Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perasaan Misterius Brian



Bab 8


Perasaan Misterius Brian


“Apa? Kau mecari pekerjaan?”


Selagi menyetir mobil, Brian yang terkejut


mendengar pernyataan Lysa itu sontak melontarkan pertanyaan. Di siang hari yang


cerah ini, mereka berdua bergerak menuju suatu daerah di Seoul tempat ayah Lysa


berada. Seperti janji mereka tempo hari, Brian ingin menemani Lysa mengunjungi


ayahnya di kantor pribadi yang sekaligus menjadi tempat tinggal sang ayah.


“Masih belum diterima. Tapi aku sedang


berusaha mencari pekerjaan paruh waktu. Rasanya aku perlu melakukan sesuatu


untuk membantu ayahku. Tidak mungkin kan aku membebaninya di tengah keadaan


yang sudah seperti ini? Paling tidak aku harus mendapatkan pekerjaan untuk uang


makanku dan uang kebutuhan sehari hari. Aku juga tidak ingin membanimu terus


Sam, dengan meminta kau selalu mentraktirku makan siang.”


Di kursi kemudi itu Lysa menjelaskan


panjang lebar. Ia memang berada di situasi di mana ia tidak bisa diam sama. Ia harus


berbuat sesuatu untuk membantu meringankan beban sang ayah. Dan ia juga sudah


mulai tidak enak pada Brian yang selalu dimintainya pertolongan.


“Aku sama sekali tidak merasa terbebani. Itu


hanya perasaanmu saja,” kata Brian.


“Hei, tetap saja. Aku juga punya harga


diri.” Lysa membalas dengan gumaman pelan yang hampir tidak terdengar di


telinga Brian.


“Apa kau diperbolehkan bekerja oleh ayahmu?


Bagaimana pun kau harus minta izin pada ayahmu, Lysa.” Brian lanjut menururi.


“Ayah tidak tahu. Dan aku tidak bisa


memberi tahunya. Jadi, Sam, kumohon, rahasiakan hal ini. Di mana pun aku


bekerja paruh waktu nanti, tolong rahasiakan itu dari ayahku ya?” Lysa berucap


dengan raut wajah penuh permohonan terhadap Brian.


Harapan terakhirnya untuk bisa


menyembunyikan hal tersebut dari ayah adalah Brian. Karena ayah Lysa pasti


tidak akan mengizinkan Lysa untuk bekerja paruh waktu di mana pun. Dan kalau


ayah Lysa tahu bahwa putrinya bekerja paruh waktu untuk memenihi kebutuhan


sehari hari, pasti ayah Lysa akan menempuh berbagai cara untuk membuat putrinya


berhenti melakukan pekerjaan kasar. Entah langkah yang diambil ayah Lysa nanti


itu dengan menghutang atau bagaimana, beliau pasti akan menjamin kebutuhan Lysa


terpenuhi sehingga Lysa tidak perlu melakukan pekerjaan kasar.


Brian menghela napas panjang panjang. Ia tahu


seberapa besar ayah Lysa menyayangi Lysa. Dan Brian pun tahu, awalnya Lysa


berasal dari keluarga yang berada dan memiliki kehidupan yang serba mewah sejak


kecil. Sebelum akhirnya keluarga Lysa pecah dan bisnis ayahnya hancur berkeping


keping. Tidak heran jika Lysa selalu ingin makan daging tidka peduli kalau


dirinya tidak punya uang, karena sedari kecil ia dilatih dengan makanan makanan


yang enak dan tak pernah hidup sengsara sebelumnya.


Sejujurnya Brian meragukan apakah Lysa bisa


melakukan pekerjaan kasar seperti pekerjaan paruh waktu di Moonlight Coffe. Seumur


umur, Brian belum pernah melihat Lysa memegang nampan dan peralatan dapur


seperti celemek dan lain lain. Brian juga tak pernah melihat Lysa melakukan


pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, mengelap meja, yang semua itu


pastinya akan Lysa lakukan ketika bekerja paruh waktu di Moonlight Coffe atau


di tempat mana pun.


