Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Begitu kesepakatan dibuat!



Bab 7


Begitu kesepakatan dibuat!


Pagi pagi buta di akhir pekan ini Lysa telah bersiap siap. Gadis yang telah berpakaian rapi itu memeluk sebuah map


berwarna biru dan berdiri di depan cermin. Menarik napas panjang panjang dengan pandangan mata yang berkobar kobar menatap cermin yang memantulkan keberadaan dirinya. Seolah akan bererang ke sebuah tempat, gadis itu  membulatkan tekad dan mengumpulkan keberanian.


“Benar. Aku harus melakukannya. Tidak peduli jika nanti ayah memarahiku, aku harus melakukannya. Untuk bertahan hidup!”


Dengan membawa tas bahu dan juga map itu, Lysa bergegas keluar dari asrama. Asramanya sekarang sedang sepi. Mahasiswa penghuni kamar lainnya sednag pulang di akhir pekan dan hanya tinggal Lysa seorang yang  berada di kamar itu. Rencananya, sore nanti ia akan mengunjungi ayahnya bersama


Brian. Tetapi itu rencananya sore nanti. Dan sekarang Lysa sedang bersiap siap


untuk melakukan suatu hal ke sebuah tempat.


Lysa berjalan keluar dari kamarnya. Keluar melintasi


pintu gerbang asrama kampus. Berjalan di antara pepohonan rindang di sepanjang


jalanan kampus.


Tempat yang dituju Lysa adalah Moonlight


Coffe.


Beberapa hari lalu Lysa mendaftarkan


dirinya untuk bekerja paruh waktu di Moonlight Coffe. Dan kemarin sore ia


mendapat telepon dari salah satu orang di Moonlight Coffe yang memberi tahunya


untuk datang secara langsung di Moonlight Coffe dan melakukan wawancara.


Hanya untuk pekerjaan paruh waktu, Lysa


melakukan semua itu. Tapi jangan salah. Moonlight Coffe menawarkan upah di atas


kafe lain pada umumnya di setiap jamnya. Sehingga banyak sekali mahasiswa yang


berminat untuk bekerja paruh waktu di sana. Dan karena banyak sekali mahasiswa


yang mendaftarkan diri untuk bekerja paruh waktu di kafe tersebut, semua


pendaftar pun diminta untuk mengikuti wawancara yang dilaksanakan mulai hari


ini sampai besok lusa.


Sebenarnya Lysa memang tidak diperbolehkan


bekerja oleh ayahnya. Sang ayah tiodak ingin Lysa bekerja mencari uang dan


hanya meminta Lysa untuk fokus pada kuliah saja. Namun, Lysa tidak bisa berdiam


diri melihat ayahnya berjuang sendirian. Bagaimana pun ia harus mendapatkan


pekerjaan paruh waktu unutk biaya hidupnya sendiri sehingga ia tidka terlalu


membenani ayahnya dengan uang jajan dan uang kesehariannya. Dengan tekad


itulah, Lysa datang pagi ini ke Moonlight Coffe. Bagaimana pun caranya, ia harus


mendapatkan pekerjaan ini. Bagaimana pun caranya.


Moonlight Coffe belum buka di waktu sepagi


ini. Kalau hari hari kuliah, Moonlight Coffe yang berdiri khusus di sebelah


universitasnya ini buka pada pukul sepuluh pagi dan tutup pada pukul sepuluh


malam. Namun di akhir pekan, Moonlight Coffe hanya buka pada sore hingga malam


hari saja.


Meski pagi ini Moonlight Coffe tidak


beroperasi, pintu utama kafe tetap terbuka. Ada kurang lebih lima mahasiswa


dari kampus yang sama dengan Lysa yang sedang mengantre untuk mengikuti


wawancara.


Lysa duduk di salah satu bangku yang


disediakan, bersama lima pendaftar lainnya.


