Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kenangan indah di titik nol kilometer Yogyakarta



Bab 37


Kenangan indah di titik nol kilometer Yogyakarta


Udara terasa lembab setelah hujan turun beberapa waktu lalu. Meski sekarang hujan tak lagi turun, seluruh jalan di kota Yogyakarta masih basah. Lampu lampu yang berdiri sepanjang jalan terpantul di atas jalanan yang terbasahi oleh air hujan.


Di tengah kelembapan udara dan juga jalanan yang basah itu, Lysa dan Mino tampak sedang bergandengan tangan. Berjalan di antara kerumunan orang yang sedang memenuji jalan Malioboro seusai diguyur hujan.


Hujan maupun terang, siang atau pun malam, saat udara terasa panas atau pun saat udara menjadi lembab karena guyuran hujan, jalan Malioboro tidak pernah sepi oleh manusia. Selalu ada yang melintas dengan segenap senyu dan tawa yang terukir di bibir.


“Itu tulisan apa ya? Sejak tadi aku melihat tulisan yang sangat asing itu. Tulisan apa itu? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di Korea mau pun di mana pun. Hanya kulihat di sini, tulisan yang menggantung gantung seperti itu.” Sambil menunjuk sebuah papan jalan berwarna hijau, Mino bertanya kepada Lysa yang berjalan di sebelahnya. sejak pertama kali datang ke kota ini, tulisan itu yang paling menarik perhatian Mino. Karena itu adalah tulisan yang pertama kali Mino lihat di dunia ini. hurusnya hampir sama seperti huruf India dan Thailan, tapi tetap berbeda. Jadi Mino bingung itu tulisan apa.


Melihat Mino yang kelihatannya begitu tertarik dengan tulisan itu, membaut Lysa terkekeh kekeh. Tulisan yang dimaksud Mino seperti menggantung gantung itu adalah tulisan ha – na – ca – ra – ka, yang dulu sekali pernah Lysa pelajari di bangku sekolah dasar sampai SMP. Dan, jujur saja, mempelejari tulisan itu sagat sulit. Sampai sekarnag Lysa hanya sebatas tahu bahwa itu adalah tulisan abjad jawa pada zaman dahulu sekali, namun gadis itu tidak bisa membacanya.


“Ah, itu namanya tulisan ha – na – ca – ra – ka. Itu adalah tulisan suku Jawa yang dulu sekali. Memang cukup sulit mempelajarinya, waktu sekolah dasar dulu aku diajari membaca tulisan itu di pelajaran bahasa daerah, tapi sangat sulit.” Lysa menjelaskan singkat.


“Apa tulisan itu masih digunakan sakmpai sekarang?” lanjut Mino bertanya.


“Masih, tapi bukan untuk pendidikan formal. Hanya untuk pelestarian saja. Di Yogyakarta sendiri masih ada keraton, dan tulisan itu juga masih sering di gunakan,” lanjut Lysa menjelaskan.


“Ah, begitu rupanya.” Mino mengangguk anggukkan kepala sambil bergumam pelan.


Kedua manusia itu melanjutkan berjalan di jalanan yang ramai oleh manusia itu. Menyaksikan penampilan akustik dari beberapa pengamen jalanan di dekat titik nol kilometer yogyakarta. Lalu jalan jalan mengunjungi beberapa ruko pakaian, sepatu, bakpia, dan beberapa toko souvenir di sepanjang Malioboro untuk melihat lihat. Ya, untuk melihat lihat saja, dan jika merasa tertarik dengan ebnda yang dijual di sana, maka Mino akan membeli.


“Chagi, sepertinya kau cocok memakai ini.”


Di sebuah toko baju di jalan Malioboro itu, Lysa memilihkan sbeuah baju kaus berwarna putih yang tertera tulisan ‘I Love Jogja’ dan di bawahnya tertera tulisan Maliboro lengkap dengan sablonan candi Prambanan. Pun di bagian punggung baju itu, terdapat tulisan panjang berbahasa jawa halus yang Lysa tidak mengerti artinya. Gadis itu memang besar di Yogyakarta, namun lingkungan tempat tinggal dan juga sekolahnya selalu menggunakan bahasa Indonesia. Gadis itu mengerti beberapa kata dalam bahasa jawa halus, namun jika dalam kalimat panjang seperti itu ia sama sekali tidak paham.