Napas Brian berembus panjang panjang. Andai


saja ia bisa memberikan pekerjaan untuk Lysa, maka ia akan memberikan Lysa


pekerjaan yang mudah. Posisi Brian di kampus memungkinkan untuk ia merekrut


satu asisten baru untuk labolatorium biologi tempatnya bekerja. Namun karena


Lysa bukan dari jurusan biologi, maka ia tak bisa melakukannya. Satu satunya


hal yang bisa Brian lakukan untuk membantu Lysa adalah dengan menuruti


keinginan Lysa, untuk Brian membungkam mulut di hadapan sang ayah.


“Kau yakin? Bekerja paruh waktu di tempat


seperti itu pasti tidak mudah. Kau yakin bisa melakukannya?” tanya Brian.


Lysa mengangguk dengan sangat yakin. Namun,


Brian yang melihat anggukan yakin itu merasa sangat ragu terhadap jawaban


spontan Lysa.


“Tentu saja. Aku bisa belajar menjadi


pekerja paruh waktu yang baik. Aku bisa belajar melayani pelanggan kafe dengan


baik, belajar menggunakan mesin pembayaran, belajar membuat minuman, dan


belajar bersih bersih. Aku hanya perlu belajar.” Lysa menjawab dengan yakin.


“Tidak semudah yang kau bayangkan.” Brian


menengahi. Raut wajahnya menyendu selagi pandangannya lurus menatap jalan raya


yang ia lalui.


“....”


Lysa terdiam. Ia tak menjawab apa apa


perkataan Brian tersebut. yang ia lakukan adalah, merenung. Ia memikirkan dalam


dalam keputusannya yang sudah bulat.


“Aku tidak tahu akan sesulit apa nantinya. Tapi


aku sangat ingin mencobanya.”


Setelah beberapa waktu terdiam, Lysa buka


suara. Ucapannya itu membuat Brian sedikit melirik ke arahnya menggunakan ekor


mata. Menatap Lysa sekilas dengan penuh pilu dan rasa belas kasih.


“Baik. Kau bisa mencobanya. Kapan pun kau


merasa kesulitan, katakan padaku, aku akan membantumu.” Brian berucap.


Lysa menolehkan kepala. “Sam mau


membantuku? Bagaimana caranya?”


“Hm, dengan membelikanmu sajian lengkap


daging sapi.”


“Wahh...”


Lysa menggumam heran mendengar perkataan


Brian yang sangat menggiurkan. Ia lalu menggumam gumam, “Kenapa laki laki suka


sekali memberiku makan? Apa aku terlihat se menyedihkan itu di depan makanan


lezat?”


Jika diingat ingat lagi, apa yang ia


gumamkan itu memang angat nyata. Brian sering membelikan Lysa makanan daging


sapi setiap kali ada kesempatan. Dan selain Brian, ada satu laki laki lainnya


yang memilih memberi makan Lysa selama satu bulan penuh daripada memberinya


pekerjaan di Moonlight Coffe. Yang Lysa herankan adalah, ada apa dengan dua


laki laki itu? Kenapa mereka suka sekali menawarkan makanan pada Lysa daripada


memberinya pekerjaan? Apakah Lysa selalu terlihat kelaparan sampai sampai


mereka selalu ingin memberi Lysa makan seperti memberi makan kucing liar yang


menyedihkan?


Itu adalah hal yang panats Lysa syukuri


dalam hidupnya. Namun di sisi lain ia juga merasa menyedihkan.


“Apa?” Brian seketika menyahut mendengar


gumaman aneh Lysa. Tetapi Lysa segera menggeleng cepat dan menyangkal.


“Tidak, tidak. Tidak apa apa. Tidak usah


kau pikirkan, Sam. Tidak penting.”


Tak lama kemudian, keduanya telah tiba di


salah satu gedung besar yang berdiri di daerah yang cukup dekat dengan


keramaian. Gedung besar yang terlihat tua itu memperlihatkan cat dindingnya


yang telah kusam dan berlumut. Gedung itu banyak digunakan sebagai gudang dan


merupakan gedung bekas sekolah menengah atas di Dobong gu (salah satu distrik


di pinggiran Seoul). Dan di salah satu ruangan di dalam gedung tersebut lah


ayah Lysa tinggal. Di sebuah area bekas kantor yang tak cukup besar untuk


dijadikan kantor.


