
“Ayo kita bicara.”
“Bicaralah, tapi jangan lama-lama. Aku sibuk mau mengemas pesanan.”
Tatapan Yebin masih terasa dingin. Yul dapat merasakan kebekuan dalam hatinya mendapat tatapan seperti es itu.
“Semalam, aku minta maaf,” kata Yul lirih. Ia mengucapkan hal itu dengan rasa bersalah yang besar terhadap Yebin.
Sejenak diam, Yebin pun memberi tanggapan.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Aku minta maaf.”
Yebin pun membalas dengan tegas, “Aku tidak membutuhkan permintaanmaafmu, Ajeossi. Aku membutuhkan jawaban. Aku perlu mendengarkan jawaban dari pengakuan cintaku semalam.”
Ragu-ragu Yul bertanya, “Itu... kau serius mengatakannya?”
“Kau pikir aku bercanda?”
Kepala Yul menggeleng-geleng kecil. Bibirnya yang basah terasa kering. Ia menatap sayu Yebin yang memberikan tatapan tajam serius.
“Beri aku waktu untuk berpikir, kumohon.”
Yebin mengembuskan napas. Ia melepaskan cengkeraman tangan Yul secara paksa. Tatapan Yebin yang semula serius seketika itu berubah. Ia menatap Yul dengan ketus, seperti Nona Kang yang selama ini pria itu kenal.
“Ahh, aku sudah menduga akan seperti ini.”
Wajah Yebin berpaling sambil menggerutu kesal kepada Yul. Yul yang bingung melihat perubahan sikap Yebin, mengernyitkan kening.
Pasrah, Yebin pun menceletuk, “Baiklah-baiklah. Aku akan memberimu waktu. Astaga, semoga aku diberi umur panjang untuk mendengar jawaban dari paman yang satu ini.”
Nada suara Yebin yang seperti menggerutu itu membuat Yul kembali tersenyum. Sikap Yebin yang kembali seperti dulu membuat perasaan Yul melega. Duri yang menancap-nancap di tubuhnya seolah telah tercabut. Membuatnya dapat bernapas lagi dengan lega.
Senyum Yul yang menggambarkan kelegaan itu terasa hangat. Kedua lesung pipitnya yang dalam kembali terlihat setelah tenggelam beberapa waktu dalam kabut kepedihan.
“Aku janji akan memberikan jawaban. Tapi tidak sekarang.”
Yebin kembali menatap Yul penasaran sambil mengerucutkan bibir.
“Apa karena jarak usia kita? Kalau itu, aku tidak masalah. Setidaknya pria yang lebih dewasa dapat lebih kuandalkan.”
“Itu juga termasuk. Tapi, bukan hanya itu sebenarnya.”
Kepala Yebih mengangguk-angguk.
“Baiklah. Aku akan memberi waktu.”
Tepat setelah memberikan kepastian itu, Yebin berbalik. Ia berjalan meninggalkan dapur setelah melepas apron dan mengambil ponsel di atas meja dapur. Beberapa langkah sebelum kakinya meninggalkan dapur, Yebin kembali menoleh ke kebelakang.
“Ajeossi, kau tidak sibuk kan?” celetuknya pada Yul.
“Memangnya kenapa?”
“Kalau kau tidak sibuk, bantu aku mengemasi barang pesanan. Ada sekitar lima puluh pesanan yang harus kukemas. Membutuhkan waktu lama kalau melakukannya sendirian. Ajeossi bisa membantu kan?” tanya Yebin panjang lebar, setengah membujuk.
Tanpa keraguan kepala Yul mengangguk. Bersama senyum yang dilayangkan, ia menjawab, “Tentu. Aku akan membantumu.”
***
Salju yang turun masih sangat deras pada pertengahan bulan Desember yang berjalan ini. Langit kelabu yang menaungi distrik Gwangjin bergerak dengan begitu pelan ke barat. Hawa dingin dari butiran es yang disebar ke bumi oleh dewa langit itu terasa mencekat di kulit. Suhu udara sore ini mencapai minus lima derajat celcius. Itu suhu yang sangat rendah meski pada kenyataannya, di negara beriklim sub tropis seperti Korea Selatan ini, tepatnya di Seoul, suhu udara bisa lebih rendah dari ini. Namun, Yebin tidak berharap demikian. Tubuhnya yang rentan terhadap dingin itu sangat sensitif. Yebin yang wataknya keras dan berkepala batu itu ternyata adalah orang yang mudah terserang flu. Tubuhnya sangat rentan terhadap udara dingin dan gampang terkena flu.