“Hai, kau juga mau mengikuti wawancara?”


tanya seorang mahasiswa berbaju pink yang duduk di sebelah Lysa.


“Iya.” Lysa menjawab sambil menganggukkan


kepala. Lalu ia lanjut bertanya, “Apa pendaftarnya banyak? Aku baru tahu kali


ini kalau untuk pekerjaan paruh waktu saja diperlukan wawancara seperti ini.”


“Hehehe. Di tempat lain memang siapa saja


bisa bekerja sebagai pekerja paruh waktu di kafe. Tapi, Moonlight Coffe itu


berbeda kelas dengan kebanyakan kafe. Jadi wajar saja kalau ada banyak yang


mengajukan diri dan akhirnya dipilih jalan melalui wawancara,” jelas wanita


berbaju pink yang terlihat ramah itu. “Apa kau pendatang baru?” lanjut wanita


itu bertanya.


Lysa hanya menganggukkan kepalanya sambil


tersenyum. “Aku pendatang baru dari Indonesia. Baru menetap di sini selama lima


bulanan. Hehe.”


“Ah, pantas saja.” Wanita bernama Hanee itu


bergumam. “Kuberi tahu saja ya. Dulu, Moonlight Coffe pernah dapat masalah


besar karena salah satu pekerja paruh waktunya. Karena itulah mereka sedikit


ketat menyeleksi semua calon pekerja, termasuk pekerja paruh waktu. Dan kalau


dipikir pikir, seleksi ketat seperti ini sungguh dibutuhkan untuk kafe


setingkat Moonlight Cofe. Kau mungkin tidak tahu karena jadi pendatang baru. Moonlight


Coffe ini sangat populer, ada ratusan cabang di seluruh Korea dan bahkan sampai


luar negeri, ada ribuan outlet dan pokoknya populer sekali. Kau tau?


Pemiliknya, Tuan Moon Yul, dinobatkan jadi pengusaha kafe paling sukses di


negeri ini. Tapi kisah keluarganya sangat tragis dan memilukan...”


Hanee bercerita dengan penuh penghayatan


seolah olah ia sedang menceritakan kisah Musa membelah lautan merah yang sangat


populer di negeri Korea. Dan Lysa yang mendengarnya juga sangat penasaran pada


kelanjutan cerita dari pemilik Moonlight Coffe yang katanya sangat sukses dan


populer itu.


“Kisah tragis? Apa itu?” Lysa bertanya


penasaran.


Tepat setelah itu, seorang perempuan


berpakaian rapi dan formal keluar dari sebuah ruangan dan memanggil nama, “Jeon


Hanee ssi, silakan masuk.”


“Ah! Namaku dipanggil,” desah Hanee yang


mendengarkan namanya terpanggil. Ia bertatapan dengan Lysa yang terlihat kecewa


karena tak bisa mendengarkan kisah selanjutnya. “Lain kali akan kuceritakan. Semoga


sukses, teman!”


Buru buru Hanee berdiri dari duduk. Ia segera


masuk ke dalam ruangan dilakukannya wawancara secara individu. Sementara Lysa


hanya duduk manis menunggu gilirannya dengan perasaan gugup.


Rupanya di pagi akhir pekan ini tidak


banyak yang mengikuti wawancara. Wajar saja. Siapa yang mau mengikuti wawancara


di hari yang harusnya digunakan uuntuk beristirahat ini kecuali orang orang


yang tidak punya kerjaan seperti Lysa? Pun Lysa memilih hari ini untuk


melakukan wawancara karena jika besok atau lusa, pasti yang mengikuti akan


banyak.


Lysa adalah peserta wawacara terakhir pada


pagi hari di akhir pekan ini. Ia mendapat giliran mengikuti wawancara pada


pukul setengah dua belas, hampir mepet dengan jam makan siang.


“Pedaftar terakhir, Kim Lysa ssi. Silakan masuk.”


“Ya.”