“Ooh, desainnya bagus.” Mino menanggapi sambil mengambil baju yang dipilihkan Lysa itu. “’I Love Jogja’ ... ? Apakah Yogjakarta dengan Jogja itu sama saja artinya?” tanya Mino sambil membaca tulisan yang ada di kaus yang dipilihkan Lysa itu.


“Hm. Sama saja.”


“Kau suka, Chagi?” Lysa kembali bertanya kepada Mino. Paling tidak, karena Mino sudah berkunjung ke Yogjakarta Indonesia, Lysa ingin membelikannya kaus khas jogya yang dapat Mino gunakan sehari hari. Lagi pula, selain Lysa, sepertinya tidak ada yang akan membelikan Mino baju bertuliskan ‘I Love Jogja’.


Kepala Mino mengangguk angguk. “Aku suka.”


“Aku akan membelikan satu untuk kamu, Chagi. Sebagai kenang kenangan karena kau sudah datang ke Yogyakarta,” ucap Lysa.


“Harusnya aku yang membelikanmu.” Mino menyanggah karena merasa tidak enak. Biasanya, yang membelikan hadiah itu adalah laki laki. Laki laki yang sering membelikan hadian untuk gadisnya. Bukan sebaliknya.


“Aku yang akan membelikanmu baju ini, Chagi. Kalau ingin memberikan hadiah, belikan saja aku hadiah dari Filipina, yang lebih mahal.” Lysa berucap sambil tersenyum manis.


Seketika itu juga Mino balas tersenyum. Ia mengelus rambut Lysa dan berkata, “Baiklah. Aku akan membawakanmu hadiah dari sana saat kembali nanti.”


Setelah membeli baju di salah satu distro yang ada di Malioboro itu, Lysa dan Mino berjalan menuju sebuah penjual makanan yang terletak di pojok. Membeli beberapa kotak bakpia manis untuk dibawa menuju sebuah kursi dan memakannya bersama.


“Hmm, lezat. Rasanya lembut dan manis.” Mino berkomentar setelah memasukkan satu potong bakpia patok ke dalam mulutnya. Rasa manis dari bakpia dan lembut rotinya adalah yang pertama kali  Mino rasakan.


“Benar kan? Aku sangat suka bakpia ini. Padahal aku sudah sering memakannya, tapi rasanya aku tidak pernah bosan dan selalu memakannya dengan lahap.” Lysa bercerita sambil mengunyah bakpia patoknya.


Sambil menikmati citarasa manis dan unik dari roti yang hanya ada di Indonesia itu, Mino terdiam mengamati sekeliling. Saat melihat lihat keadaan sekitar, ia manyadari suatu hal.


“Wahh... pemandangan yang aku lihat saat ini benar benar persis seperti pemandangan yang pernah dilukis oleh Bos Moon. Aku bertanya tanya tempat apa yang ada di lukisan Bos Moon yang ada di rumahnya itu, dan ternyata itu adalah lukisan Malioboro di malam hari. Lukisan Bos Moon itu terasa sangat nyata. Pantas saja, saat tadi datang ke tempat ini, aku merasa familiar, seperti pernah melihatnya di sebuah tempat. Ternyata aku memang pernah melihat Malioboro melalui luksan Bos Moon yang ada di rumahnya.”


Mino bercerita seraya memutar kembali memorinya ke belakang. Ia teringat pernah melihat lukisan sebuah kota yang indah, yang terdapat lampu lampu taman unik dan juga tempat duduk dari batu marmer berwarna putih yang ada di sepanjang jalan. Pertokoan yang tampak eksentrik, dan sebuah delman berkuda yang melintas. Mino pernah melihat pemandangan Malioboro dari salah satu lukisan Moon Yul yang dipajang di rumahnya. Ketika itu Mino bertanya tanya itu lukisan apa kepada Moon Yul, dan Moon Yul berkata bahwa itu adalah sebuah tempat oriental di Indonesia. Moon Yul mengaku melukis tempat yang oriental itu karena terus terngingang ngiang meskipun telah kembali ke Korea seusai liburannya di Indonesia bersama sang istri. Dan sekarang, Mino datang langsung ke tempat yang oriental itu.


Lukisan Moon Yul itu mmang sangat bagus dan tampak nyata. Namun Malioboro yang asli tidak kalah bagus dan lebih nyata lagi di depan mata Mino.


“Hm. Begitu dia kembali dari Indonesia bersama istri dan anak anaknya utnuk liburan beberapa bulan lalu, Bos Moon melukis kota itu. Dan aku melihat luikisan itu ketika berkunjung ke rumahnya untuk suatu hal.” Mino menjelaskan.