Hacchyuuhh!
Yebin bersin-bersin dan hidungnya yang merah terasa gatal. Padahal ia telah memakai pakaian berlapis-lapis untuk menghangatkan tubuh. Ada lebih dari lima hotpack yang menghangatkan anggota tubuh Yebin. Ia juga memakai kaus kaki tebal, sarung tangan wol, dan penutup kepala. Tapi tetap saja, tubuhnya terasa kedinginan sampai merespon dingin itu dengan bersin-bersin.
“Kau baik-baik saja? Kita segera pulang saja. Besok aku akan ke rumahmu untuk mengunggah prosuk-produk baru.”
Somin yang berjalan di sebelah Yebin menceletuk. Wanita bertubuh tinggu kurus itu sedari tadi mendengar Yebin bersin-bersih sejak keluar daru gedung auditorium kampus untuk penutupan semester.
Seketika itu juga Yebin menggeleng.
“Tidak-tidak. Aku tidak apa-apa. Kita langsung ke kafe saja untuk mengunggah produk baru,” Yebin menjawab tegas.
Mengunggah produk bukan suatu hal yang bisa Yebin tunda-tunda. Karena ratusan, bahkan ribuan pengunjung situs belanja Biniemoon yang datang setiap hari untuk mencari produk-produk baru. Jika menunda pekerjaan itu, sama saja Yebin memberi harapan palsu pada calon customernya yang menantikan produk baru di setiap minggu. Di papan promosi Biniemoon tertera tulisan bahwa Biniemoon menyediakan produk baru pilihan di setiap edisi mingguan. Dan hari Senin ini adalah hari di mana Yebin barus mengunggah produk baru untuk para customernya. Sedikit pun Yebin tidak ingin mengecewakan customer Biniemoon yang menunggu setiap hari Senin untuk mencari koleksi fashion terbaru.
Somin mengembuskan napas panjang. Andai saja wifi rumah Yebin tidak sedang diperbaiki, mereka bisa dengan mudah mengunggah produk baru di rumah tanpa harus pergi ke kafe untuk mencari wifi gratis. Dan andai saja rumah—fila—Somin yang dihuni lebih dari sepuluh orang itu koneksi internetnya tidak lambat, mungkin ia bisa mengajak Yebin datang ke rumahnya. Somin tinggal bersama keluarganya di fila besar yang disewakan di Seoul.
Sambil menyeka hidungnya yang mulai berair Yebin meneruskan jalannya menuju pintu keluar kampus. Saat itu juga, ponsel Yebin di dalam saku jaketnya bergetar. Ia melihat nama ‘Ajeossi’ menyembul di tengah layar.
“Ada apa meneleponku, Ajeossi?” celetuk Yebin ketika panggilannya tersambung dengan Yul. “Aku sedang ada di kampus. Kenapa?”
Tiga puluh detik Yebin mendengarkan suara Yul sampai pria itu selesai bicara.
“Malam ini?”
Napas Yebin terhela dengan begitu ringan dan dalam. Ia mengakhiri teleponnya dengan mengucapkan, “Baiklah. Aku akan pulang secepatnya nanti.”
Setelah panggilan telepon itu terputus, Yebin kembali menyakui ponselnya. Wajahnya yang tidak dapat ditebak itu membuat Somin mengernyit bingung.
“Ada apa?”
Tanpa menjawab dengan jelas Yebin mempercepat langkah hingga membuat Somin berjalan kelabakan.
“Kita harus cepat-cepat! Harus selesaikan pekerjaan sebelum jam tiga.”
“Eh?”
Yebin tak menghiraukan Somin dan berjalan semakin kencang menuju kafe yang berdiri dekat kampus. Menyelesaikan pekerjaan mengunggah produk secepat mungkin. Lalu pulang dan membantu tetangga depan rumahnya itu mempersiapkan upacara.
***
Yul membawa beberapa buah-buahan apel dan kesemek dari dapur. Meletakkannya di atas meja persembahan di mana foto kedua orang tuanya dipajang.
Tidak salah lagi. Ini adalah hari peringatakan meninggalnya kedua orang tua Yul dalam tragedi kecelakaan beberapa tahun lalu. Tahun-tahun sebelumnya, Yul melakukan upacara sendirian dan hanya ditemani Haeri seorang. Tetapi tahun ini ada Hun yang menemaninya. Ada Miyoon yang membantunya mempersiapkan upacara. Dan ada Yebin yang sebentar lagi akan datang untuk memberi penghormatan pada kedua orang tua Yul yang sudah meninggal.