“Ayah,” panggil Lysa begitu masuk ke dalam


ruangan bekas kantor tersebut.


Ruang berukuran sepuluh meter persegi tersebut


terlihat kosong. Di dalamnya terlihat dua meja kantor yang penuh dengan


tumpukan dokumen yang berdebu dan tak terawar. Juga ada rak buku yang penuh


dengan buku buku tebal dan usang. Serta, di lantainya terdapat kasur tidur dan


perlengkapan hangat seperti menghangat lantai dan selimut. Serta pada bagian


pojoknya terdapat meja yang berisi kompor elektrik dan beberapa bungkus makanan


instan dan air mineral yang kosong.


“Ayah.”


Sekali lagi Lysa memanggil sambil menengok


sekeliling. Mencari cari keberadaan ayahnya ke sekeliling ruang.


“Paman Kim, kami datang.” Brian mencoba


memanggil keberadaan Paman Kim, alias ayah Lysa.


“Apa ayah sedang keluar?” Lysa bertanya


tanya sambil menelusuri ruangan tersebut.


Ia masuk ke dalam ruangan. Berjalan ke arah


tempat tidur dan menyibak selimut untuk melihat apakah ayahnya masih tidur. Sedangkan


Brian berjalan ke arah kamar mandi untuk mencari keberadaan ayah Lysa.


“Tidak ada?” tanya Lysa begitu melihat


Brian berjalan keluar setelah memeriksa kamar mandi.


Brian menggelengkan kepala. “Tidak ada. Kenapa


tidak kau coba telepon?”


“Sebentar.”


Lysa merogoh tas bahunya, mengambil ponsel.


Sebelum ia sempat memanggil nomor sang ayah, tiba tiba terdengar seseorang


membuka pintu dari luar. Ada seseorang yang datang.


“Oh, kalian datang rupanya!” Ayah Lysa yang


baru kembali setelah membeli air minum ke toserba itu menceletuk begitu membuka


pintu dan melihat putrinya ada di tempat ini. Suara beratnya itu seketika


membuat kepala Lysa dan Brian tertoleh.


“Ayah! Dari mana saja?”


“Annyeonghaseyo, Paman.” Brian menyapa Ayah


Lysa dengan membungkukkan tubuh hormat. Semetara itu Lysa berjalan mendekati


“Ayah, aku merindukanmu. Kanapa ayah jarang


sekali menghubungiku?” Lysa yang sedang memeluk tubuh sang ayah itu memprotes.


“Haha. Apa ayah jarang menghubungimu? Maafkan


ayah, ayah hanya tidak ingin mengganggu kuliahmu. Kau baik baik saja kan? Tidak


ada masalah di kampus? Bagaimana dengan teman temanmu? Apa mereka semua baik


denganmu?” Sang ayah menanggapi gerutuan Lysa dengan senyum hangat yang sangat


menawan.


Senyum itu yang selalui menguatkan langkah


Lysa di hari hari tersulitnya. Dan satu hal yang paling tidak bisa Lysa


mengerti adalah, bagaimana bisa ibunya menghianati ayahnya yang memiliki


senyuman menawan dan tulus seperti itu? Kadang memikirkannya membuat Lysa


berpikir bahwa ibunya itu adalah wanita paling kejam di dunia ini, yang telah


melahirkannya dan membuang Lysa dan ayah Lysa dengan sia sia.


Perlahan lahan Lysa melepaskan pelukan pada


sang ayah.


“Tentu aku baik baik saja. Ayah tidak perlu


mencemaskanku. Aku belajar dengan biak dan berbaur dengan baik bersama teman


temanku,” jawab Lysa yakin.


“Begitukah? Brian, apa benar yang dikatakan


Lysa?” Karena tidak yakin pada jawaban Lysa, sang ayah pun bertanya kepada


Brian sambil berjalan ke arah meja untuk meletakkan air mineral yang baru


dibelinya.


“Benar, Paman. Lysa baik baik saja di


kampus. Tidak belajar dengan baik dan tidak pernah bolos kelas,” jawab Brian. Ia


melirik Lysa untuk seolah olah berkata ‘Lihatlah, aku sampai berbohong pada


ayahmu tentang kau bolos kelas. Jadi bersikaplah lebih baik lagi dan jangan


bolos.’