Lysa segera berdiri dari duduk. Berjalan masuk


ke dalam ruangan tempat dilakukannya wawancara.


Lysa sungguh terkejut ketika memasuki


ruangan wawancara, dan melihat seorang laki laki berdiri seorang diri di


dalamnya. Laki laki itu. Laki laki yang sangat menyebalkan sampai membuat Lysa


kesal setengah mati. Laki laki yang telah mencuri ciuman pertamanya seumur


hidup. Lelaki itu tidak lain adalah Han Mino. Tangan kanannya maish digips dan


digendong menggunakan kain berwarna biru muda.


‘Ajeossi? Sial! Kenapa harus dia?’


Raut wajah Mino juga tampak terkejut


melihat keberadaan Lysa di ruangan itu. Ia sempat curiga melihat nama pendaftar


‘Lysa’. Ia berpikir mungkinkah... mungkinkah... dan ternyata, dugaannya benar.


Kim Lysa yang mendaftar untuk bekerja paruh waktu di kafe ini adalah Kim Lysa


yang Mino kenal. Yang memiliki sebuah cerita tidka terduga dengannya secara


kebetulan yang terus berkelanjutan.


“Kim Lysa ssi, silakan duduk.”


Mau tidak mau, Mino harus tetap profesional


dalam melakukan pekerjaannya. Secara teknis ia memang telah mengundurkan diri


dari Moonlight Coffe. Tetapi karena permintaan khusus dari bosnya, Mino harus


tetap bekerja di sini sebagai manajer kafe sampai ditemukan penggantinya di


tempat ini. Dan karena tuntutan pekerjaan, ia harus tetap profesional meski


sebenarnya hari itu Mino menyimpan rasa bersalah yang teramat besar dan juga


rasa terima kaish yang dalam kepada Lysa yang bersedia menemaninya di rumah


sakit.


Tatapan Lysa yang awalnya berkobar kobar


penuh semangat itu menjadi dingin. Melihat laki laki itu ada di tempat ini,


bayang bayang tentang ciuman pertamanya masih terus bergelayutan dalam benak. Seolah


olah kejadian hari itu kembali terulang dan berputar putar di kepala Lysa. Membuatnya


mabuk kepayang dan hampir kehilangan akal sehat.


“Jadi apa alasan Anda ingin bekerja paruh


waktu di sini? Bukannya di tempat lain Anda juga bisa menemukan pekerjaan yang


proses masuknya lebih mudah?” Mino sukses melontarkan pertanyaan pertamanya


kepada Lysa.


“Saya tidak masalah bekerja di mana pun. Yang


penting saya mendapat pekerjaan untuk mencukupi biaya hidup saya di sini tanpa


harus mengemis kepada orang todak dikenal untuk membelikan daging sapi di hari


ulang tahun saya.” Lysa melontarkan jawaban dengan pedas, yang sudah jelas


jawaban itu diluncurkan untuk siapa.


Mino berdeham deham pelan setelah mendapat


serangan pertama itu dari Lysa.


“Baiklah. Lalu kenapa Anda memilih


Moonlight Coffe?” lanjut Mino bertanya.


“Karena saya pertama kali melihat ada


lowongan pekerjaan paruh waktu du Moonlight Coffe. Jadi saya mendaftarkan diri


saya di Moonlight Coffe. Selain itu, saya dengar Moonlight Coffe memberikan


upah sedikit lebih banyak dari tempat lainnya. Jadi, bagi saya yang sangat


membutuhkan uang lebih untuk bertahan hidup, tentu akan memilih Moonlight


Coffe.” Lysa menjawab. Penekanan pada kata ‘sedikit lebih banyak’ itu


sebenarnya untuk meluncurkan serangan pada Mino. Karena jelas jelas selisih


upah yang diberikan Moonlight Coffe dengan tempat lain itu terlihat cukup


besar.


Kepala Mino mengangguk angguk. Bibirnya mengerucut.