“Masakannya juga sudah selesai. Nak Hun, bisa kau bawakan makanan persembahan yang sudah kusiapkan di atas meja itu?” Miyoon yang sedang menatakan buah-buahan yang tadi dibawa Yul, menceletuk.
“Ya, Ibu.”
Tanpa menunggu lama, Hun, yang hari ini pulang lebih awal untuk melakukan upacara peringatan, menuju dapur dan membawakan semua makanan persembahan untuk ditata Miyoon di atas tikar yang telah dibeber di lantai ruang tamu.
“Apa lagi yang kurang?” tanya Yul melihat semua persiapan upacara yang telah tertata rapi di atas tikar dan meja kayu.
“Tinggal dupa.”
“Saya tadi kelupaan membeli dupa. Jadi saya menyuruh Yebin untuk membeli dupa diperjalanan pulangnya,” jelas singkat Yul.
“Kalau begitu. Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu Yebin datang.”
Melihat semua persiapan yang sudah matang, Hun yang merasa tugasnya selesai, berkata pada kakaknya.
“Hyeong, aku mandi dulu kalau begitu.”
Yul menjawabnya dengan mengangguk. Hun pun segera naik ke lantai dua untuk membersihkan tubuh sebelum upacara peringatan diberlangsungkan.
Melihat Hun yang baru tenggelam di kamar lantai dua, Yul berjalan menuju dapur. Ia hendak membereskan dapurnya yang berantakan sebelum Miyoon menceletuk, “Itu biar aku saja yang bereskan. Kau mandi dulu sana. Nanti kalau Yebin datang upacara bisa langsung dilakukan.”
Wanita paruh baya itu mengambil sarung tangan karet yang hendak digunakan Yul untuk mencuci semua perlatan memasak yang kotor.
“Benarkah?” Yul meyakinkan dengan wajah tidak enak.
“Cepatlah naik. Yebin keburu datang.”
Yul tersenyum haru sebelum akhirnya naik ke lantai dua untuk membersihkan tubuh. Beberapa menit setelah itu, Yebin datang membawa dupa yang tadi dipesan Yul.
“Ibu! Mana Ajeossi dan Hun Oppa?” Yebin menceletuk sementara napasnya masih terengah-engah karena habis berlari. Ia berlari dari halte bus karena merasa dupa yang dibawanya ini dibutuhkan segera.
“Mereka masih mandi. Kenapa kau berlari sampai seperti habis maraton?” Miyoon mengomeli putrinya yang napasnya terdengar keras. Ia telah menyelesaikan kegiatan mencuci dan sekarang sedang merapikan meja dapur Yul.
Yebin meletakkan dupa yang dibawanya ke atas meja dapur. Kemudian mengambil air putih di dalam kulkas untuk diminum. Tenggorokannya terasa sangat kering sehabis digunakannya untuk berlari tadi.
“Kukira aku terlambat. Aku tadi sangat kaget saat Yul Ajeossi memberi tahu kalau hari adalah peringatan kematian orang tuanya. Kenapa dia tidak memberitahuku jauh-jauh hari dan membuatku sangat kaget? Kalau tahu, aku akan mengunggah produk Biniemoon sejak pagi, bukannya setelah dari kampus.”
Rutukan Yebin dari dapur itu didengar oleh Yul yang sedang menuruni tangga. Pria itu telah bersiap-siap melakukan upacara. Ia memakai jas hitam dengan kemeja putih. Rambut hitamnya tertata rapi ke atas menggunakan gel rambut yang mengkilap.
“Harusnya aku memberutahumu lebih awal. Tapi aku lupa karena terlalu sibuk dengan urusan lain. Maaf jika mengejutkanmu, Nona Kang.”
Kepala Yebin sontak menoleh ke arah tangga. Ia melihat Yul yang menuruni tangga dengan penampilan rapi.
“Aku sampai bertanya-tanya seberapa sibuk bos Moonlight Coffe itu sampai memberitahuku hal ini saja tidak sempat.”
Yul hanya tersenyum miring dengan alisnya yang terangkat. Raut wajah tidak bersalahnya itu membuat Yabin yang baru bisa bernapas normal mendengus panjang.