Seolah olah mengerti pesan yang disampaikan


Brian melalui tatapan itu, Lysa menghela napas panjang panjang. Bibirnya


mengerucut, merasa kesal tapi tidak bisa menyangkal dan tak bisa berbuat apa


apa.


“Sudah kubilang aku baik baik saja. Kenapa ayah


tidak memercayai ucapan putrimu sendiri dan malah memercayai ucapan Brian yang


bukan anakmu?” Lysa balas menggerutu sebal kepada ayahnya.


“Tuh, kan. Begitu saja kau sudah kesal. Dengan


sikapmu yang maish kekanak kanakan itu, apa ada laki laki yang mau menikahimu


nanti?” Sang ayah balas mengomeli Lysa yang sikapnya kadang masih seperti anak


anak dan sangat manja.


“Ini maish terlalu dini untuk membicarakan


pernikahan, Ayah. Dan aku tidak akan menikah. Aku mau hidup saja bersama ayah.”


Lysa membalas.


“Apa? Tidak bisa begitu dong. Kau juga


harus berkencan, Lysa. Carilah laki laki yang bisa diandalkan seperti Brian.


Jangan terus terusan melajang dan cobalah bertemu dengan seorang pria yang


baik.” Ayah lanjut mengomeli.


“Augh, hentikan, Ayah. Di mana aku


menemukan laki laki seperti Sam?” Lysa menggerutu. Namun kedua pipinya memerah.


Ia tampak tersipu setiap kali ayahnya membicarakan tentang perkencanan.


Melihat wajah Lysa yang memerah itu, sang


ayah berjalan mendekat pada Brian yang memasang raut wajah datar seperti tidak


mendengar apa apa. Lalu berbicara kepada laki laki berkacamata itu.


“Brian, apa kau sungguh tidak melihat


putriku sebagai wanita?” tanya ayah Lysa serius.


“Ya...?” Brian bertanya bingung.


Melihat raut wajah Brian yang tidak berubah


itu, ayah Lysa mengembuskan napas panjang panjang. Ia lalu menoleh pada Lysa


dan mengomelinya, “Mulai sekarang kau harus belajar untuk menjadi lebih dewasa,


Lysa. Brian tidak tertarik padamu karena kau masih kekanakan seperti sepuluh


tahun yang lalu. Jadi berhentilah bersikap kekanakan. Belajarlah jadi wanita


dewasa dari Brian supaya kau bisa terlihat sebagai wanita di hadapannya.”


“Ayah!”


Tak mendengarkan teriakan sang putri yang


sedang tersipu malu itu, Paman Kim langsung menoleh pada Brian yang tak


berkomentar apa pun sejak tadi.


“Brian, kalau saja nanti di masa depan kau


menginginkan putriku, kau bisa langsung saja katakan padaku. Kalau untuk laki


laki sebaik kamu, aku bisa memberikan putriku sewaktu waktu.”


“Ayah!”


Sekali lagi Lysa berteriak mendengar


ayahnya ‘menawarkan’ ia pada Brian seolah sedang menjual produk. Apa yang


ayahnya lakukan itu membuat Lysa kesal namun juga tersipu malu setengah mati.


Di sisi lain, Brian yang tak tau harus


menjawab apa, hanya mendesus desus dengan sangat pelan.


“Ah... ya..., Paman Kim.”


**


“Aishh, benar benar! Inilah kenapa aku tidak


suka membawamu bertemu dengan ayah. Karena ayah pasti akan berkata yang tidak


tidak padamu, Sam.”


Lysa yang sedang berjalan keluar dari


gedung tempat sang ayah tinggal itu, merutuk rutuk pada Brian. Semua ini


terjadi karena laki laki itu memaksa ikut bersama Lysa untuk mengunjungi sang


ayah. Lysa jadi malu sendiri dan merasa seperti sedang dipermainkan oleh


ayahnya sendiri dan ‘ditawar tawarkan’ seperti barang dagangan. Andai saja


Brian tidak ikut bersama Lusa untuk mengunjungi ayahnya hari ini, pastinya sang


ayah tidak akan melantur dan mengatakan hal hal tidak masuk akal yang membuat


Lysa malu setengah mati dan tidak bisa menatap Brian sampai saat ini.


