Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kemarahan Sang Kakak



Kemarahan Sang Kakak


Yebin Pov


“Wah, benar benar tidak kuduga. Bisa bisanya Hun tinggal bersama seorang wanita yang belum dinikahinya? Apa memang kehidupan di Korea sudah seperti itu? Atau hanya aku sana yang kuno?”


Begitu masuk ke dalam rumah, Oppa langsung merutuk rutuk tentang adiknya yang ketahuan sedang tinggal bersama dengan seorang wanita. Aku mengerti kenapa Oppa terlihat begitu emosi dan menanggapi hal ini dengan berlebihan. Karena ia menyayangi adiknya. Karena Oppa merasa telah membesarkan adiknya menjadi laki laki yang baik, sepertinya. Wajar saja ia terkejut dan merasa emosi ketika tahu Hun Oppa tinggal bersama seorang wanita (hal yang sampai sekarang menjadi kontroversi meski sebenarnya di Korea sendiri banyak pasangan muda yang melakukannya dengan banyak alasan). Dan, jujur. Mendengar penjelasan Hun Oppa tadi, aku merasa bisa memahaminya. Tetapi Yul Oppa terlanjut emosi menanggapi hal itu.


“Hun Oppa kan sudah bilang, kalau ia hanya akan membiarkan kekasihnya tinggal di apartemennya sampai perbaikan di apartemen Jinhee~ssi selesai. Katanya juga satu mingguan lagi selesai. Jadi dia memberikan tupangan tempat tinggal sebentar untuk Jinhee~ss. Biarkan saja mereka tinggal bersama sementara waktu. Lagi pula, kebobolan pencuri kan juga bukan hal yang diinginkan Jinhee~ssi.”


Aku mencoba meredakan emosi Oppa dengan mengtakan semua kalimat itu selagi menyusul langkahnya menuju dapur untuk mengambil air minum. Sepertiya Oppa perlu meminum banyak air dingin untuk mendinginkan emosinya yang masih membara.


Aku berjalan di belakang Yul Oppa. Lalu berdiri tepat di sebelahnya yang sedang meneguk satu gelas air minum dingin.


“Tetap saja itu tidak benar. Apa pun alasannya, laki laki dan perempuan yang belum memiliki ikatan pernikahan, tidak boleh tinggal bersama dengan bebas. Aku yakin, jika ayah dan ibu masih ada, mereka pasti tidak akan senang melihatnya. Mereka pasti tidak akan mengizinkan Hun tinggal bersama wanita yang baru satu minggu dikencaninya.”


Dengan emosi yang masih meluap luap Yul Oppa mengatakan hal itu. Benar yang kupikirkan. Bahwa ia sangat menentang apa yang Hun Oppa lakukan karena mempertimbangkan ayah dan ibunya yang mungkin (atau sudah pasti) tidak akan suka melihat hal itu. Yul Oppa yang telah menjadi kepala keluarga sejak kedua orang tuanya meninggal, telah mengambil peran ayah dan ibunya untuk sang adik. Selain menjadi kakak, ia juga menjadi orang tua untuk Hun Oppa yang begitu disayanginya. Kurang lebih, aku mengerti bagaimana perasaan Yul Oppa saat ini. aku merasa bisa mengerti posisinya sebagai kakak yang menginginkan yang terbaik untuk sang adik, serta kakak yang tidak ingin melihat adiknya terlibat dalam hal hal yang mungkin akan merugikannya di masa depan. Mengingat Hun Oppa adalah seorang hakim. Image nya sangatlah penting dan setiap gerak geriknya menjadi hal yang akan selalu menjadi perhatian umum.


Oppa mempertimbangkan smeua itu sebagai seorang kakak. Dan tidak ingin apa yang Hun Oppa lakukan itu bisa bom yang akan meledak di suatu saat.


Aku hanya terdiam. kali ini, aku tak membela Hun Oppa sedikit pun. Mengingat ia yang seorang hakim mahkamah agung yang posisinya menjadi incaran banyak orang, aku lebih setuju pada Yul Oppa yang melarangnya. Bukan karena Yul Oppa adalah suamiku dan aku membelanya begitu saja. Tetapi mempertimbangkan mana yang terbaik untuk Hun Oppa sendiri dan juga image dari wanita yang menjadi kekasihnya.


Oppa tampak terdiam seselesainya meneguk minuman. Ia terlihat sedang banyak merenung.


“Apa sepasang kekasih yang tinggal bersama itu menjadi hal yang wajar saat ini? Apa aku yang terlalu keras pad mereka berdua?” gumamnya setelah beberapa saat merenung. Lalu sesaat kemudian kepalanya menggeleng geleng. “Ah, tidak tidak. Itu tidak benar. Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan meerka tinggal bersama. Apa Hun tidak tau betapa kerasnya dunia ini? Dia bisa jatuh hanya karena satu kesalahan yang terlihat seperti bukan apa apa.”


Sekali lagi dugaanku benar. Bahwa Yul Oppa melarang dengan begitu keras karena mempertimbangkan dampak jangka panjang dan juga konsekuensinya untuk masa depan adiknya.


Selesai merutuk rutuk itu, Yul Oppa berjalan meninggalkan dapur. Menaiki tangga menuju lantai dua sambil berut mengomel ngomel. Aku yang melihatnya seperti itu, hanya mengembuskan napas panjang sambil mengedikkan kedua bahuku.


“Ah, aku tidak tahu. Nanti juga emosinya reda sendiri.”


