oppa menciumi tanganku yang ada di genggamannya. Selagi menatapku penuh permohonan.


Sesaat setelah aku merasakan beberapa kali kecupan hangat pada punggung tangan, aku mengangguk pelan.


“Baiklah. Apa pun yang terjadi aku akan percaya padamu.”


Seketika itu juga kulihat senyum kelegaan tersimpul di bibir Oppa. Entah apa yang membuatnya semurung ini, aku tidak mengerti. Keinginanku untuk memercayainya telah melenyapkan semua egoku untuk bertanya lebih lanjut tentang apa yang terjadi.


Benar. Aku bisa memercayainya. Termasuk hal ini. Aku bisa memercayai kalau Oppa bisa menyelesaikan apa pun permasalahannya. Aku percaya Oppa bisa mengatasi hal itu dengan baik. Tanpa campur tanganku, tanpa melibatkanku dalam urusannya.


“Sekarang pulanglah. Sudah mulai larut,” lanjut Yul Oppa berucap setelah melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya.


Wajahku memberengut. Padahal aku masih ingin di sini sebentar lagi. Kenapa dia mengusirku?


“Aku akan pulang nanti. Apa salahnya berada di rumah calon suamiku sendiri? Apa itu dosa besar?” rutukku panjang. Kepalaku melengos dari Oppa yang terkekeh-kekeh melihatku mengomel.


“Bukannya begitu, Nyonya Moon. Aku cuman tidak enak pada Hun yang sebentar lagi pulang.” Yul Oppa memberi penjelasan yang membuatku mau tidak mau menurut. “Juga, aku tidak ingin berbuat kesalahan jika kau terus berada di sampingku sepanjang malam. Aku akan menerkammu habis-habisan jika dalam sepuluh menit ke depan kau masih berada di sini.”


Perkataan Yul Oppa yang sangat vulgar itu membuat pipinya bersemu merah. Tapi, diterkam habis-habisan oleh Yul Oppa bukanlah hal yang buruk. Hahaha!


Aku tersenyum nakal sembari menatap Oppa menggunakan ujung mataku.


“Oppa bisa melakukannya... menerkamku.”


“Ibu akan memarahiku habis-habisan,” tandas Yul Oppa dengan kedua matanya yang terlihat memberontak.


Bukan sepuluh menit ke depan. Tetapi lima menit ke depan aku akan diterkam jika masih duduk manis di sini.


Segera aku beranjak dari duduk.


“Baiklah, baiklah. Aku akan pulang sekarang.”


***


Gaun pengantin putih melati berkilauan melekat menutupi tubuhku yang ramping. Renda putih menutupi dada dan juga bahuku. Bruklat pada bagian pinggang yang memperlihatkan lekuk indah tubuhku. Bagian rok gaun pengantin mengembung seperti pakaian ala kerajaan di Rusia. Area lengan yang terlihat transparan dengan bruklat sampai pergelangan. Dan juga belahan pada bagian punggung yang memperlihatkan lekukan indah pada punggungku dengan dua tali berbentuk zigzag. Tak lupa, serangkau mahkota silver yang menaung di atas gelungan rambutku yang terikat. Juga naungan kain berwarna putih ringan yang menengger di atas kepalaku.


Tanpa bercermin, aku merasa pakaian ini adalah pakaian yang membuatku terlihat paling cantik sepanjang hidup; gaun pernikahanku. Di belakang gorden berwarna putih tulang yang etrtutup aku berdiri menggenggam buket bunga warna warni. Di balik gorden itu ada Yul Oppa yang sedang menungguku mencoba gaun pengantin yang akan kupakai pada hari pernikahan esok.


“Pengantin wanita sudah siap!”


Itu yang diucapkan seorang pegawai butik setelah selesai mendandaniku dengan perlengkapan gaun pernikahan. Tak lama kemudian, dua pegawai yang selesai mendandaniku, membelah tirai menjadi dua bagian secara perlahan. Terlihat Oppa yang sedang duduk di sofa butik menungguku. Kepalanya perlahan-lahan terangkat menatapiku yang berdiri di tempat ini menggunakan gaun pengantin. Amat menawan.