Gadis itu berjalan dengan gusar keluar dari


gedung dan langsung masuk begitu saja ke dalam mobil. Ia tak melakukan kontak


mata dengan Brian yang ekspresi wajahnya tetap datar dan juga dingin seperti


tembok yang diselimuti salju.


“Jangan salahkan ayahmu. Dan jangan terlalu


memikirkan hal itu. Semua orang tahu kalau hubungan kita hanya sebatas kakak


dan adik.”


Begitu masuk ke dalam mobil, Brian


mengatakan hal itu seolah apa yang dikatakannya itu bukanlah apa apa. Memang benar.


Keluarganya, dan ayah Lysa, tahu bahwa hubungan Brian dengan Lysa itu hanya


sebatas kakak dan adik. Brian tidak pernah melihat Lysa sebagai wanita meski


Lysa tetap melihat Brian sebagai laki laki yang berpotensi untuk menjadi


kekasihnya. Dan itu adalah fakta pahit yang harus Lysa terima. Lebih dari apa


pun Lysa tahu kalau keberadaannya itu tidak lebih dari sebatas adik untuk


Brian. Tapi tidak perlu Brian menegaskan hal itu lagi dan lagi di hadapan Lysa.


Lama lama itu bisa membuat Lysa merasa muak.


“Tau ah! Lain kali jangan memaksa ikut


denganku ketika ingin bertemu dengan ayah. Kalau Sam ingin bertemu secara


pribadi dengan ayah, silakan kalian bertemu berdua, dan jangan bawa bawa aku. Aku


tidak mau mendengar hal seperti itu lagi dari ayahku.”


Mendengar Lysa marah marah seperti itu,


Brian hanya terdiam. Di saat seperti ini, yang bisa ia lakukan adalah diam. Ya,


hanya diam. Ia akan menunggu sampai kemarahan Lysa mereda.


Brian mulai mengendarakan mobil, menjauhi


gedung tempat Paman Kim tinggal. Mereka hanya bisa menjenguk ayah Lysa sejenak


karena sang ayah ada janji bertemu dengan seseorang untuk urusan bisnis yang


hendak dimulainya lagi.


Di dalam mobil yang dikendarakan Brian itu,


Lysa masih diam termangu dengan segala emosi yang amrih bercampur dalam


benaknya. Sampai akhirnya sebuah pesan teks datang. Pesan teks itu dari nomor


kontak yang dinamainya ‘Ajeossi yang baik hati dan dermawan’.


Raut wajah Lysa yang semringah dan berbunga


bunga ketika menerima pesan teks itu membuat kening Brian mengernyit. Lelaki itu


melirik Lysa yang terlihat begitu antusias membalas pesan teks yang baru saja


masuk.


“Siapa yang mengirimu pesan teks sampai kau


terlihat begitu senang seperti itu?” tanya Brian curiga. Dalam hati ia bertanya


tanya, jangan jangan Lysa sudah memiliki kekasih. Maka dari itu ia begitu marah


ketika ayahnya ‘menawarkan’ Lysa kepadanya.


“Oh?”


Kepala Lysa langsung menaik, menatap Brian.


“Sam, aku akan memberi tahumu satu rahasia.”


Lysa berkata dengan sangat serius, membuat Brian menaikkan kedua alis karena


penasaran.


“Rahasia? Apa itu?”


Lysa terlihat lebih gugup dari sebelumnya. Ia


mebasahi bibirnya dengan lidah sebelum mengungkapkan sebuah fakta.


“Aku... aku sudah memiliki ciuman pertama


dengan seorang laki laki.”


“Apa?!”


Ccyiiittt!


Mobil yang dikendarakan Brian mendadak


oleng ketika pengemudinya mendengarkan pernyataan tidak terduga dari Lysa.


Brian yang setengah mati terkejut itu nyaris menabrak mobil di depan. Untung saja


kakinya spontan menginjak pedal rem sehingga kecelakaan pun bisa terhindari dan


lelaki itu bisa kembali mengemudikan mobilnya dengan baik. Namun raut wajah


terkejutnya itu tidak berubah. Ia menatap Lysa yang membalalak antusias dengan


wajah tak percaya sekaligus kaget.


**