“Aku belum pernah sekali pun mendatangi pameran seninya Bos Moon. Kudengar dia dan putra pertamanya sering mengadakan pameran seni.” Lysa bercerita. Sesingkat yang ia tahu tentang bos Moon alias Moon Yul, laki laki itu sering mengadakan pameran seni bersama putranya yang masih kecil. Dengar dengar, anak laki lakinya yang maish sangat kecil itu memiliki tangan emas yang bisa menciptakan lukisan dengan sangat indah. Semua orang berpikir bahwa anak laki lakinya bernama Moon Hanyul itu pasti dialiri darah seni oleh ayah dan juga kakeknya. Karena anak sekecil itu sangat berbakat dan memiliki khas dalam lukisannya. Bisa dikatakan bahwa anak sekecil ia telah menjadi seornag pelukis yang hebat. Namun sehebat hebatnya seorang anak, pasti ada orang tua yang selalu mendukungnya dan melatih keahlian melukisnya dengan hebat pula. “Keren sekali anak Bos Moon itu, maish kecil sudah menemukan mimpinya dan sudah mulai memiliki branding di dunia seni. Pasti Bos Moon tidak pernah lelah mengajarinya melukis, dan dia juga pasti mengaliri darah seni dari Bos Moon,” ucap Lysa menggumam gumam.


Mino terdiam sejenak. Mengingat seorang anak kecil bernama Moon Hanyul yang cukup akrab dengannya. Dia adalah anak pertama dari Moon Yul, anak pertama yang diadiosinya di usia lima tahun.


“Tidak banyak orang yang tahu. Hanya aku dan beberapa orang lainnya yang sangat dekat dengan Bos Moon.” Mino mengangkat pembicaraan.


“Apanya?”


“Anak pertama Bos Moon itu bukan anak kandungnya. Dia anak yang diadopsi oleh Bos Moon di usia lima tahun,” cerita singkat Mino yang seketika membuat bola mata Lysa berbelalak lebar.


“Oh ya? Tapi wajah mereka sangat mirip. Aku melihat foto anak itu dari majalah, dan dia benar benar mirip dengan ayahnya. Bagaimana bisa? Apalagi bakat yang mereka miliki pun sama, dua duanya pandai melukis.” Lysa yang baru bertama kali itu mendengarnya, memebelalakkan matanya lebar lebar dan merasa tidak percaya. Bagaimana mau percaya, Lysa memang belum bertemu secara langsung dengan Moon Hanyul, hanya melihatnya melalui foto saja. Namun Lysa tahu wajah Moon Hanyul sangat mirip dengan Bos Moon. Jadi bagaimana bisa anak itu bukan anak kandung Moon Yul?


“Sangat unik dan menarik kan?” Mino yang merasa ucapan Lysa itu sangat benar, menegrnyitkan kening. “Semua orang pasti mengira kalau Hanyul adalah anak kandung bos Moon. Wajah keduanya memang mirip. Dan bahkan bakat yang mereka punya pun sama, sama sama pelukis. Entah kebetulan atau bagaimana, mereka hampir tidak bisa dikatakan bukan keluarga kandung. Tapi meski pun Hanyul bukan anak kandung Bos Moon, Bos Moon dan istrinya sangat menyayangi Hanyul tanpa pamrih. Mereka tidak pernah menunjukkan kasih sayang yang berbeda antara Hanyul dengan kedua adiknya. Hanyul dibesarkan dengan sangat baik di keluarga itu. Baik Bos Moon mau pun Nyonya Moon, kedua duanya sudah mengangap Hanyul sebagai darah dagingnya sendiri dan tidak pernah membedakannya dengan Yenni mau pun Han Bin.” Mino bercerita singkat tentang Bos Moon.


“Wah, keren sekali keluarga itu.”


“Pernah dulu sebuah media cetak menyampaikan berita tentang Bos Moon. Dalam berita yang dimuat oleh seorang reporter itu, dia menyampaikan bahwa Hanyul yang merupakan anak pertama dari Bos Moon itu adalah anak angkat. Berita itu sempat viral dan menggemparkan seluruh negeri. Namun Bos Moon bisa mengendalikan berita itu. Dengan semua kekuasaan dan koneksi besar yang dia miliki sebagai pebisnis sukses, berita itu pun bisa dikendalikan. Dan reporter yang menulis artikel itu langsung dipecat oleh perusahaan yang mempekerjaannya. Dan apa kau tahu, kata kata apa yang Bos Moon ucapkan di sebuah siaran langsung TV SBS untuk menanggapi rumor itu?” lanjut Mino bercerita.