Terlihat jelas di kedua bola mata Yul Oppa yang mengagumi penampilanku. Sinar matanya teramat terang. Raut wajahnya menunjukkan kekaguman. Yul Oppa berdiri dari duduk seketika melihatku mengenakan gaun pengantin yang dipilihnya.


“Pilihanku tidak pernah salah kan? Gaun ini luar biasa indah saat kau pakai, Nyonya Moon.”


Sambil berucap demikian Yul Oppa berjalan mendekat. Ia menghampiriku sembari menebar senyuman indah dari wajahnya yang rupawan.


“Wah, Kang Yebin, aku tidak berbohong. Kau sangat cantik memakai gaun ini.”


Yul Oppa lanjut berkata sambil memegangi kedua bahuku. Ia melihat seluruh bagian gaun, serta semua lakukan tubuhku dengan terperinci.


“Oppa menyukainya? Perlukah aku mencoba gaun yang lain?” kataku.


Seketika itu juga Yul Oppa menggelengkan kepala.


“Tidak perlu. Gaun ini sudah sangat sempurnya untukmu. Hanya saja....”


Ucapan Yul Oppa terjeda. Pandangannya terfokus pada mahkota silver yang menengger di atas kepalaku.


“Mahkota ini sepertinya kurang sepanan dengan gaunnya.”


Yul Oppa menolah pada kedua pegawai butik yang berdiri di sebelahku. Ia berkata, “Permisi, apa ada mahkota lain yang bisa kupilih? Aku tidak begitu senang dengan modelnya. Berlian biru sepertinya juga kurang sepadan dengan gaunnya.”


“Ada, Tuan. Silakan Anda ikut saya untuk memilih mahkota yang Anda inginkan.”


Seorang pegawai hendak mengantarkan Yul Oppa memilihkan mahkota untukku.


“Tunggu di sini sebentar,” kata Yul Oppa. Kemudian ia segera berlalu mengikuti dua orang pelayang yang mengantarnya ke ruangan khusus tempat mahkota berlian berada.


Sementara Yul Oppa berlalu pergi, aku berjalan mendekat pada kursi sofa. Ah, tubuhku lelah sekali. Seharian ini aku mengepak pesanan tanpa bantuan Kak Jangmi yang kini sibuk dengan keluarga barunya.


Aku pun memutuskan untuk mengambil duduk di sofa tempat Yul Oppa duduk sembari menunggu berdandan beberapa waktu lalu. Tidak lama setelah aku duduk, ponsel Yul Oppa di atas sofa berdenting. Terlihat satu pesan teks masuk dari nomor yang dinamainya ‘Haeri’.


Dan, lagi-lagi nama Haeri. Aku sudah muak mendengar nama haeri sejak melihatnya berciuman di ruang tamu dengan Yul Oppa hari itu. Tunggu, apa mereka masih berhubungan. Bukannya Yul Oppa berkata kalau Haeri sudah tidak tinggal di Korea? Apa-apaan ini? Apa Yul Oppa dengan wanita itu masih memiliki hubungan?


Dengan penuh rasa curiga aku membuka ponsel Yul Oppa. Tepat saat itu juga Haeri melakukan panggilan telepon melalui aplikasi KakaoTalk. Aku merasa tidak memiliki alasan untuk tidak menjawab panggilan yang masuk dari wanita itu.


Tanpa ragu aku menjawab telepon Haeri. Aku menempelkan ponsel Yul Oppa pada salah satu telinga. Terdiam mendengar wanita itu bicara lebih dulu di telepon.


‘Halo, Yul~a. Aku sudah memeriksa semuanya. Bisa kita bertemu nanti sore di tempat biasa? Aku tunggu nanti jam lima sore di Restoran Hotel Qing.’


***