Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kegaduhan



Bab 62


Kegaduhan


“Siapa Anda mengaku ngaku Lysa sebagai putri Anda? Lysa adalah putriku, dan aku ingin membawanya pergi.”


Ayah Kim menceletuk demikian ketika ayah Mino mencoba membela Lysa. ayah Mino sama sekali tidak mengerti, kalau memang dia ayah Lysa, mengapa dia ingin membawa pergi putrinya sendiri denjgan cara paksa.


“Ayah, lepaskan. Aku tidak ingin pergi dari tempat ini. ayah mengambilku karena ingin menyerhkanku pada mereka bukan?” Lysa yang tau betul bahwa ayahnya telah dihasut oleh Paman Alvend itu berusaha mengelak. Ia memberontak ketika ayahnya menyeret lengannya untuk dibawanya pergi dari tempat ini.


“Lysa, diam! Kau sudah cukup membuat ayah kecewa dengan kelakuanmu yang tidak jauh seperti ibumu. Sekarang kau turuti ayah atau kau tidak akan pernah lagi bisa memanggilku dengan sebutan ayah lagi.” Pak Kim mengancam sambil terus menyeret tubuh Lysa menjauh dari rumah ini.


Mendengar kegaduhan yang terjadi di halaman rumah mereka, Mina dan Minjae yang sebelumnya berada di dalam kamar itu juga ikut turun. Mereka menghampiri ayahnya di teras rumah yang sedang berusaha menahan Lysa yang diperlakukan dengan tidak baik oleh ayahnya sendiri.


“Nunim!”


“Eonni...”


Mina dan Minjae yang tiba di teras rumah itu langsung menceletuk memanggil Lysa yang sedang ditarik paksa oleh ayah kandungnya. Mereka berdua tampak begitu sedih, namun tidak bisa berbuat apa apa karena yang membawa Lysa pergi adalah ayahnya. Sedangkan mereka sendiri bukanlah siapa siapa selain calon adik ipar Lysa.


Namun Lysa yang sebenarnya tidak ingin pergi meninggalkan rumah orang tua Mino pun tidak bisa mengelak sama sekali. Yang membawanya pergi adalah ayahnya. Paling tidak Lysa merasa yakin bahwa ayahnya tidak akan membuatnya kesakitan dan tidak akan meakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Sehingga, Lysa yang tidak bisa menolak ajakan ayahnya pun menurutinya. Ia akan ikut bersama ayahnya, meski itu artinya Lysa tidak akan tau lagi kapan ia bisa bertemu dengan Mino.


“Baiklah, ayah, aku akan ikut denganmu. Tapi tolong lepaskan aku. sakit. Tanganku sakit.” Lysa menghentakkan tangannya dengan keras sehingga cengkeraman ayahnya itu seketika terlapas. Kemudian Lysa menghadap ke arah Mina, Minjae, dan juga ayah Mino yang diam membeku di depan pintu rumah. Dengan napas yang memburu Lysa menatap mereka. gadis itu seperti ingin menangis, matanya berkaca kaca, karena merasa sangat sedih harus pergi meninggalkan rumah yang sangat nyaman ini.


Walau hanya sebentar, di rumah in Lysa merasa sangat nyaman. Apa yang ia damba dambakan selama ini seperti terpenuhi semuanya di dalam rumah ini. Lysa menjadi merasakan memiliki dua orang adik yang membuatnya tidak pernah merasa kesepian. Lysa juga seperti memiliki seorang ibu yang baik dan lemah lembut yang bisa mendengarkan semua ceirita dan keluh kesah dalam hidup. Serta, Lysa seperti memiliki seorang ayah yang sifatnya sangat bersahabat dan membuat Lysa merasa sangat nyaman meski baru mengenal. Di dalam rumah ini semua yang Lysa inginkan ada. Keharmonisan keluarga. Sebuah keluarga yang damai, tenteram, dan harmonis. Lysa yang selama ini mendamba dambakan sebuah keluarga yang harmonis itu, merasa sangat nyaman dan tenteram berada di rumah orang tua Mino, meski hanya sesaat saja.


Rasanya sangat singkat untuk Lysa berada di rumah yang sangat membuatnya merasa nyaman itu. Ia ingin lebih lama di sana, namun harus pergi karena ayahnya ingin mengajaknya pergi.


Dari jarak beberapa meter dari pintu rumah orang tua Mino, Lysa berdiri. Menatap kosong ketiga orang di depan pintu yang sedang memberinya tatapan penuh rasa sedih. Dan tiba tiba saja air mata Lysa menetes. Gadis itu segera menyeka air matanya yang menetes itu kemudian memberikan senyuman manis untuk kedua adiknya dan juga ayah Mino.


“Aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Mino ssi.” Kemudian Lysa membungkukkan badan untuk memberikan hormat pada ayah Mino. “Selamat tinggal, Abonim."


Setelah mengucapkan selamat tinggal pada ayah Mino yang menatapnya penuh kesedihan itu, menganggukkan kepala. Ia memberikan senyuman pedih pada Lysa yang mau tidak mau harus ikut bersama ayahnya, entah ke mana.


**


Mino seharian ini mendapati perasaan yang tidak nyaman di dalam benaknya. Sejak kedatangan tamu-tamu tidak terduga ke kantornya, ia merasa sangat tidak nyaman. Sehingga hari ini ia menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat untuk segera pulang ke rumah dan melihat keadaan Lysa.


“Lysa... tolong angkat teleponmu. Tolong.”


Sembari mengendarai mobil itu Mino terus mencoba menelepon Lysa. perasaannya sudah tidak enak. Ia menghubungi Lysa, namun berkali-kali pula Lysa tidak menajwab telepon dari Mino. Dan itu membuat Mino semakin khawatir.


Mino berkali-kali mencoba menghubungi nomor Lysa. namun masih tidak ada jawaban sama sekali. Yang ada, hanya jawaban dari operator yang mengatakan bahwa nomor telepon Lysa sedang tidak aktif.


“Tolong... angkat teleponnya. Lysa... tolong.”


Di dalam mobil itu Mino bertambah panik, sekaligus cemas. Ia pun mempercepat laju mobilnya untuk segera sampai ke rumah. Dan di sela-sela itu, ia mendapat telepon dari adiknya, Mina.


“Halo, Mina. Apa yang terjadi? Kenapa Lysa tidak bisa dihubungi?”


Seketika teleponnya tersambung dengan Mina, Mino menceletuk bertanya. Ia sangat kahwatir pada Lysa.


[Oppa... sebenarnya... Kak Lysa dibawa pergi oleh ayahnya. Mereka baru saja pergi membawa mobil, entah ke mana.]


Mendengar ucapan Mina itu, Mino yang terkejut sontak menginjak pedal remnya. Mobilnya pun berdecit dan itu menimbulkan erangan klakson terdengar dari mobil mobil yang melaju di belakangnya.


“Apa katamu? Lysa... dibawa pergi?”


**