“Apa yang Bos Moon katakan?”


“Bos Moon berkata begini, ‘Saya dan istri saya memiliki Hanyul sejak dia berusia lima tahun dan dia adalah hidup saya. Jangan pernah mengatakan bahwa Hanyul bukan anak saya, karena sebagai ayahnya, saya tidak akan tinggal diam.’ Begitulah akhirnya keberanan itu terungkap. Dan sampai detik ini, tidak ada media yang berani menyebutkan ‘anak angkat’ ketika mengulas artikel tentang Moon Hanyul, anak Bos Moon. Karena dengan kekuasaan besar Bos Moon, media yang menulis artikel tidak benar tentangnya akan mendapat masalah besar dan bahkan bisa bangkrut.”


Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat ketika Mino menceritakan banyak hal tentang Moon Yul kepada Lysa. Bagi Mino sendiri, Moon Yul adalah penyelamat sekaligus panutannya. Mino merasa bahwa dirinya tidak akan bisa seperti sekarang jika bukan berkat bantuan dari Moon Yul. Di saat semua perusahaan menggagalkan Mino dalam seleksi rekrutmen karena latar belakang keluarganya, Moon Yul justru memilih Mino dengan tangannya sendiri. Mino tidak pernah mengikuti seleksi untuk menjadi manajer cabang Moonlight Coffe pada waktu itu. Tetapi Moon Yul sendiri yang tiba tiba mendatanginya ketika Mino sedang belajar mengikuti ujian PNS di sebuah perpustakaan.


Saking putus asanya karena tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan Mino karena latar belakang keluarga; miskin; Mino memutuskan untuk menjadi pegawai pemerintah saja. Ujian untuk seleksi menjadi PNS memang sangat sulit dibandingkan gajinya yang sangat sedikit. Namun menjadi PNS tidak melihat latar belakang keluarga dan spesifikasi sekolah di luar negeri seperti perusahaan besar pada umumnya. Sehingga Mino memutuskan untuk menjadi PNS saja daripada tidak bekerja karena terus gagal mengikuti rekrutmen perusahaan besar.


Waktu itu Mino sedang belajar dengan giat di perpustakaan. Dan tiba tiba Moon Yul mendatanginya. Katanya, Moon Yul telah mengamati Mino selama beberapa bulan terakhir, dan ingin mempekerjakannya sebagai manajer kafe.


Jujur saja waktu itu Mino tidak percaya. Bagaimana Yul yang sama sekali tidak Mino kenal itu mengamatinya sejak beberapa bulan. Dan mengapa laki lak iitu tiba tiba ingin mempekerjakannya.


Moon Yul mebcoba meyakinkan Mino. Waktu itu Moonlight Coffe masih di awal pembangunan dan baru memiliki empat cabang. Dan siapa Moon Yul pun tidak ada yang tahu. Mino ditawari menjadi manajer Moonlight Coffe cabang Jung gu, Seoul, dengan gadi awal yang tidak begitu besar. Dan setelah mempertimbangkannya matang matang, Mino pun mengiyakan tawaran itu. Di awal ia memang mendapat gaji yang tergolong cukup kecil. Namun seiring berjalannya waktu, seiring dengan bertumbuhan Moonlight Coffe yang sangat pesat, gaji Mino sebagai manajer semakin bertambah dan ia dipindahkan di cabang kafe yang lebih strategis. Sampai akhirnya Mino menjadi orang kepercayaan Tuan Moon dan sering mendapatkan tugas tugas penting untuk pembangunan Moonlight Coffe dan bahkan tugas besar untuk pembangunan Moonlight Retail. Secara garis besar, karena kesempatan yang telah Moon Yul berikan pada Mino pada saat itu, Mino dapat merubah garis kehidupannya. Mino dapat mengangkat keluar keluarganya dari kemiskinan dan memberikan mereka penghidupan yang lebih layak. Juga mampu memiliki hidup yang jauh lebih baik bahkan menjadi salah stau pemegang saham terbesar Moonlight Coffe. Karena Mino sudah mulai berinvestasi di Moonlight Coffe sejak awal bekerja di sana dan dari Moonlight Coffe masih berada di garis awal.


Dari semua cerita yang Mino utarakan itu, Lysa mengerti dengan baik bahwa sebesar itulah Mino menghormati Bos Moon. Juga sebesar itu pula Mino menyayangi bosnya dan juga Moonlight Coffe.