Keesokan harinya, tepat pada hari minggu pukul sembilan pagi, Hun Oppa datang ke rumah. Aku sedang duduk duduk santai di ruang tamu sambil membaca majalah kesehatan, ketika Hun Oppa datang. Tubuhku tersentak ketika melihatnya membuka pintu setelah mengetuknya sekali. Hun Oppa datang sendirian, tanpa kekasihnya.


“Oh, Hun Oppa!” celetukku. Aku menurunkan majalah yang sebelumnya kubaca. Menoleh pada Hun Oppa yang berjalan dari arah pintu. “Oppa sudah sarapan?” lanjutku bertanya.


Hun Oppa terduduk berseberangan sofa denganku begitu tiba di sofa. Ia menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaanku.


“Sudah. Di rumah ibu tadi,” jawabnya atas pertanyaanku yang bertanya apakah ia sudah sarapan.


“Barusan. Kudengar persendiannya sakit, jadi kubawakan vitamin sendi. Bersyukurnya aku tadi melihatnya baik baik saja.”


“Kemarin kami sudah ke rumah sakit. Kata dokter nyeri pada persendiran ibu disebabkan udara dingin. Jadi aku membelikannya banyak penghangat tubuh,” kataku.


Tepat setelah aku selesai bicara, terlihat Yul Oppa yang sedang berjalan menuruni tangga. Ia tadi sedang sibuk membaca laporan mingguan kafe. Ketika Oppa turun dari kesibukannya, hanya ada dua alasan. Pertama yaitu karena Oppa haus dan ingin mengambil air minum di dapur. Dan yang kedua karena ia ingin membuat kopi atau teh chamomile.


Ketika menuruni tangga itu, Yul Oppa sama sekali tak bicara. Bahkan ketika tahu bahwa adiknya ada di sini, Oppa tetap bungkam dan meneruskan jalannya menuju dapur.


Kulihat Hun Oppa yang mengembuskan napas panjang melihat sikap kakaknya demikian. Aku yang merasa harus melakukan sesuatu, setelah itu berdiri dari duduk. Menghempiri Yul Oppa yang hendak membuat kopi untuk dirinya.


“Oppa harusnya bilang padaku kalau ingin meminum kopi. Aku akan buatkan dan mengantarnya ke ruang kerjamu tanpa repot repot membuatmu turun dan membuatnya sendiri,” omelku sambil menrebut cangkir Yul Oppa.


“Sudahlah. Kau kan sedang hamil. Kau harus banyak istirahat,” sahut Yul Oppa sambil merebut kembali cangkir kopinya. Lalu memasukkan satu sachet kopi instan ke dalam cangkir itu.


“Oppa pikir kalau aku sedang hamil itu hanya bisa bermalas malasan? Aku tetaplah menjadi istri meski pun aku hamil. Dan ini termasuk salah satu tugas istri, melayani suami.” Aku menimpali sambil merebut kembali cangkit kopi milik Oppa. Lalu menuangkan air yang sudah mendidih di dalam panci ke dalam cangkit kaca lalu mengaduknya.


Terkesan, Oppa yang melihatku ini memperlihatkan senyuman misterius.


Ketika aku menguluskan cangkir kopinya yang telah kuaduk, Oppa menggumam gumam. “Oohh, Kang Yebin. kau benar benar sudah menjadi istri yang baik.”


Aku memang banyak belajar untuk menjadi istri yang baik. Belajar dari buku. Belajar dari ibuku dan tetangga tetanggaku yang menjadi ibu muda. Juga belajar dari Yul Oppa sendiri.


Setelah menggumam demikian, Oppa menyesap kopinya. Saat itu aku mengajaknya bicara lagi.


“Hun Oppa datang. dia sendirian, tidak bersama kekasihnya,” kataku. Yang seketika membuat raut wajah Yul Oppa berubah.


Yul Oppa memang tipe pendendam. Artinya, ia selalu teringat akan kesalahan orang lain dlam waktu cukup lama. Dan cenderung lama memberikan maaf atau bersikap biasa pada orang yang telah melakukan kesalahan itu. Meski itu adalah adiknya, sama saja. Kemarin, Yul Oppa membutuhkan waktu lama untuk meredakan emosinya. Layaknya seorang ayah ingin menjaga putranya dengan baik, Yul Oppa sungguh menyayangi adiknya dan tak ingin adiknya itu bersikap terlalu bebas seperti orang orang barat. Yul Oppa ingin adiknya itu lebih berhati hati dan mendengar nasihat orang yang lebih dewasa.


Raut wajah Yul Oppa seketika berubah saat aku menyinggung keberadaan adiknya. Ia pun segera berpaling sambil membawa cangkir kopinya pergi.


“Biarkan saja. Sebentar lagi dia mungkin akan pulang. Karena di apartemennya sudah ada yang menunggu,” ucapnya ketus. Lalu berlalu meninggalkanku di dapur.


Melihat sikap kakaknya dari kejauhan, Hun Oppa lantas berdiri dari duduk. Ia menceletuk memanggil kakaknya yang mengabaikan keberadaannya dan sedang menaiki tangga begitu saja.


“Hyung! Sampai kapan kau akan seperti itu padaku?” celetuk Hun Oppa yang wajahnya tampak putus asa dan sedih. Tetapi celetukan itu tetap diabaikan oleh Yul Oppa yang melanjutkan berjalan menuju lantai dua dan masuk ke ruang kerjanya.


***