Namun Lysa tidak dapat mengartikan apa arti dari raut wajah misterius Mino dan


bibir yang mengerucut itu.


“Kalau begitu, apa yang bisa kamu lakukan


untuk Moonlight Coffe jika kau bekerja di tempat ini dengan upah yang ‘sedikit’


lebih banyak itu?” Mino lanjut bertanya. Ia kemudian mengambil gelas yang ada


di depan mejanya, meminum teh hangat yang disediakan untuknya.


“Saya bisa bekerja dengan baik. Kebetulan ayah


saya pernah memiliki bisnis sehingga saya sering membantu ayah saya menjualkan


produk. Jadi saya sudah terbiasa memasarkan produk dan bersikap baik pada


pelanggan. Saya bisa memberikan pekerjaan dengan baik untuk Moonlight Coffe. Tapi


saya tidak bisa memberikan ciuman pertama saya untuk laki laki yang tidak


jelas...”


Brusshh!


“Uhukk uhukk!”


di dalam mulutnya begitu mendengar jawaban menohok Lysa. Tidak hanya itu. Mino


juha terbatuk batuk karena tenggorokannya tersedak minuman begitu kata kata


Lysa tadi menusuk telinganya.


“Manajer Han, Anda baik baik saja?”


Ketika mendengar suara semburan dan suara


batuk batuk Mino, wanita perpakaian rapi yang tadi berdiri di depan ruangan itu


membuka pintu dan menanyakan keadaan Mino. Mino yang sedang bersusah payah


mengendalikan sakit di tenggorokan karena tersedak itu hanya melambai lambaikan


tangan pada wanita tersebut. memberikan isyarakat bahwa ia baik baik saja.


Melihat Mino di hadapannya yang tiba tiba


terbatuk, Lysa merasa sedikit bersalah. Namun dalam hatinya ia juga senang


karena berhasil meluncurkan serangan tidak terduga pada laki laki yang telah


memanfaatkan sesuatu berharganya tanpa memiliki kesekapakan dengan Lysa. Itu..


adalah kejadian yang tidak akan pernah Lysa lupakan sepanjang hidupnya.


Begitu batuknya mereda, Mino kembali


meminum teh yang ada di hadapannya. Lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk


mengelap meja yang penuh dengan percikan teh yang is semburkan dari mulutnya.


Seselesainya mengelap meja tersebut, Mino


menaikkan pandangan. Menatap Lysa dengan kedua alis yang mengernyit tinggi


tinggi. Napasnya berembus panjang, merasa heran sampai ia tak bisa berkata kata


kepada Lysa yang menatapnya dengan penuh perasaan dendam.


**


Mino berdiri dari tempat duduk setelah


selesai mewawancarai Lysa. Lelaki itu menghampiri seorang wanita yang berdiri


di depan pintu untuk memberi tahu bahwa ia sudah selesai mewawancara.


“Yina ssi, wawancaranya sudah selesai. Kau bisa


pulang sekarang,” ucap Mino pada wanita itu. Sebenarnya ia cukup sungkan


meminta salah satu karyawan senior di kafe untuk bekerja di akhir pekan seperti


ini. Namun Mino membutuhkan bantuannya untuk membantu pelaksanaan wawancara


pagi ini.


“Ah, sudah selesai? Bagaimana dengan


pedaftar terakhir tadi?” tanya wanita tersebut.


Mino menggaruk garuk rambutnya sambil


menjawab, “Ah, aku masih memiliki urusan sebentar dengannya. Jadi kau pulang


duluan saja tidak apa apa. Nanti aku yang akan mengunci kafenya.”


“Baiklah, Manajer Han. Saya pulang dulu.”


“Terima kasih.”


Begitu mengucapkan kata terima kasih itu,


Mino menutup pintu ruangan tempat dilaksanakannya wawancara. Menutup pintunya


dengan rapat. Lalu menujukan pandnagan pada Lysa yang masih duduk manis di


bangku peserta wawancara.