Mino, yang dengan bodohnya dulu pernah menyerahkan surat pengunduran diri kepada Moon Yul itu teringat suatu hal. Dan menceritakannya pada Lysa.


“Aku merasa sanagt menyesal dan merasa begitu bodoh ketika menyerahkan surat pengunduran diriku dari Moonlight Coffe. Saat itu pikiranku benar benar kacau, dan mengambil keputusan itu meski sebenarnya berat. Sekarang, aku bertekad untuk terus bekerja di Moonlight Grup. Moonlight Coffe atau pun Moonlight Retail. Aku ingin terus bekerja di sana, sebagai anak buah dari Bos Moon. Bukan hanya aku mencintai pekerjaanku, tapi aku juga menyayangi Bos Moon dan Moonlight Coffe. Aku tahu dengan jelas bagaimana prosesnya Moonlight Coffe bisa sebesar ini, tahu dengan jelas bagaimana perjuangan keras Bos Moon pada waktu itu, dan karena aku tahu semua itu, aku merasa mulai menyayangi Moonlight Coffe juga Bos Moon. Mengingat semua itu membuatku berpikir untuk terus bekerja di Moonlight Coffe dan Moonlight Grup. Aku ingin mendedikasikan seluruh hidupku untuk mereka.” Mino bercerita.


Lysa yang mednengarnya, mengangguk anggukkan kepala sambil menampilkan senyuman hangatnya kepada Mino. Rasanya sangat menyenangkan untuk Lysa mendengarkan cerita cerita Mino. Mendengarkan cerita laki laki itu tentang perjalanan hidupnya, tentang perjalanan karirnya, tentang pekerjaannya, dan bahkan tentang satu sosok orang yang begitu ia hormati dengan seluruh jiwa dan raganya. Ketika mendengar semua cerita itu, Lysa merasa jiwanya semakin menyatu dengan Mino. Seolah olah Mino sedang mengak Lysa berselancar dalam kehidupan yang Mino jalani selama ini. selangkah demi selangkah Lysa merasa semakin masuk dalam kehidupan Mino. Dan itu membuat Lysa semakin tidak bisa melepaskan laki laki yang saat ini sedang duduk bersamanya, berbagi udara dan cerita.


“Bagaimana denganmu? Apa mimpi yang ingin kau tuju saat ini?” tanya Mino kepada Lysa yang sejak tadi telah medengarkan semua cerita panjangnya.


“Aku?” sahut Lysa. Dan seketika itu mendapat anggukan kepala dari Mino. “Aku ingin membangun bisnis dengan ayahku. Aku ingin berbinis bersama ayah dan berjuang bersama untuk bisnis itu. Selama ini ayahku berjuang sendirian akan bisnisnya. Dan aku ingin bergabung menjadi bagian dalam bisnis ayahku. Aku ingin membuat ayahku kembali bangkit di bidang bisnis, dan untuk itu aku perlu persiapan yang matang.” Lysa bercerita tentang mimpinya di masa depan.


Mendengar itu, senyum Mino tersimpul. Ia mengusap rambut Lysa sambil bergumam, “Aduh, putri yang baik.” Dan itu sontak membuat Lysa terkekeh kekeh. Mino yang melihat Lysa tersenyum itu lanjut berbisik padanya. “Apa kelihatan aneh jika kita berciuman di sini?” Bisiknya pada Lysa.


Lysa pun menjawab dengan tegas. “Ya, sangat aneh.”


Dengan kecewa Mino pun menganggukkan kepala. Budaya Indonesia dengan budaya Korea sangat berbeda. Di Korea, pasangan berciuman di tempat umum seperti halte, stasiun bawah tanah, atau pun di taman adalah hal yang biasa. Namun sepertinya di Indonesia, itu adalah hal yang sanagt tidak wajar dan bisa bisa melanggar asusila. Mino yang sebenarnya sangat ingin berciuman dengan Lysa pun mau tidak mau harus menahan keinginannya.


“Aku lebih suka di Korea, karena bisa berciuman kapan pun dan di mana pun,” gumam Mino lirih sambil beranjak dari duduk. Dengan beranjak berdiri dan menggerakkan tubuhnya di tengah udara yang maish dingin ini, setidaknya keinginannya untuk berciuman itu dapat mereka. kedua manusia itu pun melanjutkan berjalan jalan dan berfoto bersama di Malioboro sampai larut malam.


**