“Awas saja kalau Ajeossi mengejutkanku lagi dengan hal semacam ini. Seperti saat kau berkata ayahmu adalah Pelukis Moon Jiwook. Apa Ajeossi tahu betapa terkejutnya aku mendengar kedua hal ini?” lanjut Yebin merutuk.
“Kenapa kau memarahi Moon Sajang?” Miyoon yang mendengar putrinya itu merutuk-rutuk, menceletuk. Ia tidak mengerti kenapa putrinya itu suka sekali memarahi tetangganya yang tampan.
“Kenapa Ibu malah membela Ajeossi?” protes Yebin. “Harusnya Ibu membelaku. Aku ini kan putrimu.”
“Lalu kenapa kau membuat keributan sebelum upacara penghormatan dilakukan? Apa aku pernah mengajarimu seperti ini?” balas Miyoon merutuk.
Yebin pun terdiam tak berkutik mendengar ucapan ibunya yang tidak salah. Tidak seharusnya Yebin marah-marah pada keluarga mendiang yang hendak melakukan upacara penghormatan. Yebin yang merasa bersalah, seketika itu mengembuskan napas panjang-panjang dan menurunkan pandangannya dari Yul.
Yul telah tiba di dapur saat wanita itu merenungkan kesalahannya. Jujur. Ia tak merasa terganggu dengan sikap Yebin yang seperti ini. Sama sekali ia juga tak tergangu dengan rutukan-rutukan yang hampir setiap hari keluar dari mulut Yebin. Anehnya, Yul justru menyukainya. Mendengar Yebin merutuk dan memarahinya seperti tadi, sedikit beban kepedihan yang datang di hari menyakitkan ini melayang meninggalkan benak Yul.
“Biasanya orang yang suka marah-marah itu kelihatan lebih tua. Tapi kau sama sekali tidak demikian. Sepertinya di bawah kulit wajahmu itu ada timbunan kolagen yang membuatmu tetap seperti gadis remaja.” Yul berujar dengan niat menghibur hati Yebin.
“Aku bukan remaja. Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, Ajeossi.” Yebin memperingatkan dengan tegas sambil menatap Yul tajam.
Satu hal yang sampai saat ini dibenci Yebin adalah Yul yang menganggapnya seperti anak kecil. Yebin sungguh tak menyukai hal itu. Ia benci diperlakukan seperti anak kecil oleh laki-laki yang disukainya. Ia ingin Yul memandangnya benar-benar wanita, bukan anak remaja yang masih labil.
Yul hanya tersenyum ringan menanggapi peringatan Yebin. Tepat setelah itu, Hun yang telah selesai bersiap-siap, berjalan menuruni tangga.
Keempat orang yang ada di ruang tamu itu pun melangsungkan upacara penghormatan mereka kepada arwah orang tua Yul. Dimuali dari Yul, ia menancapkan dupa dan mulai melakukan ritual tradisional untuk arwah anggota keluarga yang sudah meninggal. Diikuti Hun, kemudian Miyoon dan terakhir Yebin.
Setelah upacara peringatan diberlangsungkan, Yul berkata kepada Yebin yang sedang membantunya beres-beres.
“Nona Kang, apa kau marah?” Yul bertanya sambil mengikuti langkah Yebin ke dapur.
“Kenapa aku marah pada Ajeossi yang tidak bersalah?” jawabnya ketus.
“Aku sungguh minta maaf karena tidak sempat memberitahumu sejak awal tentang peringatan orang tuaku. Aku ingin memberitahumu kemarin, tapi tiba-tiba ada panggilan masuk yang menyuruhku untuk segera ke kafe.” Yul menjelaskan panjang sambil mengingat-ingat kemarin. Di mana ia ingin memberitahu Yebin tentang upacara peringatan ini dan Jisoo menelepon karena ada permasalahan kafe.
Selesai meletakkan makanan persembahan ke atas meja makan, Yebin mengembuskan napas panjang. tubuhnya menoleh pada Yul yang memasang wajah bersalah. Bagaimanapun, itu salah Yul karena tak memberitahu tentang upacara ini jauh-jauh hari dan membuat Yebin merasa seperti bukan siapa-siapa untuk Yul.
“Ajeossi sungguh menyesal?”
“Hm.” Yul mengangguk.
“Kalau kau benar-benar menyesal, traktir aku.”
Yul mengernyitkan kening. “Teraktir? Baiklah.”
***