Lysa bertatap tatapan dengan Mino selama


beberapa saat. Kemudian Mino melangkah mendekat ke arah meja. Menyandarkan tubuhnya


pada meja sembari berhadap hadapan dengan Lysa.


Mino mengembuskan napas panjang panjang. Ia


memalingkan wajahnya dari Lysa, merasa bersalah pada gadis tidak berdosa itu.


“Baiklah, baiklah. Aku meminta maaf atas


kejadian itu. Saat itu...  aku benar


benar ... aku telah kehilangan akal dan menci... menciummu begitu saja.” Mino


berkata dengan terbata bata. Lelaki itu terlihat lebih gugup dari biasanya. Ia bahkan


tak dapat menatap mata Lysa dengan baik, karena merasa begitu bersalah.


Melihat Mino yang tampak begitu bersalah


itu, satu pikiran terbesit di benak Lysa.


“Ajeossi meminta maaf dengan sungguh


sungguh?” tanyanya.


Seketika itu juga pandangan Mino tertuju


pada Lysa. Mereka bertatapan dengan legas.


“Tentu saja. Kau pikir aku sedang bercanda?”


ucap Mino.


“Apa Ajeossi pikir kata maaf itu bisa


mengembalikan ciuman pertamaku? Bibir yang kujaga selama lebih dari dua puluh


tahun ini ingin kupersembahkan untuk kekasihku nanti. Tapi Ajeossi seenak hati


mencurinya dariku!” Lysa menimpali.


Tubuh Mino membeku. “Ci.. ciuman pertama?


Itu, ciuman pertamamu?” tanya Mino tak percaya.


“Benar! Itu ciuman pertamaku. Ciuman pertama


yang kunanti nanti. Ciuman pertama yang selalu kudambakan dalam mimpi. Dan Ajeossi


sudah mencurinya dariku padahal aku ingin menjaganya untuk kekasihku kelak,”


cetus Lysa dengan segenap emosi yang ia perlihatkan melalui tatapan.


Mino tercengang. Tubuhnya seperti baru saja


tersiram es. Tidak pernah ia merasa sebersalah ini setelah mencium seseorang. Ia


tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap Lysa


yang diciumnya tanpa izin pada hari itu.


“Lalu, kau ingin aku berbuat seperti apa?


Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?” tanya Mino dengan


tatapannya yang sangat sendu.


Kedua mata Lysa memicing. “Apa Ajeossi akan


menuruti kata kataku?”


“Selama itu masih masuk akal.”


“Okey.”


“Jadi apa yang kau inginkan supaya


memaafkanku?” Mino bertanya.


“Pertama tama, traktir aku makan siang. Perutku


sangat lapar.” Lysa menjawab sambil beranjak berdiri dari duduk. Menatap Mino


penuh percaya diri, sambil memaksanya. Lalu berjalan keluar dari ruangan ini,


untuk makan siang.


Mino menghela napas panjang panjang. Ia sadar,


jika dirinya telah berbuat kesalahan yang cukup fatal. Dasar bodoh. Mino memaki


dirinya sendiri dalam hati sambil berjalan mengikuti Lysa keluar dari ruangan


ini.


Keduanya pun pergi menuju tempat makan yang


masih berada di satu daerah dengan Moonlight Coffe. Lysa menaiki mobil Mino


yang satu minggu lalu ia tebus di kantor polisi karena kecerobohan yang ia


lakukan.


Begitu tiba di tempat makan, mereka


memesahan salah satu menu makan siang. Duduk di meja restoran dengan berhadap


hadapan.


“Jadi apa yang kau inginkan?” tanya Mino.


“Pekerjakan aku di Moonlight Coffe,” ucap


Lysa penuh permohonan.


Mino menarik napas ringan. “Kalau itu,


tidak bisa. Aku tidak bisa mempekerjakan sembarang orang. Aku harus lihat


seberapa baik kau dibanding pendaftar yang lain, baru bisa mempekerjakanmu di


Moonlight Coffe. Meski pun aku memiliki wewenang untuk memilih pekerja paruh


waktu di kafe, bukan berarti aku bisa mempekerjakan sembarang orang.” Mino


berkata dengan tegas.


“Aku memiliki kemampuan, Ajeossi. Aku akan


bekerja keras dan lebih giat bekerja lagi. Aku juga memiliki pengalaman


berhadapan dengan pelanggan secara langsung. Punya pengalaman memasarkan produk


dan membuat kesepakatan dengan mitra bisnis.” Lysa menjelaskan.


“Tapi itu bukan yang dilakukan oleh pekerja


paruh waktu di kafe,” sanggah Mino.


“Aku bisa belajar, Ajeossi. Aku bisa


belajar meracik minuman. Aku bisa belajar membawa nampan tanpa menumpahkan


isinya. Aku juga bisa belajar menggunakan mesin kasir dan alat pembayaran


digital. Aku bisa belajar semuanya. Yang penting aku akan bekerja keras dan


belajar dengan giat,” cetus Lysa. Ia setengah memaksakan diri di hadapan Mino. Karena,


sungguh. Ia membutuhkan pekerjaan itu untuk bertahan hidup.


Namun Mino yang tegas itu menggelengkan


kepala. “Tetap tidak bisa. Tentu kau juga memiliki kesempatan untuk bekerja


paruh waktu di Moonlight Coffe, sama seperti kandidat lainnya. Tapi aku tidak


bisa menjamin seratus persen kalau kau yang akan terpilih. Prosesnya tidak


semudah itu, Nona Muda.”


Lysa mengembuskan napas kecewa. Ia tidak


tahu harus berbuat apa.


“Lalu apa yang bisa Ajeossi lakukan setelah


mencuri ciuman pertamaku? Katanya kau akan menuruti apa pun keinginanku. Tapi Ajeossi


bahkan tidak bisa mempekerjakanku di Moonlight Coffe. Ada kurang lebih sepuluh


pekerja paruh waktu yang akan kau pekerjakan, salah satunya aku kan tidak


masalah?” celetuk Lysa pasrah.


Mino berpikir keras. Memikirkan apa yang


bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya kepada Lysa.


“Bagaimana dengan ini?” Mino menjede


perkataannya sejenak. Membuat perhatian Lysa kembali berpusat padanya.


“Apa?”


“Aku akan mentraktirmu makan satu hari


sekali selama satu bulan penuh. Bagaimana? Bukankah perutmu itu mudah lapar dan


kau juga suka makan?” usul Mino.


Seperti mendengar sebuah ide brilian, bola


mata Lysa langsung terbelalak. Ia sungguh ingin mengiyakan begitu saya usulan


laki laki itu. Namun, Lysa juga masih harus menjaga harga dirinya.


“Ehmn. Satu kali sehari selama satu bulan


penuh?” Lysa mengulangi.


“Ya.”


“Tambah nonton film sebanyak dua kali.”


Lysa menawar.


Kening Mino mengernyit. Menimbang bimbang.


“Okey! Makan selama satu bulan dan dua kali


menonton film. Sepakat!”


YEESSSS!!!!


Batin Lysa menjerit kegirangan begitu


kecepakatan mereka dibuat. Namun ia mengatur ekspresi wajah untuk terlihat


tidak terlalu senang, untuk menjaga image.


“Oke. Sepakat,” desus Lysa menambahkan.


“Karena itu, jangan lagi mengungkit


ngungkit hal itu lagi, ya? Jangan memperlakukanku seperti orang mesum dan


jangan membahas lagi tentang ciuman.” Mino menegaskan.


Spontan Lysa mengangguk angguk. “Baiklah,


Ajeossi. Aku akan bermain adil.”


**